100 PUISI Yusef Muldiyana

agustusan di republik begal cover puisi yusef muldiana

AGUSTUSAN DI REPUBLIK BEGAL(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

1
Bulan Agustus bendera berkibar,
Merah putih menari di pagar,
Negeri merdeka katanya benar,
Tapi dompet rakyat masih gemetar.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

2
Pagi-pagi lomba dimulai,
Panjat pinang ramai sekali,
Hadiah di atas susah dicapai,
Seperti keadilan yang dicari.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

3
Anak-anak berlari mengejar kerupuk,
Ibu-ibu tertawa sambil berteriak,
Bapak-bapak sibuk mencari duduk,
Karena lombanya kalah sebelum bergerak.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

4
Di ujung gang ada panggung,
Spanduk besar dipasang melintang,
Tulisan merdeka tampak mengagumkan,
Di bawahnya rakyat antre utang.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

5
Ketua panitia naik ke podium,
Pidatonya panjang sampai malam,
Katanya bangsa harus optimistis,
Sementara konsumsi habis diambil panitia.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

6
Bendera dipasang dengan gagah,
Tiangnya miring hampir tumbang,
Begitulah republik kita tercinta,
Berdiri tegak dengan keseimbangan yang hilang.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

7
Ada lomba memasukkan pensil,
Pesertanya gugup luar biasa,
Katanya melatih ketelitian,
Tapi pejabat memasukkan anggaran tanpa merasa.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

8
Ada lomba makan kerupuk,
Kerupuk digantung setinggi kepala,
Rakyat makan dengan mulut menekuk,
Pejabat makan anggaran dengan tangan leluasa.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

9
Anak kecil ikut balap karung,
Jatuh bangun tetap tertawa,
Orang dewasa mengejar kursi kosong,
Jatuh harga diri tidak apa-apa.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

10
Di lapangan terdengar musik,
Dangdut mengguncang tiang bendera,
MC berteriak penuh panik,
“Yang belum bayar kas, jangan pura-pura merdeka!”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

11
Republik Begal sedang berpesta,
Bendera berkibar sepanjang jalan,
Yang dibegal bukan cuma harta,
Kadang waktu, harapan, dan masa depan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

12
Begal motor beraksi malam,
Begal anggaran bekerja siang,
Yang satu membawa golok tajam,
Yang satu membawa stempel dan tanda tangan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

13
Begal kecil masuk berita,
Wajahnya disorot seluruh negeri,
Begal besar masuk acara,
Senyumnya lebar di televisi.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

14
Polisi mengejar begal jalanan,
Sirene meraung membelah malam,
Begal anggaran duduk nyaman,
Katanya sedang rapat membahas program.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

15
Rakyat bertanya penuh heran,
“Ini negara atau arena?”
Yang punya kuasa punya keamanan,
Yang tak punya apa-apa punya doa.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

16
Agustus datang membawa semangat,
Pidato kemerdekaan terdengar gagah,
“Jangan pernah menyerah menghadapi berat!”
Rakyat menjawab, “Beratnya di biaya sekolah.”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

17
Ada lomba tarik tambang,
Dua kelompok saling menarik,
Rakyat menarik gerobak sepanjang siang,
Harga kebutuhan ikut menarik naik.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

18
Harga beras naik perlahan,
Minyak goreng ikut melambung,
Rakyat bertanya penuh kesabaran,
“Apakah dompet juga boleh terbang?”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

19
Pedagang kecil membuka lapak,
Berjualan dari pagi sampai petang,
Untung sedikit tetap bersyukur,
Pajak datang lebih cepat daripada pelanggan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

20
Anak muda duduk di warung,
Ngopi sambil membahas bangsa,
“Kalau begini terus kita bingung,”
Kopi habis, masalah tetap ada.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

21
Di panggung tampil penyanyi,
Menyanyikan lagu perjuangan,
Suara merdu menggugah hati,
Honor penyanyi lupa dibayarkan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

22
MC berkata, “Hidup kemerdekaan!”
Penonton menjawab dengan semangat,
Tapi ketika ditanya soal keadilan,
Semua mendadak sinyalnya lambat.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

23
Panjat pinang dimulai ramai,
Pohon dilumuri oli dan minyak,
Semua berebut hadiah sampai terkulai,
Begitulah hidup mengejar yang di atas.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

24
Yang di bawah saling menopang,
Yang di atas menikmati hadiah,
Kalau begini terus sepanjang zaman,
Yang bawah capek, yang atas tertawa.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

25
Ada lomba joget balon,
Peserta menari penuh gaya,
Negeri ini juga pandai berjoget,
Mengikuti irama perubahan kebijakan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

26
Hari kemerdekaan penuh hiasan,
Umbul-umbul menghiasi gang,
Namun di balik kemeriahan,
Ada tetangga menjual televisi untuk bayar utang.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

27
Bapak-bapak lomba pecahkan balon,
Pukulannya keras bukan kepalang,
Andai kemiskinan punya balon,
Mungkin sudah pecah sejak zaman perang.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

28
Ibu-ibu lomba merias wajah,
Cantik semua seperti bintang,
Tapi setelah belanja kebutuhan rumah,
Wajah cantik berubah jadi tegang.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

29
Anak-anak lomba kelereng,
Jalan perlahan menahan bola,
Orang dewasa mengejar rekening,
Sambil berharap rezeki tiba-tiba.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

30
Ada lomba mencari koin,
Koin ditanam dalam tepung,
Rakyat mencari rezeki sampai kering,
Yang ditemukan malah cicilan menumpuk.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

31
Republik Begal punya tradisi,
Setiap Agustus penuh pesta,
Yang dirampas bukan cuma materi,
Kadang akal sehat ikut dibegal juga.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

32
Ada begal mencuri sepeda,
Ditangkap warga tengah malam,
Ada yang mencuri masa depan bangsa,
Besoknya masih sibuk tersenyum dalam sidang.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

33
Rakyat disuruh hidup hemat,
Belanja jangan terlalu banyak,
Tapi gedung baru terus dibuat,
Katanya demi pelayanan rakyat.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

34
Jalan berlubang dibiarkan lama,
Motor lewat harus zig-zag,
Katanya pembangunan luar biasa,
Lubangnya saja sudah internasional.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

35
Jembatan retak diberi papan,
Tulisan “Hati-hati” terpampang jelas,
Negeri ini memang penuh peringatan,
Tapi yang berbahaya kadang justru yang berkuasa.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

36
Bendera merah putih berkibar,
Di atas kantor yang megah,
Rakyat berdiri hormat dengan sabar,
Sambil menunggu pelayanan yang entah ke mana.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

37
Ada lomba memasukkan paku,
Ke botol kecil dengan teliti,
Rakyat mencari kerja berbulan-bulan,
Lamaran dikirim, balasan tidak kembali.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

38
Anak muda ingin jadi sarjana,
Kuliah mahal bukan kepalang,
Setelah lulus mencari kerja,
Ijazahnya ikut antre panjang.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

39
Katanya pemuda harapan bangsa,
Katanya pemuda penerus negara,
Tetapi lowongan kerja berkata,
“Pengalaman lima tahun, umur maksimal dua puluh tiga.”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

40
Pemuda tertawa getir sekali,
Lalu membuka aplikasi pinjaman,
Kemerdekaan terasa tinggi,
Cicilan terasa lebih dekat dengan kenyataan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

41
Di desa ada lomba voli,
Bola dipukul ke kiri kanan,
Begitulah politik negeri,
Bola dilempar, rakyat jadi sasaran.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

42
Partai memasang spanduk besar,
Wajah tersenyum penuh wibawa,
Janji dibuat setinggi langit,
Setelah menang lupa alamat warga.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

43
Dulu bilang rakyat saudara,
Setelah terpilih sibuk beragenda,
Saat butuh suara datang menyapa,
Setelah duduk, nomor telepon berubah.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

44
Ada baliho sepanjang jalan,
Wajahnya besar mengalahkan toko,
Senyumnya penuh keyakinan,
Rakyat bertanya, “Siapa yang bayar semua itu?”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

45
Jawabannya selalu sederhana,
“Ini bentuk pengabdian.”
Rakyat tersenyum tanpa suara,
“Pengabdian kok pakai uang anggaran?”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

46
Bulan Agustus penuh lomba,
Semua warga berkumpul bersama,
Yang paling sulit bukan lomba,
Melainkan menjaga persatuan di tengah beda kepentingan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

47
Ada lomba balap bakiak,
Tiga orang harus seirama,
Kalau satu orang bergerak seenaknya,
Semua jatuh bersama-sama.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

48
Begitu pula sebuah negara,
Tak bisa berjalan sendiri-sendiri,
Kalau yang kuat hanya mengejar kuasa,
Yang lemah akan jatuh berkali-kali.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

49
Ketua RT memberi sambutan,
“Jangan buang sampah sembarangan!”
Warga mengangguk penuh kesopanan,
Besok paginya sampah memenuhi halaman.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

50
Satpam berjaga sepanjang malam,
Menjaga kampung dari pencuri,
Ia digaji dengan sangat minim,
Tapi diminta menjaga keamanan negeri.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

51
Ada ronda membawa kentongan,
Bunyi tong-tong membelah sunyi,
Yang berjaga takut kemalingan,
Yang tidur bermimpi jadi pejabat tinggi.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

52
Kentongan dipukul bertalu-talu,
“Waspada! Waspada!” terdengar keras,
Begal datang dari segala penjuru,
Sebagian membawa motor, sebagian membawa berkas.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

53
Begal jalanan merampas dompet,
Begal pikiran merampas logika,
Begal anggaran menguras paket,
Begal janji menguras suara.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

54
Kita tertawa melihat semua,
Sebab menangis sudah terlalu lama,
Komedi menjadi obat sementara,
Untuk republik yang kadang kehilangan drama.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

55
Ada lomba balon pecah,
Bunyinya mengagetkan tetangga,
Begitu pula janji yang indah,
Pecah setelah kursi didapatkan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

56
Ada lomba kelereng di sendok,
Jangan sampai jatuh ke tanah,
Rakyat belajar berjalan tegak,
Meski kebijakan kadang membuat lelah.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

57
Di panggung anak kecil bernyanyi,
“Indonesia tanah airku,”
Suaranya jujur dari hati,
Tak tahu besok bayar sekolah dari mana dulu.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

58
Bapak-bapak tepuk tangan,
Ibu-ibu menyeka mata,
Anak kecil menyanyi kemerdekaan,
Orang dewasa sibuk menghitung biaya.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

59
Kemerdekaan bukan sekadar upacara,
Bukan sekadar bendera dan lomba,
Kemerdekaan adalah ketika manusia,
Tak takut lapar di tanah sendiri.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

60
Kemerdekaan bukan hanya slogan,
Bukan tulisan di baliho,
Kemerdekaan adalah kesempatan,
Agar rakyat hidup tanpa ditindas oleh siapa pun.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

61
Namun di Republik Begal,
Slogan tumbuh subur di mana-mana,
Spanduk besar terlihat gagah,
Isi dompet rakyat makin sederhana.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

62
Ada yang berkata, “Rakyat harus sabar,”
Rakyat menjawab, “Sudah dari dulu,”
Ada yang berkata, “Ekonomi mulai lancar,”
Rakyat bertanya, “Lancar ke mana, Pak?”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

63
Ada yang berkata, “Harga terkendali,”
Ibu-ibu langsung tertawa,
“Kalau benar harga terkendali,
Mengapa uang belanja cepat menghilang?”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

64
Pasar ramai menjelang Agustus,
Penjual bendera berjajar rapi,
Bendera murah banyak terjual,
Harga kehidupan tak pernah diskon lagi.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

65
Anak kecil membeli bendera,
Dibawa pulang dengan bangga,
Ia belum tahu arti negara,
Tapi sudah tahu arti uang belanja.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

66
Di sekolah guru bercerita,
Tentang pahlawan yang berjuang,
Murid bertanya dengan polosnya,
“Bu, sekarang pahlawan masih ada?”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

67
Guru tersenyum lalu menjawab,
“Masih, Nak, jumlahnya banyak.”
“Siapa, Bu?” murid bertanya,
“Yang jujur ketika punya kesempatan untuk tidak jujur.”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

68
Murid mengangguk perlahan,
Lalu mencatat dengan tenang,
Barangkali itulah kemerdekaan,
Memilih benar ketika salah lebih menguntungkan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

69
Di panggung malam mulai meriah,
Lampu warna-warni menyala,
Orang-orang tertawa bahagia,
Walau listrik sebentar lagi jatuh tagihannya.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

70
MC kembali berteriak,
“Bapak ibu mari bergembira!”
Rakyat menjawab serempak,
“Boleh, asal jangan tambah iuran!”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

71
Ada lomba pecahkan kendi,
Kendi dipukul sampai pecah,
Kalau kebohongan punya kendi,
Mungkin satu republik sudah penuh pecahan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

72
Ada lomba rebut kursi,
Musik berhenti semua berebut,
Yang terlambat kehilangan posisi,
Persis politik menjelang pemilu.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

73
Kursi satu jadi rebutan,
Peserta saling sikut perlahan,
Yang menang duduk penuh kebanggaan,
Yang kalah tetap mencari jabatan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

74
Ada kursi goyang di panggung,
Penonton tertawa melihatnya,
Di republik kita kursi pun bingung,
Siapa duduk, siapa yang menggesernya.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

75
Pahlawan dulu berjuang dengan darah,
Bukan mengejar pujian dan jabatan,
Kini sebagian sibuk mencari nama,
Agar fotonya masuk spanduk perayaan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

76
Nama besar dicetak besar,
Prestasi kecil dicetak kecil,
Yang penting wajah terlihat jelas,
Meski rakyat belum tentu mengenal.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

77
Baliho tersenyum sepanjang jalan,
Senyumnya tak pernah berubah,
Hujan turun, panas menerjang,
Senyumnya tetap lebih kuat dari masalah.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

78
Kalau baliho bisa bicara,
Mungkin ia akan bertanya,
“Kenapa aku terus dipasang?”
Rakyat menjawab, “Karena wajahmu lebih banyak daripada kerja.”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

79
Di Republik Begal ada aturan,
Semua harus patuh katanya,
Yang kecil cepat dapat hukuman,
Yang besar kadang dapat penghargaan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

80
Rakyat jangan parkir sembarangan,
Rakyat jangan buang sampah,
Rakyat jangan melanggar aturan,
Tapi aturan kadang dilanggar dengan tanda tangan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

81
Ada lomba estafet karet,
Karet dipindahkan dengan sedotan,
Negeri ini pandai sekali estafet,
Masalah diwariskan dari pemerintahan ke pemerintahan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

82
Generasi lama menyerahkan beban,
Generasi baru menerimanya,
Semua bilang demi masa depan,
Masa depan bingung siapa yang menanggungnya.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

83
Ada lomba membawa air,
Jangan sampai tumpah di jalan,
Rakyat membawa harapan yang cair,
Sedikit-sedikit menguap oleh keadaan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

84
Ada lomba mencari pasangan,
Peserta berlari ke sana kemari,
Rakyat juga mencari kepastian,
Tentang harga, kerja, dan hari esok nanti.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

85
Malam semakin larut,
Kembang api meledak di udara,
Langit penuh cahaya berkilau,
Sementara jalan kampung tetap gelap gulita.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

86
Anak-anak bersorak gembira,
Melihat kembang api berwarna,
Orang tua tersenyum seadanya,
Menghitung harga kembang api dalam kepala.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

87
Kembang api naik tinggi,
Lalu pecah menjadi cahaya,
Begitulah janji saat kampanye,
Indah sebentar, hilang entah ke mana.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

88
Musik berhenti menjelang tengah malam,
Panitia mulai membereskan kursi,
Bendera masih berkibar dalam diam,
Seolah bertanya, “Sudahkah kita benar-benar merdeka?”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

89
Sampah berserakan di lapangan,
Bekas makanan memenuhi tanah,
Pesta selesai, datang pekerjaan,
Merdeka ternyata tetap harus bertanggung jawab.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

90
Ketua panitia menghitung uang,
“Lho, kok kurang?” katanya bingung,
Bendahara menjawab tenang,
“Barangkali uangnya ikut lomba panjat pinang.”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

91
Semua tertawa terbahak-bahak,
Karena tuduhan belum terbukti,
Namun satu hal terasa ganjil,
Mengapa uang selalu hilang ketika pesta selesai?(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

92
Pak RT berkata, “Mari introspeksi,”
Warga mengangguk penuh kesadaran,
Lalu seseorang berbisik pelan,
“Introspeksi boleh, tapi jangan lupa transparansi.”(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

93
Republik Begal bukan negeri tanpa harapan,
Masih banyak manusia yang tulus,
Masih banyak tangan mau menolong,
Masih banyak hati menolak rakus.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

94
Masih ada guru yang jujur,
Masih ada petani mencintai tanah,
Masih ada buruh bekerja luhur,
Meski hidupnya belum tentu mudah.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

95
Masih ada pemuda menjaga kampung,
Masih ada ibu berbagi makanan,
Masih ada tetangga yang menolong,
Tanpa bertanya berapa imbalan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

96
Mungkin republik belum sempurna,
Mungkin begal masih berkeliaran,
Tapi jangan sampai kita menyerah,
Pada keadaan yang kita keluhkan.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

97
Jika yang jujur terus diam,
Jika yang baik memilih pergi,
Maka ruang akan semakin lapang,
Untuk para pembegal hati dan negeri.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

98
Maka Agustus jangan hanya pesta,
Jangan hanya lomba dan hadiah,
Mari merdeka dari keserakahan,
Merdeka dari dusta dan angkara.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

99
Biar merah putih tetap berkibar,
Bukan hanya di tiang upacara,
Tapi hidup di dalam hati setiap warga,
Sebagai keberanian menjaga sesama.(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

100
Agustusan boleh penuh tawa,
Republik Begal boleh jadi bahan satire,
Namun di balik gelak dan canda,
Kita titip satu harapan terakhir:
Merdekalah dari menjadi begal,
Merdekalah dari membegal sesama,
Merdekalah dari membegal keadilan,
Dan jadikan Indonesia rumah bersama.
MERDEKA! 🇮🇩(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

Bandung 29 Agustus 2026(Source: kosapoin.com/100-puisi-yusef-muldiyana-4)

PUISI Agung Maulana
Baca Tulisan Lain

PUISI Agung Maulana

Yusef Muldiyana

Apakah artikel ini membantu?
IP: 57.141.16.102
Negara: United States (Washington)
Device: Desktop
OS: Windows, Browser: Chrome

One thought on “100 PUISI Yusef Muldiyana

  1. Bah Yusef naha 100 Puisi? Naha teu 81 Puisi? Sa abad mah lami keneh. Hehehe puisinya asyik dan seru serta menggelitik.
    Tapi tetep kuniat eta 100 Puisi. Hihihi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *