Kursi Kosong

kursi kosong

Ada kursi yang kosong karena tidak ada yang datang. Barangkali undangannya terselip di bawah tumpukan berkas yang tak kunjung dibaca. Atau, acaranya memang kurang menarik bagi orang-orang sibuk yang lebih suka memantau situasi dari grup percakapan. Namun, pemandangan itu jauh lebih baik ketimbang kursi yang kosong melompong bukan karena sepi, melainkan karena orang yang seharusnya duduk di sana sedang berdiri tegak di depan kamera.(Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

Kita memang masyarakat yang sangat rajin mengabadikan momen orang berdiri. Saking seringnya, kamera ponsel seolah wajib selalu menyala tanpa jeda. Di acara peresmian proyek yang belum rampung sekalipun, semua orang kompak bangkit. Di depan gedung baru yang catnya masih bau tiner, semuanya berbaris rapi. Bahkan di samping batu prasasti yang tulisannya belum tentu dibaca ulang, orang-orang berebut posisi demi melempar senyum paling manis.(Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

Kebiasaan ini menular kuat hingga ke urusan formal di dalam ruangan. Di acara seminar atau diskusi panel, panitia biasanya sudah menyiapkan meja dan kursi empuk yang nyaman di atas panggung. Namun, sang pembicara sering kali memilih langsung berdiri sejak menit pertama. Mereka berjalan ke sana kemari sambil memegang mikrofon dengan tangan yang tidak bisa diam. Pola serupa terjadi pada barisan peserta di bawah panggung. Kursi di tengah ruangan lambat laun ikut kosong karena sebagian peserta lebih senang mondar-mandir ke arah bilik makanan di sudut belakang demi mengincar kopi atau camilan gratis.(Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

Di acara perkawinan pun, polanya sama saja. Kursi-kursi VIP melingkar yang disewa mahal lengkap dengan kain dekorasi premium sering kali dibiarkan menganggur. Para tamu undangan, kerabat, hingga pejabat lebih memilih langsung membentuk antrean panjang di samping panggung pelaminan. Mereka rela berdiri berjam-jam dan menahan pegal demi selembar foto bersama pengantin yang wajahnya sudah kelelahan tertutup riasan tebal.(Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

Bahkan saat agenda bergeser ke sesi makan-makan, ritual visual ini belum juga usai. Meja, kursi, dan seluruh hidangan yang sudah tertata rapi wajib difoto terlebih dahulu dari berbagai sudut. Kursinya sengaja dibiarkan kosong tanpa penghuni demi mendapatkan estetika visual yang bersih. Gambar itu kemudian langsung diunggah ke media sosial dengan takarir bahwa makanan sudah siap. Manusia di sekitarnya baru dipersilakan duduk setelah layar ponsel menyatakan bahwa komposisi warna menunya sudah sempurna.(Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

Ketika berdiri sudah menjadi kewajiban massal untuk menunjukkan eksistensi, posisi duduk lambat laun mengalami pergeseran makna. Duduk kini disaring menjadi pose yang sangat eksklusif, yang hanya boleh dilakukan untuk pamer status emosional tertentu. Kita hanya akan melihat orang duduk ketika mereka ingin membangun citra kaum intelektual di balik meja kerja yang rapi sambil memegang cangkir kopi, seolah-olah sedang memikirkan masa depan. Di luar itu, duduk sengaja dipilih sebagai dekorasi teatrikal untuk memamerkan kerapuhan yang direncanakan, seperti pose bersandar lesu di lantai kafe estetis demi menunjukkan kesan sedang melamun puitis atau pura-pura patah hati.(Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

Uniknya, setelah semua urusan pamer pose tersebut selesai, mereka tidak lantas kembali duduk biasa untuk sekadar bernapas lega. Pertemuan formal maupun pesta keluarga seketika berubah menjadi studio foto dadakan. Dokumen laporan pertanggungjawaban yang tebalnya ratusan halaman mendadak kehilangan tuah, kalah saing oleh kapasitas memori penyimpanan ponsel panitia yang jebol akibat ribuan berkas gambar beresolusi tinggi.(Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

Dalam kondisi seperti ini, duduk yang biasa—tanpa konsep dan tanpa maksud pamer—akhirnya menjelma menjadi posisi yang dihindari. Orang yang duduk biasa rawan dinilai sebagai pihak yang pasif, kurang menghargai acara, atau malah dituduh mengantuk karena khotbah sambutan yang terlalu panjang. Sebaliknya, postur berdiri menawarkan kesan keterlibatan yang instan. Tubuh yang tegak langsung diasosiasikan dengan sikap siap siaga, tangkas, dan tampak paling bertanggung jawab dalam bingkai lensa.(Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

Dampaknya, lingkungan sosial kita kini melahirkan jenis keahlian baru. Perhatian tidak lagi sepenuhnya tertuju pada kualitas acara atau detail teknis pekerjaan yang substansial. Fokus justru bergeser kepada peran pengatur posisi, bagian protokol, atau perancang estetika lapangan. Merekalah yang paling sibuk di balik layar, memastikan pakaian rapi, posisi tidak miring, dan formasi tampak simetris saat mendokumentasikan kegiatan kelompok maupun ketika meresmikan fasilitas publik yang mungkin saja kualitas kekuatannya masih meragukan.(Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

Ironi terbesar baru terjadi ketika seluruh rangkaian acara benar-benar telah usai dan kamera dimatikan. Di saat itulah orang-orang akhirnya bersedia menempati kursi-kursi yang sejak tadi kosong. Namun, mereka duduk bukan untuk saling menyapa atau mendengarkan orang di sebelah mereka. Mereka duduk dengan kepala tertunduk, sibuk memeriksa hasil jepretan, memilih filter terbaik, dan menghitung jumlah tanda suka di layar gawai masing-masing.(Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

Maka jangan heran jika ukuran keberhasilan sebuah agenda bukan lagi dinilai dari manfaat jangka panjang yang dirasakan masyarakat atau kedalaman silaturahmi yang terbangun, melainkan dari seberapa banyak dokumentasi visual yang berhasil dikumpulkan. Sadar atau tidak, kita sedang membangun sebuah peradaban yang sibuk bersolek di depan lensa. Sebuah tatanan di mana semua orang berebut posisi paling tegak di barisan depan sejarah yang difoto, tetapi tidak ada satu pun orang yang sudi duduk dengan tenang untuk benar-benar mendengarkan apa yang sebetulnya sedang menjerit di atas tanah yang mereka pijak. [](Source: kosapoin.com/kursi-kosong)

SURAT LINGKAR
Baca Tulisan Lain

SURAT LINGKAR

Cahya Munggaran

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.187
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *