Jangan Sembarang Taklid

Jangan Sembarang Taklid

Allah Swt. berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan tetap mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah [2]: 170)(Source: kosapoin.com/jangan-sembarang-taklid)

Ayat ini bukan sekadar mengisahkan kaum terdahulu. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah setiap zaman. Taklid tidak selalu berarti mengikuti tradisi leluhur. Di era modern, taklid dapat berubah bentuk menjadi mengikuti tokoh, kelompok, media, bahkan algoritma tanpa pernah bertanya apakah yang diikuti benar atau tidak.(Source: kosapoin.com/jangan-sembarang-taklid)

Rasulullah saw. juga mengingatkan agar seorang mukmin tidak kehilangan jati dirinya karena sekadar mengikuti arus. Beliau bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian menjadi pribadi yang hanya ikut-ikutan. Jika manusia berbuat baik, ia ikut berbuat baik, dan jika mereka berbuat zalim, ia ikut berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah diri kalian; jika manusia berbuat baik maka berbuat baiklah, dan jika mereka berbuat buruk maka janganlah kalian berbuat zalim.” (HR. At-Tirmidzi)(Source: kosapoin.com/jangan-sembarang-taklid)

Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia menggunakan akalnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti afalā ta’qilūn (tidakkah kalian berpikir?), afalā tatafakkarūn (tidakkah kalian merenung?), dan afalā yatadabbarūn (tidakkah mereka mentadaburi?) menunjukkan bahwa iman tidak dibangun di atas kepasrahan intelektual, melainkan di atas kesadaran. Keimanan yang lahir dari pemahaman akan lebih kokoh daripada keyakinan yang hanya diwariskan.(Source: kosapoin.com/jangan-sembarang-taklid)

Karena itu, tadabur atas ayat ini mengajarkan bahwa menghormati guru, ulama, dan tradisi adalah bagian dari adab, tetapi menjadikan mereka sebagai sumber kebenaran yang tidak boleh dikritisi adalah sikap yang dikoreksi Al-Qur’an. Kebenaran tetaplah milik Allah, sedangkan manusia hanya berusaha mendekatinya dengan ilmu, keikhlasan, dan kerendahan hati.(Source: kosapoin.com/jangan-sembarang-taklid)

Mungkin yang perlu kita waspadai bukan hanya taklid kepada nenek moyang, tetapi juga taklid kepada zaman. Kita mudah menganggap sesuatu benar hanya karena banyak orang mengulanginya. Padahal Al-Qur’an tidak pernah menjadikan jumlah pengikut sebagai ukuran kebenaran. Justru yang diminta Allah adalah kesediaan untuk mendengar, berpikir, lalu mengikuti yang paling baik.(Source: kosapoin.com/jangan-sembarang-taklid)

Tadabur ini mengingatkan bahwa akal adalah amanah. Ia bukan untuk menumbuhkan kesombongan, melainkan untuk membedakan antara petunjuk dan kebiasaan, antara kebenaran dan sekadar popularitas. Sebab seorang mukmin tidak dipanggil untuk menjadi pengikut yang pasif, tetapi hamba yang sadar mengapa ia beriman, mengapa ia mengikuti, dan kepada siapa ia menyerahkan ketaatan. [](Source: kosapoin.com/jangan-sembarang-taklid)

Sisi lain dari bahasan prihal taklid ada dalam video di bawah ini yang dibahas oleh ustadz Galih M. Rosyadi S.Sos.(Source: kosapoin.com/jangan-sembarang-taklid)

Cahya Munggaran

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *