Syahdan, di sebuah kampus yang tak terlalu terduga dalam peta, hiduplah sebuah kursi yang sangat diperebutkan. Bukan kursi sembarang kursi, melainkan sebuah singgasana di ruangan yang membuat orang-orang di sekitarnya mendadak rajin berbicara tentang masa depan. Namanya kursi rektor. Pada suatu hari, para anggota Senat berkumpul untuk memilih siapa yang kelak berhak duduk di sana. Para calon datang membawa segudang gagasan, rekam jejak yang kinclong, dan tentu saja keyakinan penuh bahwa diri merekalah yang paling tepat. Setelah proses pencoblosan selesai dan suara dihitung, muncullah satu nama di urutan teratas: Calon A.(Source: kosapoin.com/dongeng-kursi-kosong-dan-angka-35)
Maka, kalau ini dongeng biasa, cerita seharusnya segera rampung. Sang pemenang menerima ucapan selamat, orang-orang tersenyum lebar, dan tinggal menghitung hari sampai kunci ruangan diserahkan. Tetapi dongeng ini rupanya tidak ditulis oleh pengarang yang suka menyelesaikan cerita terlalu cepat, sebab masih ada satu angka rahasia yang belum masuk ke dalam hitungan, yaitu angka 35 persen. Dalam tata cara pemilihan itu, suara Senat memang berbobot 65 persen, sementara Menteri memegang 35 persen sisanya. Jadi, meskipun Calon A sudah bertengger di urutan pertama, ia belum tahu pasti apakah keunggulannya itu akan tetap aman ketika seluruh suara akhirnya diletakkan di atas meja yang sama.(Source: kosapoin.com/dongeng-kursi-kosong-dan-angka-35)
Mari kita bayangkan perhitungannya secara sederhana. Dari porsi 65 persen milik Senat, Calon A meraup 40 persen dan rivalnya hanya 25 persen. A jelas sangat unggul di kandang sendiri. Namun, ketika 35 persen suara Menteri datang dan seluruhnya jatuh ke tangan sang rival, angka A berhenti di tempat pada angka 40 persen, sementara lawannya melompat jauh ke angka 60 persen. Yang tadinya berdiri gagah paling depan tiba-tiba tergeser ke barisan belakang. Tidak ada sulap, tidak ada kotak rahasia, dan sama sekali tidak ada jin yang keluar dari lampu ajaib. Ini murni penjumlahan matematika dingin yang sukses membuat banyak orang menahan napas.(Source: kosapoin.com/dongeng-kursi-kosong-dan-angka-35)
Sebab itulah Calon A kini berada dalam situasi yang agak ganjil. Ucapan selamat barangkali perlu diberi jeda sejenak. Spanduk kemenangan sebaiknya jangan buru-buru dipasang, karangan bunga ditahan dulu pengirimannya, dan kalau hendak memesan kue perayaan, jangan pesan tulisan yang terlalu panjang. Sebab, orang yang dipilih hari ini belum tentu adalah orang yang besok benar-benar diminta duduk di kursi tersebut. Di selasar kampus, obrolan-obrolan kecil mulai tumbuh subur layaknya lumut di musim hujan. (Source: kosapoin.com/dongeng-kursi-kosong-dan-angka-35)
“Sudah tahu hasilnya?” tanya si fulan.
“Sudah,” jawab temannya.
“Siapa yang menang?”
“A.”
“Berarti selesai dong?”
“Nah, itu dia.”(Source: kosapoin.com/dongeng-kursi-kosong-dan-angka-35)
Jawaban terakhir itulah yang paling panjang akibatnya. Orang-orang pun mulai belajar bahwa dalam urusan jabatan, kata selesai ternyata memiliki banyak tingkatan. Ada selesai menghitung, selesai memilih, selesai menetapkan, hingga selesai melantik. Jarak di antara tingkatan itu sering kali jauh lebih panjang daripada kalender akademik satu semester. Barangkali di sinilah letak daya tarik dinamika kekuasaan kita, di mana kita menyukai pemilihan karena ada harapan bahwa suara akar rumput akan menemukan jalannya sendiri. Namun, jalan itu ternyata tidak pernah lurus; ia kadang harus melipir lewat senat, mampir sebentar ke kementerian, lalu berbelok ke ruang rapat gelap yang tidak pernah terlihat oleh mereka yang sejak awal memberikan suara dengan penuh semangat.(Source: kosapoin.com/dongeng-kursi-kosong-dan-angka-35)
Namun, aturan main bekerja dengan jalurnya yang kaku. Ia tidak mengenal siapa yang lebih dulu mendapat karangan bunga, tidak terharu melihat pendukung mengangkat tangan, dan sama sekali tidak peduli siapa nama yang paling sering disebut-sebut di grup WhatsApp. Aturan hanya menagih satu hal saja: berapa angka akhir di atas kertas? Calon A mungkin saja pada akhirnya tetap mendapatkan 35 persen suara itu dan resmi memimpin kampus sesuai pilihan Senat. Tetapi kalau angin berbalik arah, kisahnya tentu akan berganti. Bukan karena kemenangan awalnya di kampus tidak pernah terjadi, melainkan karena ia hidup dalam sistem yang sejak awal memang sengaja menyediakan ruang bagi pihak luar untuk ikut menentukan ujung cerita.(Source: kosapoin.com/dongeng-kursi-kosong-dan-angka-35)
Dan di situlah kita akhirnya belajar membedakan antara sekadar menjadi pilihan dan menjadi penentu akhir. Keduanya terdengar seperti saudara dekat, padahal aslinya tinggal di kompleks perumahan yang sama sekali berbeda. Sementara sang calon sabar menunggu kepastian, kursi rektor itu tetap kosong melompong. Ia tidak ikut memilih dan sama sekali tidak punya suara. Ia hanya diam, menunggu dengan sabar sampai seluruh suara selesai berdebat panjang. Barulah seseorang boleh mendekat. Dan ketika hari itu akhirnya tiba, kita pun tahu siapa yang sekadar menang di atas kertas suara, dan siapa yang benar-benar berhak menduduki kursinya. [](Source: kosapoin.com/dongeng-kursi-kosong-dan-angka-35)

Membaca Tulisan
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








