DI HALAMAN 97
buat: Basyir Muhammad ‘Uyuun
membaca al-Ibanah
aku seperti membaca
rusaknya jalan pikirmu
: “Tuhan seperti seorang raja
-duduk bersemayam
di atas singgasana
dan segala arah
meliputiNya”
dalil-dalil dla’if
dibalut ayat suci
menjelma tahrif
paling abadi
dari nash
paling asali.
“saban berdoa
kita mengangkat tangan
ke arah langit,
sebab Ia
berada jauh
di atas sana,” katamu.
ah, manusia pandir mana lagi
yang menganggap jauh
keberadaan Tuhannya
dan menyerupakan Ia
dengan para makhlukNya?
2026

PUISI Pakesit
MEMBACA AL-LUMA’
buat: Hamudah Gharabah
membuka saban halaman
seperti menyusuri
mata rantai
sanad masa silam
sekumpulan hujjah
yang pernah
membuat goyah
singgasana para khalifah
yang memegang teguh
ajaran para ahli bid’ah
dan kepala para imam
pernah terpancung
di tangan dingin kedzaliman
di saban lembar kitab ini
Tuhan tetap sebagai Tuhan
dan firman tetap sebagai firman
tak ada jalan menyimpang
dan tak ada cahaya
yang tak menyinari
kegelapan
kata-kata ditimbang
dengan keadilan
jalan pikiran
jadi akar
bagi segala kebenaran
Tuhan mustahil serupa
dengan makhlukNya
makhluk mustahil serupa
dengan Tuhannya
sungguh, inilah akidah suci
yang dibawa para nabi
dari sejak adam
sampai Muhammad
yang ummi.
2026









