Di hampir setiap ruangan, selalu ada satu benda yang paling tahu diri dan tidak banyak tingkah. Ia tidak pernah nimbrung rapat, tidak pernah minta jatah bicara, tidak pernah ngotot angkat tangan, apalagi lancang menyela omongan orang. Tugasnya hanya satu dari lahir sampai rusak: berputar. Namanya jam dinding. Sejak subuh ia sudah lembur tanpa dibayar, sementara kita masih sibuk mengumpulkan nyawa di bantal.(Source: kosapoin.com/jam-dinding)
Tabiat manusia memang ajaib. Saat kita pontang-panting nyari kunci motor yang entah nyempil di mana, benda bundar itu anteng saja berputar tanpa niat menolong. Giliran kita telat sampai kantor dan mulai menyumpah-nyumpahin macetnya jalanan, ia tetap dingin tak acuh. Lucunya, pelampiasan pertama saat kita kesiangan selalu jatuh pada si jam dinding dengan alibi klasik: “Wah, jamnya kecepatan nih.” Padahal yang malas bangun tidur siapa, yang disalahin malah batrenya.(Source: kosapoin.com/jam-dinding)
Masalah makin runyam ketika benda itu dibawa masuk ke ruang kerja. Jadwal sudah dipatok mati—jam masuk, jam istirahat, jam pulang—tetapi manusia selalu punya bakat alami menciptakan celah waktu fiktif. Lima menit sebelum briefing masih sempat-sempetnya nyeduh kopi tubruk. Sepuluh menit menjelang jam bubar masih nongkrong di kubikal mengurus gosip kantor. Pas rapat sudah berjalan sepuluh menit, ada yang nyelonong masuk sambil cengengesan melontarkan alasan klise bahwa jalanan tadi macet total, seolah jam dinding mengerti arti kata toleransi.(Source: kosapoin.com/jam-dinding)
Dinamika psikologis di bawah bayang-bayang benda bundar ini pun melahirkan fenomena sosial yang unik di era modern: budaya menumpuk beban di detik-detik terakhir. Manusia terbiasa meremehkan durasi panjang di awal hari, bersantai menikmati guliran detik sambil menatap layar ponsel, lalu mendadak berubah menjadi atlet lari maraton ketika jarum pendek merayap mendekati batas deadline. Otak diperas setengah mati dalam kepanikan ekstrem, seolah-olah waktu sengaja bersekongkol mempersempit dirinya demi menghukum kelengahan kita sendiri.(Source: kosapoin.com/jam-dinding)
Mungkin karena sifatnya yang kelewat jujur itulah, manusia mendadak alergi pada angka. Kita jauh lebih nyaman bersembunyi di balik kata-kata bersayap: nanti, sebentar lagi, besok, kalau sempat, atau tunggu sebentar. Semua istilah mengambang itu terasa jauh lebih menenangkan ketimbang dipatok pukul sembilan pas, pukul dua belas siang, atau pukul lima sore. Angka-angka pada jam dinding terlalu blak-blakan, tidak bisa disogok, dan tidak bakal melambat sedetik pun cuma karena kita sedang melas meminta waktu tambahan.(Source: kosapoin.com/jam-dinding)
Pergulatan batin itu makin kentara ketika seseorang dihadapkan pada fase-fase perpisahan hidup. Di ruang-ruang tunggu rumah sakit, di stasiun saat melepas kepergian kekasih, atau di kursi pesakitan menjelang sidang vonis, bunyi detak jam dinding yang tadinya dianggap monoton mendadak berubah menjadi teror paling bising di kepala. Setiap detaknya terasa berdenyut lambat atau justru mengejar-ngejar ketakutan batin, memicu kesadaran bahwa manusia tidak punya kuasa untuk menahan laju detik meski hanya sesenti.(Source: kosapoin.com/jam-dinding)
Itu juga alasan logis mengapa sebagian orang lebih memilih melirik kalender ketimbang jam dinding saat kumat malasnya melanda. Kalender masih sudi memberikan ilusi murahan bahwa hari esok adalah lembaran baru yang berbeda. Sementara jam dinding tidak mau bermain drama; ia menampar kita dengan realitas bahwa satu menit yang baru saja disia-siakan sudah bablas dan tidak akan pernah sudi kembali.(Source: kosapoin.com/jam-dinding)
Puncak dari seluruh teater kehidupan ini ditutup dengan fakta yang menggelikan. Di saat manusia sibuk merajut rencana, membuat seribu perkiraan, dan bernegosiasi dengan kesempatan, jam dinding tetap lempeng berputar dalam orbit mekanisnya yang sunyi. Ia menyelesaikan riwayat tugasnya tanpa pernah repot-repot menoleh ke belakang, apalagi meminta maaf atas detik-detik yang terlanjur hilang di tangan kita sendiri. [](Source: kosapoin.com/jam-dinding)
Negara: The Netherlands (North Holland)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








