Wong Hua, Wong Jawa, Wong Sunda: Lidah Boleh Berbeda, Peradaban Tetap Sama

widi s kudo Wong Hua Wong Jawa Wong Sunda Lidah Boleh Berbeda Peradaban Tetap Sama

(Sebuah Tafsir Filosofis Tentang Nama, Etnis, dan Peradaban)

Dalam sejarah kebangsaan kita, istilah seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Islamieten Bond, dan lainnya muncul sebagai suara anak zaman yang mewakili peradaban lokal masing-masing. Mereka menyuarakan identitas, harapan, dan cita-cita untuk masa depan bersama sebagai bangsa yang utuh bernama Indonesia. Namun, bila kita telaah lebih dalam, istilah “Jong” ini bukan semata label organisasi, melainkan simbol peradaban muda yang sedang bangkit.

Kini mari kita bandingkan: bagaimana jika “Jong Hua” atau “Tionghoa” tidak dilihat sebagai “bangsa luar”, tetapi sejajar dengan “wong Jawa” dan “urang Sunda”? Apakah mungkin kita menyadari bahwa perbedaan istilah hanyalah selisih lidah dan dialek, namun sejatinya bersumber dari ruh yang sama: menjadi manusia dari satu peradaban?

DARI TIONGHOA KE WONG HUA

Istilah Tionghoa (中華 / Zhōnghuá) dalam bahasa Mandarin secara literal berarti “bangsa agung di pusat dunia”. Bukan dalam arti keangkuhan, melainkan sebagai simbol budaya yang menjunjung keharmonisan, keluarga, kerja keras, dan bakti. “Huá” dalam hal ini tidak jauh dari kata “bangsa” atau “kaum”.

Maka, menyebut seseorang sebagai “Huárén (華人)” berarti menyebutnya sebagai “orang Hua”, atau jika diserap dalam gaya lokal: “wong Hua”. Sebagaimana kita menyebut wong Jawa, urang Sunda, atau tau Bugis. Di sini kita dapati bahwa istilah etnis adalah bentuk ekspresi kultural, bukan tembok pemisah identitas.

KESAMAAN DALAM PERBEDAAN

Jika kita tilik secara fonetik dan linguistik, tak sulit membayangkan bahwa Zhonghua (Mandarin) bisa menjadi Jonghua dalam logat Melayu atau Sunda. Sebagaimana “Jong Java” menyebut generasi muda dari Jawa, maka “Jonghua” dapat bermakna generasi peradaban Hua. Di sini letak pentingnya: kita berbagi makna, meski berbeda sebutan.

Perbedaan hanya ada pada lidah dan huruf, bukan pada ruh dan makna. Semua adalah anak dari peradaban — manusia yang hidup dan mewariskan nilai.

PERADABAN TIDAK PERNAH ASING

Sering kali kita terjebak pada dikotomi “pribumi” dan “pendatang”, “lokal” dan “luar”. Padahal, peradaban sejati tak pernah mengenal garis batas. Wong Jawa bukan lebih Jawa dari wong Tionghoa di Nusantara, bila keduanya menanam kebaikan yang sama dan hidup untuk harmoni yang serupa.

Yang membedakan hanyalah pakaian nama dan suara logat. Tapi jika kita kupas seluruh kulit luar itu, maka yang tersisa hanyalah satu: manusia yang sedang memperjuangkan keluhuran martabatnya sebagai bagian dari semesta.

MENYATU DALAM KESADARAN

Saat ini, saya sedang mengalami kedinginan lebihnya semakin mencair, bias identitas semakin kompleks. Kita tidak perlu panik terhadap perbedaan kata. Ka-ta, hanya sebuah alat komunikasi yang lidahnya bisa saja keliru saat mengucap. Kata “Ngewe”, terlalu vulgar dan bisa disebut tak beretika jika kita ucapkan bahkan disebut tak sopan. Namun darah ditubuhku sangat mengalir bila mendengar kata itu. Akar kata-nya, ewe, dipakai imbuhan -ng. Awewe, wewe, itukan indikasi ke wanita, perempuan, muaannas, woman, girl, rahiim. Dalam kebudayaan kita, menurutku ng-ewe lebih kepada upaya masuk ke feminiman sesuatu yang lebih intim. Ekstrim memang, tapi menyebut menyan kita anti, tapi kalau aroma terapi kita fahami.

Kita perlu menelusuri asal-usul, syukur bisa memahami maknanya, yang membuat semakin mendekati Allah. Menyentuh akar-akar terdalamnya, hingga kita tiba pada pemahaman bahwa: “Tionghoa bukan orang asing, melainkan saudara peradaban”. Seperti halnya wong Jawa, urang Sunda, dan semua suku bangsa di bumi ini. Bahasa boleh berbeda. Ejaan boleh beragam. Tapi peradaban manusia tetap satu — selama ia berpijak pada kasih sayang, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap asal-usulnya (paradaksina-purwadaksi).

yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr

“Uthlubul ilma walau bisshin”

Maksudnya kemanakah rujukan rosulullah ini ? China, Shindonesia? Shiin Tae Young ?

Menurutku, gak perlu mencari itu titik kepastian itu. Sebab harus bertemu Rosulullah untuk mengklarifikasinya.

Membaca Tulisan
Baca Tulisan Lain

Membaca Tulisan

Widi S Kudo

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *