GARUDA DI GERBANG SIAM

GARUDA DI AMBANG SIAM FIKS

Thailand lagi. Begitu mungkin reaksi pertama sebagian orang ketika melihat siapa yang berdiri di seberang Indonesia pada final FIFA ASEAN Cup malam ini. Ada nama lawan yang cukup disebut lalu selesai, tetapi Thailand biasanya tidak sesederhana itu. Namanya seperti mempunyai laci sendiri dalam ingatan sepak bola Indonesia. Begitu dibuka, keluar beberapa benda lama: final yang tidak selesai sebagaimana diharapkan, adu penalti, pertandingan yang sudah bertahun-tahun lewat tetapi masih bisa tiba-tiba muncul ketika orang sedang membicarakan tim nasional. Tidak ada yang benar-benar mengundangnya. Ia datang sendiri, duduk di kursi paling dekat, lalu ikut menonton.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Sementara itu, rumah tempat pertandingan akan dimainkan sedang menyiapkan dirinya dengan cara yang sangat Indonesia: ramai. Sebanyak 67.000 tiket final telah habis terjual. Malam nanti Gelora Bung Karno akan diisi orang-orang dengan tingkat pengetahuan sepak bola yang berbeda-beda. Ada yang hafal susunan pemain, ada yang tahu persis kapan seorang gelandang harus turun membantu pertahanan, dan ada pula yang mungkin baru hafal nama pemain setelah orang itu mencetak gol. Tidak ada yang salah dengan itu. Sepak bola memang mempunyai keanehan yang menyenangkan: ia bisa membuat orang yang dalam kehidupan sehari-hari tidak saling mengenal berdiri dalam satu tribun, meneriakkan nama yang sama, dan merasa mempunyai urusan bersama selama sembilan puluh menit.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Indonesia sendiri sampai di final bukan dengan perjalanan yang bisa diringkas sebagai pesta kemenangan dari awal sampai akhir. Singapura dikalahkan 2-0, lalu Malaysia menahan Garuda tanpa gol dalam pertandingan yang membuat banyak orang mungkin lebih sering melihat jam daripada lapangan. Thom Haye juga harus meninggalkan pertandingan setelah menerima kartu merah. Akibatnya, laga terakhir melawan Bangladesh membawa pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar menyelesaikan jadwal grup. Indonesia membutuhkan kemenangan dengan selisih yang cukup, dan anak-anak Herdman kemudian menjawabnya dengan sembilan gol. Bangladesh sempat membuat dua balasan, tetapi setelah Mitchell Baker mencetak dua gol pada menit ke-11 dan ke-20, pertandingan seperti menemukan pintu yang terlalu lebar untuk ditutup. Indonesia akhirnya keluar dari Grup A sebagai juara.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Sebelas gol dari tiga pertandingan tentu mudah membuat angka terlihat gagah. Tetapi orang yang hanya melihat sebelas gol itu mungkin melewatkan jalan yang ditempuh untuk mendapatkannya. Ada pertandingan yang selesai dengan dua gol, ada pertandingan yang bahkan tidak menghasilkan satu pun, ada kartu merah, ada kebutuhan menghitung selisih, lalu ada malam ketika sembilan gol jatuh seperti buah yang terlalu banyak dari satu pohon. Sepak bola rupanya memang tidak terlalu suka berjalan lurus. Ia bisa membuat pendukung mengeluh pada satu pertandingan, menghitung kemungkinan pada pertandingan berikutnya, lalu mendadak menyuruh mereka menghitung gol yang masuk. Barangkali karena itulah pertandingan sepak bola tidak pernah benar-benar selesai hanya dengan membaca hasil akhirnya.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Thailand datang dengan cerita grup yang lain. Mereka mengalahkan Vietnam 2-0 dan kemudian menutup fase grup dengan kekalahan 1-2 dari Filipina. Kekalahan itu tidak menggusur mereka dari puncak Grup B. Maka malam ini dua juara grup bertemu dengan bekal yang berbeda. Indonesia membawa produktivitas yang lebih tinggi, sedangkan Thailand datang dengan kebiasaan berada di pertandingan yang menuntut kepala tetap dingin ketika suasana mulai panas. Angka-angka itu boleh dibicarakan sampai menjelang kick-off. Sesudahnya, mereka akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana: siapa yang lebih dulu membuat lawannya kehilangan keseimbangan.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Di lapangan, hal semacam itu bisa terjadi tanpa pemberitahuan. Bola yang memantul sedikit lebih jauh, kaki yang terlambat menjangkau umpan, pemain yang kehilangan lawan selama dua detik—cukup. Pertandingan yang sejak tadi terasa terkunci dapat mendadak mempunyai celah. Sebaliknya, serangan yang sudah dirancang dengan segala macam panah di papan strategi bisa berhenti begitu saja karena seorang bek kebetulan berdiri di tempat yang benar. Gol pun tidak mempunyai satu cara untuk datang. Kadang ia lahir dari gerakan yang membuat penonton berdiri, kadang dari bola muntah yang tidak sempat ditanya asal-usulnya. Piala, rupanya, tidak mempunyai panitia khusus untuk memilih gol yang paling sopan.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

John Herdman tentu membawa perhitungannya sendiri ke pertandingan ini. Emil Audero, Kevin Diks, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, Ragnar Oratmangoen, Ole Romeny dan pemain-pemain lain yang akan mengenakan seragam Indonesia malam ini bukan sekadar daftar nama di susunan pemain. Masing-masing membawa kebiasaan bermain, keberanian, kesalahan yang pernah dibuat, dan kemampuan yang sudah ditempa dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya. Tetapi begitu pertandingan dimulai, semua itu harus diterjemahkan menjadi hal-hal yang sangat biasa: berdiri di tempat yang tepat, mengirim bola kepada orang yang tepat, tidak kehilangan kepala ketika lawan datang, dan tahu kapan kesempatan harus segera diambil. Nama besar boleh tercetak di punggung. Bola tetap tidak bisa membaca nama.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Thailand pun mempunyai urusan yang sama. Mereka tidak datang ke Jakarta untuk mengagumi stadion atau menghitung jumlah penonton. Mereka datang untuk bermain, dan kemungkinan besar mereka tahu bahwa pertandingan seperti ini kadang harus dijalankan dengan sabar. Ada saat ketika bola perlu dipercepat, ada saat ketika cukup dipindahkan dari satu kaki ke kaki lain, dan ada saat ketika seseorang justru berguna karena tidak terburu-buru melakukan apa-apa. Dari tribun, permainan semacam itu bisa terasa menjengkelkan. Orang membeli tiket final tentu ingin melihat serangan, bukan menyaksikan bola diparkir seperti kendaraan di halaman rumah. Tetapi tim yang sedang mengejar piala tidak selalu mempunyai kewajiban membuat penonton puas setiap menit.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Karena itu penonton juga akan mempunyai persoalan sendiri malam nanti. Ketika stadion penuh, setiap serangan seperti mempunyai tenggat waktu. Umpan ke belakang bisa terdengar seperti dosa, operan mendatar dianggap terlalu lambat, dan pemain yang berhenti sesaat untuk membaca permainan mungkin segera mendapat nasihat gratis dari tribun. Dari tempat duduk semuanya memang terlihat mudah. Pemain lawan kelihatan tinggal dilewati, ruang kelihatan terbuka, dan bola tampak seperti benda yang seharusnya menurut saja. Baru ketika seseorang berlari sambil dikejar dua pemain, perbedaan antara melihat pertandingan dan memainkan pertandingan menjadi sangat jelas.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Di pertandingan seperti inilah keputusan yang tidak menarik perhatian kadang menjadi mahal harganya. Seorang pemain memilih tidak mengejar bola yang memang tidak mungkin dikejar. Seorang bek menutup jalur yang belum tentu akan dipakai lawan. Seorang gelandang mengembalikan bola kepada rekannya ketika seluruh stadion mungkin menginginkan umpan ke depan. Tidak ada satu pun yang tampak heroik. Bahkan mungkin tidak masuk tayangan ulang. Tetapi pertandingan tidak selalu dibangun oleh adegan yang pantas diputar berkali-kali. Kadang ia disusun dari sekumpulan tindakan kecil yang baru kelihatan penting setelah semuanya selesai.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Soal Thailand, biarlah cerita lamanya tetap menjadi cerita lama. Ia memang pernah membuat pendukung Indonesia kecewa, sebagaimana Indonesia juga pasti pernah menjadi lawan yang ingin dilupakan oleh pendukung negara lain. Ingatan seperti itu boleh dibawa ke stadion sebagai bagian dari percakapan, tetapi tidak perlu diberi tempat duduk di bangku pemain. Jersey lama saja tidak bisa berlari, apalagi kenangan. Yang akan berhadapan malam ini adalah pemain-pemain yang tubuhnya ada di Jakarta, bukan orang-orang yang bertanding bertahun-tahun lalu. Mereka mempunyai pertandingan sendiri untuk diselesaikan.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Di luar lapangan, tentu saja, orang sudah mulai menyiapkan dirinya untuk menjadi ahli setelah pertandingan. Kalau Indonesia menang, akan ada yang mengatakan sejak pagi sudah mempunyai firasat. Kalau kalah, akan ada pula yang tiba-tiba tahu persis di menit berapa semuanya mulai salah. Wasit akan diperiksa, pergantian pemain akan dibicarakan, rumput mungkin ikut dimintai keterangan, bahkan arah angin bisa memperoleh bagian dalam perkara. Sepak bola memang mempunyai bakat membuat manusia menjadi cenayang setelah kejadian. Selama pertandingan berlangsung, mereka hanya bisa menebak. Sesudahnya, semua orang mendadak tahu.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Dan ketika peluit pertama berbunyi, semua percakapan itu akan kehilangan tempatnya. Tidak ada lagi yang perlu menjelaskan bahwa Indonesia bermain di rumah sendiri, bahwa Thailand mempunyai sejarah, bahwa produktivitas gol Garuda lebih tinggi, atau bahwa final mempunyai tekanan. Semua sudah diketahui. Yang tersisa adalah beberapa meter ruang yang harus direbut, satu umpan yang harus dibaca sebelum terlambat, satu keputusan yang tidak boleh keliru ketika kesempatan datang. Di sana, semua angka dan cerita akan diuji oleh kaki yang sedang bergerak. Dua tim mengejar satu bola, tetapi hanya satu yang boleh pulang membawa piala.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Indonesia sudah sampai di gerbang. Thailand berdiri di seberangnya. Isi lemari lama tidak perlu dibawa. Tidak juga perlu pidato panjang tentang apa yang pernah terjadi di depan pintu itu. Cukup seragam, sepatu, tubuh yang sudah bekerja keras, dan kepala yang tidak sibuk mencari pertandingan lain di dalam pertandingan ini. Gerbangnya ada. Lawannya jelas. Malamnya sudah tiba. Setelah itu, biarkan kaki yang menjawab. Garuda tinggal melangkah.(Source: kosapoin.com/garuda-di-gerbang-siam)

Abi Gehel

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.10
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *