Sore itu saya kembali berbincang dengan sahabat saya, Dody Satya Ekagustdiman. Beberapa waktu sebelumnya Kang Dody telah menjelaskan kepada saya tentang rajah dalam makna budaya Sunda. Sebagai mantra, doa, atau syair sakral yang diucapkan sebagai permohonan izin, keselamatan, perlindungan, sekaligus penghormatan kepada Yang Maha Kuasa dan para karuhun.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Kali ini saya tidak ingin hanya mendengar penjelasannya. Saya meminta Kang Dody melantunkan rajah yang biasa disebut Sasanduk atau Rajah pambuka. Kami duduk di gazebo rumah. Kopi mengepulkan aroma yang pelan-pelan bercampur dengan udara sore, serta sepiring singkong rebus. Tidak ada panggung, penonton, maupun pengeras suara. Hanya dua orang yang berbincang tentang sesuatu yang usianya jauh lebih tua daripada kami.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Kang Dody mengambil kacapi, petikan pertama terdengar, pelan. Ia pun mulai melantunkan:(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Pun Tabe Pun…
Neda Agung Ampun Paralun,
Neda Jembar Hampurana Sapapanjangna…(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Kaula seja mipit bade amit,
Seja bade ngaRajah Elmu Karuhun…
Eta nu diseja, hampura sapapanjangna…(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Ahung deui, Ahung deui,
Opat Puluh Kali Ahung…(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Saya diam.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Ada sesuatu yang sulit dijelaskan, dari suara manusia ketika ia tidak sedang berbicara untuk mendapatkan sesuatu. Rajah itu tidak dimulai dengan kesombongan, namun dimulai dengan permohonan ampun. Seorang manusia hendak melakukan sesuatu, tetapi sebelum melakukannya ia mengatakan amit (permisi). Ia meminta izin.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Betapa asingnya kata sederhana itu dalam kehidupan modern.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Dalam zaman modern, manusia semakin terbiasa melakukan sesuatu tanpa meminta izin kepada siapa pun. Alam dibelah untuk jalan. Hutan dipotong untuk industri, sungai dipersempit untuk bangunan. Tanah dikeruk untuk keuntungan. Ruang publik dikuasai atas nama pembangunan. Kemudian setelah kerusakan terjadi, kita baru sibuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Rajah justru memulai dari kesadaran sebaliknya: sebelum mengambil, manusia harus menyadari bahwa ia bukan pemilik tunggal kehidupan.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Petikan kacapi terus mengalun, Kang Dody melanjutkan:(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Bul Kukus Mayungan Panggung,
Ka Luhur Kanu Mayungan,
Ka Handap Kanu Ngamparan,
Ka Gigir Kanu Ngapingan,
Ka Tukang Kanu Nyawang,
Ka Hareup Mawa Harepan…(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Saya tertegun. Kalimat itu seperti membuka sebuah ruang yang sebelumnya tidak saya sadari ada. Ka luhur. Ka handap. Ka gigir. Ka tukang. Ka hareup.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Kang Dody menjelaskan, bahwa susunan tersebut menggambarkan manusia yang berada di tengah suatu kosmos relasional.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Ka luhur adalah yang menaungi.
Ka handap adalah yang menjadi pijakan.
Ka gigir adalah yang menjaga.
Ka tukang adalah yang mengawasi.
Dan ka hareup adalah yang membawa harapan.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Tiba-tiba, saya merasa rajah itu bukan sekadar rangkaian kata-kata lama. Rajah merupakan sebuah cara memandang manusia. Manusia ditempatkan di tengah, tetapi tidak dijadikan pusat dari segala sesuatu. Ini perbedaan yang sangat penting.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Peradaban modern, sering membangun keyakinan bahwa manusia adalah pusat. Alam, ditempatkan sebagai sumber daya. Teknologi, dijadikan alat penguasaan. Pengetahuan, dipakai untuk menaklukkan ketidakpastian. Kekuasaan, digunakan untuk mengatur manusia lain. Bahkan, sesama manusia perlahan diperlakukan sebagai angka: konsumen, pemilih, pekerja, pengguna, pengikut, pasar.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Kita begitu sibuk menghitung manfaat sampai lupa menghitung akibat. Kita begitu pandai mengukur pertumbuhan, sampai lupa bertanya, tumbuh untuk siapa? Kita begitu bangga dengan kecepatan, sampai lupa bertanya, siapa yang tertinggal?(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Rajah mengembalikan manusia kepada kesadaran yang lebih tua sekaligus lebih mendasar, bahwa kehidupan adalah hubungan.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Yang di atas menaungi.
Yang di bawah menopang.
Yang di samping menjaga.
Yang di belakang menyaksikan perjalanan yang telah dilalui.
Yang di depan memberikan kemungkinan bagi masa depan.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Tidak ada manusia yang berdiri sendirian. Namun, bukankah justru itulah penyakit manusia modern? Merasa mandiri, karena memiliki rekening sendiri, kendaraan sendiri, rumah sendiri, pekerjaan sendiri, bahkan identitas digital sendiri. Kita memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi semakin sedikit orang yang benar-benar kita dengarkan.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Kita dapat menghubungi siapa saja dalam hitungan detik, tetapi semakin sulit hadir sepenuhnya di hadapan seseorang. Terkoneksi secara digital, tetapi terputus secara kemanusiaan. Rajah seperti mengingatkan, bahwa jangan salah mengira keterhubungan teknologi sebagai keterhubungan kehidupan.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Kang Dody kembali melantunkan:(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Sukma Nu Ngukus,
Sukma Nu Dikukus,
Sukma Nu Ngabaktian,
Sukma Nu Dibaktian,
Pun Sapun…(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Saya tidak lagi mencatat, hanya mendengarkan. Ada saatnya, ketika kata-kata tidak lagi membutuhkan penjelasan, cukup rasa dalam hati yang mendengarkan. Kemudian terdengar bagian yang membuat dada saya terasa sesak:(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Eling-eling mangka eling,
Eling ka diri sorangan,
Eling ka diri nu lian,
Urang jeung alam teu aya antarana,
Lamun aya antarana urang rek cicing dimana?(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Ingatlah. Ingat.
Ingat kepada diri sendiri.
Ingat kepada diri orang lain.
Manusia dan alam tidak memiliki jarak.
Kalau ada jarak di antara kita dan alam, lalu kita hendak tinggal di mana?(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Saya terdiam cukup lama. Bukankah pertanyaan itu sebenarnya jauh lebih radikal daripada yang kita kira?(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Krisis lingkungan, sering dibicarakan dengan bahasa teknis, seperti emisi, deforestasi, perubahan iklim, limbah, daya dukung, energi. Semua penting !. Tetapi di balik seluruh istilah itu, ada satu persoalan yang lebih dalam. Bahwa manusia telah kehilangan rasa, bahwa dirinya merupakan bagian dari alam.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Ketika sungai tercemar, kita berkata sungai rusak. Padahal, kita yang meminumnya. Saat hutan hilang, kita mengatakan ekosistem terganggu. Padahal, udara yang kita hirup berasal dari sana. Saat tanah kehilangan kesuburan, kita menyebutnya persoalan produksi. Padahal, makanan kita tumbuh dari tanah itu.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Alam, tidak pernah benar-benar berada di luar diri manusia. Kita hanya terlalu lama membayangkan, bahwa alam adalah sesuatu yang lain.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Rajah menolak pemisahan itu. Rajah, menempatkan manusia dalam jaringan hubungan yang tidak dapat diputus sesuka hati. Dari luhur sampai handap. Dari gigir sampai tukang. Dari hareup menuju masa depan. Dan, akhirnya kembali kepada kesadaran, tentang perjalanan manusia itu sendiri.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Hirup tina pamedalan,
nepi kana pangbalikan…(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Hidup bermula saat kelahiran, dan pada akhirnya menuju kepulangan. Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi justru kesederhanaannya menyakitkan. Kita datang tanpa membawa apa-apa dan pergi tanpa dapat membawa apa-apa. Di antara keduanya kita diberi kesempatan untuk hidup.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Pertanyaannya, bukan berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Pertanyaannya adalah, bagaimana kita merawat relasi kehidupan kita?(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Apakah kita menjaga yang berada di samping?
Apakah kita menghormati yang berada di belakang?
Apakah kita tidak merusak tempat berpijak?
Apakah kita masih mengenali sesuatu yang menaungi kita?
Dan, apakah kita menyisakan harapan bagi mereka yang berada di depan kita?(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Di sinilah rajah menjadi lebih dari sekadar warisan budaya. Rajah menjadi cermin. Dan, cermin kebudayaan, lebih jujur daripada pidato politik, lebih tajam daripada slogan pembangunan, bahkan lebih manusiawi daripada laporan statistik. Sebab, kebudayaan tidak hanya bertanya apa yang boleh dilakukan manusia. Ia hanya bertanya manusia macam apa yang sedang kita bentuk.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Masyarakat yang kehilangan amit, akan mudah menjadi masyarakat yang merasa berhak atas segala sesuatu. Masyarakat yang kehilangan eling, akan mudah lupa kepada batas. Dan, manusia yang lupa bahwa ia hidup bersama orang lain, akan mudah menganggap kepentingannya sendiri sebagai ukuran kebenaran.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Di situlah rajah mempunyai daya kritik yang diam-diam kuat. Tidak berteriak, tidak memaki zaman. Ia hanya mengingatkan.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Eling ka diri sorangan (Ingat kepada diri sendiri). Namun tidak berhenti sampa di situ. Eling ka diri nu lian (Ingat kepada orang lain). Lebih jauh lagi, urang jeung alam teu aya antarana (Kita dan alam tidak terpisahkan).(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Manusia yang katanya modern, memang tidak kekurangan pengetahuan. Kita, hanya kekurangan kesadaran, untuk menempatkan pengetahuan itu dalam batas moral. Tahu bagaimana membangun, namun belum tentu tahu, kapan harus berhenti membangun.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Kita tahu bagaimana menggunakan teknologi. Namun belum tentu tahu kapan teknologi mulai menggunakan kita. Tahu bagaimana memenangkan perdebatan. Namun belum tentu tahu, bagaimana menjaga hubungan setelah perdebatan selesai. Tahu bagaimana menjadi besar. Namun belum tentu tahu bagaimana tetap rendah hati.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Rajah mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana, bahwa sebelum manusia ingin menjadi pusat, ia terlebih dahulu harus menyadari, bahwa ia berada di tengah sebuah hubungan. Dan, berada di tengah bukan berarti menjadi penguasa. Berada di tengah berarti memikul tanggung jawab.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Petikan kacapi perlahan berhenti.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Malam mulai gelap. Cahaya matahari mulai digantikan oleh cahaya lampu, walaupun tidak seterang saat percakapan dimulai. Saya tertegun mendengarkan rajah yang dilantunkan tadi. Tak terasa, mata saya berkaca-kaca. Entah karena keindahan syairnya, suara kacapi, serta ingatan kepada karuhun. Atau, karena untuk pertama kalinya, saya merasa sebuah teks kebudayaan sedang berbicara langsung kepada kehidupan saya sendiri.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Kang Dody pun pamit, sebab ada suatu keperluan yang harus dilakukannya. Kami pun sepakat melanjutkan obrolan lain waktu. Saya pun hanya sendirian di gazebo, kopi sudah tidak panas. Singkong rebus tinggal beberapa potong. Namun, gema rajah masih terngiang di telinga.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Ka luhur. Ka handap. Ka gigir. Ka tukang. Ka hareup.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Saya memandang ke sekeliling. Perlahan, muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada memahami rajah itu sendiri:(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Untuk siapa saya hidup?(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Di situlah rajah menemukan maknanya yang paling dalam. Bukan sekadar sebagai doa sebelum memulai sesuatu. Melainkan sebagai peringatan, bahwa dalam setiap langkah manusia, selalu mempunyai saksi, penopang, penjaga, masa lalu, masa depan, dan alam yang ikut menanggung akibatnya.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Manusia tidak pernah sendirian. Hanya saja, sering kali manusia terlalu sibuk, dan merasa menjadi pusat dunia, sampai lupa bahwa dunia tidak pernah berpusat padanya.(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Pun sapun. (jbp 15/09/2026)(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)

Esai Sebagai Jalan Tengah dalam Solusi Jernih
(Source: kosapoin.com/rajah-dan-manusia-yang-lupa-bahwa-ia-tidak-pernah-sendirian)
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








