Nalar Dahan

Gunting Dahan dan Ketetapan Langit cerpen lintang ismaya kosapoin.com

Layar ponsel di atas meja kerja yang penuh dengan peralatan kawat dan gunting dahan itu menyala. Praba Satria, sosok yang sedang fokus merapikan lekukan dahan pada sebuah bonsai santigi, menghentikan gerakannya sejenak. Sebuah pesan singkat dari Nayanika Ratna, istrinya, muncul di layar: “Mas, panitia lomba antar-sekolah baru saja rapat. Katanya nama Mas dibatalkan jadi juri. Mereka beralasan karena aku guru di sini, mereka takut Mas tidak objektif.” Praba meletakkan guntingnya. Ia menarik napas dalam sembari membiarkan aroma tanah dan pupuk di galeri bonsainya menenangkan pikiran.

Kejadian ini membawa ingatannya meluncur balik ke peristiwa sebelas tahun silam. Saat itu, ia menjadi juri film di kota yang berbeda. Anak dari ketua panitia penyelenggara ikut serta dalam lomba tersebut. Ketika pengumuman tiba, anak itu tidak menjadi juara. Penentu kemenangan sebenarnya bukan hanya Praba seorang sebab ada dua juri lain yang memiliki suara setara. Sayangnya, pandangan negatif justru tertuju padanya secara personal. Penolakan itu tidak datang dari satu arah saja. Sentimen tersebut tumbuh menjadi sebuah praduga kolektif yang terstruktur dan masif di lingkaran tersebut. Namanya seolah menjadi tabu dalam daftar mereka meskipun landasan keberatannya sangat subjektif. Ia hanya diam dan tidak mengambil pusing karena meyakini Tuhan Maha Melihat segala niat baik. Kini, meski berada di kota yang berbeda, pola pengasingan profesional yang digerakkan oleh rasa iri serupa kembali terulang.

Pengalaman hidupnya sudah sangat luas. Ia pernah menduduki kursi redaksi media arus utama sebagai jurnalis, panggung teater, hingga dunia film sebagai kameramen. Namanya telah terpahat kuat dalam dunia sastra melalui berbagai karya yang memenangkan penghargaan. Kesehariannya kini banyak dihabiskan di antara deretan buku teknik bonsai kelas dunia. Ia tekun mempelajari literatur para maestro internasional untuk diaplikasikan pada tanaman koleksinya. Ia tidak mengajar di sekolah mana pun justru untuk menjaga kemerdekaan berpikirnya. Integritas puluhan tahun itu seolah tertutup oleh kabut prasangka kelompok di sebuah ruang rapat yang sempit.

Praba mulai mengetik balasan dengan tenang. Jemarinya yang terampil itu bergerak tanpa beban di atas layar: “Tidak apa-apa, Sayang. Jangan dipikirkan lagi. Rezeki itu mutlak datangnya dari Tuhan, bukan dari keputusan panitia,” tulisnya. Ia berhenti sejenak sembari menatap dahan bonsai di hadapannya dengan saksama. Pendidikan Pascasarjana yang ditempuhnya memang mengasah ketajaman logika untuk membedakan mana prosedur dan mana sentimen. Meskipun begitu, justru didikan bertahun-tahun di pesantrenlah yang menjinakkan egonya. Ia tahu kapan harus menggunakan analisa intelektual dan kapan harus berserah diri sepenuhnya pada ketetapan Langit.

Sambil menyesuaikan letak kawat pada dahan santigi itu, ia kembali teringat prinsip lama saat di pondok dulu, meski santri kalong—ia tetap berusaha menjaga hati dari penyakit iri. Ia pun meneruskan pesannya untuk sang istri dengan nada yang lebih hangat: “Mas titip pesan, jika suatu saat kamu berada di posisi mereka dan memiliki kuasa, jangan pernah menutup jalan rezeki orang lain. Kekhawatiran itu manusiawi, tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati seseorang. Cukup hadapi segala hal dengan kepala dingin dan aturan yang adil tanpa perlu mematikan api di dapur orang lain hanya karena rasa takut yang tidak terbukti.”

Praba mengirim pesan itu kemudian meletakkan ponselnya kembali. Ia tidak merasa kehilangan panggung. Menjadi juri hanyalah satu dari sekian banyak cara untuk berbagi ilmu. Ia kembali menghadap ke pohon kecil di depannya untuk menyesuaikan posisi kawat dengan ketelitian yang ia pelajari dari buku-buku referensinya. Ia merasa jauh lebih merdeka di galeri yang tenang itu. Waktu akan membuktikan kemurnian sebuah kualitas. Ia tahu bahwa reputasi yang dibangun dengan kejujuran tidak akan goyah oleh sentimen kelompok yang bersifat sementara. Praba melanjutkan karyanya dengan hati yang lapang. []

SI MAGRIB
Baca Tulisan Lain

SI MAGRIB


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *