Petunjuk yang Datang Selangkah Demi Selangkah

Petunjuk yang Datang Selangkah Demi Selangkah

Ciampanan baru saja dibasuh hujan tipis malam itu. Udara terasa sejuk membawa aroma tanah basah yang khas, sementara pendar cahaya dari lampu-lampu jalan memantul di atas aspal yang masih basah. Di bawah langit yang mendadak bersih pasca-hujan, aku berjalan pelan sepulang dari masjid bersama dua sahabatku, Reva dan Sima. Langkah kaki kami diiringi riuh suara jangkrik di kejauhan. Di permukaan, aku tampak tenang menikmati malam, tapi di dalam kepala, isi pikiranku justru sedang bising oleh pertanyaan-pertanyaan lama yang belum juga menemukan jawaban.

Aku tiba-tiba mengutarakan sebuah kegelisahan yang sudah lama mengendap kepada mereka; tentang mengapa hidup ini terasa seperti sebuah labirin besar yang tidak dilengkapi dengan buku petunjuk. Kita selalu dituntut untuk memilih banyak hal—mulai dari pekerjaan, pasangan hidup, lingkaran pertemanan, hingga arah masa depan—tetapi tidak pernah ada cetak biru yang benar-benar memberi tahu mana pilihan yang paling benar. Sima sempat berseloroh bahwa jika semua sudah diberi tahu sejak awal, hidup mungkin akan menjadi terlalu mudah dan kehilangan maknanya. Ucapan itu membuat kami tertawa pelan, meski di balik tawa itu, pencarian jawabanku belum benar-benar selesai.

Sambil terus melangkah, ingatanku mendadak melayang pada sebuah ungkapan klasik yang sering kudengar sejak masa kecil: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana kedudukan kalimat itu dalam ilmu hadis, tapi untaian kata tersebut selalu berhasil mengusik batin. Masalahnya, semakin aku mencoba menyelami dan mengenali diriku sendiri, aku justru semakin sadar bahwa aku tidak memiliki peta masa depan sama sekali. Namun di pertigaan jalan malam itu, sebuah kesadaran baru mulai mengintip. Kami sempat berbincang betapa ke mana pun manusia memilih jalannya—entah lewat rute yang lurus, berputar-putar, atau bahkan harus tersandung berkali-kali—pada akhirnya semua perjalanan akan bermuara pada satu titik yang sama: kembali kepada Allah.

Kegelisahan yang kupikirkan sepanjang jalan sebenarnya berakar dari sebuah doa yang kupanjatkan beberapa hari lalu. Sehabis salat Maghrib, aku sempat berdiam diri cukup lama di atas sajadah, memutar tasbih, lalu berbisik penuh harap meminta sebuah petunjuk yang pasti dari-Nya. Saat itu aku membayangkan sebuah jawaban yang dramatis, namun ternyata tidak ada kilat yang menyambar, tidak ada suara bergema dari langit, pun tidak ada mimpi aneh yang datang. Semua berjalan biasa saja. Menariknya, keajaiban justru hadir dalam bentuk yang paling sunyi ketika aku melangkah keluar dari pintu masjid malam itu. Mataku tidak sengaja tertuju pada tulisan di keset kaki dekat pintu keluar: Welcome. Hanya satu kata sederhana yang mungkin sudah diinjak ribuan orang tanpa makna. Namun bagiku, kata itu terasa seperti sebuah pelukan hangat yang membuatku tersenyum sendiri. Hati kecilku merasa diterima, seolah ada bisikan lembut yang menepuk pundakku dan berkata untuk terus berjalan.

Rentetan petunjuk misterius itu ternyata terus bergulir keesokan harinya di rumah. Tanpa ada angin atau hujan, istriku tiba-tiba bertanya tentang rencana lama kami untuk menelusuri silsilah keluarga—sebuah obrolan yang sudah terkubur berbulan-bulan. Hari itu juga, kami berdua duduk bersama membuka lembaran catatan lama yang mulai menguning, menghubungkan nama demi nama dari ayah, ibu, kakek, nenek, hingga buyut, sampai ingatan kertas kami habis dan menyisakan keharusan untuk bertanya kepada para sesepuh.

Ketika malam berikutnya aku kembali berkumpul dan menceritakan seluruh kejadian ini kepada Reva dan Sima, sebuah kesimpulan besar akhirnya mengristal di dalam benakku. Aku menyadari bahwa selama ini aku keliru karena selalu meminta sebuah peta yang utuh dan lengkap dari Tuhan. Padahal, petunjuk-Nya tidak bekerja seperti aplikasi navigasi yang langsung memperlihatkan seluruh rute dari awal hingga tujuan akhir. Petunjuk ternyata bukanlah gambaran dari seluruh jalan, melainkan hanyalah sebuah lentera untuk langkah berikutnya.

Saat angin malam berembus lebih kencang dan daun-daun bambu di pinggir jalan saling bergesekan melahirkan suara desis yang menenangkan, aku akhirnya menemukan ketenangan yang selama ini kucari. Aku merasa terbebas dari beban masa depan. Aku tidak perlu lagi merasa cemas tentang dengan siapa aku akan bekerja sepuluh tahun lagi, atau persimpangan ekstrem apa yang akan kutemui nanti. Cukup satu langkah hari ini, lalu satu langkah esok hari, dan satu langkah lagi setelahnya.

Sebelum kami berpisah di ujung jalan menuju rumah masing-masing, ada satu keyakinan yang tertanam kuat di dadaku. Petunjuk Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk keajaiban besar yang membalikkan takdir dalam sekejap mata. Ia kerap menyamar menjadi hal-hal sepele; satu kata di atas keset masjid, obrolan hangat dengan pasangan di ruang tamu, atau dorongan tiba-tiba untuk mengenali akar sejarah keluarga sendiri. Tugas manusia bukanlah mengkhawatirkan ujung jalan, melainkan menjaga kaki agar tetap berjalan, sebab petunjuk itu akan selalu hadir, cukup untuk menerangi satu langkah kita hari ini. []

GENCATAN SENJATA
Baca Tulisan Lain

GENCATAN SENJATA

Widi S Kudo


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *