JARAK DI ANTARA DUA KALIMAT

jarak di antara dua kalimat

Pernahkah sebuah percakapan terasa selesai bagi satu orang, tetapi masih menyisakan persoalan bagi orang yang lain? Mereka telah bertukar kalimat, menjawab pertanyaan, bahkan mungkin mengakhiri pertemuan dengan sikap yang tampak biasa. Namun, setelah berpisah, salah seorang masih memikirkan nada suara, pilihan kata, atau perubahan kecil yang terjadi di tengah pembicaraan. Hal yang bagi pengucapnya hanya bagian sepintas dari percakapan dapat menetap lebih lama dalam ingatan penerimanya. Tidak selalu ada pertengkaran yang mendahului keadaan itu. Kadang-kadang, justru percakapan yang berlangsung tanpa ketegangan meninggalkan pertanyaan yang baru terasa ketika masing-masing kembali pada kesibukannya. Kata-kata telah berhenti berpindah, tetapi pengalaman atas kata-kata itu masih berlangsung.(Source: kosapoin.com/jarak-di-antara-dua-kalimat)

Kita mengenali orang lain melalui hal-hal yang berulang: cara mereka menyapa, kebiasaan menjawab pertanyaan, gurauan yang sering dilontarkan, atau sikap ketika menghadapi masalah. Pengulangan semacam itu membentuk pengetahuan yang berguna bagi kehidupan bersama. Masalah muncul ketika kebiasaan berubah menjadi ukuran tetap untuk membaca setiap tindakan berikutnya. Orang yang biasanya terbuka dianggap sedang menyembunyikan sesuatu ketika memilih diam; seseorang yang dikenal tegas dinilai sedang marah ketika berbicara singkat. Padahal, perilaku yang pernah kita kenali tidak selalu menjelaskan keadaan yang sedang berlangsung. Kita mungkin mengetahui banyak hal tentang seseorang tanpa mengetahui apa yang membuatnya bersikap berbeda hari itu. Kedekatan memberi kita riwayat tentang orang lain, tetapi riwayat bukanlah keterangan lengkap mengenai setiap keadaan yang sedang mereka hadapi.(Source: kosapoin.com/jarak-di-antara-dua-kalimat)

Perubahan medium komunikasi membuat persoalan itu terlihat dengan cara lain. Pesan tertulis dapat disimpan, dibaca kembali, bahkan diperiksa kata demi kata, tetapi keadaan ketika pesan dibuat sering kali tidak ikut tersimpan. Kita tidak melihat apakah pengirim sedang tergesa-gesa, sedang berada di tengah pekerjaan, atau sengaja membatasi jawabannya karena ada perkara yang tidak ingin dibicarakan melalui layar. Akibatnya, sebuah tanda baca, jawaban pendek, atau keterlambatan membalas dapat memperoleh arti yang jauh lebih besar daripada bentuknya. Layar memberi kita sesuatu untuk dibaca, sementara bagian yang tidak terlihat tetap harus kita hadapi dengan pengetahuan yang terbatas. Di antara pesan yang diterima dan keadaan pengirimnya, ada ruang kosong yang kerap diisi oleh perkiraan penerima. Perkiraan itu bisa membantu memahami situasi, tetapi dapat pula mengubah ketiadaan informasi menjadi cerita yang belum tentu sesuai kenyataan.(Source: kosapoin.com/jarak-di-antara-dua-kalimat)

Ketika perkiraan telanjur dianggap sebagai fakta, percakapan dapat bergeser dari persoalan semula. Seseorang yang ditanya tentang tindakannya merasa sedang dituduh; orang yang meminta penjelasan justru merasa ditolak. Masing-masing kemudian menyusun jawaban berdasarkan apa yang diyakininya sedang dilakukan oleh pihak lain. Penjelasan terdengar sebagai pembelaan, keberatan dianggap sebagai serangan, dan pertanyaan berikutnya membawa beban dari jawaban sebelumnya. Mereka masih membicarakan sesuatu, tetapi yang dipertahankan perlahan bukan lagi pokok masalah, melainkan pemahaman masing-masing tentang sikap lawan bicaranya. Keadaan ini tidak selalu disebabkan oleh niat buruk. Dua orang bisa sungguh-sungguh ingin menyelesaikan persoalan, tetapi terus meleset karena berangkat dari gambaran yang berbeda mengenai apa yang sedang terjadi. Percakapan menjadi panjang, sedangkan pokok yang perlu diperjelas justru semakin tertutup oleh tanggapan terhadap dugaan.(Source: kosapoin.com/jarak-di-antara-dua-kalimat)

Tidak semua hal yang tidak dikatakan mempunyai alasan yang sama. Seseorang bisa diam karena belum memahami perasaannya sendiri, karena tidak menemukan kata yang sesuai, atau karena menganggap persoalan tertentu tidak perlu dibagikan. Ada pula keheningan yang tumbuh setelah berkali-kali menjelaskan sesuatu tanpa merasa didengar. Dari luar, keadaan itu mungkin tampak serupa; bagi orang yang mengalaminya, masing-masing mempunyai latar yang berbeda. Bahkan, seseorang yang diam belum tentu sanggup menerangkan alasannya saat ditanya. Bahasa yang biasa dipakai untuk menyampaikan pikiran tidak selalu tersedia ketika pengalaman masih kusut atau batas pribadi sedang dipertaruhkan. Keheningan, dengan demikian, bukan sebuah jawaban tunggal yang tinggal diterjemahkan. Maknanya bergantung pada orang, keadaan, dan hubungan tempat diam itu muncul.(Source: kosapoin.com/jarak-di-antara-dua-kalimat)

Keinginan untuk saling memahami tidak mengharuskan setiap persoalan berakhir dengan kesepakatan. Ada perbedaan yang muncul karena informasi belum lengkap dan dapat dijernihkan setelah orang-orang yang terlibat saling menjelaskan. Ada pula perbedaan yang bertahan meskipun keadaan telah diterangkan, sebab kebutuhan dan pilihan mereka memang tidak sama. Seseorang mungkin bersedia menjelaskan alasan tindakannya tanpa bersedia mengubah keputusan; orang lain dapat memahami alasan itu tanpa harus menyetujuinya. Perbedaan semacam ini sering sulit diterima ketika penjelasan dianggap baru berhasil jika menghasilkan jawaban yang diharapkan. Padahal, mengetahui alasan seseorang dan menyetujui pilihannya merupakan dua pengalaman yang berlainan. Hubungan dapat tetap menyimpan ketidaksetujuan, dan sebuah percakapan dapat memberi kejelasan tanpa mengakhiri seluruh persoalan yang dibawanya.(Source: kosapoin.com/jarak-di-antara-dua-kalimat)

Arti percakapan juga tidak selalu menetap setelah peristiwa berlalu. Bertahun-tahun kemudian, seseorang mungkin mengingat ucapan yang dahulu membuatnya tersinggung, lalu menemukan konteks yang sebelumnya tidak ia ketahui. Sebuah penolakan yang pernah terasa sebagai penghinaan dapat dipahami secara berbeda setelah ia mengetahui keadaan yang melatarbelakanginya. Namun, perubahan pemahaman tidak selalu berujung pada pembenaran. Kita dapat mengerti mengapa seseorang berkata demikian sekaligus tetap mengakui akibat yang ditimbulkan oleh ucapannya. Ingatan membawa percakapan melewati waktu, tetapi waktu tidak otomatis membuat semua luka menghilang atau semua penilaian menjadi keliru. Yang berubah bisa berupa pengetahuan kita, sudut pandang kita, atau bobot yang kita berikan kepada sebuah kejadian. Kata-katanya tetap pernah diucapkan; hubungan kita dengan kata-kata itu yang dapat berubah.(Source: kosapoin.com/jarak-di-antara-dua-kalimat)

Mungkin itulah bagian yang paling sulit diterima dalam komunikasi: kita bertanggung jawab atas apa yang kita ucapkan, tetapi tidak memiliki kuasa penuh atas perjalanan maknanya setelah sampai kepada orang lain. Maksud baik tidak dengan sendirinya menghapus dampak yang menyakitkan, sebagaimana salah pengertian tidak selalu dapat diselesaikan dengan mengulang kalimat yang sama. Ada saatnya seseorang perlu menerangkan kembali, mendengarkan hal yang luput disadarinya, atau mengakui bahwa perkataannya menghasilkan sesuatu yang tidak ia perkirakan. Ada pula keadaan ketika penjelasan telah diberikan, tetapi penerimanya tetap membutuhkan jarak atau waktu. Di antara dua kalimat, yang berhadapan bukan hanya dua susunan kata, melainkan dua pengalaman yang tidak seluruhnya dapat saling dimasuki. Percakapan membuka jalan untuk saling mengenal, tetapi tidak menjadikan seseorang sepenuhnya terbaca oleh orang lain. [](Source: kosapoin.com/jarak-di-antara-dua-kalimat)

Anita Salma

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.226
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *