Ada kebudayaan yang hilang karena dilarang, atau hilang karena dihancurkan. Tetapi, ada pula yang hilang dengan cara yang jauh lebih halus, yaitu manusia perlahan-lahan dibuat tidak lagi merasa perlu mengingatnya. Saya teringat hal itu, ketika suatu sore sengaja menyambangi kediaman sahabat saya, Dody Satya Ekagustdiman.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Percakapan kami tentang rajah beberapa waktu sebelumnya, rupanya belum selesai. Ada sesuatu yang masih menggantung dalam pikiran saya. Bukan hanya tentang apa itu rajah, melainkan tentang mengapa sesuatu yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Sunda, kini semakin jarang terdengar.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Apakah rajah memang ditinggalkan karena zaman berubah? Atau, jangan-jangan ada sesuatu dalam cara kita yang memandang kemajuan, membuat kita secara perlahan merasa malu terhadap kebudayaan sendiri?(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Kediaman Kang Dody terlihat bersih dan rapi. Kopi panas sudah tersedia di atas meja, ditemani bubuy huwi yang aromanya mengingatkan saya pada dapur-dapur kampung, yang perlahan mulai hilang dari lanskap kehidupan modern.
Kami berbincang sebentar. Kemudian Kang Dody mengambil kecapinya, duduk diam. Tidak langsung memainkan kecapi. Ia merapalkan sesuatu dalam suara yang sangat pelan. Saya memperhatikannya, lalu bertanya, “Berdoa, ya Kang?”
Ia menoleh. “Sanes,” lalu menjawab. “Abdi amit heula ka karuhun.” Saya terdiam.
Bukan berdoa? Meminta izin terlebih dahulu kepada karuhun? Kang Dody kemudian menjelaskan, “Ieu ngaranna rajah panghemat, Kang Jossy.” Sambil telapak tangannya disatukan di depan dada. Gerakan yang dalam tradisi Nusantara dapat ditemukan sebagai bentuk sembah, penghormatan, atau pangabakti. Kemudian, ia mulai memetik kacapi sambil melantunkan:(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Nyanggakeun
Sembah Pangabakti kaula,
ka Gusti Anu Maha Agung,
Anu Maha Suci,
Anu Murba ieu Buana,
Anu Murbeng Alam Sakabeh,
Mangga nyanggakeun ka Poe Tujuh Rangkep Lima,
Bulan Dua Belas,
Tahun Dalapan,
Ka Sanghyang Mangsa,
Ka Sanghyang Wayah,
Ka Sanghyang Wanci,
Kanu boga wengkuan beurang,
Kanu boga wengkuan peuting,
Kanu boga kahanan bulan,
Kanu boga wengkuan taun…
Nyanggakeun Sembah Pangabakti Kaula ka Para Karuhun
Sabudeur Awun,
Para Luluhur Sunda Nusantara…
Ka Eyang Prabu Siliwangi
Anu Nanggeuy Dayeuh Pakuan,
Anu ngawengku Nagara Pajajaran…
Pun Sapun…(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Saya tidak segera berbicara setelah lantunan itu selesai. Ada sesuatu yang terasa ganjil sekaligus indah. Kata pertama yang saya tangkap adalah nyanggakeun (mempersembahkan). Kemudian sembah pangabakti (Penghormatan). Lalu nama-nama tentang waktu: mangsa, wayah, wanci. Kemudian ruang kehidupan: siang, malam, bulan, tahun. Dan akhirnya para karuhun. Manusia, Tuhan, alam, waktu, dan leluhur, seperti ditempatkan dalam satu lingkaran kesadaran.
Saya mulai memahami, bahwa rajah bukan sekadar kumpulan kalimat tua yang dibacakan, sebelum sebuah pertunjukan tradisional dimulai. Rajah, adalah cara sebuah kebudayaan mengatakan serta mengingatkan kepada manusia. “Jangan merasa sendirian.”(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Manusia Modern dan Kesombongan untuk Berdiri Sendiri(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Kita hidup dalam zaman yang sangat percaya diri. Memiliki teknologi, yang mampu mempertemukan orang dari dua benua, dalam hitungan detik. Memiliki kecerdasan buatan, yang dapat menjawab pertanyaan, menganalisis data, membuat gambar, menyusun tulisan, bahkan membantu mengambil keputusan.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Kita mempunyai satelit, yang dapat melihat bumi dari luar angkasa. Kita mampu mengubah sungai, memotong gunung, menembus laut, membangun gedung ratusan lantai, dan memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain dengan kecepatan yang tidak pernah dibayangkan nenek moyang kita.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Tetapi, di tengah semua kemampuan itu, ada satu kemampuan yang justru tampak semakin rapuh. Yakni, kemampuan untuk menyadari, bahwa manusia memiliki batas. Modernitas, sering kali membuat manusia merasa sebagai pusat.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Apa yang bisa dilakukan, dianggap boleh dilakukan. Yang bisa dibeli, dianggap layak dimiliki. Yang bisa diproduksi, dianggap harus diproduksi. Bahkan, apa yang bisa dieksploitasi, dianggap tersedia untuk dieksploitasi.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Dalam logika semacam itu, alam berubah menjadi sumber daya. Manusia lain, berubah menjadi tenaga kerja. Kebudayaan, berubah menjadi komoditas wisata. Tradisi, berubah menjadi pertunjukan. Celakanya, leluhur berubah menjadi nama yang hanya disebut, saat dibutuhkan untuk membangun legitimasi identitas.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Namun rajah, berdiri di tempat yang berlawanan, yang mengawali segala tindakan dengan amit (meminta izin). Mengakui adanya sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Rajah Bukan Sekadar Masa Lalu(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Ada kecenderungan untuk melihat tradisi, sebagai sesuatu yang berada di belakang kita. Seolah-olah tradisi adalah masa lalu, dan modernitas adalah masa depan. Seakan, semakin modern seseorang, semakin sedikit ia membutuhkan kebudayaan.
Cara berpikir seperti ini sebenarnya sangat problematis. Sebab masyarakat yang kehilangan ingatan, tidak otomatis menjadi modern. Ia hanya menjadi masyarakat, yang tidak tahu lagi dari mana dirinya berasal. Modernitas tanpa ingatan, dapat berubah menjadi kesombongan. Sebaliknya, tradisi tanpa kemampuan berdialog dengan zaman, dapat berubah menjadi romantisme kosong.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Karena itu, persoalannya bukan memilih antara tradisi atau modernitas. Persoalan yang sebenarnya adalah: mampukah manusia modern membawa ingatan kebudayaannya, ke dalam kehidupan masa kini tanpa kehilangan daya kritis?
Rajah dapat dibaca dari sana. Bukan sebagai ajakan untuk mengembalikan masyarakat kepada masa lalu. Bukan pula sebagai pembenaran, terhadap segala sesuatu yang disebut tradisi. Namun sebagai sumber pertanyaan.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Apa yang sebenarnya ingin disampaikan leluhur melalui ritual penghormatan itu?
Mengapa manusia perlu meminta izin?
Mengapa manusia perlu menyebut waktu?
Mengapa manusia perlu mengingat mereka yang telah mendahului?
Mengapa seseorang harus merendahkan tubuhnya melalui sembah?(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Pertanyaan-pertanyaan itu justru sangat modern. Karena masyarakat modern, sedang menghadapi masalah yang sama, dalam bentuk berbeda. Seperti kesombongan manusia terhadap alam, kesepian sosial, krisis identitas, hilangnya rasa memiliki, dan kecenderungan menilai segala sesuatu berdasarkan manfaat ekonomi.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Ketika Karuhun Menjadi Sekadar Nama(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Ada bagian dari rajah yang dilantunkan Kang Dody, membuat saya berhenti lebih lama:(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Ka Sanghyang Mangsa,
Ka Sanghyang Wayah,
Ka Sanghyang Wanci.
Mangsa.
Wayah.
Wanci.
Waktu.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Bukankah manusia modern justru sedang mengalami hubungan yang sangat buruk dengan waktu? Coba perhatikan, kita selalu terburu-buru dalam segala hal. Makan sambil melihat telepon. Berbicara sambil memeriksa pesan. Berkumpul sambil sibuk mendokumentasikan pertemuan. Bahkan beristirahat pun, merasa bersalah karena tidak produktif. Kita selalu mengejar waktu sampai lupa, bahwa waktu sebenarnya tidak pernah dapat kita miliki.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Jam tangan menunjukkan pukul berapa. Kalender menunjukkan tanggal. Aplikasi menunjukkan jadwal. Namun, tidak satu pun dapat menjawab pertanyaan yang paling manusiawi: Untuk apa sebenarnya waktu kita digunakan?(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Rajah menyebut waktu bukan sebagai benda yang harus ditaklukkan, tetapi sebagai sesuatu yang harus dihormati. Ada siang, malam, bulan, tahun, mangsa, wayah, wanci. Manusia hanya salah satu bagian dari keseluruhan itu. Betapa sederhananya, dan betapa sulitnya kita menerima kesederhanaan itu.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Karuhun dan Politik Ingatan(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Lalu ada para karuhun, Para Luluhur Sunda Nusantara.
Nama-nama mereka bukan sekadar daftar orang yang telah meninggal. Dalam kesadaran budaya, karuhun adalah ingatan. Oleh karenanya, masyarakat yang kehilangan ingatan, akan mudah kehilangan arah. Di sinilah persoalan kebudayaan bersentuhan dengan politik. Sebab, ingatan tidak pernah sepenuhnya netral.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Siapa yang menentukan apa yang boleh diingat?
Siapa yang menentukan siapa yang disebut pahlawan?
Siapa yang menentukan kebudayaan mana yang dianggap maju, dan mana yang dianggap kuno?
Siapa yang menentukan tradisi mana yang layak dipelihara, dan mana yang cukup ditempatkan di museum?(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Berbagai pertanyaan tersebut penting, karena kebudayaan bukan sekadar benda. Kebudayaan, adalah cara manusia memahami dirinya. Ketika suatu masyarakat kehilangan bahasanya, ia kehilangan sebagian cara untuk menjelaskan dunia. Ketika kehilangan ritualnya, ia kehilangan sebagian cara untuk menghubungkan dirinya dengan kehidupan. Ketika kehilangan cerita leluhurnya, ia kehilangan sebagian ingatan tentang perjalanan menjadi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, melupakan kebudayaan bukan persoalan kecil, hal tersebut menjadi persoalan peradaban.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Tetapi Kita Juga Harus Berhati-hati(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Namun saya tidak ingin jatuh pada romantisme. Tidak semua yang berasal dari masa lalu, otomatis benar hanya karena disebut warisan leluhur. Tradisi juga perlu dibaca secara kritis. Kebudayaan dapat mengandung kebijaksanaan, tetapi juga dapat mengandung praktik yang pada zamannya, tidak lagi sesuai dengan nilai kemanusiaan.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Karena itu, menghormati karuhun bukan berarti menutup pintu bagi pertanyaan. Justru sebaliknya. Penghormatan yang dewasa tidak membutuhkan kebutaan. Kita dapat menghormati leluhur, sambil menguji kembali warisan mereka. Mencintai tradisi tanpa menjadikannya benda keramat, yang tidak boleh disentuh oleh kritik.
Kita dapat mempertahankan rajah, tanpa harus memusuhi ilmu pengetahuan. Di sinilah tradisi menjadi hidup. Sebab, tradisi yang benar-benar hidup, bukan tradisi yang tidak pernah berubah. Namun tradisi yang mampu menjawab perubahan tanpa kehilangan jiwa.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Saya teringat kembali jawaban Kang Dody, “Abdi amit heula ka karuhun.” Kalimat itu sederhana. Namun, justru di situlah kedalamannya. Mengandung pengakuan bahwa apa yang sedang dilakukan manusia hari ini tidak lahir dari ruang kosong.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Ada yang datang sebelum kita.
Ada pengetahuan yang diwariskan.
Ada tanah yang diwariskan.
Ada bahasa yang diwariskan.
Ada kebudayaan yang diwariskan.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Bahkan, tubuh kita sendiri adalah hasil dari perjalanan panjang manusia, sebelum kita. Kita datang terlambat dalam sejarah. Maka, tidak sepantasnya kita bertindak seolah-olah, kitalah manusia pertama yang menemukan dunia. Kita hanya sedang melanjutkan perjalanan. Sehingga, setiap generasi sebenarnya mempunyai dua kewajiban, yaitu menerima tanpa merusak, dan mewariskan tanpa memiskinkan.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Rajah dan Manusia yang Tidak Pernah Sendirian(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Di artikel sebelumnya, saya menulis tentang rajah sebagai pengingat, bahwa manusia tidak pernah berdiri sendirian. Kini saya semakin memahami maknanya.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Ka luhur, ada yang menaungi.
Ka handap, ada yang menjadi pijakan.
Ka gigir, ada yang menjaga.
Ka tukang, ada yang menyaksikan.
Ka hareup, ada yang menunggu sebagai harapan.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Dan dalam rajah yang dilantunkan Kang Dody, lingkaran itu diperluas lagi menjadi, Tuhan, alam, waktu, karuhun, dan manusia. Semuanya berhubungan. Inilah yang hilang dari sebagian cara hidup modern.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Kita terlalu pandai memisahkan. Manusia dipisahkan dari alam. Individu dipisahkan dari masyarakat. Masa kini dipisahkan dari masa lalu. Ekonomi dipisahkan dari moralitas. Teknologi dipisahkan dari kebudayaan. Kemajuan dipisahkan dari kebijaksanaan. Akibatnya, kita memiliki banyak kemampuan, tetapi semakin sedikit kebijaksanaan untuk menentukan. Bagaimana kemampuan itu seharusnya digunakan.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Rajah menawarkan arah yang berbeda. Bukan dengan teori yang rumit, atau dengan jargon. Hanya dengan sebuah sikap tubuh, sebuah lantunan, sebuah sembah, dan sebuah kata, nyanggakeun (mempersembahkan, mengakui). Saya datang tidak sebagai penguasa tunggal, namun sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Mungkin itu sebabnya, saya merasa tersentuh. Bukan karena rajah adalah sesuatu yang mistis, atau berasal dari masa lalu. Namun, karena di tengah dunia yang semakin gaduh, rajah masih menyimpan satu sikap yang sangat langka: kerendahan hati.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Untuk mengakui bahwa kita bukan pusat alam semesta, menghormati yang datang sebelum kita. Kerendahan hati untuk menyadari bahwa waktu tidak dapat kita miliki, memahami bahwa manusia tidak hidup sendiri. Dan terutama, kerendahan hati untuk meminta izin sebelum mengambil sesuatu dari kehidupan.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Kang Dody menyelesaikan rajahnya, dan kecapi kembali diam. Lalu ia berkata “kantun rajah pamunah anu kedah di dangukeun, sanes waktos nya Kang (tinggal rajah pamunah yang harus didengarkan, lain waktu ya Kang)” Kopi masih panas. Bubuy huwi masih tersisa. Saya memandang telapak tangan yang tadi disatukannya di depan dada.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Tiba-tiba hati saya berkata: Jangan-jangan yang hilang dari manusia modern bukan rajahnya. Yang hilang adalah sikap batin yang membuat rajah itu diperlukan.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Kita mungkin masih dapat menuliskan syairnya, merekamnya, memasukkannya ke dalam arsip digital, atau dijadikan materi seminar. Bahkan kita dapat menjualnya sebagai atraksi budaya.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Tetapi, kalau kita tidak lagi memiliki amit, atau eling. Tidak lagi memiliki rasa hormat kepada alam, waktu, sesama manusia, dan para pendahulu, maka yang tersisa hanyalah bunyi. Rajahnya masih ada, namun jiwanya telah pergi.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Maka, pertanyaan terbesar kebudayaan Sunda hari ini bukan: “Apakah rajah masih ada?” Pertanyaannya yang sesungguhnya adalah “Apakah manusia yang membutuhkan rajah itu masih ada?” Sebab, sebuah peradaban tidak mati ketika bahasanya berhenti terdengar. Ia mulai mati, ketika manusia tidak lagi memahami, mengapa bahasa itu dahulu diciptakan.(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)
Dan, sebelum terlalu cepat menyebut diri kita modern, ada baiknya kita kembali merenung sejenak. Menyeduh kopi, membuka telinga, mendengarkan kecapi.
Lalu mengingat satu kata yang sederhana, Amit. (jbp 20/09/2026)(Source: kosapoin.com/saat-manusia-mulai-malu-kepada-ingatannya-sendiri)









