Sore itu saya berbincang dengan sahabat saya, Dody Satya Ekagustdiman. Percakapan kami semula berjalan ringan, seperti obrolan dua orang yang sedang melepas penat, setelah berhadapan dengan rutinitas. Sampai, entah dari mana pembicaraan itu berbelok kepada satu kata yang terasa tua, tetapi justru semakin asing bagi manusia hari ini: rajah.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Saya bertanya kepada Kang Dody tentang apa sebenarnya makna rajah dalam kebudayaan Sunda. Ia menjawab dengan tenang bahwa dalam makna budaya Sunda, rajah adalah sejenis mantra, doa, atau syair sakral yang digunakan sebagai permohonan izin, keselamatan, perlindungan, dan pengampunan kepada Yang Maha Kuasa, sekaligus penghormatan kepada roh leluhur. Rajah bukan sekadar rangkaian kata yang dilantunkan sebelum sebuah kegiatan dimulai. Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa manusia tidak pernah berdiri sendirian. Ada Tuhan, ada alam, ada leluhur, ada sesama, dan ada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Saya kemudian berpikir, mungkin di situlah letak persoalan manusia modern. Kita terbiasa, memulai sesuatu dengan merasa bahwa semuanya adalah milik kita.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Kita membuka hutan tanpa meminta izin kepada alam. Membangun kota tanpa bertanya apakah bumi masih mampu menanggungnya. Mengembangkan teknologi, tanpa mempertimbangkan siapa yang akan kehilangan pekerjaan. Membuat kebijakan tanpa cukup mendengar mereka yang kehidupannya akan terkena dampaknya. Bahkan dalam kehidupan pribadi, kita sering memasuki ruang hidup orang lain dengan keyakinan, bahwa kehendak kita adalah pusat segala sesuatu.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Rajah seperti mengingatkan bahwa sebelum melangkah, manusia semestinya berhenti sejenak. Menundukkan kepala, menyadari bahwa dirinya bukan pusat semesta.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Kang Dody melanjutkan, dalam tradisi Sunda, rajah lazim hadir sebagai doa pembuka maupun penutup, sebelum kegiatan penting. Rajah dilantunkan ketika seseorang hendak memulai pekerjaan berat, membuka lahan baru, menanam padi, ataupun membuka pertunjukan seni rakyat seperti cerita pantun Sunda. Ada kesadaran yang sangat halus di balik kebiasaan itu. Bahwa pekerjaan manusia bukan semata-mata perkara tenaga dan kemampuan, tetapi juga hubungan dengan sesuatu yang berada di luar dirinya.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Saya berpikir, betapa menariknya rajah, dilakukan bukan setelah manusia gagal. Justru hadir sebelum pekerjaan dimulai. Artinya, ia bukan hanya permohonan pertolongan, tetapi juga bentuk kesadaran. Bahwa manusia mengakui keterbatasannya sebelum menggunakan kekuatannya.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Kesadaran semacam ini justru semakin diperlukan saat ini. Kita hidup dalam zaman yang memuja kemampuan manusia. Teknologi membuat manusia merasa mampu mengendalikan hampir segala sesuatu. Kecerdasan buatan dapat menghitung, memprediksi, dan menghasilkan sesuatu dalam hitungan detik. Data dapat digunakan untuk membaca perilaku manusia. Mesin dapat menggantikan sebagian pekerjaan yang dahulu hanya dapat dilakukan manusia.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Namun, semakin besar kemampuan manusia menguasai dunia, semakin besar pula pertanyaan yang harus diajukan. Apakah kemampuan menguasai selalu berarti kemampuan bertanggung jawab?(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Rajah memberikan jawaban yang sederhana: TIDAK. Sebab kekuasaan tanpa kesadaran akan keterbatasan, hanya akan melahirkan kesombongan.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Kang Dody melanjutkan, bahwa dalam seni cerita pantun Sunda, rajah bahkan memiliki pakem yang kuat. Ia dilantunkan oleh juru atau jaro rajah, dengan irama dan lirik tertentu, terkadang disertai waditra seperti kacapi, angklung, atau karinding. Dalam keadaan tertentu, dapat pula dilantunkan tanpa iringan waditra, atau ditambul. Ada aturan yang tidak boleh diubah sembarangan. Bagi manusia modern yang begitu mengagungkan kebebasan individual, pakem semacam ini mungkin tampak membatasi.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Tetapi bukankah tidak semua batas adalah penjara?(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Kang Dody melajutkan, bahwa ada batas yang justru menjaga makna. Seperti sungai yang membutuhkan tepian agar airnya memiliki arah. Tradisi membutuhkan pakem, agar ingatan kebudayaan tidak larut menjadi sekadar pertunjukan. Ketika semuanya boleh diubah atas nama kreativitas, ada kemungkinan suatu hari kita masih memainkan bentuknya, tetapi sudah kehilangan jiwanya.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Menurut Kang Dody, dalam tradisi rajah, ada tiga wujud utama, yakni Rajah Sasanduk atau Bubuka, Rajah Pangemat, dan Rajah Pamunah. Rajah Bubuka merupakan pembuka, sebuah permohonan perlindungan sebelum kegiatan dimulai. Rajah Pangemat menghadirkan rasa hormat kepada Gusti Hyang Maha Agung, Maha Pencipta, serta para luluhur dan karuhun Sunda Nusantara. Sementara Rajah Pamunah menjadi penutup, yang mengandung permohonan maaf sekaligus kesadaran untuk mengakhiri apa yang telah dimulai.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Saya kemudian menjawab, Kang, jika kita renungkan, tiga rajah tersebut sesungguhnya menyimpan filsafat kehidupan yang sangat dalam. Memulai dengan kesadaran, menjalani dengan penghormatan, dan mengakhiri dengan kerendahan hati.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Bukankah hal tersebut semakin hilang dari kebudayaan kita dong Kang? Kita pandai memulai, tetapi sering lupa meminta izin. Kita pandai menggunakan, tetapi lupa menghormati. Kita pandai mengambil keputusan, tetapi jarang meminta maaf ketika keputusan itu melukai. Kita begitu bernafsu mengejar masa depan, sampai lupa bahwa setiap langkah meninggalkan jejak pada kehidupan orang lain.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Kang Dody menjawab sambil menghela nafas. Karena itu, rajah tidak semestinya ditempatkan hanya sebagai peninggalan masa lalu yang dipamerkan di museum, atau dilantunkan dalam acara kebudayaan. Ia melanjutkan, rajah merupakan sebuah etika, bukan etika dalam pengertian aturan yang menggurui. Melainkan kesadaran batin tentang bagaimana manusia seharusnya menempatkan dirinya di tengah kehidupan.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Rajah mengajarkan manusia untuk tidak datang sebagai penguasa tunggal, namun sebagai bagian dari alam. Bagian dari masyarakat, dari sejarah, dari leluhur. Dan, pada akhirnya, bagian dari ciptaan Tuhan.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Lanjut Kang Dody, karena itu, rajah memiliki daya hidup yang jauh melampaui bentuk ritualnya. Di dalamnya terdapat kritik, terhadap manusia yang terlalu percaya kepada dirinya sendiri. Manusia modern memiliki ilmu pengetahuan yang luar biasa, tetapi tidak selalu memiliki kebijaksanaan yang sebanding. Kita mampu mengubah sungai menjadi saluran beton, tetapi belum tentu mampu mengubah keserakahan menjadi tanggung jawab. Kita mampu mengirim manusia ke luar angkasa, tetapi masih kesulitan menciptakan kehidupan sosial yang adil di bumi.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Saya buru-buru berkata, kalau begitu rajah sesungguhnya mengajak kita berhenti sejenak sebelum semuanya terlambat. Bukan untuk kembali ke masa lalu. Melainkan untuk mengambil kembali sesuatu, yang mungkin tertinggal dalam perjalanan menuju masa depan, yaitu kerendahan hati.(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Percakapan saya dengan Kang Dody tentang rajah sore itu, akhirnya terasa bukan lagi sebagai percakapan mengenai mantra atau tradisi lama. Namun berubah menjadi percakapan tentang manusia yang seharusnya tahu kapan harus melangkah. Tahu kepada siapa ia harus menghormati, dan berani meminta maaf. Manusia sejati selalu bertanya pada nuraninya sebelum mengambil apa pun dari alam semesta. Apakah aku sudah meminta izin kepada kehidupan?(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)
Saat saya bertanya tentang isi syair rajah, Kang Dody terlihat kelelahan. Hingga tulisan ini akan saya sambung lain waktu saja. Sekian dulu (jbp 14/09/2026)(Source: kosapoin.com/rajah-saat-manusia-meminta-izin-kepada-kehidupan)

KESETIAAN YANG BERGERAK: Seni sebagai Nafas Kebudayaan Masyarakat
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








