Kepala dan Syukur

Kepala dan Syukur

Refleksi JEUJEUR QOLBIYAH

Ada pertanyaan yang sering muncul ketika manusia berhadapan dengan kesulitan: mengapa hidup terasa berat? Mengapa seolah-olah kita ditindih oleh begitu banyak persoalan? Namun, sebelum menyalahkan keadaan, mungkin ada pertanyaan lain yang lebih penting untuk diajukan: apakah beban itu benar-benar berasal dari luar, atau justru dari cara kita memandang dan mengelola kehidupan?

Bagi saya, segala sesuatu pada dasarnya berada dalam rahmat Allah. Jika demikian, apa sebenarnya yang bukan rahmat? Persoalannya sering kali bukan pada apa yang diberikan kepada kita, melainkan pada kemampuan kita untuk membaca, menerima, dan mendayagunakannya. Banyak orang merasa tersudutkan oleh keadaan, padahal terkadang mereka sendirilah yang berjalan menuju pojok dan memilih tinggal di sana. Jika tidak ingin tersudutkan, jangan terus-menerus mencari pojokan; keluarlah ke lapangan yang lebih luas.

Allah telah menegaskan bahwa Dia tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Karena itu, persoalan utama bukanlah beratnya beban, melainkan kesiapan manusia dalam memikul dan mengolahnya. Ketika informasi yang diterima keliru, ketika pikiran dibiarkan berkarat, dan ketika akal tidak dilatih untuk memahami kenyataan dengan baik, maka manusia kehilangan kemampuannya untuk melihat peluang yang sebenarnya ada di hadapannya.

Dalam pengertian bahasa, kafir berarti menutupi. Mungkin tidak semua orang yang gagal bersyukur dapat disebut kafir dalam pengertian teologis, tetapi ada bentuk “penutupan” yang terjadi ketika seseorang menutupi nikmat, menutupi pelajaran, dan menutupi kesempatan yang telah diberikan kepadanya. Akibatnya, yang tersisa hanyalah rasa bersalah, kekhawatiran, dan keluhan yang terus berulang.

Saya melihat hal itu dalam kehidupan sehari-hari. Kebocoran rumah, tandon air yang rusak, pintu yang tidak diperbaiki, halaman yang dipenuhi rumput, hingga ubin lantai yang pecah, sering kali bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Kerusakan itu merupakan akumulasi dari hal-hal kecil yang dibiarkan begitu saja dalam waktu yang lama. Dan jika ditelusuri lebih jauh, akar masalahnya sering kali kembali kepada manusia, termasuk diri saya sendiri.

Pada akhirnya saya menyadari bahwa banyak persoalan hidup berhubungan dengan satu hal: kepala. Kepala sebagai pusat pikiran dan kesadaran. Kepala rumah tangga yang memimpin keluarga. Kepala seksi yang mengemban amanah masyarakat. Kepala-kepala lain yang memegang tanggung jawab dalam berbagai bidang kehidupan. Ketika kepala tidak terurus, banyak hal di bawahnya ikut rusak. Namun ketika kepala mampu berpikir jernih, belajar, bersyukur, dan bertanggung jawab, maka banyak persoalan dapat diurai dan diperbaiki.

Hari ini saya sendiri sedang mengemban tugas sebagai kepala. Namun justru di saat yang sama, saya sedang menghadapi persoalan dalam kepala dan sebagai kepala. Ada kelelahan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Ada pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar tanpa menemukan tempat berlabuh. Ada rasa bahwa pikiran telah bekerja terlalu lama dan terlalu keras sehingga membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Karena itu, pernah terlintas keinginan untuk mengistirahatkan kepala ini. Bukan untuk lari dari tanggung jawab, melainkan untuk menyelamatkan apa yang masih tersisa agar dapat kembali berfungsi dengan baik. Jika memang ada tanggung jawab yang harus diteruskan, mungkin perlu dialihkan kepada kepala lain yang mampu memikulnya untuk sementara waktu. Kepala yang membutuhkan tanggung jawab itu dan dapat menerima saya sebagaimana adanya.

Namun persoalan berikutnya muncul: kepala yang mana? Siapa yang membutuhkan apa yang ada di dalam kepala saya? Sebab ketika saya menengok ke dalam diri sendiri, saya tidak menemukan banyak hal yang dapat dibanggakan. Saya merasa tidak memiliki keahlian yang istimewa. Tidak memiliki kemampuan yang luar biasa. Tidak memiliki sesuatu yang dapat dipamerkan sebagai pencapaian besar.

Yang saya miliki hanyalah pertanyaan yang terus berulang tentang bagaimana manusia dapat hidup bersama dengan lebih baik. Bagaimana manusia dapat belajar bersyukur. Bagaimana manusia dapat melihat rahmat di balik setiap keadaan. Bagaimana manusia dapat saling menguatkan dalam menghadapi kelemahan masing-masing.

Mungkin itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana untuk disebut sebagai kemampuan. Namun semakin lama saya hidup, semakin saya melihat bahwa banyak kerusakan bermula ketika manusia kehilangan rasa syukur, kehilangan kasih sayang, dan kehilangan kemampuan untuk memahami dirinya sendiri. Sebaliknya, banyak perbaikan justru lahir dari hati yang mau belajar menerima, memperbaiki, dan berterima kasih.

Meski demikian, saya juga menyadari adanya satu beban yang masih saya bawa: rasa bersalah. Rasa bersalah atas hal-hal yang belum selesai. Rasa bersalah atas amanah yang belum tertunaikan dengan sempurna. Rasa bersalah atas kerusakan yang mungkin dapat dicegah jika saya lebih bijaksana. Bersama rasa bersalah itu, ada pula cinta. Cinta kepada keluarga, kepada masyarakat, kepada kehidupan, dan kepada harapan bahwa segala sesuatu masih dapat diperbaiki.

Barangkali pada akhirnya manusia memang tidak hidup karena kehebatannya. Manusia hidup karena rahmat yang terus menerus menyertainya. Dan mungkin tugas saya bukan menjadi kepala yang paling pintar atau paling kuat, melainkan menjadi manusia yang terus belajar bersyukur, lalu mengajak siapa pun yang berjumpa dengan saya untuk melakukan hal yang sama.

Awipari, 31 Mei 2026

(Ditulis pada saat bitu ban)

NERAKA DALAM LELUCON
Baca Tulisan Lain

NERAKA DALAM LELUCON

Widi S Kudo

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *