Menjemput Rumi di Wastukencana

MENJEMPUT RUMI DI WATUKENCANA sebuah cerpen karya Lintang Ismaya

Bagi Dom, kebisingan pucuk sore di sepanjang Jalan Wastukencana tidak hanya berasal dari klakson kendaraan, melainkan dari ribuan kata dan notifikasi yang beranak-pinak dalam barisan berita, debat di media sosial, dan video-video pendek yang bergerak agresif di gawainya itu seolah penjara tanpa jeruji. Ia mencari celah untuk sekadar bernapas dari algoritma yang riuh, di sebuah kedai teh yang lembab oleh sisa hujan—bersepuh nyala lampu-lampu PJU yang memantul di aspal basah, tampak seperti serakan beling yang mampu menyilaukan penglihatan.

Lamat-lamat, Dom menyadari, bahwa ia tengah memasuki ambang senja yang ganjil. Sementara, di sebelah utara, siluet raksasa Tangkuban Parahu mulai membiru, memudar ditelan halimun peuray—seiring detik waktu yang terasa merambat berat di sebalik dadanya—kakofoni kendaraan di luar kedai pun mulai meluruh, terserap oleh bayang-bayang panjang pepohonan mahoni yang jatuh di trotoar. Sebaliknya, di ufuk barat, sulur-sulur matahari mulai jatuh meninggalkan sisa warna jingga di balik labirin atap kedai.

Di hadapannya, duduk Abah Usman dengan raut wajahnya setenang perigi. Seorang lelaki tua yang baru setahun dikenalnya itu dalam sebuah seminar motifasi, sebagai pembicara. Romannya yang begitu nampak tenang kala menyesap teh melati tanpa sedikit pun terganggu oleh getar gawai Dom yang tak henti-hentinya menginterupsi dengan nada notifikasi. Aroma teh melati yang menguap dari cangkir porselen di genggamannya dengan motif retak seribu itu seolah menciptakan barikade pelindung yang tak kasat mata bagi sang tua.

Lain halnya dengan pendar biru gawai di gengaman Dom seolah berebut kuasa dengan cahaya alami yang mulai luruh secara melankolis itu. Ia tidak tahu, bahwa dalam transisi cahaya yang rapuh itu, akan lewat sebuah buku catatan usang milik Abah Usman, yang akan mengajaknya melintasi batas-batas waktu; menempuh perjalanan tujuh abad menuju sebuah samudra yang oleh Jalaluddin Rumi disebut sebagai muara dari segala keheningan.

“Bah,” keluh Dom sambil meletakkan gawainya, “Dunia rasanya semakin bising. Aku mencoba tenang, tetapi saban kali aku diam, kepalaku justru kian riuh dengan kata-kata, rencana, dan kecemasan,” mendengar keluhnya Dom, Abah Usman tersenyum tipis. Ia malah mengambil sebuah buku kecil dari saku bajunya, dengan sampul kulit buaya yang sudah mengelupas, laju membukanya, dan membacakan satu baris pendek, tetapi tajam: “Hening adalah lautan, / Ucapan adalah sungai. / Saat lautan mencarimu, Janganlah melangkah ke sungai. //” paska mendengar itu geming Dom kian menjadi.

Barangkali, bukan jawaban seperti itu yang diharapkannya. Nampak langit batin Dom dari romannya yang kembali melayu, seperti turun hujan yang sudah tak mengenal lagi musim. Seperti Amerika yang selalu piawai menggaungkan perdamaian, tapi pandai menciptakan peta konflik demi menjual senjata dan menaikkan harga dollar di mata dunia. Abah Usman nampak surti dalam mengamati:

“Melamun,” sapa lanjut Abah Usman.
“Gak, ‘Silence is an Ocean’ itu dari Rumi, kan?”
“Ya, tapi pesannya itu melampaui nama dan agama. Kau tahu, apa yang dituliskannya itu tentang rumah kita yang sebenarnya. Maaf, selama ini Dom, kau hanya bermain di tepi sungai. Kau sibuk dengan arus ucapan, pikiran dan analisa yang dangkal sekaligus keruh. Kau kira hidup adalah tentang seberapa deras kau mengalir di permukaan. Dulu, aku pun begitu!”
“Lalu, apa itu lautan?”
“Lautan adalah keheningan batinmu. Tempat di mana ego dan segala ‘katanya’ tenggelam. Di saat tidak ada debat, hanya ada kesadaran murni. Orang Sunda menyebutnya ngarasa, orang jawa menyebutnya kasunyatan. Dan hal ini bukan sekadar teori, tapi laku.” Papar Abah Usman, sambil meletakkan cangkirnya hingga menimbulkan bunyi denting halus. “Saat ini juga, biarkan lautan itu mencarimu. Jangan lari ke sungai lagi.” Tegasnya.
“Bagaimana caranya, Bah”
“Matikan gawaimu. Tutup matamu. Jangan berdoa dengan kata-kata, jangan meminta apa pun. Rasakan saja napasmu—udara yang masuk dan keluar tanpa kau perintah. Masuklah ke ruang halus di dadamu. Jika pikiran mencuat seperti riak sungai, biarkan saja lewat. Jangan kau tangkap, jangan kau lawan. Cukup diam dan rasakan ‘siapa yang menyadari’ di balik semua itu.”
“Di ruang seramai ini?”
“Ramai itu hening. Hening itu ramai. Kau haru bisa berada di antaranya hingga bisa memasuki dua ruang itu tanpa ada jeda yang mampu mengusikmu. Cobalah!”

Seketika, Dom memejamkan mata, tanpa mematikan gawainya. Awalnya ia merasa sangat tidak nyaman. Bayangan pekerjaan, kata-kata orang lain, dan ambisinya menari-nari menuntut perhatian—seperti air sungai yang memaksa masuk. Namun, ia teringat pesan Abah Usman: “Jangan melangkah ke sungai.” Perlahan, Dom berhenti mencoba mengontrol pikirannya. Lamat-lamat segenap jiwa dan raganya melembut. Ia membiarkan dirinya ‘tenggelam’.

Detik, yang tak letih mematangkan usia—sesuatu yang ajaib terjadi. Kebisingan itu perlahan menjauh. Lamat-lamat, ia merasakan kehadiran yang luas, hangat, dan sangat tenang. identitasnya sebagai ‘Dom si perakit kata’ menguap, dan yang tersisa hanyalah rasa damai yang tak bernama—itulah momen fana, saat ego lebur dan yang tersisa hanyalah kesadaran Ilahi. Di luar kedai, bising laju kendaraan timbul tenggelam.

Sekira sepuluh menit berlalu, kala Dom membuka mata, dunia di sekitarnya masih sama. Klakson masih berbunyi, orang-orang masih berlalu lalang. “Sudah kau rasakan?” sambar tanya Abah Usman dengan tatapan yang begitu dalam. Dom mengangguk pelan. “Lautan itu tidak kosong, Bah. Ia terasa lebih ‘nyata’ daripada semua ucapan yang pernah aku dengar.”

Abah Usman mengangguk puas, “Ingatlah, sungai itu penting untuk perjalanan, tapi jangan tersesat di sana. Bawalah rasa laut ini ke dalam setiap pekerjaanmu. Bekerjalah di tengah keramaian, tapi biarkan batinmu tetap bersila di dasar Samudra—itulah jati diri kita sebenarnya, yang dimaksudkan Rumi.” Mendengar jawaban seperti itu, Dom kembali bergeming.

Abah Usman kembali menatap Dom dengan begitu dalam. “Dom, sekali lagi, seperti yang sudah kita tahu bahwa kata-kata yang dituliskannya itu sudah lebih dari tujuh ratus lima puluh tahun. Rumi menuliskan rahasia keheningan ini di abad ke tiga belas, tepat ketika dunia tengah dihantam badai kekacauan akibat serbuan tentara Mongol. Di tengah hiruk-pikuk kehancuran kota-kota dan teriakan peperangan, Rumi justru memilih untuk ‘tenggelam’. Ia menemukan bahwa satu-satunya tempat yang tidak bisa dihancurkan oleh kebisingan dunia luar adalah samudra hening di dalam batin manusia.”

Entah untuk keberapa kalinya Dom mengernyitkan dahinya yang disepuh dengan rasa penasarannya, yang kian terusik, “Tapi Bah, bukankah Rumi itu seorang cendikiawan yang sangat cerdas dan mempunyai ribuan murid? Bagaimana mungkin orang sepintar dia justru melepaskan semua argumen dan memilih diam?” Abah Usman tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak.

Di lengkung langit yang jauh, satu dua bintang mulai unjuk gigi dengan kerlipnya, seolah mengisi kekosongan di antara mereka. Abah Usman menghela napas panjang, kembali menuangkan teh ke cangkir porselen minumnya, laju menatap uapnya yang menari-nari di udara, seolah sedang melihat bayangan masa lalu yang jauh. Suasana di kedai itu mendadak terasa lebih sunyi, dan lebih berat oleh sejarah, seakan waktu melambat hanya untuk memberi jalan bagi sebuah kebenaran besar yang akan diucapkannya.

“Itulah kuncinya, Dom. Sejak pertemuan dengan gurunya, Shamsuddin Tabrizi, antara tahun seribu dua ratus empat puluh empat hingga akhir hayatnya di tahun seribu dua ratus tujuh puluh tiga, Rumi berhenti mencari kebenaran dalam debat kata-kata. Ia bahkan sering menggunakan nama pena Khamush, yang berarti Si Hening. Ia ingin kita tahu bahwa meski zaman berganti—dari perang Mongol ke layar digital—penyakit manusia tetap sama: kita terlalu sibuk di sungai yang dangkal dan lupa pada laut yang dalam. Dan di situlah cara terbaik mengenang Rumi.”

Abah Usman kemudian menutup buku catatannya. Laju ia bangkit, tetapi sebelum melangkah pergi, ia menepuk bahu Dom dan membisikkan sisa bait puisi itu dengan suara yang berat, tapi terasa damai: “Jangan lagi dengarkan kabar dari sungai, Dom. Dengarkanlah kabar dari lautan. Sebab apa itu ucapan? Ia hanyalah debu di permukaan air. Dan apa itu hening? Ia adalah Mutiara di dasar Samudra. Simpanlah mutiara itu.”

Dom hanya terdiam memperhatikan punggung Abah Usman yang perlahan menjauh dan hilang di balik gerimis. Di atas meja, secangkir teh melatinya sudah jauh lebih mendingin, menyisakan ampas di dasar cangkir. Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Ia merasakan kepalanya yang tadi berisik kini mendadak lapang, seolah ruang di kedai teh itu bukan lagi penjara kebisingan, melainkan pelabuhan kecil menuju sesuatu yang besar.

Malam itu, Dom pulang bukan membawa beban pikiran yang baru. Sambil terus menyisir hutan lambang, di dalam saku jaket kulitnya, gawai Dom kembali bergetar, tetapi ia tidak lagi merasa perlu untuk segera merogohnya. Ia hanya tersenyum tipis, sambil terus berjalan menyusuri trotoar yang becek, menatap orang-orang yang sibuk dengan gawai masing-masing. Ia menggenggam-simpan erat rahasia kecil di sebalik dadanya: bahwa di tengah dunia yang bising, ada sebuah samudra hening yang selalu menunggunya pulang. []

PANGGUNG
Baca Tulisan Lain

PANGGUNG


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *