MUSIM KETIGA(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
kita pernah menjadi dua musim
yang kebetulan jatuh pada tahun yang sama(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
lalu hari-hari merambat di dinding
menumbuhkan sekat yang tak bernama(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
aku mengenali langkah kakimu di koridor
juga cara malam membagi kamar kita
menjadi dua ruang yang tak lagi saling menyapa(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
tidak ada perang, tidak ada amuk
hanya waktu yang mengendap
seperti air di cangkir yang tak pernah disentuh(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
barangkali jarak tumbuh dari dua orang
yang duduk berhadapan
tetapi memilih menatap arah berlainan(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
satu menunggu pagi
satu merawat sunyinya sendiri(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
bila suatu hari rumah ini runtuh
kita tidak perlu saling bertanya
siapa yang lebih dulu memadamkan lampu(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
kita memang telah lama usai
dua orang asing yang berbagi alamat(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
sementara kunci tergantung
pada dinding yang kosong(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
2004(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)

PUISI Lintang Ismaya
JALAN PULANG YANG HILANG(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
subuh merangkak di bilik ingatan
saat derap kaki menjelma kompas purba
kau adalah gemetar di balik jendela
sementara aku mengeja kamar yang padam(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
lalu musim luruh tanpa sengketa nama
bukan angin berpaling bukan langit retak
hanya selisih waktu yang merajut jarak
dan lidah yang membeku sebelum salam(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
kini pohon hidupmu berakar di seberang
kita hanya dua asing yang berpapasan
saling meraba bayang di cermin terang(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
inilah musim ketiga yang membatu
ketika dekat kehilangan jejak langkah
dan jalan pulang mengunci pintu waktu(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
2004(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)

PUISI Galih M. Rosyadi
SISA RUANG(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
ia simpan angin di dalam dada
seperti burung yang lupa pulang
pada dahan yang telah patah
dan lelah berpulang(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
ada yang tinggal di tikungan malam
bayang-bayang yang sengaja ditinggal
mengeja sisa-sisa nama
yang aus di ujung lidah(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
ia belajar menatap cermin
tanpa mengenali wajah sendiri
seperti sungai yang mengalir
dan melupakan hulu sunyi(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
ketika fajar membuka pintu
ia hanya menemukan sepi
yang duduk tenang di kursi
menolak pergi menolak mati(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
2004(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)

SAJAK-SAJAK Arif Fathur
YANG TETAP DIGENGGAM(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
ia menggenggam sesuatu
seperti merawat nama
yang takut kehilangan wujudnya
di tengah dunia yang fana(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
hari-hari bergeser lewat
di antara ruas-ruas jemari
ia tak pernah membuka telapak
karena takut yang terlepas
akan dirampas oleh hari(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
di luar pagar rumahnya
jalan-jalan berganti arah
orang-orang datang membawa musim
lalu pergi tanpa lelah
tanpa sempat menengok ke dalam
menanyakan apa yang ia simpan(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
ia tetap membeku di sana
menghitung denyut yang kian luruh
menjaga sesuatu yang tak meminta
hingga pagi datang menagih peluh(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
suatu ketika tangannya gemetar
dan ia tersadar dari lena
bukan benda itu yang takut hilang
melainkan ruas-ruas jarinya sendiri
yang lupa cara terbuka(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
maka ia membuka telapak tangan
tak ada apa-apa di sana
hanya jejak tekanan yang dalam
yang lama tinggal dan menjelma luka(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
2004(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)

HAIKU & PUISI Yoyo C. Durachman
SEBELUM PINTU BERLUMUT(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
ia berdiri begitu lama di ambang pintu
menatap kemungkinan yang tumbuh
dan belajar merangkak di halaman rumah
sementara dunia di luar terus berlari(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
burung-burung menyeberang lembah
tanpa menoleh pada bayangannya
sungai-sungai menolak berhenti
hanya untuk menunggu sebuah keputusan
yang tertinggal di atas meja(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
ia meraba angin mencari restu
menghitung kerikil dan arah angin
seolah langit menyimpan jadwal pasti
tentang langkah mana yang takkan patah
sebelum kakinya menyentuh tanah(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
namun waktu tidak pernah belajar sabar
cahaya merayap pelan dari batu ke batu
meninggalkan bilik yang ia jaga
menuju punggung bukit yang jauh(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
ketika akhirnya keberanian merasuk tubuh
ia melangkah keluar tanpa ragu
tetapi halaman itu telah kosong
pintu telah menyatu dengan lumut
dan jalan di hadapannya
telah lupa pada bentuk tapak kakinya(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)
2004(Source: kosapoin.com/puisi-lintang-ismaya-11)









