MENGHENTIKAN DIKOTOMI DEMI MASA DEPAN BANGSA

MENGHENTIKAN DIKOTOMI DEMI MASA DEPAN BANGSA

Dikotomi adalah pembelahan pemikiran masyarakat ke dalam dua kutub yang saling bertentangan: santri vs abangan, swasta vs negeri, kampus vs pesantren, sains vs agama, kota vs desa, Orla vs Orba. Dikotomi ini menghambat kohesi sosial, inovasi, dan estafet pembangunan bangsa. Kajian ini mengkritisi akar dikotomi, dampaknya terhadap SDM, serta merumuskan strategi membangun masa depan berbasis kolaborasi dan keberlanjutan. Hasilnya: masa depan bangsa hanya bisa dibangun jika kita berhenti melihat perbedaan sebagai sekat, dan mulai melihatnya sebagai kekuatan komplementer.(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Kata Kunci. Dikotomi, Kohesi Sosial, Estafet Kebijakan, Kolaborasi, Masa Desan Bangsa(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Indonesia adalah bangsa majemuk. Kita punya 700+ suku, 6 agama resmi, dan ribuan tradisi. Keberagaman seharusnya jadi modal. Tapi dalam praktiknya kita sering terjebak dalam dikotomi – cara berpikir “kami vs mereka”. Di pendidikan: “sekolah umum vs madrasah”. Di ekonomi: “UMKM vs korporasi”. Di budaya: “modern vs tradisional”. Di sejarah: “Orde Lama vs Orde Baru”. Padahal abad 21 menuntut kolaborasi lintas batas. Pertanyaannya: Bagaimana membangun masa depan bangsa jika energi kita habis untuk berdebat siapa yang lebih benar?(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Akar sejarahnya terbagi ke dalam beberapa hal. Pertama, warisan kolonial di mana politik “devide et impera” membelah masyarakat agar mudah dikuasai. Kedua, Orde Baru dengan sentralisasi dan penyeragaman yang mematikan keragaman lokal. Ketiga, era digital di mana algoritma medsos memperkuat echo chamber sehingga kita hanya melihat yang sepaham. Bentuk dikotomi kontemporer terlihat di berbagai bidang. Bidang pendidikan dengan dikotomi kampus vs pesantren berdampak pada terjadinya duplikasi kurikulum dan tidak ada pertukaran ilmu. Bidang ekonomi dengan dikotomi digital vs konvensional berdampak pada UMKM yang tertinggal dan gap teknologi yang melebar. Bidang sosial dengan dikotomi kota vs desa berdampak pada urbanisasi masif dan desa yang kehilangan SDM. Bidang wacana dengan dikotomi sains vs agama berdampak pada riset yang berhenti dan fundamentalisme yang meningkat.(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Salah satu dikotomi paling tajam dalam sejarah Indonesia adalah pembelahan Orde Lama 1945-1966 vs Orde Baru 1966-1998. Karakter Orde Lama memiliki ideologi nasionalisme dan politik identitas dengan narasi revolusi dan berdikari serta ciri utama demokrasi terpimpin, mobilisasi massa, dan konflik ideologi. Karakter Orde Baru memiliki ideologi stabilitas dan pembangunan ekonomi dengan narasi orde, tertib, dan pertumbuhan serta ciri utama sentralisasi, pembangunan fisik, dan pendekatan keamanan. Kedua orde ini saling menafikan di mana Orla dicap “gagal ekonomi” dan Orba dicap “otoriter dan korup”, akibatnya bangsa terjebak debat “lebih baik mana?”.(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Catatan kritis Orde Baru menunjukkan bahwa pada masa tersebut demokrasi dikebiri, partai politik dipaksa fusi jadi 3, dan pemilu hanya jadi seremoni legitimasi. Pancasila dijadikan alat gebuk melalui P4 dan asas tunggal di mana siapa yang berbeda pendapat dicap anti-Pancasila. Pendekatan militerisme dipakai untuk menertibkan masyarakat sipil, dan dwifungsi ABRI masuk ke birokrasi, kampus, sampai desa yang berakibat pada matinya ruang kritik dan hilangnya akuntabilitas publik, sehingga melahirkan trauma kolektif bahwa berpolitik itu berbahaya dan berbeda itu musuh.(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Orde ini tidak mewariskan perbaikan karena tiga alasan. Pertama, putus estafet kepemimpinan di mana setiap ganti orde, program sebelumnya dibatalkan total seperti proyek mercusuar Orla yang ditinggalkan dan industrialisasi Orba yang tidak dilanjutkan era reformasi. Kedua, polarisasi sejarah di mana generasi Orla dan Orba saling menyalahkan sehingga kita tidak belajar dari keduanya dan hanya memilih sisi. Ketiga, hilangnya visi jangka panjang di mana negara sibuk melawan bayangan masa lalu daripada membangun masa depan, membuat infrastruktur, pendidikan, dan hukum jadi korban pergantian rezim.(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Dampak ke masa kini dari dikotomi Orla-Orba melahirkan tiga penyakit bangsa. Pertama, nostalgia buta di mana ada yang ingin kembali ke Orla tanpa kritik dan ada yang merindukan Orba tanpa koreksi. Kedua, amnesia kebijakan di mana program bagus dari masa lalu tidak dievaluasi dan diteruskan, tapi dihapus karena bukan dari kelompok kami. Ketiga, alergi terhadap demokrasi dan kritik di mana karena trauma Orba, sebagian masyarakat jadi sinis pada politik sementara sebagian lain meromantisasi otoritarianisme asal pembangunan jalan. Padahal bangsa maju seperti Korea dan China mewarisi semua yang baik dari setiap era, lalu memperbaikinya.(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Dampak kritis dikotomi terhadap masa depan bangsa yang pertama adalah melumpuhkan inovasi. Inovasi lahir dari pertemuan disiplin, di mana Jepang maju karena memadukan kaizen tradisional dengan robotika, sementara kita terhambat karena anak IPA tidak boleh belajar agama dan anak agama tidak boleh belajar sains. Kedua, melemahkan kohesi sosial karena dikotomi menciptakan polarisasi, di mana data LIPI 2024 menunjukkan 62% anak muda merasa tidak nyaman berdiskusi dengan kelompok yang berbeda pandangan sebagai sebuah bom waktu sosial. Ketiga, membuang potensi SDM karena kita punya pesantren dengan jaringan sampai pelosok ditambah kampus dengan riset tapi keduanya jalan sendiri, padahal jika digabung bisa jadi pusat riset herbal, agroteknologi, dan ekonomi syariah terbesar di dunia.(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Strategi untuk menghentikan dikotomi dan membangun kolaborasi dimulai dari paradigma “jembatan, bukan tembok”. Kita perlu mengganti mindset dari “atau” menjadi “dan”, bukan “sains atau agama”, tapi “sains dan agama untuk kemaslahatan”, seperti contoh riset jahe merah memadukan ilmu farmasi ditambah kearifan lokal. Kebijakan konkret yang bisa ditempuh mencakup bidang pendidikan dengan Kurikulum Merdeka mewajibkan proyek kolaborasi lintas sekolah umum, vokasi, dan pesantren. Di bidang ekonomi, korporasi wajib membina 100 UMKM digital bukan sebagai CSR melainkan kemitraan rantai pasok. Di bidang budaya, dana desa dialokasikan untuk Rumah Inovasi Desa yang memadukan teknologi ditambah kearifan lokal. Di bidang media, kita dorong narasi persatuan dan kurangi konten yang memicu kita vs mereka.(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Peran anak muda sangat penting di mana generasi kita harus jadi jembatan yang paham coding sekaligus paham kitab, bisa bisnis sekaligus ngerti sosial, serta berhenti jadi buzzer polarisasi. Rekonsiliasi sejarah dan estafet kebijakan dapat ditempuh melalui kurikulum sejarah kritis yang mengajarkan Orla dan Orba apa adanya termasuk sisi gelap matinya demokrasi Orba dan hiper-ideologi Orla bukan untuk memuja atau mencela tapi untuk mengambil pelajaran. Diperlukan pula UU Estafet Pembangunan di mana setiap program nasional 20 tahun harus dilanjutkan lintas pemerintahan sehingga ganti menteri boleh namun ganti arah jangan. Penguatan demokrasi substantif juga diperlukan agar Pancasila tidak hanya jadi jargon, mengembalikan fungsinya sebagai etika bernegara dan bukan alat gebuk, serta menjamin kebebasan berpendapat tanpa militerisme. Selain itu, dibentuk Komisi Kebenaran dan Perbaikan bukan untuk mengadili masa lalu, tapi untuk merumuskan apa yang bisa kita warisi dan perbaiki bersama.(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Kesimpulannya, bangsa ini lelah dengan dikotomi dari santri-abangan, kota-desa, sampai Orla-Orba. Selama kita masih sibuk memilih tim, kita tidak akan pernah punya timnas. Demokrasi tidak boleh dikebiri lagi, dan Pancasila tidak boleh jadi alat gebuk lagi. Masa depan dibangun dengan mewarisi yang baik, memperbaiki yang buruk, dan berkolaborasi untuk yang akan datang. Hentikan Dikotomi. Pulihkan Demokrasi. Mulai Estafet.(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. QS. Al-Hujurat: 13(Source: kosapoin.com/menghentikan-dikotomi-demi-masa-depan-bangsa)

Ajat DAP

Apakah artikel ini membantu?
IP: 180.243.190.72
Negara: Indonesia (West Java)
Device: Desktop
OS: Windows, Browser: Chrome

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *