Kali ini, saya tertarik pada sesuatu yang tampaknya sepele. Daun-daun yang berguguran di bawah pohon. Dahulu, ketika halaman penuh daun kering, orang menyapunya, mengumpulkannya menjadi satu tumpukan. Lalu membuat lubang kecil di tanah, kemudian membakarnya. Bagi generasi sekarang, kebiasaan semacam itu semakin asing. Di lingkungan perumahan, membakar daun sering dianggap mengganggu karena asapnya mencemari udara. Keberatan itu tentu bukan tanpa alasan. Pembakaran terbuka, memang menghasilkan partikulat dan berbagai polutan, yang dapat mengganggu kesehatan. Karena itu di lingkungan padat penduduk, larangan atau pembatasan pembakaran, memiliki alasan ekologis dan kesehatan yang kuat.(Source: kosapoin.com/api-di-bawah-pohon)
Tetapi ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan. Kebiasaan membakar daun, sesungguhnya bukan semata-mata persoalan membuang sampah. Leluhur kita mengenal api bukan hanya sebagai penghancur, tetapi sebagai bagian dari cara merawat lingkungan. Dalam konteks tertentu, daun kering, ranting, dan sisa vegetasi, dibakar secara terbatas untuk membersihkan lahan. Mengendalikan organisme hama, atau bagian dari pengelolaan pertanian tradisional. Pengetahuan itu, lahir dari hubungan langsung manusia dengan tanah, pohon, musim, dan kehidupan di sekitarnya. Hari ini hubungan itu berubah. Daun yang jatuh disebut sampah. Tanah disebut lahan. Pohon disebut aset. Hutan disebut kawasan. Bahasa kita terhadap alam, perlahan berubah menjadi bahasa administrasi dan ekonomi. Di situlah, persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar boleh atau tidak boleh membakar daun.(Source: kosapoin.com/api-di-bawah-pohon)
Saya membayangkan kakek saya, berdiri di bawah pohon. Ia menyapu daun yang berguguran, mengenali musim dari perubahan warna daun. Ia mengetahui kapan tanah terlalu kering, kapan hujan akan datang, kapan pohon mulai berbuah, dan kapan hama mulai mengganggu. Ia tidak memiliki laboratorium, tetapi ia memiliki pengalaman. Ia membaca alam melalui tubuh dan pengamatan. Api yang dinyalakan pun, bukan api yang dilepaskan begitu saja. Ada tempatnya, ada waktunya, ada batasnya. Api berada dalam pengetahuan manusia terhadap lingkungan. Di sinilah, kita harus membedakan api sebagai pengetahuan ekologis dan api sebagai instrumen eksploitasi. Sebab, persoalan kebakaran hutan hari ini, tidak dapat disederhanakan menjadi “manusia membakar daun”.(Source: kosapoin.com/api-di-bawah-pohon)
Kebakaran hutan dan lahan, dapat berkaitan dengan aktivitas manusia. Bisa sebagai pembukaan lahan, kondisi kering, angin, perubahan iklim, serta karakter ekosistem yang terbakar. Di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan juga memiliki sejarah panjang, terkait pembukaan kawasan hutan dan perkebunan. Saat api masuk ke ekosistem yang sangat kering atau lahan gambut, persoalannya berubah menjadi jauh lebih serius. Api kecil di bawah pohon dan api yang menguasai ribuan hektare bukanlah perkara yang sama. Yang satu berada dalam ruang pengelolaan. Yang lain dapat berubah menjadi bencana ekologis. Namun, keduanya memperlihatkan sesuatu yang sama, yakni api selalu mencerminkan hubungan manusia dengan alam.(Source: kosapoin.com/api-di-bawah-pohon)
Ironisnya, masyarakat kecil sering diminta berhati-hati terhadap api, karena asap dianggap sebagai polusi. Sementara, pada skala yang jauh lebih besar, kerusakan ekologis dapat terjadi saat hutan diperlakukan sebagai ruang produksi. Di halaman rumah, asap pembakaran daun dianggap mengganggu tetangga. Namun bagaimana dengan asap kebakaran di hutan? Dampak kerugiannya bukan hanya mengganggu ruang hidup masyarakat, namun masuk ke paru-paru, ke sekolah. Mengganggu transportasi serta ekonomi, bahkan mengganggu negara tetangga. WHO mencatat bahwa asap kebakaran mengandung partikulat halus dan berbagai polutan yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan, sementara anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap dampak polusi udara.(Source: kosapoin.com/api-di-bawah-pohon)
Maka kritiknya bukan tentang mengapa dahulu boleh membakar, sekarang tidak? Pertanyaan yang lebih penting adalah, siapa yang membakar, apa yang dibakar, untuk tujuan apa, di mana, dalam skala berapa, dan siapa yang menanggung akibatnya? Pertanyaan tersebut membawa kita kepada keadilan ekologis. Tidak semua api memiliki beban moral yang sama. Seorang warga membakar sedikit daun di halaman, tidak dapat begitu saja disamakan dengan pembakaran kawasan hutan, demi membuka ruang produksi. Tetapi sebaliknya, tradisi membakar pun, tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kesehatan publik. Kita membutuhkan kecerdasan ekologis, bukan sekadar larangan.(Source: kosapoin.com/api-di-bawah-pohon)
Yang hilang dari kehidupan modern, bukan hanya kemampuan mengelola daun, tetapi kemampuan memahami siklus kehidupan. Daun jatuh dianggap kotor. Lalu disapu, dibuang. Agar hilang dari pandangan. Padahal daun adalah bagian dari siklus pohon. Daun pernah menjadi sesuatu yang hidup, kemudian jatuh, membusuk, kembali menjadi bagian dari tanah. Alam tidak mengenal istilah “sampah”, sebagaimana manusia mengenalnya. Yang ada adalah perubahan bentuk. Daun menjadi humus, lalu menjadi makanan bagi tanah. Tanah memberi kehidupan kepada pohon. Pohon menghasilkan daun. Daun kembali ke tanah. Sebuah lingkaran yang tidak membutuhkan tempat pembuangan akhir.(Source: kosapoin.com/api-di-bawah-pohon)
Karena itu, persoalan sebenarnya mungkin bukan bagaimana membakar daun, melainkan bagaimana manusia memahami sisa kehidupan. Kita terlalu cepat membuang sesuatu yang tidak lagi kita anggap berguna. Begitu pula terhadap manusia, terhadap tanah, terhadap hutan. Di sinilah api menjadi metafora peradaban. Api dapat menghangatkan, menerangi, memasak, membersihkan, tetapi juga membakar. Teknologi, juga demikian. Begitu pun ekonomi serta kekuasaan. Yang menentukan, bukan semata-mata alatnya, melainkan hubungan manusia dengan alat tersebut. Api yang berada dalam pengetahuan ekologis berbeda dengan api yang kehilangan kendali. Dan, hutan yang dikelola dengan pengetahuan, berbeda dengan hutan yang dipandang semata sebagai komoditas.(Source: kosapoin.com/api-di-bawah-pohon)
Barangkali, leluhur kita tidak selalu lebih benar daripada manusia modern. Tetapi mereka memiliki satu hal yang semakin langka, yaitu memahami hukum sebab-akibat. Setiap pohon yang ditebang harus diganti dengan benih baru, sebagaimana setiap api yang dinyalakan akan memunculkan akibatnya. Sebab ketika tanah rusak, manusia sendiri yang menanggung dampaknya. Saat ini, keputusan tentang lingkungan sering dibuat oleh orang-orang yang berada di ruang ber-AC yang nyaman. Sementara dampaknya, seperti polusi dan asap, harus ditanggung masyarakat yang tinggal jauh di sana. Di situlah, jarak geografis berubah menjadi jarak moral.(Source: kosapoin.com/api-di-bawah-pohon)
Rasanya, kita perlu belajar kembali dari daun yang jatuh. Bukan untuk kembali membakar semuanya seperti masa lalu. Bukan pula untuk menolak ilmu pengetahuan dan aturan kesehatan. Melainkan untuk memahami, bahwa merawat alam membutuhkan lebih dari sekadar larangan. Kita membutuhkan rasa terhadap tanah. Pengetahuan terhadap musim. Kebijaksanaan dalam menggunakan api. Dan keberanian untuk bertanya, siapa yang mendapatkan keuntungan ketika pohon dibakar, serta siapa yang harus menghirup asapnya. Sebab masalah terbesar, bukanlah ketika manusia menyalakan api. Melainkan, saat manusia tidak lagi merasa bertanggung jawab setelah api menyala. (jbp 05/10/2026)(Source: kosapoin.com/api-di-bawah-pohon)









