—Di Balik Kompetisi Proposal dan Politik Ekonomi Kebudayaan Nusantara
(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
“Ngamumule budaya.” Kalimat ini telah menjadi mantra yang berulang dalam setiap pidato, spanduk, seminar, hingga dokumen kebijakan negara. Ia hadir dengan aroma niat baik: menjaga warisan leluhur dan merawat napas kesenian tradisional. Namun, di balik keindahannya, saya sering terganggu oleh pertanyaan mendasar: benarkah kita sedang ngamumule—memelihara dengan sungguh-sungguh—atau jangan-jangan frasa ini telah menyusut menjadi sekadar slogan administratif?(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Pertanyaan ini bukan lahir dari kebencian, melainkan kegelisahan seorang seniman yang melihat kebudayaan kini diperlakukan layaknya dokumen birokrasi. Ada sistem yang bekerja halus di balik slogan tersebut. Ia tidak datang dengan wajah kekuasaan yang represif, melainkan melalui pintu kompetisi proposal. Program-program hibah dan bantuan kebudayaan memang tampak produktif, namun kita harus berani bertanya: apa yang sebenarnya sedang kita kompetisikan? Apakah kreativitas, kebermanfaatan karya, atau sekadar kelihaian menyusun narasi dalam proposal?(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Jebakan Administrasi: Saat Budaya Menjadi Tabel
Dalam ekosistem kebudayaan saat ini, gagasan artistik yang kuat dan pengalaman panjang sering kali tidak cukup. Pelaku budaya dituntut menguasai bahasa administratif, mengerti istilah akademik, dan mampu merumuskan indikator keberhasilan yang kaku. Akibatnya, budaya yang sejatinya hidup melalui rasa, ingatan, dan relasi manusia dengan alam, kini dipaksa diterjemahkan ke dalam bahasa tabel.(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Rasa menjadi indikator. Kearifan lokal menjadi luaran. Karya seni harus memenuhi target capaian.(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Negara memang membutuhkan sistem pertanggungjawaban dana publik. Namun, persoalan menjadi kritis ketika sistem administrasi lebih dominan daripada kehidupan budaya itu sendiri. Budaya akhirnya tidak lagi hidup karena masyarakat membutuhkannya, melainkan karena ia memenuhi syarat kompetisi. Pertanyaan kreatif “Apa yang dibutuhkan masyarakat?” telah tergeser oleh ketakutan birokratis: “Proposal ini kira-kira lolos tidak?”(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Lahirnya Profesi “Ahli Proposal”
Situasi ini melahirkan fenomena sosial baru: para “ahli proposal”. Kita harus jujur melihat gejalanya; ada pihak yang dianggap budayawan hanya karena piawai menyusun metodologi dan lihai membungkus karya dengan frasa kearifan lokal agar sesuai dengan selera program. Sementara itu, seniman yang bertahun-tahun mengabdi melalui proses kreatif yang jujur—namun gagap secara administratif—justru tersingkir. Di sini, sering kali bukan gagasan terbaik yang menang, melainkan proposal terbaik. Dan kita semua tahu, proposal terbaik tidak selalu melahirkan karya terbaik.(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Pengalaman saya pada 2007 terkait bantuan dana untuk Teater Seni Bunyi Aksara menyadarkan saya bahwa kebudayaan tidak pernah berdiri di luar politik ekonomi. Seniman memiliki tubuh ekonomi; mereka butuh makan, ruang, dan biaya produksi. Kita sering memosisikan seni dengan bahasa luhur, seolah seniman harus hidup dalam kemiskinan agar dianggap tulus. Padahal, mengabaikan biaya hidup seniman adalah bentuk pengabaian terhadap martabat kerja kebudayaan itu sendiri.(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Budaya Bukan Logika Proyek
Saya memiliki kegelisahan besar terhadap kebudayaan yang dikomodifikasi menjadi “barang dagangan proposal”. Sebuah tradisi dicari karena memiliki nilai jual, komunitas dipilih karena foto kegiatannya bagus, dan program dianggap berhasil karena laporan administrasinya rapi. Kebudayaan dipaksa mengikuti logika proyek yang memiliki termin dan batas waktu. Padahal, budaya terus hidup dan bernegosiasi dengan zaman jauh setelah sebuah laporan selesai. Masyarakat adat tidak hidup dalam termin, dan seniman tidak mencipta hanya karena jadwal kegiatan.(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Slogan “ngamumule budaya” tanpa kesadaran kritis hanyalah dekorasi politik. Masyarakat budaya Nusantara hari ini perlu membangun kesadaran baru: berhenti menganggap proposal sebagai satu-satunya jalan berkarya, memahami politik kebijakan kebudayaan, membangun solidaritas antarkomunitas, serta berani menuntut hak atas penghidupan yang layak.(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Menuju Kesadaran, Bukan Sekadar Slogan
Jika “ngamumule budaya” hanya menjadi kalimat dalam proposal dan pidato, maka ia hanyalah slogan. Namun, jika kita berani mengkritik sistem, memperjuangkan keadilan, serta mengembalikan kebudayaan kepada masyarakat pemiliknya, maka ia akan menjadi laku nyata.(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Saya tidak menolak bantuan atau program negara, tetapi saya menolak ketika kebudayaan dipaksa tunduk sepenuhnya kepada logika kompetisi administratif. Sudah waktunya kita bertanya dengan lebih jernih: apakah kita benar-benar sedang memelihara budaya, atau kita hanya sedang menciptakan slogan baru untuk menutupi cara lama?(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Sebab, budaya Nusantara tidak membutuhkan terlalu banyak slogan; ia membutuhkan kesadaran, kejujuran, keberanian, dan manusia yang benar-benar bersedia hidup bersama kebudayaan itu sendiri.(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Pun tabe, pun…(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Bandung, 18 Juli 2026
(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)

FILOSOFI MAKNA KACAPI INDUNG BERAKAR KUAT DALAM BUDAYA AGRARIS SUNDA
(Source: kosapoin.com/ngamumule-budaya-itu-hanya-slogan)
Negara: Indonesia (West Java)
Device: Mobile
OS: Linux, Browser: Chrome








