Milad 73 Tahun Mbah Nun dan 10 Tahun Lingkar Daulat Malaya

Milad 73 Tahun Mbah Nun dan 10 Tahun Lingkar Daulat Malaya

JEUJEUR QOLBIYAH : Menjaga Persambungan Hati dan nilai laku ruhani di momentum dasa Warsa Lingkar Daulat Malaya dan 73 Tahun Muhammad Ainun Nadjib

Suasana hangat penuh syukur dan persaudaraan mewarnai Sinau Bareng Maiyah Lingkar Daulat Malaya Edisi 113 yang digelar pada Sabtu malam, 30 Mei 2026, di Lantai 2 Gedung Dakwah Islamiyyah Kota Tasikmalaya. Majelisan kali ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan Milad ke-10 Lingkar Daulat Malaya sekaligus peringatan Milad 73 tahun Muhammad Ainun Nadjib (Mbah Nun), dengan mengusung tema “Jeujeur Qolbiyah”

Majelisan dimulai pukul 20.00 WIB dengan tadarus Surat Yunus yang dilanjutkan dengan tawashulan. Perlahan para jamaah berdatangan dan larut dalam suasana khidmat yang mengalir sepanjang rangkaian acara. Edisi kali ini tidak hanya menjadi momentum syukur atas satu dasawarsa perjalanan Lingkar Daulat Malaya, tetapi juga menjadi ruang temu kembali bagi para sedulur lama yang turut membersamai proses awal perjalanan Maiyah di Tasikmalaya.

Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, panitia menghadirkan enam tokoh yang dianggap sebagai kakak-kakak perjalanan Maiyah Lingkar Daulat Malaya, yakni Pak Aam, Kang Nabil Athoillah, Kang Fitrah, Kang Deni WeJe, Mas Hasbi Afifi dan Kang Doni M Noor. Mereka terlibat dalam prosesi simbolis pemotongan tumpeng sebelum sesi Sinau Bareng dimulai dengan penuh bahagia beraroma kerinduan. Setelah prosesi tersebut, forum dipandu oleh Ihsan Farhanuddin sebagai moderator.

Tema “Jeujeur Qolbiyah” menjadi pintu masuk bagi jamaah untuk mengelaborasi makna keteguhan hati, kepekaan sosial, dan perjalanan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Dr. Billy mengawali forum dengan memaknai jeujeur sebagai simbol kelurusan, istiqamah, kesungguhan dalam mempekerjakan diri, sekaligus kelenturan yang mencerminkan tawakal dan ridha. Ia mengingatkan kembali dawuh Mbah Nun tentang pentingnya mendahulukan sikap ridha kepada Allah. “Tagihlah dirimu sendiri untuk senantiasa ridha terhadap apapun yang Allah takdirkan kepadamu. Radhiyatan dulu, insyaallah akan menjadi mardhiyah.”

Menurutnya, getaran pada kail saat ikan mulai menyambar serupa dengan getaran hati seorang hamba yang sedang menempuh jalan muraqabah, yakni kesadaran terus-menerus bahwa dirinya berada dalam pengawasan Allah. Ia juga mengutip doa favorit Mbah Nun yang bersumber dari doa Rasulullah SAW: “In lam takun bika ‘alayya ghadlabun fala ubali“— “Asalkan Allah tidak murka kepadaku, maka apa pun keadaan dunia yang menimpaku tidak menjadi masalah, Ora Patheken”. Inilah konsep Iman Mahabbah Tawakal Tertinggi.

Kang Nabil Athoillah menegaskan bahwa salah satu tradisi penting yang diwariskan Maiyah adalah tradisi menyambungkan dan mempersaudarakan manusia. Menurutnya, salah satu karomah Mbah Nun adalah kemampuannya menghadirkan persaudaraan yang tumbuh secara alami tanpa ikatan darah maupun kepentingan dunia. Maka inilah yang mesti kita jaga, rawat dan tebarkan kepada anak cucu kita kelak.

Sejalan dengan itu, Mbah Nun pernah mengingatkan, “Persaudaraan itu bukan karena kesamaan organisasi, melainkan karena kesamaan cinta kepada kebenaran dan kemanusiaan yang disuguhkan menjadi kebaikan an kebermanfaatan.”

Aa Saepul Millah mengajak jamaah bernostalgia menapaki perjalanan sepuluh tahun Lingkar Daulat Malaya. Ia menegaskan bahwa hidangan utama di Maiyah bukanlah ilmu pengetahuan semata, melainkan persaudaraan. Kerinduan untuk bertemu menjadi bumbunya, sementara ilmu dan relasi kemanusiaan menjadi lauk-pauknya.

Pandangan tersebut mengingatkan pada dawuh Mbah Nun, “Maiyah bukan tempat mencari ilmu semata, tetapi tempat menumbuhkan cinta dan persaudaraan agar ilmu menemukan rumahnya.”

Suasana semakin hidup ketika Aang Sayyid, jamaah termuda yang baru berusia 10 tahun, menyampaikan pandangannya. Ia memaknai jeujeur sebagai pegangan hidup yang dibangun dari kemandirian dan digerakkan oleh hati masing-masing. Meski belum pernah bertemu langsung dengan Mbah Nun, ia merasa beruntung dipertemukan dengan nilai-nilai yang diwariskan melalui lingkungan Maiyah.

“Saya ingin sekali bertemu Mbah Nun, salaman, lalu mengucapkan terima kasih atas ilmu-ilmu yang manfaatnya terus mengalir,” ungkapnya.

Apa yang disampaikan Aang seakan menjelma dalam pesan Mbah Nun, “Jangan menunggu tua untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Yang penting bukan umurmu, melainkan kesadaranmu.”

Di sela forum, Teh Rika mempersembahkan dua puisi karya Chairil Anwar dan Nazarudin Azhar sebagai sedekah kebudayaan yang menambah kedalaman suasana majelisan.

Kang Fitrah mengenang persentuhan awalnya dengan Maiyah sebagai ruang yang sangat alamiah dan otentik. Menurutnya, jamaah Maiyah dipersatukan bukan oleh kesamaan latar belakang, melainkan oleh kegelisahan dan pencarian makna hidup yang kemudian bertemu dalam ruang kegembiraan bersama.

Hal ini selaras dengan ungkapan Mbah Nun, “Maiyah tidak dibangun oleh keseragaman, melainkan oleh keberagaman yang saling menghidupi. Tumbuhnya Maiyah berangkat dari ikatan Cinta Kepada Allah, Rasulullah dan persaudaraan dengan semua makhlukNya”

Abdan, seorang mahasiswa, menyampaikan kegelisahannya terhadap sistem pendidikan yang semakin mendorong peserta didik berlomba mengejar kesuksesan materialistik. Ia khawatir kondisi tersebut perlahan mengikis empati sosial generasi muda.

Keresahan itu mengingatkan pada kritik Mbah Nun, “Pendidikan yang baik bukan sekadar menghasilkan orang pintar, tetapi menghasilkan manusia yang tahu untuk apa kepintarannya digunakan.”

Deni WeJe menyoroti pentingnya kepekaan sebagai modal utama persaudaraan di Maiyah. Dengan kepekaan itulah potensi-potensi jamaah dapat dipertemukan dan dikolaborasikan menjadi kebermanfaatan nyata bagi lingkungan sekitar.

Mbah Nun pernah mengatakan, “Manusia itu harus saling menjodohkan potensi, karena Allah menciptakan kita untuk saling melengkapi, bukan saling mengalahkan.”

Cahya mengungkapkan kegelisahannya terhadap kondisi anak muda masa kini yang semakin kesulitan menemukan jati diri dan arah hidup. Menurutnya, banyak yang akhirnya hanya mengikuti arus besar tanpa terlebih dahulu mengenali dirinya sendiri.

Pandangan tersebut sejalan dengan dawuh Mbah Nun, “Masalah terbesar manusia bukan tidak tahu jalan, tetapi tidak mengenal dirinya sendiri.”

Mas Hasbi Afifi memaknai pertemuan angka 10 tahun Lingkar Daulat Malaya dan 73 tahun Mbah Nun sebagai simbol syukur. Ia berharap momentum tersebut menjadi washilah bagi bertemunya kebermanfaatan setiap orang Maiyah untuk kehidupan yang lebih luas. Menurutnya, pengamalan nilai Maiyah yang paling dekat adalah dalam pengasuhan anak-anak di rumah.

Sebagaimana sering diingatkan Mbah Nun, “Perjuangan terbesar kita bukan mengubah dunia, tetapi menyiapkan generasi yang mencintai Allah dan dicintai Allah.”

Yanuwar Effendi mengibaratkan jeujeur sebagai potensi dan keahlian yang dimiliki setiap manusia. Potensi tersebut hanya dapat ditemukan melalui kesungguhan, bukan kemalasan ataupun keluh kesah.

Sejalan dengan itu, Mbah Nun pernah berpesan, “Jangan sibuk mengeluh tentang hidup. Sibuklah menemukan tugasmu dari Allah.”

Aditya Rahmawan menceritakan bahwa persentuhannya dengan Maiyah berawal dari kegelisahan jiwa. Melalui media sosial ia menemukan Kenduri Cinta dan kemudian rutin mengikuti majelisan. Baginya, hikmah terbesar Maiyah adalah tumbuhnya persaudaraan yang mandiri dan tulus.

Andi menambahkan bahwa kegembiraan yang ditemukan di Maiyah bersifat otentik karena lahir dari pengalaman hidup yang nyata dan kontekstual.

Keduanya sejalan dengan pesan Mbah Nun,”Kebahagiaan sejati bukan hasil rekayasa, melainkan buah dari kejujuran kita menjalani kehidupan.”

Sementara itu, Widi Rahman membagikan pengalaman spiritualnya selama berproses di Maiyah. Ia mengaku bahwa nilai paling penting yang dipegangnya adalah menjaga kesadaran dan frekuensi persambungan kepada Allah. Bahkan saat menghadapi ujian berat, ia pernah bermimpi bertemu Mbah Nun yang kemudian menjadi titik balik datangnya solusi atas persoalan yang dihadapi.

Ia meyakini bahwa persambungan nilai dan persaudaraan di Maiyah bukan sekadar hubungan sosial, melainkan juga persambungan kesadaran yang melampaui batas ruang dan waktu.

Pandangan itu mengingatkan pada ungkapan Mbah Nun, “Yang penting bukan dekat secara fisik, tetapi nyambung secara ruhani dan kesadaran.”

Menjelang penutupan, Ihsan Farhanuddin merangkum berbagai hikmah yang mengemuka sepanjang forum. Ia menegaskan bahwa seluruh pengalaman, nilai, dan kebermanfaatan yang dirasakan jamaah harus dikembalikan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Kehadiran Mbah Nun dipahami sebagai washilah yang mempertemukan banyak orang, saling belajar bareng, mempersaudarakan diri dan berdaulat.

Ia juga mengingatkan agar jamaah tidak terjebak dalam pengkultusan individu. Sebab sebagaimana dawuh Mbah Nun, hakikat Maiyah adalah menjaga posisi kesadaran agar selalu bersama Allah dan Rasulullah dalam keadaan apa pun.

“Maiyah itu bukan tentang Mbah Nun. Maiyah adalah bagaimana engkau tetap bersama Allah dalam keadaan apa pun, adapun posisi Mbah Nun adalah sebagai orangtua yang menjadi perantara, menemani kita semua dan kita selalu mencintainya sebagai Allah selalu mencintai Mbah Nun”

Tepat pukul 02.00 WIB, majelisan memasuki sesi terakhir dengan melantunkan Shohibu Baiti secara bersama-sama. Acara kemudian ditutup dengan doa, mushafahah, serta makan tumpeng bersama sebagai simbol syukur atas sepuluh tahun perjalanan Lingkar Daulat Malaya dan 73 tahun usia Mbah Nun.

Malam itu, Jeujeur Qolbiyah bukan hanya menjadi tema diskusi, melainkan menjelma menjadi ikhtiar bersama untuk terus menjaga kail hati agar tetap tertambat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW disetiap keadaan dan melatih kepekaan hati, menangkap nilai nilai kebaikan dan kebermanfaatan yang ditebarkan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Tasikmalaya, 31 Mei 2026

Ihsan Farhanuddin


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *