Manusia ini memang makhluk paling kontradiktif di muka bumi. Ia sangat paham bahwa langit tidak punya jadwal tetap dan air bisa tumpah kapan saja, tetapi ia tetap saja memilih melangkah keluar tanpa payung. Padahal bendanya selalu ada—terselip di balik daun pintu rumah, berdebu di bagasi mobil, meringkuk di sudut laci meja kantor, atau entah tersangkut di lubang mana setelah terakhir kali dipakai bulan lalu. Alasan di baliknya selalu sama dan klise: membawa pelindung sebelum mendung dianggap sebagai bentuk kerepotan yang tidak perlu.(Source: kosapoin.com/payung)
Maka, ketika horison mendadak kelabu dan tetes pertama jatuh, respons pertamanya selalu meremehkan. Pikiran masih bersikap santai, menduga gerimis ini bakal reda dalam hitungan menit. Sialnya, alam punya selera humor yang berbeda. Air justru tumpah semakin beringas. Seketika itu juga, kepanikan massal meledak. Manusia lari terbirit-birit sambil melindungi kepala pakai barang-barang seadanya yang sama sekali tidak layak fungsi: tas ransel mahal, map proposal penting, lembaran koran basah, hingga kedua telapak tangan kosong yang jelas-jelas gagal total berfungsi sebagai genteng.(Source: kosapoin.com/payung)
Tepat pada detik-detik kritis di bawah terpaan air itulah, sepotong kain parasut mendadak bermutasi menjadi benda paling sakral di muka bumi. Orang yang telanjur membawa payung seketika menjelma menjadi selebriti trotoar yang paling dipuja. Teman kantor yang biasanya ogah ditegur mendadak dipanggil dengan senyum termanis, sementara orang asing langsung didekati tanpa risi demi melempar satu kalimat penuh harap: “Boleh nebeng sampai halte depan?”(Source: kosapoin.com/payung)
Sebuah ironi yang telak. Selama tubuh masih kering, payung diperlakukan sebagai beban yang melelahkan pundak. Begitu basah kuyup, benda remeh itu langsung diagungkan layaknya juru selamat. Di tengah kekacauan jalanan yang dipenuhi cipratan air dan umpatan kecil, pihak yang paling bersorak gembira justru para penyewa payung dadakan. Mereka meraup untung melimpah berkat rezeki nomplok yang bersumber murni dari kemalasan orang lain mengantisipasi cuaca.(Source: kosapoin.com/payung)
Menariknya, pola pikir semacam ini ternyata meresap sempurna ke dalam cara kita mengelola seluruh lini kehidupan. Manusia gemar baru mencari sesuatu setelah wujudnya musnah dari pandangan. Kita baru sibuk mencari teman bicara tatkala rasa sepi sudah mencekik leher. Kita baru belajar menghargai detik-detik waktu saat kesempatan hidup tinggal menyisakan sisa-sisa. Kita baru mendadak rajin minum vitamin dan menjaga makan setelah tubuh mengirim sinyal darurat berupa opname di rumah sakit. Lebih parah lagi, kita baru sibuk mengingat dan menghargai seseorang tepat di detik ketika ia sudah muak menunggu dan memilih membalikkan badan.(Source: kosapoin.com/payung)
Padahal, semesta tidak pernah punya urusan untuk menyesuaikan diri dengan agenda manusia. Hujan turun karena hukum alamnya memang begitu, bukan untuk menunggu kita selesai rapat atau rampung membereskan urusan penting. Akibatnya selalu konsisten dari masa ke masa: kita terjebak dalam kepanikan berulang akibat gagal mengukur kesiapan diri sendiri.(Source: kosapoin.com/payung)
Ujung-ujungnya, situasi basah itu memecah manusia ke dalam berbagai tabiat bertahan hidup. Sebagian kecil bernasib mujur karena berhasil merogoh payung yang tersempil di dasar tasnya sendiri. Sebagian lain bergerombol menumpang perlindungan milik rekan sebelah. Ada yang memilih pasrah mendekam berjam-jam di emperan toko sambil melamun, sementara sisanya nekat menerobos badai tanpa pelindung apa pun—bukan lantaran jarak rumahnya sudah dekat, melainkan karena tabiat dasarnya memang paling anti membuat rencana cadangan.(Source: kosapoin.com/payung)
Puncak dari segala kewarasan yang runtuh itu biasanya ditutup dengan kebiasaan kekanak-kanakan: mengomel sambil menyalahkan langit. Seolah awan mendadak punya utang moral untuk menahan airnya sampai kita benar-benar siap. Padahal hujan sama sekali tidak bersalah. Keteledoran murni lahir dari tabiat kita sendiri yang gemar menunda antisipasi. Sebab di dunia yang serba mendadak ini, tidak pernah ada satpam tak kasat mata yang digaji khusus untuk datang mengetuk pintu rumah dan mengingatkan kita agar tidak lupa membawa payung. [](Source: kosapoin.com/payung)
Negara: The Netherlands (North Holland)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown









