Ada saat di mana manusia merasa takut kehilangan kesempatan. Kini, manusia juga takut kehilangan sesuatu. Namun yang aneh, sesuatu tersebut bahkan tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Itulah FOMO (Fear of Missing Out).(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Kita takut tidak hadir di tempat yang sedang ramai. Takut tidak mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Takut tidak mengikuti tren. Takut tertinggal oleh teman sebaya. Takut tidak memiliki barang yang sedang menjadi simbol status. Bahkan takut menjalani hidup dengan cara yang berbeda dari kerumunan. FOMO akhirnya bukan lagi sekadar gejala psikologis. Ia telah berubah menjadi gaya hidup.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Telepon genggam, menjadi jendela yang tidak pernah ditutup. Setiap beberapa menit kita memeriksa notifikasi. Kita melihat orang lain makan di restoran, bepergian, mendapatkan pekerjaan baru, membeli rumah, menikah, memiliki kendaraan, memenangkan sesuatu, atau sekadar tampak bahagia.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Masalahnya bukan pada apa yang mereka lakukan. Namun saat kehidupan orang lain, mulai menjadi alat ukur untuk menilai kehidupan kita sendiri. Di titik itulah FOMO bekerja secara diam-diam. Ia membisikkan sebuah pertanyaan yang melelahkan: “Mengapa hidupku tidak seperti mereka?”(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Media sosial, menjadi pasar besar bagi perbandingan sosial. Yang dijual bukan hanya barang, melainkan gaya hidup, citra keberhasilan, bahkan kebahagiaan. Kita melihat hasil akhir kehidupan seseorang, tanpa melihat kegagalan, kecemasan, utang, konflik keluarga, atau kesepian, yang mungkin tersembunyi di belakang layar. Kita membandingkan realitas kita dengan etalase kehidupan orang lain. Tidak mengherankan jika manusia modern semakin mudah merasa kurang.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
FOMO juga bekerja dalam dunia pendidikan dan pekerjaan. Anak merasa harus masuk sekolah tertentu, karena teman-temannya masuk ke sana. Remaja merasa harus mengikuti tren, agar tidak dianggap tertinggal. Mahasiswa merasa harus memiliki pencapaian tertentu, sebelum usia tertentu. Orang dewasa mengejar jabatan, properti, perjalanan, bahkan pengakuan sosial karena takut dianggap gagal.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Kita harusnya bertanya: kapan hidup berubah menjadi perlombaan? Dan siapa sebenarnya yang menentukan garis finisnya?(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Dalam perspektif psikologi sosial, manusia memang memiliki kebutuhan untuk diterima oleh kelompok. Tetapi ketika kebutuhan tersebut berkembang menjadi ketergantungan terhadap pengakuan sosial, identitas pribadi perlahan kehilangan otonominya. Kita tidak lagi bertanya, “Apa yang benar-benar saya butuhkan?” tetapi, “Apa yang sedang dilakukan orang lain?”(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Di sinilah FOMO menjadi persoalan kebudayaan, membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berhenti. Padahal, berhenti tidak selalu berarti kalah. Kadang berhenti, merupakan bentuk keberanian untuk mendengarkan diri sendiri.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Dalam budaya Sunda, terdapat ungkapan yang menarik untuk direnungkan, yaitu “tiis pikir, galih paripurna, sinar sinubyar sasmita.” Ungkapan tersebut, dapat dimaknai sebagai keadaan, saat pikiran tenang, maka hati yang bersih akan memancarkan cahaya terang serta mampu menangkap isyarat atau kebijaksanaan hidup dengan arif.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Ungkapan tersebut, terasa berlawanan dengan logika FOMO. Jika FOMO berkata: jangan sampai tertinggal, maka kearifan itu seolah berkata: tenangkan pikiran terlebih dahulu. FOMO memaksa manusia berlari mengikuti dunia. Sementara keteduhan, mengajak manusia berhenti sejenak, agar mampu mendengar suara batinnya sendiri.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Di sinilah kita membutuhkan pendidikan yang lebih manusiawi. Anak-anak tidak cukup dikenalkan pada kemampuan menggunakan teknologi. Mereka juga perlu dikenalkan, pada kemampuan mengendalikan diri di tengah teknologi. Mereka perlu dikenalkan, bahwa tidak mengikuti sebuah tren bukan dosa. Tidak memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain, bukan kegagalan. Tidak hadir di semua tempat, bukan berarti hidupnya tertinggal.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Orang tua memiliki peran penting dalam hal ini. Jangan sampai rumah justru menjadi tempat pertama yang menanamkan budaya perbandingan. Seperti kalimat “Lihat anak itu, sudah juara.” “Temanmu sudah punya ini.” “Kamu kapan seperti dia?” Kalimat-kalimat kecil dapat menjadi benih kegelisahan yang panjang.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Anak kemudian tumbuh dengan keyakinan, bahwa nilai dirinya ditentukan oleh pencapaian, dibandingkan orang lain. Padahal, menjadi manusia seutuhnya itu, bukan perlombaan. Setiap orang memiliki waktu, kemampuan, pengalaman, dan jalan yang berbeda.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Karena itu, melawan FOMO bukan berarti memusuhi teknologi atau menarik diri dari masyarakat. Yang perlu dilawan adalah, kehilangan kendali atas diri sendiri. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan menyerahkan arah hidup kepada algoritma.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Kita boleh melihat kehidupan orang lain, tetapi jangan menjadikan kehidupan mereka sebagai cermin untuk membenci diri sendiri. Kita boleh berlari, tetapi sesekali harus tahu kapan berhenti.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Sebab, mungkin yang selama ini kita takutkan sebagai missing out, justru bukan kehilangan sesuatu di luar diri, melainkan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu diri kita sendiri.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Ketika pikiran kembali teduh, batin kembali utuh, serta kesadaran mampu membaca tanda-tanda kehidupan, akhirnya kita memahami, bahwa tidak semua yang sedang ramai harus diikuti.(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)
Ada kehidupan yang tidak perlu dipamerkan. Ada kebahagiaan yang tidak membutuhkan penonton. Dan ada perjalanan, yang memang hanya perlu kita jalani sendiri. Tentunya dengan ketenangan, sadar, dan dengan jiwa yang tidak lagi sibuk mengejar dunia. (jbp 25/08/2026)(Source: kosapoin.com/takut-tertinggal)

Pusaka Titipan Karuhun, Lain Warisan
Negara: United States (Washington)
Device: Desktop
OS: Linux, Browser: Chrome








