Menyikapi tentang Rahasia-Rahasiyyah-rusiah-Sirr-misteri-tabir-hijab tentang apapun itu ada rentang yang sangat beragam. Sesuatu yang tersembunyi, disembunyikan, belum terungkap, belum diungkapkan, karena limitasi/batasan itu mempunyai makna berbeda-beda. Perbedaan istilah ini bukan sekadar permainan bahasa, melainkan refleksi dari cara kita memandang kedalaman sebuah realitas.(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Ada yang tertutup karena kemalasan kita mencari serta mendayagunakannya. Ada yang belum terungkap berarti sedang dilakukan (dicari). Ada yang tersembunyi harus dicari. Disembunyikan karena ada peran lain. Belum diungkapkan ini proses menunggu waktu atau momentum bisa terjadi atau tidak. Ada juga yang limitasi/terbatas tidak akan bisa ditemukan, diungkapkan. Pada kosakata itu saja tentang hal itu perbendaharaan maknanya amatlah luas dan tidak bisa kita sama ratakan sebab punya makna yang beragam pula.(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Time horizon-nya harus jelas. Semisal kata baik, kita menemukan dalam Al-Qur’an ada banyak kata yang mengandung makna baik: Solihun, Toyyib, Birr, Khoir, Arif/Ma’ruf, Ihsan. Keenam istilah ini memang sama-sama sering diterjemahkan sebagai “baik” atau “kebaikan” dalam bahasa Indonesia, tetapi dalam bahasa arab Arab terutama firman Allah dalam Al-Qur’an masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda. Pemahaman atas nuansa ini menjadi krusial agar kita tidak terjebak pada penyederhanaan makna yang dangkal. Pada mekanisme itu kesadaran yang terjadi adalah akal dan keyakinan sebagai pondasinya. Ketika bisa kita cari maka menggunakan akal, apabila tak akan pernah kita temukan maka hanya dengan iman.(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Fenomena dalam linguistik mengandung semantik serta semiotika. Secara warisan, peninggalan leluhur kita amatlah kaya; dalam kebudayaan Sunda, sekurangnya kita bisa mempelajari tentang panta tanda: silib, siloka, sindir, sampir, sandi, sasmita, sunnyata. Ada sebuah peribahasa leluhur kita: “Sabuni-bunina bangke bakal ka ambeu.” Begitulah tentang hal yang tersembunyi, lambat laun itu akan terungkap juga. Peribahasa ini mengajarkan kita bahwa kebenaran memiliki gravitasi alaminya sendiri untuk muncul ke permukaan. Itu pada horizon yang mana dan untuk apa kalimat itu dimaksudkan.(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Dari sebuah peribahasa itu pemaknaan saya berlaku untuk “kebusukan”; sesuatu yang busuk sifatnya sementara atau ada jangka waktu yang memang akan/harus terungkap, kecuali memang itu semua telah dirancang agar tidak tercium dan terendus. Caranya, bangkai itu ya dikubur dalam-dalam maka aroma bangkai itu tidak tercium. Ini hanya aroma, dan gak usah sibuk ngomongin bangkai. Seharusnya ya cari sumber aromanya, kemudian bangkai itu harus dikubur jangan sampai malah dibiarkan. Aromanya sudah tidak enak, malah menimbulkan penyakit juga. Sudah beres.(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Disadari atau tidak, ada semacam pengejawantahan. Keterbukaan mengarahkan kita pada kejelasan tujuan, entah apapun itu tujuannya. Dalam hal apapun kita harus terbuka. Pikiran merupakan dapur utama dalam mengolah setiap masakan. Jelasnya, sebuah dapur harus ada ventilasi yang tepat agar keluar masuknya udara. Begitupun dengan limbah dapurnya harus tertata lebih beradab. Ketertiban ruang batin menentukan apa yang akan menetap di dalam diri kita.(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Banyaknya tikus, kecoa, nyamuk, serta serangga lainnya di rumah kita, bisa jadi karena tak pernah ada penataan yang merenah sehingga yang kita undang adalah kehadiran mereka di rumah kita. Apa yang datang ke rumah, ke diri kita, mungkin itulah yang sebetulnya yang kita undang. Jangan heran apabila yang datang ke rumah adalah mereka yang memang kita terlibat dalam menghadirkan mereka, baik itu keruwetan, kesedihan, maupun amarah.(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Ada sebuah keterangan jika kita memelihara anjing di rumah akan menghalangi kedatangan rezeki. Saya tak menyalahkan yang memelihara anjing, saya tak menyetujui untuk memelihara anjing, serta saya juga tak menyalahkan dan membenarkan perihal keterangan itu. Saya hanya sedikit mempunyai pandangan lain perihal itu. Boleh jadi ada sebabnya, ada alasannya. Semua hal yang terjadi memang ada banyak sisi yang mesti kita akui mengenai semuanya. Itulah mengapa manusia diberi akal.(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Di suatu malam, saya berdiskusi dengan istri dan ibu. Sela-sela diskusi itu saya menyelipkan sebuah hal yang saya rasakan saat ini. Saya perlahan melihat dan mendengar yang tersembunyi mulai terungkap. Seolah Allah memperlihatkan dari tanda sesuatu sebagaimana dari Surat Yasin:(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Artinya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami mencatatkan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan…”(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Bagi saya, ayat inipun memberi informasi tentang sejarah. Bahwa Allah lah sang pencatat sejarah terbaik. Sehingga dari ayat inilah tangan dan pikiran saya memetakan dalam berbagai medianya. Pada keadaan lain, Allah mengajak saya untuk menonton suatu pertunjukan yang sangat seru akan perilaku manusia yang saya lihat sendiri atau dari media sosial internet, termasuk didalamnya adalah perilaku saya sendiri. Yang baik saya rasakan efeknya, begitupun sesuatu yang busuk yang dari perilaku saya, atau yang saya rasakan imbasnya dari pengaruh siapa saja yang melakukannya. Kesadaran ini adalah langkah awal untuk memperbaiki diri sebelum menghakimi dunia luar.(Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)
Dalam kejadian lain, Ibu saya menceritakan hal lain. Beliau merasakan kebaikan dari sekelilingnya; dikasih beras, makanan, diajak berobat, dan yang lainnya, dan itu membuatnya meneteskan air mata. Saya kemudian mengajak beliau mengingat tentang para pendahulu yang kita rasakan kebaikannya. Saya juga mengingatkan kembali akan pesan kakek saya tentang kata “keun”. Itulah kata yang dilontarkan almarhum kakek ketika sedang mengalami keadaan yang tak sesuai dengan harapan. Entah perilaku orang ke kita, serta apapun itu yang kita terima, atau sebuah wejangan agar kita tetap sabar. Ucapannya hanya satu kata itu: “Keun!” sebagai sikap dari penerimaan kata “kun fayakun”. “Keun”, sebuah kata yang menjadi penanda puncak kepasrahan sekaligus kekuatan untuk menerima ketetapan dengan hati yang lapang. [](Source: kosapoin.com/rahasianya-rahasia)









