‘Membaca Pernyataan Prof. Arief Hidayat melalui Filosofi Paramalenyep Peradaban Sunda Kuna’(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Pernyataan Prof. Arief Hidayat bahwa terdapat negara-negara dengan mayoritas penduduk ateis yang relatif bersih dari korupsi, sementara Indonesia yang dikenal religius justru terus bergulat dengan korupsi, merupakan sebuah kritik moral yang layak direnungkan. Pernyataan ini bukan dimaksudkan untuk mengagungkan ateisme ataupun merendahkan agama, melainkan mengingatkan bahwa ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak cukup diukur dari banyaknya simbol keagamaan, melainkan dari sejauh mana nilai moral diwujudkan dalam kehidupan nyata.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Pertanyaan yang lebih mendasar kemudian muncul: mengapa masyarakat yang mengaku religius justru sering gagal menjaga integritas? Mengapa ritual berkembang, tetapi kejujuran melemah? Mengapa rumah ibadah semakin megah, tetapi penyalahgunaan kekuasaan tetap tumbuh subur?(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Apabila pertanyaan tersebut dibaca dari sudut pandang filsafat Sunda Kuna, khususnya melalui konsep Paramalenyep, jawabannya mungkin tidak terletak pada agama sebagai ajaran, melainkan pada hilangnya “rasa” sebagai fondasi peradaban. Paramalenyep bukan sekadar sikap diam atau pasrah. Ia merupakan keadaan batin yang jernih, tenang, dan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas nafsu pribadi. Dalam tradisi Sunda Kuna, manusia yang telah mencapai paramalenyep tidak lagi diperbudak oleh kerakusan, ambisi, dan hawa nafsu. Kekayaan hanyalah sarana, bukan tujuan hidup.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Pandangan demikian sejalan dengan berbagai naskah kuno Sunda seperti Amanat Galunggung maupun Carita Parahyangan, yang sama-sama menekankan pentingnya darma, kejujuran, pengendalian diri, dan tanggung jawab pemimpin terhadap rakyat. Dalam pandangan para karuhun Sunda, pemimpin bukanlah orang yang paling kaya atau paling berkuasa, melainkan orang yang paling mampu mengendalikan dirinya sendiri.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Sebaliknya, dunia modern justru membangun ukuran keberhasilan berdasarkan akumulasi modal, kepemilikan aset, dan dominasi kekuasaan. Dari sinilah perlahan tumbuh budaya feodalisme baru yang bersekutu dengan kapitalisme, imperialisme ekonomi, kepentingan politik, dan orientalisme pengetahuan.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Feodalisme modern tidak selalu hadir melalui gelar bangsawan. Ia muncul melalui oligarki ekonomi yang mampu membeli kebijakan negara. Kapitalisme tidak sekadar menciptakan pasar, tetapi sering kali melahirkan budaya kompetisi tanpa batas yang menghalalkan segala cara demi keuntungan. Imperialisme ekonomi menjadikan sumber daya bangsa sebagai komoditas global, sedangkan orientalisme intelektual membuat masyarakat Nusantara kehilangan kepercayaan terhadap warisan filsafatnya sendiri.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Akibatnya, pendidikan lebih banyak menghasilkan tenaga kerja daripada manusia bijaksana. Agama lebih sering dipahami sebagai identitas formal daripada proses pembentukan karakter. Politik berubah menjadi arena transaksi kekuasaan, sementara ekonomi kehilangan dimensi etiknya. Dalam kondisi seperti ini, korupsi bukan lagi sekadar pelanggaran hukum, melainkan gejala runtuhnya kesadaran peradaban.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Korupsi lahir ketika manusia kehilangan rasa cukup. Ia tumbuh ketika jabatan dipandang sebagai hak istimewa, bukan amanah. Ia berkembang ketika kehormatan diukur oleh kekayaan, bukan oleh kebajikan. Justru di sinilah relevansi Paramalenyep menjadi sangat penting.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Filosofi Paramalenyep mengajarkan bahwa manusia harus kembali mengenali dirinya sebagai bagian dari jagat raya. Harta, jabatan, dan kekuasaan hanyalah titipan yang sewaktu-waktu akan berakhir. Yang tinggal hanyalah tapak darma yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam tradisi Sunda Kuna dikenal prinsip bahwa manusia harus mampu menjaga hubungan harmonis dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta. Keharmonisan itu hanya mungkin terwujud apabila keserakahan berhasil dikendalikan.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Sayangnya, modernisasi sering diterjemahkan sebagai kebebasan menguasai sebanyak mungkin sumber daya. Alam dieksploitasi, budaya dikomodifikasi, pendidikan diperjualbelikan, bahkan agama pun terkadang dipakai sebagai alat legitimasi kekuasaan. Padahal para karuhun Sunda telah lama mengingatkan bahwa peradaban akan runtuh bukan ketika kekayaan berkurang, melainkan ketika rasa malu menghilang.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Negara-negara yang relatif bersih dari korupsi belum tentu lebih religius dalam pengertian formal, tetapi banyak di antaranya berhasil membangun budaya disiplin, integritas, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hukum. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya tidak bertentangan dengan agama maupun dengan falsafah Nusantara. Artinya, persoalan Indonesia bukan terletak pada terlalu banyaknya agama, melainkan pada lemahnya internalisasi nilai agama dan tercabutnya akar kebudayaan yang dahulu membentuk karakter masyarakat.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Peradaban Sunda Kuna tidak pernah memisahkan spiritualitas dari etika sosial. Orang yang rajin beribadah tetapi merugikan masyarakat tidak dianggap mencapai kemuliaan hidup. Kesalehan harus tampak dalam tindakan nyata. Karena itu, membangun Indonesia yang bebas korupsi tidak cukup dengan memperbanyak slogan moral ataupun memperkeras ancaman hukuman. Yang jauh lebih penting adalah membangun kembali budaya malu, budaya darma, budaya gotong royong, dan budaya Paramalenyep sebagai cara memandang kehidupan.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Bangsa ini membutuhkan pendidikan yang bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menghaluskan rasa. Kita memerlukan ekonomi yang berkeadilan, bukan sekadar bertumbuh. Kita memerlukan politik yang melayani, bukan menguasai. Kita memerlukan agama yang melahirkan welas asih, bukan sekadar simbol identitas.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Di tengah derasnya kapitalisme global, feodalisme modern, imperialisme ekonomi, dan orientalisme pengetahuan, bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki modal peradaban yang sangat berharga. Warisan itu tersimpan dalam naskah-naskah kuno, petuah karuhun, tradisi lisan, serta kebijaksanaan lokal yang selama ini sering dianggap usang.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Paramalenyep mengajarkan bahwa kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada kemampuannya menguasai dirinya sendiri. Barangkali, inilah pesan yang ingin kita tangkap dari pernyataan Prof. Arief Hidayat. Bangsa tidak akan menjadi bermartabat hanya karena mengaku religius. Kemuliaan lahir ketika nilai-nilai spiritual menjelma menjadi kejujuran, tanggung jawab, keberanian menolak korupsi, dan keberpihakan kepada keadilan.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Apabila bangsa ini ingin keluar dari lingkaran korupsi, maka yang harus dipulihkan bukan hanya sistem hukumnya, tetapi juga akar peradabannya. Sebab sebelum manusia kehilangan hukum, ia terlebih dahulu kehilangan rasa. Dan ketika rasa telah hilang, agama pun tinggal menjadi bunyi, sementara Paramalenyep tinggal menjadi kenangan.(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Bandung, 04 Agustus 2026(Source: kosapoin.com/negara-mayoritas-ateis-bersih-dari-korupsi-vs-indonesia-yang-religius-justru-rusak)
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown









