Syahdan, manusia ternyata bisa dijinakkan secara mutlak bukan oleh pedang bermata dua atau titah murka seorang kaisar, melainkan oleh selembar kertas bernomor yang dicetak dari mesin reyot di sudut balairung. Ambil secarik angka di tangan, lalu duduklah membisu di kursi kayu balairung yang keras tanpa berani mendesak atau menyelak barisan karena semuanya sudah diketok palu oleh sistem kerajaan. Ada nomor satu yang mulia, nomor dua yang cemas, sampai deretan angka buntut yang pasrah menunggu nasib sambil bernapas pelan-pelan menanti bilamana suara pengeras tembaga memanggil giliran menghadap singgahsana.(Source: kosapoin.com/nomor-urut)
Menariknya, rakyat jelata ini ternyata memiliki gen kepatuhan yang diwariskan turun-temurun sejak era perbudakan purba. Contohnya tidak pernah berubah; ketika nomor yang tergenggam masih berangka dua puluh tujuh, sementara juru warta di panggung kehormatan baru meneriakkan angka sembilan, tidak ada satupun yang berani menghunus golok karena mental kita memang sudah didesain jinak oleh birokrasi istana. Mulai dari nomor absen bambu untuk presensi harian di sekolah, nomor daftar wajib militer di gerbang garnisun, hingga keharusan berbaris di bawah terik matahari demi secarik cap jempol tanah garapan, rakyat selalu dipaksa tunduk agar merasa bahwa hidup di bawah panji baginda berjalan secara adil dan terukur.(Source: kosapoin.com/nomor-urut)
Sistem nomor urut itu memang sukses memelihara ilusi ketertiban yang menenangkan mata para penasihat raja. Padahal, kalau balairung itu diamati lebih jeli, keadilan versi birokrasi feodal tersebut penuh dengan kecurangan yang dilegalkan. Ada nomor-nomor bangsawan istana yang melesat mulus tanpa antre karena punya jalur pelicin di balik tirai sutra, sementara di sisi lain ada nomor sial milik petani miskin yang harus mendekam berhari-hari di ruang tunggu karena juru tulis kerajaan sedang asyik merokok di beranda belakang. Sebagian nomor bahkan lenyap begitu saja karena pemiliknya kebelet buang hajat ke semak belukar, atau lantaran terlewat tiga kali panggilan corong tembaga akibat tertidur lelah.(Source: kosapoin.com/nomor-urut)
Lalu sang juru warta berteriak dingin tanpa iba untuk meminta nomor berikutnya, dan selesai sudah riwayat. Nomor yang terlewat detik itu juga dianggap tidak pernah lahir ke dunia dan langsung dilempar ke keranjang sampah sejarah, mengajarkan rakyat satu pelajaran pahit bahwa dalam hukum antrean kekaisaran, sekadar hidup dan bernapas di kompleks istana ternyata belum cukup menyelamatkan nyawa. Kita wajib berdiri siaga tepat pada detik angka kita dikumandangkan, atau kita lenyap begitu saja dari hitungan zaman.(Source: kosapoin.com/nomor-urut)
Mungkin karena sudah kecanduan oleh candu ketertiban semu itu, para penguasa lantas gemar menempelkan nomor pada setiap tatanan kehidupan sosial seperti peringkat kesatria terkuat di medan laga, urutan bangsawan terhormat di dewan penasihat, sepuluh besar wazir kesayangan raja, hingga tiga besar selir pilihan. Angka-angka itu sengaja disebar agar dunia tampak rasional dan gampang dikotak-kotakkan oleh para panglima yang malas memikirkan rumitnya isi kepala manusia. Cukup menunjuk dengan tongkat komando bahwa golongan pertama dielu-elukan, golongan kedua ditoleransi di barisan belakang, dan sisanya dibuang ke jurang perbudakan, padahal tabiat umat manusia tidak pernah sesederhana digit angka di atas gulungan papirus. Kesatria nomor satu di daftar kehormatan belum tentu bernyali besar ketika pasukan musuh membakar gerbang kota, dan rakyat jelata yang namanya bahkan tidak tercatat di arsip istana bisa jadi justru pahlawan yang menahan runtuhnya tembok benteng.(Source: kosapoin.com/nomor-urut)
Tetapi para penguasa kadung jatuh cinta pada urutan hierarki, sebab dengan membuat sistem ranking, otak mereka yang tumpul tidak perlu repot-repot menilai kualitas jiwa seseorang secara utuh. Cukup dipetakan dengan telunjuk besi bahwa golongan utama di sisi kanan aman dari algojo, golongan tengah di barisan tengah masih diizinkan bernapas asal membayar upeti, dan golongan buntut di luar gerbang silakan mati kelaparan.(Source: kosapoin.com/nomor-urut)
Lucunya lagi, kegilaan pada nomor urut ini kerap merembet ke hal-hal remeh temeh di luar tembok istana. Tengok saja para prajurit veteran yang antre memangkas janggut di lapak tukang cukur jalanan atau para selir rendahan yang berebut giliran mandi di pemandian umum, di mana meskipun sudah mengantongi kupon kayu berstempel resmi, mereka masih saja bersitegang di ruang tunggu sambil berbisik penuh intrik bahwa urutan katapelnya digeser orang lain sehingga berhak mendahului. Saking cintanya pada tata krama semu, rakyat jelata bahkan gemar menciptakan hierarki tandingan di kepala mereka sendiri, lengkap dengan ancaman duel di alun-alun kota gara-gara keserobot tiga detik.(Source: kosapoin.com/nomor-urut)
Puncak dari sandiwara kolosal ini baru meletus di babak akhir penantian. Setelah berhari-hari tegang mendekam di kursi tunggu balairung sambil merapal doa, begitu nomor kita diteriakkan dan kita dipaksa melangkah maju menghadap singgasana, otak kita mendadak kosong melompong. Rupanya, selama ini kita terlalu sibuk menghabiskan seluruh sisa umur hanya untuk menunggu giliran, sampai-sampai lupa menyiapkan nyali untuk menghadapi kenyataan pahit di hadapan penguasa.(Source: kosapoin.com/nomor-urut)
Suara corong tembaga dari singgasana kembali berderit memecah keheningan balairung untuk memanggil nomor dua puluh tujuh. Kita gemetar melangkah maju, dan untuk pertama kalinya sepanjang hidup di bawah kolong langit kekaisaran, selembar kertas bernomor di tangan kita terasa begitu kejam, menjelma takdir darah dan air mata yang tidak bisa ditawar lagi. [](Source: kosapoin.com/nomor-urut)
Negara: The Netherlands (North Holland)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








