Lampu kota gemerlap pesta warna sepanjang jalan menerobos kaca mobil yang melaju di arus yang cukup padat. Warna-warni mengukir kehidupan makhluk metropolis penghuninya. Dan pendaran cahaya warna itu memantul di kelopak mata dua perempuan yang duduk berdampingan dalam kebisuan. Pelangi malam hari menghiasi mata Nadya yang sembab: duduk di samping Esmeralda yang menyetir, termangu dalam diam dan tubuh kaku dengan tatapan menerawang. Nadya, adik ketiga dari Esmeralda, kakak tertua dari 5 bersaudara, walau air mukanya seperti sedang menahan perasaan bete: begitulah takdir orang cantik, tetep aja cantik.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Di balik kacamata, spektrum warna membias di sorot mata Esmeralda yang tajam. Fokus memandang riuhnya kendaraan yang antri memanjang: tiga baris kendaraan merayap masing-masing di ruas jalan satu arah. Sesekali mobil di kiri dan kanan melaju, tak ada yang berusaha berpindah jalur apalagi menyalip, semua tertib di jalurnya masing-masing.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Mobil sedan kecil merah menyala di samping kanan tepat sejajar dengan pandangan Esmeralda, nampak para penumpang. Keluarga muda! Anak usia 5–6 tahunan duduk dan asyik berceloteh di samping ayahnya yang menyetir. Sementara di belakang, dengan tak kalah gembiranya, seorang wanita cantik menggendong bayinya yang tertidur, mereka terlibat percakapan dalam cengkerama tawa riang. Esmeralda melihatnya dengan pandangan mendalam, sambil mencoba memahami perasaan dirinya yang entah. Sesekali ia kembali melihat ke depan dan ujung mata kirinya mencoba memahami reaksi setiap bahasa tubuh sang adik.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Waktu seperti melambat. Esmeralda mengetuk-ngetukan jemarinya di atas setir dan ekspresi wajahnya beberapa kali berubah, mungkin sedang merespon apa yang ada dalam benaknya yang tiba-tiba saja terasa rumit.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Dinamika kehidupan di keluarga bukan saja menguji kesabaran, tapi butuh pengambilan keputusan dan cara yang tepat di tengah konflik yang berlarut-larut. “Nadya… Nadya…! Ketegasan! Ya, cuma ketegasan dariku dan ortuku… malam ini tunggu ketuk palu dari kami!” gerutu batin Esmeralda—itu cuma imajinasiku menebak ekspresi wajah Esmeralda: sedikit polesan makeup tipis di wajahnya yang putih berkilau namun berkarakter tegas dan berwibawa, tak sedikit orang mengira selintas ia mirip pria!!.. pria yang sangat tampan!… sedikit polesan lipstik di bibir menghiasi raut wajah dalam pesona Latina beauty aesthetic ala Eleanor putri mahkota pewaris kerajaan Spanyol berpadu gen Sunda Garut menurun dari moyang kedua ortunya, dan seperti itu cukup memberi gambaran Esmeralda bukan sosok wanita biasa…. Segelintir orang-orang sekitar—tanpa Esmeralda tahu—menjulukinya Singa Betina yang tampan! Bukan sarkastik apalagi merendahkan, tapi dalam kagum perasaan fantasy. Sayang di usia 35 tahun Esmeralda masih asyik dengan kesendirian seperti belum punya hasrat bersuami… entahlah!(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Di antara keluarga, Esmeralda adalah sosok panglima bagi adik-adiknya. Tak terbantahkan, tiga dari empat adiknya cuma kucing kecil di bawah superioritas telunjuk kakak tertua. Satu pengecualian adalah Nadya, adik ketiga; ya, Nadya bukan kucing kecil, ia lebih mirip representasi sosok serigala, punya keteguhan prinsip, punya cara berkelit untuk menjadi diri sendiri, tak mau tunduk begitu saja, walau tentu saja menyimpan rasa hormat yang tinggi kepada sang kakak.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Mobil bergerak perlahan, namun suasana dalam mobil selayak mengangkut lemari es dua pintu berisi penuh es batu, tak bergeming dan susah mencair. Tak ada percakapan. Keduanya tenggelam dalam perasaan mereka masing-masing. Diam adalah pilihan untuk saling menghargai sekaligus menghindari perdebatan. Atau mungkin pilihan diam itu musabab jengah karena ada aku yang duduk di belakang yang nampak dongo. Andai kehadiranku di belakang jok mobil ini adalah tugas khusus dari big boss-ku, Pak Johan, ayah kedua makhluk spesial ini. “Temani mereka berdua, biarkan mobil Nadya dibawa sopir, tukar posisi biar Esmeralda bisa satu mobil,” begitu strategi big boss. Nyaris ini seperti penculikan. Dan terus terang sebagai pengawal pribadi big boss, di depan Esmeralda apalagi Nadya aku merasa kehilangan reputasi. Raut muka Nadya nampak dongkol ketika tadi memandangku. Merasa aku melakukan penghianatan. Persengkongkolan yang tak terelakkan. Tugas mulia bagiku mengawal Esmeralda, namun serasa “penculikan” bagi Nadya. Dilematis. Bukan karena kehilangan ketegasan dalam melindungi sosok-sosok VVIP, namun mereka lebih dari sekadar anak big boss. Sedari usia remaja aku ini dianggap seperti oom-nya, dan dari 5 bersaudara, keduanya yang paling akrab dan sopan memperlakukanku, dan dulu seseorang yang dipercaya untuk menerima curhatnya adalah aku.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Sebelumnya, telah berkali-kali aku disuruh big boss untuk menjemput Nadya di apartemennya atau di cafe n resto sebuah hotel tempat ia selalu mengisi acara sebagai penyanyi, namun misi itu selalu saja gagal membawa hasil, begitu pula Aldi anak kedua, selalu tak berhasil membawa Nadya. Jangan berharap pada alat komunikasi. Serigala cantik ini takkan mempan, pandai berkelit, dan… pendek kata tidak akan efektif. Kalau bukan Esmeralda kakak tertua sendiri yang menjemput Nadya, dipastikan selalu akan mengabaikan, dan kehadiran Esmeralda tadi di kafe saat Nadya sedang menghibur pengunjung cukup mengagetkan, tak menyangka Esmeralda sendiri yang turun tangan. Tanpa menelepon terlebih dulu tentunya. Serangan mendadak. Singa betina yang tampan dengan… serigala yang cantik saling berhadapan langsung. Aku mungkin perlu beribu kata untuk merayu Nadya untuk segera pulang seperti yang telah kulakukan beberapa kali sebelumnya. Kini bukan saja taringku yang copot, namun nyaris gigiku rontok semua alias seperti macan ompong.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Di penghujung lagu itu, Nadya dan teman pengiringnya—mereka semua tahu siapa itu Esmeralda, mereka memanggilnya Ibu Alda dan julukan Singa Betina yang Tampan itu pertama kali muncul dari ciutan mereka—nampak terjadi perubahan raut wajah manakala melihat dengan jelas Esmeralda berada tepat di tengah meja bar. Mata menyipit namun menyorot dengan tajam, sedikit dagu terangkat, keelokan bercampur ketegasan yang khas. Si Anto pemain gitar sampai salah grip tatkala melihat sorot tajam seperti itu, mereka ibarat kelinci yang siap dimangsa sang singa. Namun Esmeralda cukup bijak, menanti usai lagu, dan Nadya meski baru melantun satu lagu, suka nggak suka, harus turun panggung. Dengan segera Esmeralda menghampiri Nadya di samping panggung. Dengan datar tanpa aksen berlebih hanya satu kata: …”Pulang!” cetusnya dan satu gelengan kepala mengarahkan Nadya untuk diam tanpa harus bicara, hanya perlu berkemas. Entah mengapa juga, Nadya seperti kerbau dicocok hidung, menuruti perintah begitu saja. Satu lirikan Esmeralda dengan wajah datar ke arah para pengiring cukup memberi arti yang mereka pradugakan bahwa mungkin segera akan berlangsung perang Baratayudha dan hanya bisa dijawab dengan senyum was-was dan anggukan yang dipaksakan, bahasa tubuh yang berarti, “silahkan dan jangan libatkan kami!”. Untung saja MC-nya cekatan memahami situasi tanpa pengunjung tahu. Wibawa dan kondusifitas acara bisa terjaga… berlanjut meski tanpa Nadya.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Dan di balik semua peristiwa ini sedikit ku-fahami segera. Aku pada akhirnya hanyalah sekelas prajurit, sedekat apapun dengan mereka tidaklah cukup pantas mengetahui apa sebenarnya yang menjadi persoalan. Yang kutahu nyaris 1 bulan pasca Idulfitri mereka memilih saling diam membisu, bahkan di meja makan keluarga pun mereka tak bertegur sapa. Sebelumnya, Nadya sempat dimarahi Esmeralda dan mungkin itu membuat perasaan Nadya terluka. Nadya yang menolak membantu perusahaan karena merasa tak memiliki ilmu tentang seluk-beluk perusahaan, walau kemudian ditengahi sama ayahnya, Nadya tetap ngotot akan memilih jalan karier sendiri. Menjadi penyanyi! Nggak peduli dibilang amatir, bagi Esmeralda itu serasa anomali dan absurd di tengah kemapanan kondisi keuangan keluarga yang bahkan kini cukup berlimpah.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Sedikit aku mencuri dengar dan tersimpan dalam ingatanku tentang pertengkaran mereka, “disuruh kuliah lagi nggak mau, disuruh kerja di perusahaan sendiri bilang nggak mampu! Apa maumu? Jangan sok-sokan pingin mandiri!” cetus Esmeralda. Dan kemudian Nadya yang tak terlalu berani berdebat dengan singa ini, apalagi di hadapan ayah dan ibu, hanya menangis, dan ayah yang ragu sebetulnya tak memilih pihak mana, keduanya adalah pihak yang harus menemukan titik temu.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
“Mamah jangan manjain si Nadya,” kata terakhir Esmeralda itu seperti ultimatum. Sosok Nadya anak penengah ini memang lebih dekat dengan ibunya, dan Esmeralda lebih dekat dengan ayahnya.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Pak Johan sebagai pemimpin keluarga apalagi sebagai owner perusahaan dengan jabatan presiden direktur, integritas dan wibawa adalah point inti, namun di rumah taringnya tumpul di hadapan istri! Tapi sebagaimana seorang ayah, big boss-ku tak pernah membedakan kasih sayang kepada anak-anaknya. Dinamika lebih tersorot kepada kedua anak ini yang kemudian walau ada konfrontatif karena perbedaan karakter, keduanya terasa sebagai pahlawan bagi keluarga.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Esmeralda, satu yang membangkitkan kembali perusahaan, dan Nadya, satu yang mengikatkan kembali kondisi psikologis keluarga di tengah badai menerpa.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Di luar yang bersifat privacy, aku cukup banyak tahu sisi-sisi menarik tertentu keberadaan keluarga mereka. Dan yang satu ini mungkin—saking krusial dan sensitifnya persoalan keluarga di antara mereka—aku tak tahu bahkan tak perlu tahu.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Esmeralda dengan dominasi kekuasaan atas perjalanan kehidupan keluarga bukan tanpa alasan. Ia yang kurang lebih dari 9 tahun lalu membangkitkan kembali perusahaan ayahnya yang nyaris tenggelam, bahkan di tangannya perusahaan ayahnya itu kini berkembang pesat. Dan ini alasan terbesar kenapa semua orang di keluarganya akan mati kutu atas keberadaan Esmeralda, semua harus nurut apa yang dimaui Esmeralda. Telunjuknya di rumah maupun di kantor perusahaan adalah garis komando. Dan aumannya bahkan selevel singa beneran, begitu ujar seloroh para karyawan. Penghormatan terbesar kepada Esmeralda karena ia yang kemudian mengurungkan niatnya mengejar gelar MBA di luar negeri demi andil menyelamatkan—bukan saja perusahaan ayahnya, namun juga integritas dan wibawa keluarganya di mata saudara, kerabat, juga relasi-relasi perusahaan ayahnya. Esmeralda yang kini menjadi direktur utama perusahaan kemudian mampu menyekolahkan adiknya yang keempat—Rachel—untuk berkuliah di luar negeri yang cukup bergengsi. Jorgi si bungsu masih setahun lagi menyelesaikan sekolah SMU di sekolah bertaraf international. Kecuali Aldi yang walaupun susah payah berhasil juga lulus kuliah S1, dan Andrea kini juga terlibat di perusahaan sebagai direktur cabang perusahaan. Dan sampai dengan saat ini Andrea satu-satunya di keluarga itu yang sudah berumah tangga.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Lalu Nadya? Ia ketika perusahaan terguncang badai hebat juga merasa tergugah untuk turut berkorban demi melindungi keluarga. Satu hal menurut perasaan Nadya pada saat itu, Nadya berhenti kuliah dalam rangka mendorong Aldi kakak lakinya agar mampu menyelesaikan kuliahnya. Ia sendiri memilih jalan berbeda, kuliahnya berhenti di tengah jalan, ia tak mau berkuliah lagi. Padahal ayah dan Esmeralda sejatinya tak berharap seperti itu, keuangan yang tersisa masih cukup mampu untuk membiayai Nadya sampai tamat berkuliah. Belakangan terungkap alasan utamanya bukan seperti itu, Nadya bersembunyi di balik kondisi keuangan padahal ia enggan berada di fakultas ekonomi yang bukan pilihannya. Cita-cita sebenarnya mau jadi artis, penyanyi, presenter atau modelling. Namun kemudian ada satu kondisi di mana keputusan Nadya sementara dianggap cukup tepat manakala Ibunda jatuh sakit. Suka tidak suka kemudian Esmeralda dan ayahnya menyetujui Nadya yang harus menemani Ibunda yang jatuh sakit. Pilihan pada masa yang sulit bersamaan dengan kondisi ayahnya menghadapi badai persoalan di perusahaan, terlebih tertipu rekan kerja, bukan saja menghilangkan banyak aset perusahaan tetapi juga hilang kepercayaan dari relasi. Pengeluaran keuangan keluarga pun terimbas harus ketat. Tak ada acara pelesir apalagi ke luar negeri, bahkan shopping ke mal pun dibatasi.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Bermodal tabungan perhiasan Ibunda, menjadikan sekian hektar tanah yang awalnya untuk dijadikan waris untuk anaknya terpaksa jadi jaminan likuiditas baru demi recovery perusahaan, dan ditambah penjualan berpuluh kendaraan dan alat berat. Perlahan membangun kembali perusahaan juga biaya hidup keluarga.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Mobil kini melaju dengan lancar, berbelok….
Rumah di kawasan elit itu sudah nampak. Rumah Pak Johan, rumah kelima anak terlahir kokoh berdiri tegak dengan benteng melingkar tinggi. Hanya sedikit lebih kecil dari stadion lapangan bola. Gerbang pintu utama terbuka otomatis. Kedua satpam di antara jeruji nampak sigap berdiri tegak menyambut kedua mobil VVIP, memastikan keamanan dari berbagai kemungkinan keselamatan. Mobil melewati jalan di tengah taman dan hamparan rumput yang tertata rapi sampai tiba di carport area khusus mobil keluarga.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Di teras, Bapak dan Ibu Johan berdiri menyambut, terkhusus menyambut Nadya yang bermata sembab. Dan pelukan Ibu tanpa kata lebih berarti daripada beribu kata. Bahkan kalimat puitis sekalipun.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Satu jam berlalu. Gorden yang terbuka tiba-tiba sedikit menutup. Cukup bagiku untuk mengerti agar kami lebih menjauh lagi dari posisi rumah utama. Jadilah aku, satu satpam, dan sopir pribadi Bu Esmeralda berkumpul di gerbang utama. SOP agar orang luar selain keluarga lebih leluasa menikmati privacy. Dan itu adalah rapat keluarga yang teramat penting dan rahasia.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Rahasia?(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Rahasia itu kemudian… bocor! Ketika dua hari kemudian Bu Esmeralda memanggilku dengan code sama-sama rahasia, kata lain dari “wanti-wanti”. Ya, tepat jam makan siang aku tergesa, berpura-pura pulang dulu ke rumah, padahal bertemu khusus di sebuah restoran yang agak sepi.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Datang hampir bersamaan, segera kami memilih tempat mojok untuk berdua. “Aman?” katanya. Aku mengangguk dan jempol! “Nggak usah makan ya?… Juice?”
“Kopi hitam!” kataku.
Lalu beberapa cemilan ia pesan juga. Ia agak ragu untuk memulai percakapan. Agak lama tercenung dan kemudian merubah posisi duduknya. Melihat itu, aku tahu kini ia secara hierarki bukan Esmeralda atasanku, yang ada adalah Esmeralda “keponakanku”….. “Oom tahu ya hasil rapat keluargaku kemarin?” katanya menyelidik. “Tahu dari mana?” elakku. “Dari Papah?” “Sama sekali tidak, Bapak tidak bercerita apa-apa!”… kupandang matanya dengan tegas! “Aku mau ngomong tapi aku malu dan rikuh, Oom, ngomongnya!”… jemari-jemarinya mempermainkan lembar tisu. “Ya udah, nggak perlu diomongin kalau malu mah!” kataku mencoba suasana akrab. Tiba-tiba saja ia melempar tisu yang ia remas ke badanku. “..bukan gitu! Jahat!” tegasnya sambil tersenyum. Beginilah cara Esmeralda dulu masa ketika usia mungkin 15–16 tahun. Dan lalu ia tiba-tiba jadi makin berani dan terbuka…: dengan senyum hambar dan malu tertahan, perlahan ia buka suara setengah berbisik: “Jrittt, gue dijodohkan sama papaku!”(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Kaget juga aku, ternyata inti rahasia itu ada di sini. “Selamat!” kataku dengan spontan kujulurkan tanganku, namun bukannya menyambut tanganku ia malah mencubitnya dengan keras. “Bukan ituuuuh…!” cetusnya dengan gemas. “Ya oke, oke aku mendengar!” kataku memastikan bahwa aku pendengar yang baik dan siap selalu menampung curhatan.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
“Aku serius!” katanya lalu kedua tangan bertelekan ke meja menopang dagunya. “Serius tuh begini!” kataku sambil bersedekap meniru gaya Gogon Srimulat. Terkekeh ia. Lalu berhenti basa-basi, berlanjut ke percakapan yang betul-betul serius.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
“Satu hal masalahnya, aku tak tahu yang mana orangnya, apalagi mengenal lebih jauh siapa dia, bagaimana integritasnya. Papah hanya memperkenalkan nama, anak dari teman papah semasa kuliah dulu!” Sejenak ia menghela napas. Sesuatu membuatnya terasa sesak, bukan karena udara yang pengap namun perasaan itu menyekat tenggorokan.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
“Masalahku juga….. Jujur aja, sampai saat ini tak terpikirkan olehku untuk menikah. Aku masih ingin adik-adikku mapan.. terutama Nadya, sialnya ia malah bertolak belakang dengan keinginanku. Aku ingin Nadya juga terlibat di perusahaan, ngapain jadi penyanyi, amatir lagi bukan kaya artis, lucu juga si Nadya…. recehan mau aja!” Itu satu alasan yang membuatku tak pingin nikah dulu,” diseruputnya juice yang baru tiba, sambil juga mempersilahkan aku meminum kopi. Dan jari tangannya kemudian menunjuk sambil digoyang agar aku tak berkomentar dulu. “Waktu rapat itu, Mamah dan Papah memberi aku dan si Nadya batasan, lebih tepatnya ultimatum agar tak beralasan, berargumen, pokoknya nyaris nggak boleh ngomong apalagi Mamah sampe nangis-nangis memeluk aku dan si Nadya..! ‘Tolong hargai perasaan Mamah dan Papah ya sayang?’ Segitunya Mamah agar aku dan Nadya hanya perlu diam.”(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Aku mengangguk dan tersenyum berbahagia juga. Ada titik awal mengakhiri pertikaian antara singa dan serigala, pikirku.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
“Pada mulanya gara-gara kelakuan si Nadya juga Papa merasa tergugah namun sekaligus menginspirasi!” cetusnya lagi. Dan aku mengernyitkan dahi memberinya gestur agar ia bicara lebih terbuka.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
“Jadi gini…… Demi si Nadya lebih jelas kehidupannya, Papa berencana membeli sebagian saham hotel temannya itu. Biar si Nadya juga nggak kemana-mana dan jelas penghasilannya. Rencananya si Nadya mau dijadikan manajer kafe, resto, dan bar, itu yang kepikiran Papa karena ini berkaitan dengan minatnya dengan dunia seni. Nah di situ pikir Papa si Nadya cocok!….. Lalu temen Papa pemilik hotel itu bercerita kalau dia juga punya anak laki pemberontak, ia lebih memilih menjadi dosen fakultas seni dan filsafat budaya di sebuah universitas ketimbang terlibat di pengelolaan hotel milik sendiri. Usianya seusianya aku dan belum menikah lagi! Nah lho… Gak tahu ujung-ujungnya jadi mengerucut… mereka malah ingin menjodohkan dia…. denganku.!!” Sesaat wajahnya mematut geram.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
“Bukan urusan saham atau si Nadya lagi, tapi seolah-olah semua dikorelasikan menjadi satu kesimpulan. Seolah-olah semua diselesaikan hanya satu pintu!” begitu ujarnya. Aku terbengong. Satu per satu kotak Pandora itu terbuka. Dan…. Belum juga satu kata pun terucap dari mulutku, jari telunjuk Esmeralda sudah mendahului agar aku diam.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
“Apa yang paling geblek coba?…. Eh, Bapak si dosen pemberontak… belum lihat muke gue, kenal juga kagak, cuma gegara Papah bilang aku tipe wanita karier dan keras, eh, malah bilang…. ‘Wah itu recommended, katanya anakku memang suka tipe wanita seperti itu.'” “Gila… ini gila!” “Aku tak tahan untuk tak bicara… kubilang karena sama-sama sehabitat di dunia seni, jodohin aja sama si Nadya, Papah, Mamah marah. Dan bagian hebatnya ini, si Nadya juga marah padaku, nggak nyangka berani juga: ‘Aku takkan menikah sebelum Kak Alda menikah!’ Nyerocos dia. Katanya banyak pria yang mendekati namun aku menghindar, jangankan yang iseng, yang serius pun aku tolak, umurku 28 tahun tapi aku bisa sabar menunggu agar Kak Alda menikah terlebih dulu!'”… Sesaat aku masuk terlibat dalam perasaan dan selintas…. 90% bolehlah aku percaya apa yang diomongkan Nadya.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
“Itu palu godam yang meremukkan hatiku. Kukira ia berjalan sendiri tanpa memikirkan ku. Dan aku mengira apa yang terbaik itu seperti yang kupikirkan. Ternyata itu wujud keegoisanku dan aku telah mengorbankan perasaan orang tua juga si Nadya… Malu aku, ternyata si Nadya untuk urusan keluarga lebih dewasa dariku..!”… Ada linang air mata dari sosok wanita karier si pengusaha yang hebat satu ini. Dan bagiku hari ini kehebatannya bertambah dengan mengakui kesalahan ketika menempatkan egonya terlalu tinggi, alih-alih memberikan pengorbanan untuk keluarga malah nyaris ia mengorbankan tatanan keluarganya. Jadi rapat keluarga malam itu yang kupikirkan menjadi penghakiman untuk Nadya malah terbalik seperti bumerang buat Esmeralda. Tapi apapun itu, justru di sinilah letak hikmahnya.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Sesaat berlalu, kubiarkan ia meresapi kalimat yang baru saja ia katakan.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
“Aku belum memberi putusan, aku perlu menimbang bagaimana sebaiknya… Hanya kepada Oom aku bicara dan minta pertimbangan… Waktuku cuma dua hari dan malam ini final!”… Waktu kutanya kenapa tak minta pertimbangan ke sesama keluarga lain, sesama perempuan, adik ipar, istri Aldi misalnya, atau minta masukan langsung dari Aldi? “Risih aku denger si Aldi ngomong: ‘Kak Alda kan normal, masa nggak punya kebutuhan biologis?… Goblok, ingin ku gampar rasanya dia… rese dia!'” ketusnya. Lalu, sambil tetap jaim—jaga image—raut wajahnya kemudian tak ragu mengisyaratkan “please!”.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Tiba giliranku bicara. Bukan tak sopan, walau sebetulnya ini urusan perempuan. Tapi singa betina yang tampan ini sedang butuh pawang yang betul-betul mampu melindunginya dari pertarungan harga diri dan rasa malu. Maaf, seorang perawan tua high level dijodohkan orang tua mungkin kata ini serasa menjatuhkan wibawa. Aku berpihak pada egonya sebagai sosok penguasa pewaris utama mahkota kerajaan perusahaan, yang tak hanya rela berkorban namun juga gigih berjuang, dan akuuu hanya mengarahkannya untuk sesuatu yang konstruktif menempatkan masalah… Untuk yang satu ini… urusan pribadi… boleh dibilang ia nampak kikuk dan… bodoh. Dan kini ia butuh sesuatu yang meredam egonya, menerobos sekat hatinya yang keras membatu. Kuhabisi dia sampai membeku, bukan!, bukan untuk menjatuhkannya, aku hanya menempatkannya di posisi sebagaimana layaknya perempuan terhormat. Kata ‘menerima’ tidak akan meruntuhkan wibawa tapi menyelesaikan dengan penghormatan terbesar. Nama baik dan keharmonisan keluarga jauh lebih berharga daripada sibuk meninggikan pribadi tapi dengan merendahkan nilai baik juga keharmonisan keluarga!” begitu simpulku.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Kupandang matanya dengan tajam dan sesaat matanya mulai meneduh. Kulihat satu tarikan napas panjang, menghembuskannya sambil mendorong satu kata yang melegakan: “Oke…” Satu kata lagi dengan lebih tegas dan meyakinkan: “Oke!”(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Sambil beranjak, bonus simpul senyum, lalu menepuk pundak dan mengelus dadaku, “Thank you!” katanya setengah berbisik. Pergi ia dengan langkah tegap. Namun lenggang tangannya ringan, pundaknya tanpa beban. Aku nggak ngeres… “Gitar Spanyol” itu meliuk dalam dinamik petikan Flamenco.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Sebelum masuk mobilnya ia melihatku, satu senyuman dan kecupan di tangan. Kiss bye!… Kubalas. Tak ada yang melegakan kemudian selain melihat “keponakanku” satu ini terlepas bebannya. Tak jadi soal walau ia lupa membayar bill di kasir.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Empat bulan berlalu. Malam itu tepat pukul 22.22. Di sofa kudekap istriku. Berdua menikmati foto-foto pernikahan Esmeralda dan Raymond. Sang dosen filsafat itu kini telah resmi menjadi mantu Pak Johan. Tak ada pesta kemewahan, semua berlangsung “sederhana”: berlangsung di rumahnya yang luas. Tak urung tamu-tamu VVIP selain keluarga besarnya dari kedua belah pihak hadir memenuhi undangan memberi ucapan selamat. Hanya seratus dua ratus mobil mewah berjejer angkuh memenuhi halaman. Namun kemewahan sesungguhnya itu terpancar dari rasa bahagia yang melekat di tiap wajah yang hadir terutama sang pengantin dan kedua keluarga besarnya. Satu foto ku-sorot dengan zoom. Foto sang pengantin mengapit sepasang… calon pengantin berikutnya: Nadya dengan calon suaminya… muda, tampan…. putra seorang pengusaha real estate dan property tajir. Ada rasa bahagia tak terhingga, diam-diam kagum juga pada “keponakan” yang satu ini. Aku tersenyum… serigala cantik nan cerdas… satu pertanyaan terlintas… hanya butuh waktu 4 bulan Nadya tiba-tiba sudah bisa memperkenalkan calon suami? …Oke, oke! Sepertinya aku harus menepis segala kecurigaanku.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Malam larut aku dan istriku tak sanggup membayangkan bahagianya malam pertama sang pengantin: bahagia paripurna lebih dari memiliki harta berlimpah, jabatan yang tinggi, dan sepertinya sang pengantin pria pun tanpa harus menjelaskan sensasional perasaan bahagia “itu” dengan filsafat, kecuali dirasakan dalam perbuatan bersama.(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Sebuah pesan WhatsApp keesokan paginya muncul di ponselku…. Istriku turut melihat dan terpingkal-pingkal dibuatnya. Sebuah pesan emoji… dari Esmeralda: ❤️❤️❤️❤️… OMG! 😍
“Baru tahu ya-ch… nikmattt sekali,” kata istriku.
Aku bengong, “Sebegitu polosnya Singa Betina yang Tampan untuk satu urusan begini!”
“Mungkin pawangnya lihai juga,” kata istriku!
Sstttt… Rahasia!!(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)
Tasik, 17 Sept ’26(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)

TERIMA KASIH
(Source: kosapoin.com/singa-betina-yang-tampan)








