Alter Ego dalam Tipung Tarigu

Alter Ego dalam Tipung Tarigu

Pun dalam hal apapun jika melihat inti dari perilakunya, ucapannya, dan sikapnya, manusia tak lebih hanya muter-muter pada pola yang cenderung sama, mungkin. Hidup-mati, terang-gelap, keluar-masuk, alter-ego dan seterusnya. Polanya sama. Kata-katanya berbeda. Maknanya tergantung dari setiap yang memaknainya. Tergantung transformasinya pada hal apa. Dari setiap kata ada kedalaman, kegunaan, fungsi, dengan merujuk pada maksud, tujuan—tak ada lagi dalam hidup ini kecuali ilaihi rojiun.

Kesadaran akan pola universal ini sebenarnya telah membentuk cara saya berpikir sejak masa kecil, terutama dalam memandang dunia pendidikan dan informasi. Sejak kecil, saya mengganggap menghafal semua pelajaran berupa tulisan itu teramat buang-buang waktu, karena jawaban yang dibutuhkan saat ujian adalah polanya; kuncinya sudah kita dapati. Sehingga yang saya lakukan adalah memahami awal-tengah-ujungnya. Begitulah dalam memahami cerita atau tulisan, entah itu teks atau tutur. Latar belakang-isi-simpulan. Tanpa perlu repot-repot membaca semuanya, intinya bisa kita temukan dalam bagian tertentu.

Demikian itu saya elaborasikan pada kehidupan nyata. Sehingga secara pola, saya punya metode tersendiri untuk menangkapnya. Namun, metode yang mekanis ini sering kali membentur dinding realitas kemanusiaan yang jauh lebih rumit daripada sekadar teori. Meski terkadang saya suka menjegal tutur kata orang, tak utuh membaca tulisan orang, atau memotong informasi—karena saya mengira yang sedang mereka bicarakan itu ingin tahu bagaimana seharusnya ke depannya—ternyata tidak selalu begitu. Dan mulutku kembali bungkam. Ada juga manusia yang hanya ingin bercerita saja. Ada juga yang hanya ingin menulis saja. Ada yang hanya ingin menunjukkan saja. Ada juga yang ingin bernyanyi saja. Ada juga yang membutuhkan bantuan. Dan ada saja dari setiap keadaan kemungkinan yang lainnya yang masih, sedang, atau terus saya selidiki.

Dari penyelidikan spiritual inilah, saya akhirnya menyadari bahwa tak ada waktu bagi saya untuk sekadar membaca teks selain dari mendengarkan. Maka apa yang saya dengar itu persentasenya lebih dominan. Karena itulah, dorongan batin ini membuat saya harus membuka, bahkan mendobrak pintu agar saya bisa menjawabnya dengan kata. Sebab pada dasarnya, dunia tidak bisa dihadapi hanya dengan logika pemotongan pola; ia menuntut keheningan yang mendalam untuk menyimak. Maka, saya mencoba mendengarkan secara utuh dari setiap kata-kata yang bertutur serta dari teks yang berkata agar bisa meraba maksudnya secara seksama. Terkadang saya mencari dan membaca teks hanya sekadar untuk mengonfirmasi, mencari keluasan kata, akar kata, dalam suatu asal-usul suatu kata bersumber.

Saya menulis sebagai upaya merespon sebuah, suatu, sebagian, atau semua dari yang saya dengar dan terbaca, kemudian dipublikasikan sekadar menyapa siapa saja yang tak bisa mengobrol dekat. Terkadang saya melagukan tulisan itu, biar lebih ada iringan latar musiknya. Atau berbentuk dan berasa lainnya dalam kemasan berbeda. Walau terkadang menggunakan balutan yang baku, kaku, ringan, basi, lucu, membingungkan, meresahkan, menegangkan, bahkan melukai. Keterbatasan itulah adalah kesadaran. Sebagaimana tulisan ini tidak dibuat untuk dimengerti, tidak untuk dipahami, atau diminati. Ini hanya sekedar emoticon saja. Ekspresi saja. Saya hanya ingin menyapa. Namun entah bagaimana susunannya, jenisnya, atau kategorinya, saya hanya ingin menyapa dalam keutuhan kata dan tutur kata—meski terbata-bata tapi tak mengapa. Sebab di balik setiap sapaan itu, ada pergulatan batin yang teramat bising, sebuah perjuangan personal yang terus berdegup di dalam dada.

Dalam kesunyian perjuangan itu,  saya tuliskan berpuluh, beratus, beribu, berjuta, bahkan lebih kata yang saya simpan di sela-sela bait-bait kalimat, yang katanya pun tak menyadarinya. Semua itu dilakukan hanya untuk menyampaikan pada saya yang tak berdaya dan tak kuasa. Di hadapan megahnya semesta, apakah saya salah kalau di dalam isi tulisan itu saya mengatakan takjub pada anugerah-Mu sang kekasih? Namun, penerimaan dunia sering kali berbanding terbalik dengan niat tulus yang tersimpan. Kenapa langkah saya hanya dianggap pedang tajam yang mencari mangsa? Sehingga demikian malah menoreh luka. Dari balik hingar-bingar, di gua pengungsian, jiwa saya merangkak menemui lembah-lembah tandus. Merangsang tetumbuhan agar tetap tumbuh dan berkembang, agar menanam apa yang perlu ditanam. Sesekali saya pangkas ranting yang berjamur karena menghalangi perkembangannya.

Dari itu, sesekali saya tersungkur. Kadang hati saya bergumam, kenapa Tuhan tak mempercepat jalan ceritanya saja? Sekian kali saya dengar jawaban Tuhan dari manapun arahnya: “Berjuanglah,” Mendengar itu, hingga tak terbersit dalam benak saya dan langkah saya untuk putus asa. Malah Tuhan semakin memperjelasnya dalam informasi lain bahwa putus asa itu dosa. Ya okelah Tuhan … pondasi cinta saya terlalu lama saya bangun sehingga tak bisa goyah begitu saja, dan Kau akan menjaganya sebagai bukti yang nyata. Maka saya lanjutkan lagi, dan tersungkur lagi. Tak tahu sampai kapan demikian itu berhenti. Terulang dan berulang lagi. Saya semakin menua dalam usia, hingga pena saya tak mampu lagi menulis cerita yang semakin kehabisan tinta. Padahal, kasih sayang-Nya masih banyak lagi yang belum tertuangkan.

Perjuangan batin tentang takdir dan kesetiaan pada proses tersebut pada akhirnya bermanifestasi dalam benturan ruang fisik kehidupan sehari-hari: sebuah kegelisahan geografis antara kota dan kampung. Kalau saya sedang berada di kota, saya terus-menerus memikirkan kampung. Kalau saya sedang berada di kampung, saya selalu memikirkan saudara saya di kota dan semua kegiatan yang pernah saya lakukan. Dalam perenungan, saya berpikir untuk menjalankan aktivitas hidup apakah di kota atau di kampung.

Kalau saya di kampung, aktivitas saya takkan jauh dari itu-itu saja. Kalau saya bertani tiap hari yah seperti itu, nyaris membosankan. Hingga pada siklusnya pun terjadi, mungkin tidak sebagai petani, tetapi aktivitasnya nyaris tak ada perubahan setiap harinya. Ini siklus dunia yang didesain global ataukah ini kehidupan? Kok kehidupan kayak gini? Rasanya ada yang salah deh dengan hidup ini? Masa Tuhan menciptakan kehidupan dunia yang seperti ini? Lagian, kenapa semua orang ingin jadi kaya?

Di tengah kebingungan melihat rutinitas manusia yang seragam itulah, suatu ketika saya memperhatikan tumbuhan. Dari daun, bunga, buah, batang, hingga rantingnya, yang satu sama lainnya itu menopang keberlangsungan hidup tumbuhan. Kalau kehidupan ini salah, tentunya mereka akan putus asa dan hidup tidak bersama-sama menjadi komponen utuh sebagai tumbuhan. Pada saat saya berdiskusi dengan istri, celoteh saya meyakinkan padanya bahwa cacing tanah tak pernah mau punya sayap sebagaimana burung. Dia istiqomah menjadi cacing.

Dari sanalah saya mempunyai hipotesis, bahwa kehidupan yang sejati ialah kehidupan yang satu sama lain saling memberikan peran untuk keberlangsungan hidup itu sendiri. Kekacauan dan kepalsuan di dunia hari ini terjadi justru karena banyak manusia yang menolak fitrah dan memaksakan peran yang bukan miliknya. Masalahnya saat ini, karena banyak dari bebatuan kerikil memaksa menjadi intan dan permata, dan dengan lantangnya mereka menyebut akan bertahan sa bubukna. Lah, emang kalau bukan kerikil, apalagi yang siap menjadi itu? Tanpa pernah dia sadari kalau itu mencerminkan peran dia. Parahnya, si kerikil ini memaksa granit untuk menjadi kerikil juga. Okelah kalau saya beras diajak bubuk juga hayu, sebab nantinya bisa jadi gorengan yang renyah. Nah, ini diajak jadi pondasi jalanan, yang menerima diinjak dan digilas oleh apapun:

Merontalah hati saya, sebab saya bukan kerikil. Saya tipung tarigu. []

Widi S Kudo

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *