KETIKA TANAH MENGAJARI MANUSIA TENTANG DIRINYA

ketika tanah mengajari manusia tentang dirinya

Menanggapi Esai “Jatuh” – Doni Muhamad Nur(Source: kosapoin.com/ketika-tanah-mengajari-manusia-tentang-dirinya)

Ada satu kata yang sejak kecil kita pelajari untuk dihindari: jatuh. Kita tahu rasanya jatuh dari sepeda, jatuh dari pohon, jatuh dalam pelajaran, dalam pekerjaan, dalam cinta, dari kekuasaan, atau dari kejayaan. Bahkan ketika usia mulai menua, kita takut jatuh karena tubuh tak lagi punya tenaga untuk bangkit seperti dahulu, seolah-olah jatuh adalah dosa besar dalam hidup. Kita kemudian tumbuh dalam kebudayaan yang terlalu memuja kata “naik”: naik jabatan, naik pendapatan, naik status sosial, naik popularitas, naik jumlah pengikut, hingga naik kekuasaan. Hidup dianggap berhasil kalau grafiknya terus bergerak ke atas, dan begitu grafik itu menurun, kita langsung panik dan menyebutnya kegagalan.(Source: kosapoin.com/ketika-tanah-mengajari-manusia-tentang-dirinya)

Di sinilah refleksi atas esai “Jatuh” karya Doni Muhamad Nur terasa begitu penting, sebab barangkali masalah kita bukan pada peristiwanya yang jatuh, melainkan karena sejak awal kita sudah dicecoki pemahaman bahwa jatuh adalah hal yang paling memalukan di dunia. Padahal, tanah tidak pernah mempermalukan siapa pun; tanah hanya menerima. Ketika seseorang jatuh terhempas, tanah tidak bertanya mengapa ia gagal, tidak peduli berapa jabatannya, seberapa tebal dompetnya, apa gelar akademiknya, atau berapa banyak orang yang memujanya. Tanah hanya mendekap tubuh yang lelah itu apa adanya, dan mungkin karena itulah jatuh punya makna yang jauh lebih dalam dari sekadar kehilangan kedudukan, yaitu sebagai kepulangan manusia kepada kenyataan.(Source: kosapoin.com/ketika-tanah-mengajari-manusia-tentang-dirinya)

Selama berada di atas, manusia gampang lupa kalau dirinya punya batas. Punya kuasa sedikit, merasa tak tersentuh. Punya uang banyak, merasa semua bisa dibeli. Dipuji orang, mulai percaya kalau dirinya memang sehebat itu, hingga di puncak ia sering lupa bahwa puncak bukanlah tempat tinggal abadi. Maka, mau tidak mau, kehidupan harus menjatuhkan manusia supaya ia ingat lagi ukuran dirinya. Jatuh dalam pekerjaan mengajarkan kalau profesi kita bukanlah identitas seluruh hidup. Jatuh dalam cinta mengingatkan bahwa kita tidak boleh menggantungkan seluruh napas pada orang lain. Jatuh karena kehilangan mengajarkan bahwa yang kita sayangi tidak selalu ditakdirkan menetap. Dan jatuh karena usia membuktikan bahwa tubuh punya hukum alam yang tidak bisa dinegosiasikan dengan kesombongan, sehingga pada akhirnya jatuh mengajarkan satu hal yang paling jujur: kita ternyata tidak sehebat yang selama ini kita bayangkan. Dan justru dari situlah kejujuran itu bermula.(Source: kosapoin.com/ketika-tanah-mengajari-manusia-tentang-dirinya)

Manusia modern hari ini hidup dalam paradoks yang aneh. Alat ukurnya banyak sekali, tapi kemampuannya untuk menengok ke dalam diri sendiri justru menipis. Kita fasih menghitung harta, pengikut, dan prestasi, tapi mendadak gagap ketika harus menjawab satu pertanyaan remeh: “Siapa aku ketika semua atribut itu hilang?” Pertanyaan itu biasanya baru datang bertamu ketika seseorang benar-benar jatuh, sebab sewaktu semuanya baik-baik saja, kita terlalu sibuk menjaga citra, sibuk mempertahankan jabatan, reputasi, hubungan, dan kesan bahwa hidup kita baik-baik saja. Jatuh merobek semua topeng itu dalam sekejap dan memaksa kita berhadapan muka dengan diri sendiri tanpa dekorasi apa pun.(Source: kosapoin.com/ketika-tanah-mengajari-manusia-tentang-dirinya)

Meski begitu, kita juga tidak boleh terjebak meromantisasi penderitaan karena tidak semua orang yang jatuh otomatis jadi bijak. Ada yang jatuh lalu bangkit dengan kerendahan hati, tapi ada pula yang jatuh lalu memilih merawat dendam dan menyalahkan dunia. Yang menentukan pada akhirnya bukan peristiwa jatuhnya, melainkan kesadaran setelahnya. Dua orang bisa menanggung nasib sial yang sama persis; yang satu meratap, “Kenapa dunia jahat banget sama aku?” sedangkan yang satunya lagi merenung, “Kira-kira apa ya yang lagi coba diajarin kehidupan ke aku?” Di persimpangan dua pertanyaan itulah arah hidup mereka selanjutnya ditentukan, sebab bangkit itu tidak selalu berarti kembali duduk di singgasana semula, melainkan menuntut keberanian untuk menjadi manusia yang sama sekali baru dengan melepaskan ego serta ilusi kesempurnaan.(Source: kosapoin.com/ketika-tanah-mengajari-manusia-tentang-dirinya)

Orang yang pernah jatuh mestinya tahu persis bagaimana rasanya berada di titik nadir sehingga ia jadi lebih punya empati. Orang yang pernah menganggur tidak akan gampang merendahkan pencari kerja, dan orang yang pernah gagal tidak akan menertawakan orang lain yang sedang jatuh, sebab luka yang tidak direnungkan dengan bijak hanya akan melahirkan luka-luka baru. Maka, kalimat yang paling mengena dari perenungan ini bukanlah sekadar “jangan takut jatuh,” melainkan: “Jangan takut kehilangan kesombongan ketika jatuh.” Sebab yang jatuh sebenarnya bukanlah diri kita, melainkan ego kita yang selama sini terlalu tinggi; biarkan saja ia tinggal di tanah dan biarkan bumi mengajarinya cara menunduk. Manusia memang tidak melulu butuh langit untuk paham arti hidup, terkadang ia justru butuh dihempaskan ke tanah agar tahu rasanya berpijak, bahwa semua yang menjulang pasti akan merendah pada waktunya dan hidup bukanlah ajang perlombaan untuk terus-menerus berada di atas.(Source: kosapoin.com/ketika-tanah-mengajari-manusia-tentang-dirinya)

Hidup adalah perjalanan panjang untuk mengenali diri, bahkan di saat jalan itu memaksa kita berjalan turun, karena bahaya yang paling nyata bukanlah jatuh, melainkan hidup terlalu lama di atas awan sampai lupa kalau kita cuma manusia biasa. Jadi, kalau suatu hari nanti kita jatuh, jangan buru-buru merutuk: “Kenapa harus aku?” Sebaliknya, tanyakanlah hal yang jauh lebih penting dari itu: “Setelah jatuh, manusia seperti apa yang ingin aku bangun kembali dari tanah ini?”(Source: kosapoin.com/ketika-tanah-mengajari-manusia-tentang-dirinya)

Yogyakarta, 02 September 2026(Source: kosapoin.com/ketika-tanah-mengajari-manusia-tentang-dirinya)

Erni Ranti Yuanita

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.74
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *