Dewasa ini banyak anggapan bahwa Jawa Barat adalah ladang berkembangnya pemikiran dan gerakan radikal di Indonesia. Hal ini menjadi sulit untuk dipungkiri karena dari berbagai rangkaian kejadian seperti perkembangan gerakan terorisme, munculnya fenomena politik identitas dan sebagainya, tumbuh subur di wilayah yang masuk dalam geografis Jawa Barat.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Dari kacamata budaya, memang menjadi masuk akal apabila masyarakat Jawa Barat yang notabene berkultur Sunda mudah dipengaruhi oleh pemikiran luar, apalagi, kota-kota di Jawa Barat adalah penyangga ibukota, seperti Bogor, Bekasi, Depok dan sebagainya. Hal ini dikarenakan masyarakat Sunda adalah masyarakat yang sangat terbuka, someah hade ka semah.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Kita lihat dari perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan di tatar Sunda, di mulai dari kerajaan tertua, Salakanagara, raja pertamanya bukan orang Sunda, melainkan dari India, yaitu Dewawarman. Dewawarman diterima dan dihargai keberadaannya sampai diangkat jadi Raja, karena jasa beliau yang telah membantu masyarakat di wilayah Salakanagara yang dipimpin oleh kepala dusun, Aki Tirem, untuk mengusir para perompak, yang meresahkan masyarakat. Ketika Dewawarman dan pasukannya berhasil mengusir para perompak, maka sebagai balas budi, Dewawarman dinikahkan dengan putri Aki Tirem yang bernama Larasati. Kemudian ketika Aki Tirem wafat, kekuasaanpun diserahkan kepada menantunya yaitu Dewawarman, yang kemudian mengelola pedukuhan disesuaikan dengan sistem nilai yang berlangsung di negara asalnya, yaitu sistem kerajaan.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Dan mulai tahun 130 M, berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Salakanagara, dengan ibukota di Rajatapura (kota Perak), dan Dewawarman dinobatkan sebagai Raja pertama, dengan nama nobat Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara (130-168), sedang istrinya Pohaci Larasati menjadi permaisuri dengan nama nobat Dewi Dwani Rahayu, dan kemudian kerajaan ini bertahan sampai tahun 363 M, dengan melahirkan 8 (delapan) Raja.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Kemudian kerajaan tertua berikutnya, yang juga dikatakan sebagai penerus kerajaan Salakanagara, adalah Tarumanagara. Kerajaan Tarumanegara adalah sebuah kerajaan yang didirikan oleh seorang raja yang bernama Raja dirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M. Raja dirajaguru Jaya singawarman adalah seorang pengembara yang berasal dinasti Salankayana di India yang telah runtuh akibat invasi Samudra Gupta dari kerajaan Gupta. Jayasingawarman kemudian pergi meninggalkan tanah kelahirannya sampai akhirnya tiba dan menetap di wilayah Jawa Barat. Setelah lama menetap di Jawa Barat, Jaya singawarman menikah dengan putri dari Dewawarman VIII raja kerajaan Salakanegara. Jayasingawarman pada akhirnya mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Tarumanegara.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Hal ini menguatkan asumsi bahwa masyarakat sunda adalah masyarakat yang terbuka dan sangat menghargai tamu, meski kadang-kadang mereka harus terusir dari kampung halamannya, jati kasilih ku junti. Sebagai penguat juga 3 (tiga) gubernur Jawa Barat yang pertama, yaitu: Mas Sutardjo Kertohadikusumo (18 Agustus 1945-Desember 1945), Djamin Datuk Sutan Maharaja Besar (Desember 1945-1946), dan Dr. Moerdjani (1946-1947), bukanlah orang Jawa Barat.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Maka menjadi tidak mengherankan apabila ajaran-ajaran yang mengarah pada radikalisme juga bisa diterima oleh masyarakat Jawa Barat terutama daerah-daerah urban (Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang), karena bercampurnya masyarakat sunda yang terbuka dengan konsekuensi masyarakat majemuk di daerah urban.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Sebagai solusi dari semakin maraknya pergerakan kelompok radikal dan Islam Politik, serta penguatan politik identitas, adalah dikembalikannya nama provinsi Jawa Barat yang hanya mempertimbangkan unsur geografis menjadi provinsi Sunda yang didasari oleh pertimbangan budaya. Kalau kita lihat sejarah masuknya Islam ditatar sunda adalah Islam yang disampaikan dengan cara-cara yang soft, dikarenakan jauh sebelumm Islam masuk di tatar Sunda, masyarakat dan adat sunda sudah islami.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Islam dengan Sunda ibarat gula dengan manisnya ( jiga gula )eung peueutna), karena dalam kenyataannya perkembangan Islam di tatar Sunda sealur dengan local genium masyarakat Sunda itu sendiri. Dalam perkembangannya, Islam lebih mudah berinteraksi dengan sistem nilai yang berlaku saat itu. Karena ciri khas dari agama ini adalah memberikan kebudayaannya berkembang sesuai dinamika (hands off). Islam-Sunda atau Sunda-Islam dapat dikatakan “dua-duaning atunggal” dan sepertinya sudah sangat kental satu sama lainnya, sebab dalam beberapa hal ajaran-ajaran atau adat istiadat Sunda adalah juga ajaran Islam.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Terdapat dua asumsi, minimalnya yang menyebabkan Islam dengan mudah menjadi bagian dari kehidupan orang Sunda. Pertama, Islam yang datang dan diterima oleh masyarakat Sunda merupakan sebentuk ajaran yang mudah dicerna dan dipahami sesederhana karakter budaya orang Sunda itu sendiri. Kedua, kebudayaan yang membungkus ajaran Islam tersebut merupakan kebudayaan yang mudah bersinergis dengan budaya Sunda. Oleh karena itu, ketika proses Islamisasi di tatar Sunda, Islam menyebar dengan mudah, maka Islam secara tidak langsung membentuk jati diri kesundaan orang sunda terintegralkan secara natural dalam perilaku keseharian sekaligus menjadi identitas permanen orang Sunda.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Sebagai contoh yang menunjukkan bahwa masyarakat sunda geus Islam samemeh Islam adalah dalam hukum waris. Dalam ajaran Islam tentang waris, laki-laki mendapatkan bagian duakali lebih besar dibanding dengan perempuan, yang dalam tradisi waris sunda mengatakan bahwa lalaki satanggungan, awewe saaisan.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Dari sini terlihat bahwa Islam yang bersinergi dengan buadaya Sunda adalah Islam yang toleran, tidak rigid, tidak mengkafirkan orang apalagi sesama umat Islam dan mudah diterima oleh semua manusia (Islam yang humanis).(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Untuk mengembalikan itu semua yang sudah cenderung di cap sebagai sarang Islam radikal, intoleran, teroris dan sebagainya maka pendekatan budaya menjadi alternatif solusi. Pendekatan pembudayaan kembali orang sunda, dalam pandangan strukturalis adalah dengan cara membangun sebuah struktur yang sesuai dengan yang kita cita-citakan. Pembangunan struktur dalam hal ini adalah merubah nama provinsi Jawa Barat, menjadi provinsi Sunda, sebab dengan menjadikan sebagai provinsi sunda, maka paling tidak ada sedikit rasa keinginan masyarakat yang terdapat didalamnya untuk menemukan kembali nilai-nilai sunda yang merupakan ruh dan jatidiri masyarakat sunda, sehingga hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai sunda seperti Islam radikal, intoleran, teroris dan sebagainya tidak akan bertumbuh dan berkembang di bumi sunda dan Indonesia.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Sebenarnya kalau kita berbicara provinsi sunda, selayaknya tidak menjadi masalah, karena wilayah yang saat ini menjadi wilayah Jawa Barat dan Banten adalah daerah kekuasaan kerajaan-kerajaan sunda mulai dari kerajaan Salakanagara, Tarumanagara, Sunda-Galuh, Padjajaran, sampai diakhir kedaulatan sunda pada saat sunda terpecah pasca penyerangan Banten ke wilayah Padjajaran, dan Kesultanan Surasowan di Banten dan Kesultanan Pakungwati di Cirebon merasa sebagai penerus, meski secara de facto penerus kerajaan Padjajaran adalah Sumedang Larang, karena Mahkota Binokasih dan atribut-atribut kebesaran Padjajaran diserahkan oleh 4 (empat) senapati (Jaya Perkasa, Wiradijaya (Nangganan), Kondanghapa, dan Pancar Buana) ke kerajaan Sumedang Larang, dan begitu pula keempat pembesar kerajaan Padjajaran tersebut seja ulun kumawula ka Raja Sumedang, Raden Angkawijaya, yang kemudian bergelar Prabu Geusan Ulun.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia. Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB. Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)
Jadi provinsi Jawa Barat, jika kelak dikembalikan sebagai komunitas bersendikan pada budaya dan etnis sunda, tidak dalam kerangka separatisme, namun berada dalam naungan NKRI, atau dengan konsepsi Sunda-Indonesia, dan acuannya adalah kerajaan-kerajaan Sunda (Salakanagara, Tarumanagara, Sunda-Galuh, Padjajaran) atau Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan pada zaman Belanda.(Source: kosapoin.com/mengembalikan-ghiroh-kebudayaan-dengan-provinsi-sunda)

Sandera Nasib
Negara: Indonesia (West Java)
Device: Desktop
OS: Windows, Browser: Chrome








