Sekitar tahun 1970-an, kakek saya pernah mengatakan sesuatu yang ketika itu terdengar seperti lelucon. “Jaga, ngke mah cai téh di botolan, dijualan.” (nanti, suatu saat, air itu dimasukan ke botol dan dijual). Saya tidak percaya. Bagaimana mungkin air dijual? Bukankah air ada berlimpah di sumur, sungai, pancuran, mata air? Jika haus, tinggal mengambilnya? Sebagai anak kecil, saya menganggap ucapan kakek itu terlalu jauh dari kenyataan. Air adalah sesuatu yang tersedia, bukan barang dagangan.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Ternyata saya yang terlalu naif. Beberapa dekade kemudian, ramalan sederhana itu menjadi kenyataan. Air masuk ke dalam botol, diberi merek, label, diangkut, dipajang di rak toko, kemudian kita beli dengan uang. Hari ini, kita tidak lagi merasa aneh membayar air. Yang dulu dianggap mustahil oleh seorang anak di tahun 1970-an, sekarang menjadi hal biasa dari kehidupan sehari-hari.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Tetapi, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perubahan kebiasaan. Air telah berubah dari sesuatu yang dianggap tersedia bersama, menjadi sesuatu yang dapat memiliki nilai ekonomi. Di sinilah persoalannya menjadi serius.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Bukan karena menjual air minum dalam kemasan, merupakan sesuatu yang salah. Manusia memang membutuhkan pengolahan, distribusi, teknologi, standar kesehatan, dan pelayanan. Air yang aman diminum tentu membutuhkan biaya. Persoalannya, muncul ketika kita mulai lupa membedakan antara air sebagai kebutuhan hidup dan air sebagai komoditas ekonomi.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Sebab, tidak semua orang berdiri pada posisi yang sama, ketika air menjadi barang yang diperjualbelikan. Bagi seseorang yang memiliki uang, air bersih dapat dibeli. Namun, seseorang yang tidak memiliki uang, pertanyaannya jauh lebih getir: kalau air menjadi mahal, ia harus membeli kehidupan dari mana? Air Tidak Pernah Hanya Soal Air(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Tahun 2026, disebut sebagai Year of Water. World Economic Forum melalui agenda Blue Davos menempatkan persoalan air dalam hubungan dengan ketahanan pangan, ekonomi, iklim, ekosistem, dan stabilitas sosial. Tahun ini juga akan ditutup dengan Konferensi Air PBB di Uni Emirat Arab, yang diarahkan untuk mempercepat pencapaian SDG 6 mengenai air bersih dan sanitasi. Angkanya, membuat kita sulit berpura-pura bahwa persoalan air hanyalah persoalan teknis.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
PBB, memperkirakan sekitar 2,1 miliar manusia, masih tidak memiliki akses terhadap air minum yang dikelola secara aman. Dalam Laporan Pembangunan Air Dunia PBB 2026 menunjukkan, bahwa ketimpangan akses air memiliki dampak terhadap kesehatan, pendidikan, mata pencaharian, dan keselamatan. Perempuan dan anak perempuan menanggung beban yang tidak proporsional; mereka menghabiskan sekitar 250 juta jam setiap hari untuk mengambil air.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang air bersih, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang pendidikan, kesehatan, kemiskinan. Juga tentang gender, waktu, martabat manusia, bahkan tentang kekuasaan.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Sebab, perempuan yang harus berjalan jauh setiap hari untuk mengambil air, kehilangan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk sekolah, bekerja, beristirahat, atau mengembangkan dirinya. Data UNICEF menunjukkan, bahwa dalam tujuh dari sepuluh rumah tangga yang tidak memiliki air di tempat tinggal, perempuan dan anak perempuan berusia 15 tahun ke atas, menjadi pihak yang bertanggung jawab mengambil air.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Jadi, kekurangan air itu tidak pernah netral, selalu memiliki korban yang lebih banyak. Dan korban itu sering kali bukan mereka yang membuat keputusan.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Ketika Air Masuk ke Dalam Logika Kekuasaan(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Di sinilah saya teringat kembali pada rajah yang pernah dilantunkan Kang Dody Satya Ekagustdiman.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Ka luhur.
Ka handap.
Ka gigir.
Ka tukang.
Ka hareup.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Rajah itu mengingatkan bahwa manusia berada di tengah suatu kosmos relasional. Yang di atas menaungi, di bawah menjadi pijakan.Yang di samping menjaga, di belakang menyaksikan. Yang di depan membawa harapan. Tidak ada manusia yang berdiri sendirian.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Air adalah contoh paling nyata dari kebenaran itu. Air yang kita minum hari ini tidak muncul dari pabrik. Pabrik hanya mengolah dan mengemas. Air berasal dari suatu siklus kehidupan yang jauh lebih tua daripada perusahaan mana pun: hujan, tanah, hutan, sungai, mata air, tanah, akar, awan, dan laut.
Karena itu, ketika manusia menyedot air dari dalam bumi, pertanyaan etikanya tidak boleh berhenti pada: apakah izinnya lengkap? Kita harus bertanya lebih jauh: Siapa yang kehilangan ketika air itu diambil?(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Petani?
Desa?
Sungai?
Hutan?
Generasi berikutnya?
Atau seluruh ekosistem?(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Di titik inilah hukum, ekonomi, politik, ekologi, dan moralitas bertemu. Air tidak dapat diperlakukan hanya sebagai angka dalam izin eksploitasi. Satuannya mungkin liter per detik.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Tetapi di balik satu liter per detik itu, bisa terdapat sawah yang tidak terairi, sumur warga yang mengering, perempuan yang harus berjalan lebih jauh, anak yang terlambat sekolah, atau petani yang kehilangan penghasilan. Angka tidak pernah benar-benar netral, ketika angka tersebut menentukan siapa yang memperoleh air dan siapa yang kehilangan air.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Dari Pembangunan ke Komodifikasi(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Sejarah pengelolaan air Indonesia, juga memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak berdiri di ruang kosong.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Keterlibatan Bank Dunia dalam sektor air Indonesia, telah berlangsung sejak dekade 1970-an. Pada 1974, misalnya, Bank Dunia menyetujui Five Cities Water Supply Project untuk meningkatkan pelayanan air di Malang, Purwokerto, Banyuwangi, Jambi, dan Samarinda. Pada masa berikutnya, terutama setelah krisis ekonomi 1997–1998, hubungan antara reformasi sektor air, pembiayaan internasional, dan perubahan tata kelola menjadi jauh lebih kompleks.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Dokumen Bank Dunia mencatat, Water Resources Sector Adjustment Loan (WATSAL) sebesar US$300 juta untuk Indonesia, yang diberikan dalam tiga tahap dan dikaitkan dengan program reformasi sektor sumber daya air dan irigasi.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Di sinilah tesis Indra Kesuma Nasution, menjadi menarik untuk dibaca kembali: bukan semata-mata sebagai cerita tentang Bank Dunia, melainkan sebagai pertanyaan tentang bagaimana pengetahuan, pembiayaan, kebijakan, teknologi, dan kekuasaan dapat bersama-sama membentuk cara suatu negara memandang air. (NASUTION & Prof.Dr. Mohtar Mas’oed, 2005)(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Sebab privatisasi atau komersialisasi tidak selalu datang dengan wajah yang kasar. Ia dapat datang melalui bahasa yang sangat masuk akal:(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
efisiensi,
investasi,
teknologi,
pembangunan,
pelayanan,
profesionalisme.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Tidak ada kata yang terdengar berbahaya. Namun justru karena itulah, perlu dibaca secara kritis. Persoalannya, bukan karena apakah investasi swasta boleh hadir dalam sektor air.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Persoalan yang lebih mendasar adalah: di mana batas antara pelayanan publik dan kepentingan komersial? Kapan negara sedang menghadirkan pelayanan? Dan, kapan negara mulai menyerahkan ruang hidup masyarakat kepada logika pasar? Pertanyaan tersebut tidak boleh dijawab dengan ideologi yang terburu-buru. Tetapi, juga tidak boleh dihindari hanya karena kata investasi terdengar modern.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Klaten dan Harga yang Tidak Tercetak di Label Botol(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Kasus Klaten, menjadi salah satu contoh penting dalam perdebatan tersebut. Sejumlah kajian mengenai konflik pemanfaatan sumber air di sekitar Sigedang dan Kapilaler, mencatat adanya ketegangan antara kebutuhan komersial, kepentingan perusahaan, kebutuhan irigasi, dan kehidupan petani. Kajian UGM tahun 2007, mengenai konflik pemanfaatan sumber air Sigedang mencatat, bahwa eksploitasi melalui sumur bor di sekitar mata air Sigedang dan Kapilaler, dikaitkan dengan berkurangnya air irigasi bagi lahan pertanian di wilayah hilir, dan kemudian memicu protes petani.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Sementara itu, tulisan yang mengutip berbagai penelitian dan dokumen mengenai kasus tersebut mencatat persoalan debit pengambilan air, kompensasi, serta dampaknya terhadap pertanian dan sungai. Salah satu sumber mencatat bahwa kapasitas pengambilan yang semula 23 liter per detik disebut meningkat menjadi 30 liter per detik dan mengaitkannya dengan kekeringan serta defisit air irigasi. (Maulana, n.d.)(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Di sini, kita menemukan sesuatu yang sangat penting.
Harga air dalam botol tidak pernah menunjukkan seluruh harga sosial dari air itu sendiri.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Harga di toko mungkin hanya beberapa ribu rupiah, namun berapa harga sebuah mata air? Berapa harga satu hektare sawah yang kehilangan pengairan? Berapa harga waktu seorang ibu yang harus mencari air? Berapa harga anak perempuan yang tidak masuk sekolah karena harus membantu membawa air? Berapa harga sebuah sungai yang kehilangan debitnya? Dan, berapa harga generasi yang kelak menerima sumber air yang semakin rusak?(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Inilah yang sering hilang dari bahasa ekonomi. Pasar pandai menghitung harga. Namun, tidak selalu pandai menghitung kehilangan.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Air dan Rajah: Ka Luhur, Ka Handap(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Rajah mengajarkan sesuatu yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat radikal, bahwa manusia tidak pernah sendirian.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Ka luhur mengingatkan, bahwa ada sesuatu yang menaungi manusia. Dalam perspektif ekologis, kita dapat membacanya sebagai kesadaran bahwa manusia hidup di bawah hukum-hukum alam yang tidak dapat dinegosiasikan dengan uang.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Kita boleh memiliki teknologi canggih dengan merekayasa cuaca. Tetapi, kita tidak dapat memerintah hujan. Kita boleh memiliki modal besar. Tetapi, kita tidak dapat menciptakan mata air hanya dengan neraca keuangan. Kita dapat membeli mesin penyedot air. Tetapi, kita tidak dapat membeli kembali ekosistem yang sudah rusak.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Lalu ada ka handap. Yang menjadi pijakan, yaitu Tanah. Tanah menyimpan air. Hutan menjaga air. Akar menahan air. Tanah bukan sekadar bidang yang dapat diberi harga per meter persegi. Tanah adalah bagian dari sistem kehidupan.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Kemudian ka gigir, yang menjaga. Di sinilah masyarakat berada. Ada petani, perempuan, anak-anak, dan warga desa. Mereka, bukan sekadar “stakeholder”, istilah yang sering terdengar sangat rapi dalam dokumen proyek. Mereka adalah manusia yang hidup langsung dari air. Jangan ubah mereka menjadi sekadar angka dalam tabel konsultasi publik.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Kemudian ka tukang, yang melihat dari belakang. Itulah ingatan, sejarah, karuhun. Generasi yang telah pergi, tapi juga tanggung jawab terhadap jejak yang kita tinggalkan.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Dan akhirnya ka hareup, yang membawa harapan. Generasi yang belum lahir. Inilah dimensi yang paling sering dilupakan dalam kebijakan air. Kita mengambil air hari ini, seolah-olah masa depan tidak mempunyai hak untuk bertanya. Padahal, anak cucu kita kelak mungkin akan bertanya: Mengapa ketika kalian masih memiliki air, kalian membiarkan kami hidup dalam kekurangan?(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Jangan Sampai Air Menjadi Barang Mewah(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Kita perlu berhenti membicarakan air bersih, hanya saat kekeringan datang, saat banjir melanda. Berhenti mengingatnya hanya saat harga air naik. Air harus ditempatkan sebagai persoalan keadilan substantif.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Negara, memiliki tanggung jawab untuk memastikan, bahwa akses terhadap air aman, tidak ditentukan semata-mata oleh kemampuan membeli. Dunia internasional sendiri, menempatkan akses terhadap air dan sanitasi sebagai hak fundamental serta fondasi kesehatan, pembangunan, dan masyarakat yang inklusif. Karena itu, tata kelola air membutuhkan lebih dari sekadar izin dan investasi.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Hal tersebut membutuhkan keberanian politik, untuk mengatakan bahwa tidak semua yang dapat dikomersialkan, layak diperlakukan semata-mata sebagai komoditas.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Ada batas moral dalam setiap aktivitas ekonomi. Ada ruang yang harus dijaga sebagai kepentingan bersama. Dan, air adalah salah satunya. Kita tentu membutuhkan perusahaan, teknologi, bahkan investasi. Namun, perusahaan, teknologi, dan investasi, harus berdiri di dalam sistem kehidupan, bukan sebaliknya. Ekonomi seharusnya melayani kehidupan. Bukan kehidupan yang dipaksa menyesuaikan diri dengan ekonomi.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Kakek Saya Ternyata Tidak Sedang Bercanda(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Kini, saya teringat kembali pada ucapan kakek, “Jaga, ngke mah cai téh di botolan, dijualan.” Dulu, saya menganggapnya aneh. Sekarang, saya menyadari, kalimat itu bukan hanya ramalan tentang masa depan. Itu merupakan suatu peringatan.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Kakek mungkin tidak sedang membicarakan kapitalisme, privatisasi, WATSAL, maupun politik sumber daya alam. Ia hanya melihat sesuatu yang sangat sederhana, bahwa manusia bisa sampai pada suatu masa, ketika sesuatu yang paling dasar bagi kehidupan harus dibeli.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Dan, ternyata kita sudah sampai di sana. Karena itu, persoalan hari ini bukan lagi tentang apakah air akan dijual. Air memang sudah dijual. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah suatu hari nanti, manusia yang tidak mampu membeli air, akan kehilangan haknya untuk hidup?(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Di sinilah rajah memiliki makna yang dalam.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Eling-eling mangka eling (ingatlah selalu)
Eling ka diri sorangan (Ingat kepada diri sendiri)
Eling ka diri nu lian (Ingat kepada manusia lain)
Urang jeung alam teu aya antarana. (Kita dan alam tidak ada antara, terpisahkan)
Kalimat tersebut, seharusnya tidak berhenti sebagai syair kebudayaan. Semestinya menjadi etika publik. Sebab, air tidak mengenal batas antara kaya dan miskin, saat mengalir.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Air, tidak bertanya siapa pemilik tanah saat hujan turun, bahkan tidak mengenal kartu identitas ketika masuk ke dalam tubuh. Dan, alam tidak pernah mengirimkan tagihan kepada manusia. Tetapi suatu saat nanti, alam dapat mengirimkan akibat.
Kekeringan.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Banjir.
Penyakit.
Konflik.
Kemiskinan.
Migrasi.
Dan, mungkin perang.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Karena itu, menjaga air bukan sekadar menjaga sumber daya alam. Menjaga air adalah, menjaga kemungkinan manusia untuk tetap menjadi manusia.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Rajah mengingatkan kita bahwa manusia berada di tengah: dinaungi yang luhur, berpijak pada yang handap, dijaga oleh yang di gigir, disaksikan oleh yang di tukang, dan membawa harapan ka hareup.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Air pun demikian, menghubungkan langit dan tanah, hulu dan hilir, desa dan kota, petani dan konsumen, manusia hari ini dan manusia yang belum lahir. Maka, ketika kita mengambil air, sesungguhnya kita tidak pernah mengambilnya sendirian. Ada alam yang ikut memberi. Ada masyarakat yang mungkin ikut menanggung. Ada generasi masa depan yang belum bisa bersuara.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Barangkali itulah makna terdalam dari amit dalam rajah. Meminta izin bukan tanda manusia lemah. Hal tersebut merupakan pengakuan, bahwa kita bukan pemilik tunggal kehidupan.(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Dan mungkin, sebelum kita menyedot lebih banyak air dari bumi, sebelum kita membangun lebih banyak pabrik. Atau, sebelum kita menjual lebih banyak air dalam botol. Kita, perlu mengucapkan satu kata yang hampir hilang dari kesadaran modern, yaitu menyatakan amit (Permisi).(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Sebab, manusia yang masih tahu cara meminta izin kepada alam, akan lebih tahu kapan harus berhenti. (jbp 17/09/2026)(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
Referensi(Source: kosapoin.com/air-bersih-dan-manusia-yang-lupa-mohon-izin-kepada-alam)
- Maulana, M. H. (n.d.). Negara dalam Cengkeraman: Privatisasi dan Komersialisasi Sumber Daya Air. Retrieved September 16, 2026, from https://lk2fhui.law.ui.ac.id/portfolio/negara-dalam-cengkeraman-privatisasi-dan-komersialisasi-sumber-daya-air/
- NASUTION, I. K., & Prof.Dr. Mohtar Mas’oed. (2005). Rezim komodifikasi air dunia :: Studi kasus Peranan Bank Dunia dalam Privatisasi Air di Indonesia. Universitas Gadjah Mada. Retrieved from https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/27942









