JEUJEUR QOLBIYAH

JEUJEUR QOLBIYAH

Mukadimah Majelisan Edisi 113 ( Edisi Khusus Dawamusy Syukri 73 Tahun Mbah Nun dan 10 Tahun Lingkar Daulat Malaya )

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Segala puji hanya milik Allah Swt yang telah dan senantiasa memperkenankan langkah-langkah kecil penuh keterbatasan ini tetap berjalan dalam naungan rahmat-Nya. Sepuluh tahun perjalanan Majelis Ilmu Muhammad Ainun Nadjib – Forum ngaji bareng Lingkar Daulat Malaya bukanlah sekadar hitungan usia sebuah forum, melainkan jejak ketekunan hati dalam menjaga nyala ilmu, persaudaraan, dan penghambaan kepada Allah. Pada momentum tasyakuran ini, sekaligus doa bersama untuk 73 tahun usia, perjalanan hidup dan keteladanan Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun, kita diajak kembali menyelaminya lewat tema “Jeujeur Qolbiyah”. “Jeujeur” dalam khazanah Sunda berarti alat pancing ( mancing ikan ), sedangkan “Qolbiyah” berhubungan dengan hati dan dimensi ruhani. Maka, Jeujeur Qolbiyah dapat dimaknai sebagai mekanisme batin yang senantiasa memancing kesadaran ruhani manusia agar tetap tertaut kepada Allah, menghadirkan iman sebagai penuntun langkah, serta menjadikan takwa sebagai kewaspadaan hidup di tengah derasnya arus zaman.

Di tengah riuhnya kehidupan modern yang dipenuhi gemuruh ambisi, percepatan zaman, dan kegaduhan informasi, manusia sering kali kehilangan arah paling mendasar dalam hidupnya: “kemana hati harus berpulang”. Kita terlalu sibuk membangun citra lahiriah, namun lalai menata ruang batiniah. Maka tema “Jeujeur Qolbiyah” hadir sebagai ikhtiar untuk kembali menyelami kedalaman hati, meneguhkan kembali kesadaran ruhani bahwa setiap langkah kehidupan sejatinya memerlukan penuntun dari dalam diri—yakni hati yang hidup oleh cahaya iman. Kata jeujeur yang bermakna alat pancing, memberi isyarat bahwa hati manusia memerlukan pengait yang kokoh agar tidak hanyut oleh arus dunia. Sedangkan qolbiyah menandai wilayah ruhani yang menjadi pusat rasa, niat, tauhid, dan kesadaran ketuhanan. Dari sanalah manusia menemukan energi kebaikan yang sejati.

Allah SWT telah mengingatkan bahwa keselamatan manusia tidak bertumpu pada kemegahan duniawi, melainkan pada kebeningan hati. Firman-Nya dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 88–89 : “(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” Hati yang bersih (qalbun salim) adalah hati yang senantiasa terhubung kepada Allah, hati yang menjadikan iman sebagai pusat kesadaran, serta menjadikan takwa sebagai pengendali langkah kehidupan. Dalam khazanah Sunda, terdapat filosofi eling jeung waspada—eling sebagai kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap keadaan, dan waspada sebagai sikap hati-hati agar tidak tergelincir dalam kesombongan, kemaksiatan, maupun kelalaian. Maka Jeujeur Qolbiyah bukan sekadar tema pengajian, melainkan ajakan untuk menata ulang orientasi hidup agar kembali bertumpu pada nilai-nilai ruhani.

Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 “Ala bidzikrillāhi tathma’innul qulūb” — “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Ayat ini menegaskan bahwa kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada gemerlap dunia, melainkan pada kejernihan hati yang terus disambungkan kepada Allah. Jeujeur Qolbiyah menyuguhkan renungan bahwa kehidupan bukan sekadar soal ketercapaian lahiriah, tetapi terutama tentang bagaimana hati tetap hidup, tetap peka, tetap jernih, dan tetap mampu menangkap sinyal-sinyal kebaikan dari Allah disegala cuaca . Dalam tradisi Maiyah, jalan ruhani itu tidak selalu ramai tepuk tangan dan sorotan manusia. Ia sering kali hadir dalam kesunyian tirakat, ketekunan mencintai ilmu, kesabaran merawat persaudaraan, dan keikhlasan menanam manfaat tanpa banyak meminta pengakuan atau validitas manusia.

Rasulullah Saw. bersabda ; “Ketahuilah, di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa pusat arah kehidupan manusia berada pada kualitas qalbunya. Oleh sebab itu, Jeujeur Qolbiyah bukan hanya ajakan untuk memperbanyak pengetahuan, melainkan upaya merawat hati agar tetap memiliki daya tangkap terhadap petunjuk Allah. Dalam kehidupan modern yang sering menjadi patokan atau tolak ukur keberhasilan itu dari kemewahan dan popularitas, Maiyah justru mengajak manusia kembali kepada kesederhanaan ruhani: menjadi manusia yang eling kepada Allah dan waspada terhadap godaan nafsu, kesombongan, serta kecenderungan kehilangan arah hidup.

Perjalanan panjang Mbah Nun selama puluhan tahun dapat dibaca sebagai laku “jalan sunyi”, yakni jalan pengabdian yang tidak dibangun di atas ambisi kekuasaan ataupun kepentingan pribadi, melainkan di atas cinta kepada Allah, Rasulullah dan kemanusiaan. Dalam banyak kesempatan, Mbah Nun pernah menyampaikan, “Jangan mencari Allah karena ingin selamat, tetapi hadirkanlah Allah karena memang Dia Tuhanmu-pengasuhmu, Maka Maiyah adalah apapun yang kita alami di dunia ini, kegembiraan atau kesedihan, kekayaan atau kemiskinan, kesepian atau tidak kesepian, dikesunyian atau dikeramaian, dalam keadaan sehat atau sakit, dalam kekalahan atau kemenangan, Selalu Kita Bersama (Maiyah) Allah dan Rasulullah” Hikmah ini mengajarkan kemurnian tauhid, bahwa penghambaan kepada Allah tidak semata didorong oleh kepentingan duniawi, melainkan oleh kesadaran cinta dan kepatuhan sejati. Jalan sunyi yang beliau tempuh adalah keteladanan tentang bagaimana menjaga istiqamah dalam menebar cinta dan nilai ruhani, memelihara akhlak, serta tetap membersamai umat meskipun sering harus berjalan di lorong-lorong sepi tanpa sanjungan. Bahkan di masa beliau “diistirahatkan Allah” saat ini, kita belajar bahwa seorang pejalan ruhani tetap memberi cahaya meski dalam diamnya.

Kualitas hidup manusia sangat ditentukan oleh keadaan hatinya. Hati yang dipenuhi tauhid akan melahirkan akhlak mulia, ketulusan, kasih sayang, dan keberanian untuk berbuat baik tanpa pamrih. Sebaliknya, hati yang dipenuhi kerak duniawi akan mudah digerakkan oleh hawa nafsu, kebencian, dan kepentingan sesaat. Karena itu, jalan ruhani yang ditempuh para ulama, para salihin, dan orang-orang yang tekun menempuh “jalan sunyi” sejatinya merupakan proses membersihkan hati agar tetap peka terhadap cahaya petunjuk Allah SWT.

Dalam banyak kesempatan, Mbah Nun, sering mengingatkan bahwa manusia jangan terlalu sibuk mengejar pengakuan dunia sampai kehilangan hubungan dengan Allah. Beliau pernah menyampaikan, “Jangan mati matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa matii, Maka hanya Sunyi yang mengajarkan kita untuk tidak mendua ( Menyelingkuhi Allah atau Musyrik )”. Jalan sunyi yang ditempuh bukan berarti menjauh dari kehidupan sosial, melainkan membangun kejernihan hati agar tetap mampu mencintai sesama dengan landasan tauhid. Mbah Nun juga mengajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak akan melahirkan kesombongan, sedangkan ibadah tanpa cinta hanya menjadi rutinitas kosong. Maka “Jeujeur Qolbiyah” menjadi ruang untuk menyalakan kembali api cinta kepada Allah, memperhalus akhlak, dan memperkuat kemanusiaan melalui pendekatan ruhani yang teduh dan membebaskan.

Tasyakuran sepuluh tahun Lingkar Daulat Malaya ini semoga tidak berhenti sebagai seremoni usia, tetapi menjadi momentum muhasabah dan penguatan energi ruhani bagi kita semua. Jeujeur Qolbiyah mengajak setiap pribadi untuk terus memancing – mengupayakan kejernihan hati, memperkuat iman, memperhalus akhlak, dan meneguhkan istiqamah dalam kebaikan dan persaudaraan dengan semuanya.

Melalui majelis sinau bareng ini, kita berharap kepada Allah supaya kita dimampukanNya untuk membangunkan kembali kesadaran bahwa hidup bukan sekadar soal berhasil atau gagal menurut ukuran dunia, tetapi tentang sejauh mana hati tetap terikat kepada Allah di tengah segala keadaan. Semoga “Jeujeur Qolbiyah” menjadi ikhtiar bersama untuk memperkuat jeujeur hati kita agar senantiasa terpancing menuju kebaikan, tergerak oleh nilai-nilai tauhid, dan istiqamah dalam laku kehidupan yang penuh manfaat bagi sesama. Sebab manusia yang paling mulia bukanlah mereka yang paling banyak dipuji, melainkan mereka yang paling jernih hatinya, paling baik akhlaknya, dan paling kuat menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Semoga majelis ini senantiasa menjadi ruang bertumbuhnya cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah Saw., cinta kepada ilmu, dan cinta kepada sesama manusia. Sebab sejatinya manusia bukanlah mereka yang paling ramai dipuji dunia, melainkan mereka yang diam-diam tetap setia berjalan di jalan sunyi bersama Allah. Semoga Allah Swt. menjaga langkah kita, meneguhkan hati kita, dan menjadikan seluruh ikhtiar ini sebagai jalan pulang menuju ridha-Nya serta forum ini menjadi wasilah turunnya keberkahan, ilmu yang manfaat, hati yang teduh, serta langkah kehidupan yang semakin eling dan waspada dalam ridha-Nya.

Tasikmalaya, Mei 2026

Lingkar Daulat Malaya

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *