NEGARA ADALAH AKU

nEGARA ADALAH aKU

Puncak kejayaan monarki absolut Prancis, Raja Louis XIV pernah melontarkan sebuah kalimat yang kemudian menjadi salah satu kutipan politik paling terkenal dalam sejarah, yaitu L’État, c’est moi (Negara adalah aku). Kalimat itu bukan sekadar ungkapan kesombongan seorang raja. Hal itu adalah cara pandang tentang kekuasaan. Negara dipersempit menjadi tubuh seorang penguasa, sementara rakyat perlahan kehilangan kedudukan sebagai pemilik sah dari kehidupan bernegara.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Namun bagaimanapun, sejarah selalu memiliki cara yang sunyi untuk mengoreksi kesombongan manusia.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Seratus tiga puluh empat tahun kemudian, Revolusi Prancis meletus. Istana Versailles yang selama puluhan tahun menjadi simbol kemegahan kekuasaan, tidak mampu mempertahankan dirinya dari gelombang sejarah. Yang runtuh bukan hanya bangunan istana, melainkan cara berpikir yang menempatkan kekuasaan di atas kehendak rakyat. Sejarah seolah ingin mengatakan, bahwa tidak ada negara yang dapat bertahan lama apabila penguasanya mulai percaya bahwa dirinya adalah negara itu sendiri.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Peristiwa tersebut sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang Prancis abad ke-18. Ia adalah cermin yang selalu relevan bagi setiap bangsa. Sebab ancaman terbesar sebuah negara sering kali bukan datang dari luar, melainkan ketika kekuasaan kehilangan kemampuan mendengar.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Fenomena itu dapat dipahami melalui analogi pertama, yaitu kacamata kuda.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Seekor kuda yang mengenakan penutup mata hanya mampu melihat lurus ke depan. Ia tidak melihat apa yang terjadi di sisi kanan maupun kirinya. Dalam batas tertentu, kacamata itu memang berguna agar perjalanan tetap fokus. Namun ketika dipakai terlalu lama, ia berubah menjadi simbol keterbatasan perspektif.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Begitu pula kekuasaan. Ketika pemimpin hanya mendengar tepuk tangan para pendukungnya, hanya membaca laporan yang menyenangkan, dan hanya mempercayai lingkaran yang selalu membenarkan setiap keputusan, maka sesungguhnya ia sedang mengenakan kacamata kuda. Kritik berubah menjadi ancaman. Perbedaan pendapat dianggap gangguan. Padahal demokrasi justru bertumbuh karena keberanian mendengar suara yang berbeda.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Analogi kedua adalah, sepasang sepatu.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Tidak ada manusia yang benar-benar memahami perjalanan orang lain, sebelum mencoba memakai sepatunya. Seorang pembuat kebijakan mungkin mampu membaca angka kemiskinan, statistik pengangguran, atau laporan kriminalitas. Namun angka tidak pernah sepenuhnya mampu menjelaskan rasa lapar, kecemasan kehilangan pekerjaan, atau ketakutan seorang ibu ketika anaknya tidak memperoleh pendidikan yang layak.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Politik yang kehilangan empati, akan mudah jatuh pada ilusi bahwa seluruh persoalan dapat diselesaikan melalui regulasi. Padahal masyarakat tidak hanya membutuhkan aturan yang benar, tetapi juga kebijakan yang lahir dari kemampuan memahami kehidupan orang lain.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara atas nama rakyat. Ia harus bersedia memakai sepatu rakyat, demi merasakan kepedihan yang dihadapi warga. Sambil menanamkan kesadaran kritis, bahwa di balik setiap produk kebijakan, selalu ada jiwa-jiwa manusia yang menanggung dampaknya secara riil.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Analogi ketiga adalah, layang-layang.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Layang-layang hanya dapat terbang tinggi karena dua hal yang tampak bertentangan. Ia membutuhkan angin yang mendorongnya naik, tetapi juga membutuhkan benang yang menahannya agar tidak kehilangan arah.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Jika benang diputus, layang-layang memang tampak bebas sesaat. Namun, kebebasan tanpa kendali justru membuatnya kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya jatuh.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Demikian pula kekuasaan. Dukungan publik adalah angin yang mengangkat legitimasi. Namun hukum, etika, konstitusi, dan pengawasan masyarakat, adalah benang yang menjaga agar kekuasaan tidak terbang terlalu jauh dari kepentingan rakyat. Negara yang sehat bukanlah negara yang membebaskan kekuasaan dari pengawasan, melainkan negara yang menjaga keseimbangan antara legitimasi dan akuntabilitas.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Ketiga analogi tersebut (kacamata kuda, sepasang sepatu, dan layang-layang), dapat disatukan dalam sebuah metafora yang saya sebut Teori Korek Api Sumbu Model Zippo. Atau lebih ringkasnya adalah Teori Korek Zippo. Korek Zippo, hanya akan menghasilkan nyala, bila tiga unsurnya hadir secara bersamaan, yaitu batu api, bahan bakar atau minyak, dan udara.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Batu api melambangkan gagasan dan keberanian melakukan perubahan. Tanpa percikan ide, tidak akan ada transformasi.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Minyak melambangkan energi sosial, yakni kepercayaan publik, kesejahteraan, keadilan, dan harapan yang membuat negara memiliki daya hidup. Ketika “minyak” itu menipis karena ketimpangan, korupsi, atau hilangnya kepercayaan, percikan sebesar apa pun akan sulit bertahan.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Udara melambangkan kebebasan, yaitu ruang bagi kritik, dialog, pers yang independen, akademisi, seniman, masyarakat sipil, dan warga negara, untuk menyampaikan pandangan tanpa rasa takut. Api memerlukan oksigen untuk menyala. Demikian pula demokrasi memerlukan ruang terbuka agar tetap hidup.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Jika salah satu unsur hilang, Zippo tidak akan menghasilkan api yang stabil. Batu tanpa minyak hanya melahirkan percikan sesaat. Minyak tanpa batu tidak pernah menyala. Keduanya tanpa udara akan padam sebelum menjadi cahaya.(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Lalu, apakah refleksi tersebut sedang terjadi di Indonesia saat ini?(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Pertanyaan itu tidak semestinya dijawab dengan tergesa-gesa melalui slogan atau keberpihakan politik. Hal tersebut layak dijawab melalui kejujuran intelektual dan kesediaan membaca kenyataan secara utuh. Apakah ruang kritik tetap dipelihara? Apakah kebijakan lahir dari empati terhadap kehidupan warga? Apakah perbedaan pandangan dipahami sebagai bagian dari demokrasi atau justru dicurigai sebagai ancaman? Dan, apakah negara terus menjaga keseimbangan antara kewibawaan kekuasaan, serta penghormatan terhadap hak-hak warga negara?(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut, tentunya akan berbeda-beda, menurut pengalaman dan sudut pandang setiap orang. Namun, sejarah memberikan satu pelajaran yang tidak pernah berubah, yakni negara menjadi kuat bukan ketika seseorang berkata, “Negara adalah aku,” melainkan ketika setiap warga dapat berkata dengan penuh martabat, “Negara ini juga milikku.”(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak runtuh hanya karena kekurangan sumber daya atau teknologi. Ia mulai rapuh ketika kekuasaan berhenti melihat dari berbagai arah, enggan berjalan dengan sepatu rakyat, dan memutus benang yang menghubungkannya dengan suara masyarakat. Di situlah nyala sebuah peradaban mulai kehilangan cahaya, bukan karena tidak ada api, melainkan karena unsur-unsur yang menjaganya tetap hidup perlahan menghilang. (jbp 03/08/2026)(Source: kosapoin.com/negara-adalah-aku)

Jossy Belgradoputra M.H.

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.217.2
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *