Syahdan, manusia memasuki zaman ketika dompet perlahan kehilangan pekerjaan. Uang yang dahulu dilipat, diremas, diselipkan ke saku, atau ditemukan terlambat di antara halaman buku, kini cukup menjadi angka di dalam gawai. Bank Indonesia sedang mengeksplorasi Rupiah Digital melalui Proyek Garuda sebagai bentuk digital dari Rupiah. Dalam penjelasan resminya, Rupiah Digital ditempatkan sebagai pelengkap uang Rupiah yang sudah ada.(Source: kosapoin.com/matinya-uang-di-ujung-gawai)
Lalu muncullah cerita tentang uang yang suatu hari mungkin memiliki umur. Pagi-pagi membuka gawai, saldo masih terpampang, tetapi tanggalnya sudah lewat. Uang pun seperti makanan di lemari pendingin: sama-sama bisa dibayangkan mempunyai masa berlaku. Bedanya, makanan basi masih bisa dicium sebelum dibuang, sedangkan angka di layar barangkali hanya membuat pemiliknya bertanya-tanya apakah yang berubah uangnya atau hanya cara manusia memandang uang.(Source: kosapoin.com/matinya-uang-di-ujung-gawai)
Untuk saat ini, cerita tentang saldo yang mati karena melewati tanggal tertentu bukanlah gambaran yang dinyatakan dalam penjelasan resmi mengenai Rupiah Digital. Yang sedang dieksplorasi adalah bentuk digital Rupiah beserta kemungkinan penggunaannya dalam ekosistem pembayaran. Jadi, kalender belum perlu dicurigai sebagai musuh baru dompet.(Source: kosapoin.com/matinya-uang-di-ujung-gawai)
Namun, teknologi memang mempunyai cara sendiri untuk membuat uang menjadi semakin menarik. Dalam Proof of Concept Proyek Garuda, Bank Indonesia mengeksplorasi penggunaan smart contract. Dokumen tersebut menjelaskan smart contract sebagai program yang memuat aturan dan fungsi tertentu, serta mengeksplorasi kemampuan programmability pada Rupiah Digital, antara lain untuk proses pembayaran pajak.(Source: kosapoin.com/matinya-uang-di-ujung-gawai)
Di titik itu, uang tidak lagi sekadar soal angka. Ada teknologi di belakangnya, ada aturan dalam sistemnya, dan ada berbagai kemungkinan penggunaan yang dapat dirancang. Persoalannya bukan apakah uang akan mati pada tanggal tertentu—belum ada dasar resmi untuk mengatakan demikian—melainkan bagaimana manusia kelak berkenalan dengan uang yang bentuknya bukan lagi benda, melainkan bagian dari sebuah sistem digital.(Source: kosapoin.com/matinya-uang-di-ujung-gawai)
Mungkin dompet memang tidak sedang mati. Ia hanya sedang kehilangan bentuk lamanya. Uang kertas tetap punya suara ketika diremas, sementara uang digital hanya punya kedipan kecil di layar. Yang satu dapat disimpan di bawah kasur, yang lain disimpan di dalam sistem. Dan manusia, seperti biasa, hanya perlu memastikan bahwa ketika uang berubah bentuk, ia tidak lupa bahwa yang berubah adalah medianya, bukan makna yang selama ini dipercayakan kepadanya. [](Source: kosapoin.com/matinya-uang-di-ujung-gawai)

NGEMPENG EMPENG
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown







