Setiap anak lahir ke dunia membawa keunikan masing-masing yang tidak dapat diseragamkan oleh sistem apa pun. Di dalam sebuah ruang kelas, keunikan ini termanifestasi nyata dalam bentuk keragaman gaya belajar, minat, latar belakang sosial-ekonomi, hingga tingkat kesiapan akademis awal. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pendekatan konvensional “one-size-fits-all”—di mana satu metode, satu kecepatan, dan satu jenis asesmen disamaratakan untuk semua anak—masih membayangi praktik pendidikan kita. Fenomena ini diperparah oleh kecenderungan sebagian pendidik yang kerap membanding-bandingkan prestasi antar-peserta didik tanpa terlebih dahulu memahami latar belakang mereka secara komprehensif. Perilaku menyamaratakan ini berisiko memadamkan motivasi belajar siswa yang mengawali garis start dari titik yang berbeda. Sebagai pendidik, sangat penting untuk menyadari situasi dan kondisi psikologis setiap individu agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara inklusif dan berkeadilan.
Guna meruntuhkan tembok penyeragaman tersebut, dunia pendidikan modern beralih pada pendekatan yang berpusat pada murid (student-centered learning). Salah satu manifestasi konkretnya adalah pembelajaran berdiferensiasi, sebuah filosofi mengajar yang melandasi struktur Kurikulum Merdeka saat ini. Pendekatan ini berakar kuat pada pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara, yang menegaskan bahwa pendidikan harus menuntun anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Pendidik diibaratkan sebagai petani; seorang petani tidak bisa memaksa benih jagung tumbuh menjadi padi. Tugas petani adalah merawat, memupuk, dan mengondisikan tanah agar benih tersebut tumbuh berkualitas prima. Atas dasar filosofi inilah, guru berkewajiban melakukan observasi awal dan asesmen diagnostik guna memperoleh data yang akurat terkait karakteristik siswa sebelum merancang modul ajar.
Konsep ini dapat dipahami secara lebih jernih melalui penerapannya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 11 SMA yang berada pada Fase F. Pada jenjang sekolah menengah atas ini, kompetensi siswa tidak lagi sekadar mengidentifikasi teks secara pasif, melainkan sudah dinaikkan ke tingkat kreasi, analisis, dan proses alih wahana (transformasi) teks secara mendalam. Jika merujuk pada Buku Teks Utama resmi Kurikulum Merdeka penerbit Kemendikbudristek (Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia), materi ini secara eksplisit dimuat dalam Bab 4 dengan tajuk “Menulis Puisi yang Menginspirasi Adanya Kesempatan untuk Semua”. Melalui bab ini, peserta didik diajak untuk melatih kepekaan emosional dan daya kreasi mereka dengan cara menggubah sebuah puisi baru yang idenya digali secara kreatif dari sebuah cerpen inspiratif, serta mempersiapkan langkah awal menuju kegiatan musikalisasi puisi. Berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) tersebut, peserta didik diharapkan mampu mengubah bentuk teks naratif yang panjang menjadi teks puitis yang ringkas tanpa menghilangkan esensi cerita aslinya.
Dalam konteks inilah, Tujuan Pembelajaran (TP) yang dirancang—yaitu menulis satu bait puisi bertema kemanusiaan atau keadilan sosial berdasarkan cerpen inspiratif dengan menggunakan minimal tiga sampai lima kata sifat yang berbeda—menjadi sangat kontekstual dan tepat sasaran bagi siswa kelas 11. Sebelum masuk ke tahap penulisan, siswa dituntun untuk melewati subtopik awal, yaitu menemukan tema dan pesan dalam cerpen yang menginspirasikan penggubahan puisi. Melalui tahapan teoretis yang sistematis ini, mereka belajar memilih karakter, latar, atau konflik yang paling menggugah batin, hingga membedah unsur-unsur pembangun puisi seperti diksi dan citraan. Proses alih wahana ini menuntut siswa melakukan kondensasi, yaitu memadatkan kalimat-kalimat narasi cerpen yang padat menjadi bait puisi yang ringkas namun kaya makna. Materi ini secara esensial melatih kepekaan batin siswa kelas 11 agar mereka lebih sensitif terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial yang terkandung di dalam cerita. Sementara dari aspek kebahasaan, pengondisian penggunaan minimal tiga atau lima kata sifat yang berbeda secara sengaja melatih keterampilan siswa dalam memilah kata (diction) guna membangun suasana dan rasa yang kuat. Melalui target yang terukur ini, nilai Profil Pelajar Pancasila seperti berakhlak mulia, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif dapat ditumbuhkan dalam satu iklim belajar yang menyenangkan.
Dalam praktiknya, perancangan pembelajaran berdiferensiasi pada materi ini tidak berarti guru harus membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang berbeda untuk setiap anak. Sebaliknya, guru menyelaraskan instruksi kelas melalui modifikasi yang logis pada tiga strategi utama: konten, proses, dan produk. Pada diferensiasi konten, guru menyediakan materi cerpen inspiratif dan teks pendukung dalam berbagai format guna memfasilitasi modalitas belajar siswa yang beragam. Selain buku teks, guru memanfaatkan laptop, proyektor, dan pengeras suara untuk menayangkan video pembelajaran berupa pembacaan cerpen bernuansa sosial atau visualisasi contoh musikalisasi puisi. Dengan demikian, siswa dengan tipe pembelajar visual, auditori, maupun kinestetik dapat menangkap esensi cerita dan teknik deklamasi secara optimal.
Selanjutnya, diferensiasi proses diwujudkan melalui skenario langkah pembelajaran yang dinamis di dalam kelas. Setelah kegiatan pendahuluan yang diisi dengan doa, pengecekan kehadiran, dan pembuatan kesepakatan kelas, guru mengawali kegiatan inti dengan ice breaking untuk memantik kreativitas dan empati siswa. Langkah krusial berikutnya adalah membagi siswa ke dalam beberapa kelompok diskusi berdasarkan hasil pemetaan kemampuan awal yang telah dibuat. Di sinilah metode tanya jawab, demonstrasi, dan diskusi berjalan secara berdiferensiasi. Kelompok siswa yang masih kesulitan menangkap amanat cerpen atau masih kaku dalam melakukan kondensasi teks akan mendapatkan bimbingan lebih intensif (scaffolding) dari guru berupa kartu kata penuntun. Sementara itu, kelompok yang sudah mahir diberikan kebebasan untuk langsung menyusun bait puisi dan mulai mendiskusikan persiapan awal musikalisasi puisi, seperti menentukan keselarasan suasana puisi dengan irama musik yang akan digunakan secara mandiri. Guru terus bergerak mengamati proses ini demi memastikan setiap kelompok berproses secara maksimal sesuai gaya belajarnya.
Strategi terakhir, yaitu diferensiasi produk, memberikan ruang bagi siswa untuk mendemonstrasikan pemahaman mereka tanpa rasa tertekan. Setelah tugas menulis puisi berdasarkan cerpen selesai, peserta didik diberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan hasil pekerjaan mereka di depan kelas melalui metode presentasi yang variatif. Bentuk unjuk kerja ini tidak diseragamkan; siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan musikal dapat mendemonstrasikan hasil transformasi cerpennya secara lisan lewat konsep penampilan musikalisasi puisi sederhana, baik berupa pembacaan puisi yang diiringi instrumen maupun puisi yang dinyanyikan. Sementara itu, siswa yang lebih menyukai ekspresi visual dapat menyajikan teks puisi bertema keadilan sosial tersebut ke dalam bentuk poster digital atau pamflet yang kreatif lewat bantuan proyektor. Ruang diskusi dan tanya jawab yang dibuka setelah presentasi menjadi sarana bagi siswa untuk saling memberikan apresiasi dan umpan balik yang membangun. Pembelajaran kemudian diakhiri pada kegiatan penutup melalui refleksi bersama, penarikan kesimpulan, dan penyampaian materi untuk pertemuan selanjutnya.
Meskipun menawarkan fleksibilitas yang tinggi, perancangan kelas berdiferensiasi pada pelajaran Bahasa Indonesia ini tentu tidak luput dari tantangan nyata, seperti manajemen waktu dan kompleksitas pendampingan kelompok. Namun, tantangan ini dapat diurai jika guru mengadopsi pola pikir bertumbuh (growth mindset) dan konsisten bersandar pada prinsip dasar fleksibilitas serta fokus pada proses belajar siswa, bukan sekadar nilai angka materi belaka.
Sebagai muara dari seluruh pembahasan ini, merancang pembelajaran berdiferensiasi dalam materi sastra seperti menggubah cerpen menjadi puisi bukan sekadar tren formalitas pedagogi semata. Ini adalah langkah konkret untuk mewujudkan keadilan belajar yang sejati di tingkat sekolah menengah. Dengan mengubah paradigma usang dari “membanding-bandingkan hasil akhir” menjadi “menghargai proses tumbuh kembang” dalam berbahasa, guru dapat menciptakan ekosistem kelas yang memanusiakan manusia. Ketika setiap rancangan pembelajaran berpijak pada pengenalan siswa serta keselarasan terhadap isi Bab 4 Buku Teks Utama Kurikulum Merdeka secara mendalam, maka setiap anak kelas 11 akan mendapatkan haknya untuk mengasah imajinasi, menulis dengan penuh percaya diri, dan bersinar dengan bakat uniknya sendiri. []









