PERUT SI AKU MANA MAU TAHU

PERUT SI AKU MANA MAU TAHU

Dolar meroket rupiah runtuh
Berita di layar membuat keluh
Tapi lambung tak bisa tangguh
Tuntut sarapan sebelum subuh

Buka media sosial belakangan ini isinya berita ekonomi yang bikin kening berkerut tanpa henti. Katanya, dolar AS lagi perkasa banget di atas angin, apakah ini efek dari Viagra? Ah, lupakan. Terang dan jelasnya alias sementara rupiah kita lagi loyo, kelelahan, dan butuh penyemangat tingkat dewa, seperti halnya para pria dewasa kala Mak Erot masih ada. Lupakan!

Para pengamat ekonomi tak ubahnya komentator sepak bola yang gantiin Om Manlia—kian menjamur dan merajalela di banyak canal televisi. Mereka sibuk melakukan analisis sana-sini memakai istilah rumit berseliweran yang bikin kepala kian pening tujuh keliling. Mau tak mau harus … Ya, harus pergi ke warung tetangga sekadar belanja Puyer Bintang Toedjoe No. 16. Kenapa juga no 16? Barangkali kecepatan penyembuhannya seperti lesat pesawat zet tempur yang melegenda. Lupakan!

Tapi jujur saja, buatku yang saban hari memegang dompet harian dan harus mengatur duit belanja, urusan kurs global itu berada di urutan nomor sekian. Justru yang nomor satu, paling nyata, dan tidak bisa ditawar-tawar adalah bagaimana caranya isi piring di rumah tetap aman terjaga tanpa harus membuat kantong bolong melorot. Logikanya sangat sederhana, mau dolar menyentuh langit tertinggi atau rupiah tiarap pasrah sampai ke dasar bumi, yang namanya perut itu tidak pernah mau tahu urusan geopolitik, inflasi, maupun teori makroekonomi yang njelimet itu. Selakyaknya cinta berat di ongkos dan perut pun tak pernah mengenal kata kompromi. Lupakan!

Coba saja Anda pikir, toh kita tidak bisa memarahi lambung sendiri lalu menyuruhnya menahan lapar dulu sampai situasi ekonomi makro kembali stabil minggu depan atau bulan depan. Sebab ya itu tadi—bahwa kesunyataanya kebutuhan pokok itu tak bisa ditunda-tunda sepertihalnya agenda pemilu, apalagi urusan isi perut alias makan itu merupakan sebuah kewajiban mutlak yang harus dipenuhi hari ini juga, detik ini juga, tanpa pernah mengenal kata nanti apalagi kata tunggu. Meski memang sudah terlatih dengan namanya puasa, akan tetapi itu lain soal dan jawabannya. Lupakan!

Maka, di sinilah konsep dasar mengenai pemenuhan nutrisi penting menjadi sangat krusial untuk kita siasati dengan kepala dingin. Katakanlah si aku ini yang sebagai pengelola keuangan rumah tangga, yang harus menghadapi realitas di lapangan—dituntut untuk tetap cerdas dalam memenuhi kebutuhan fisik tersebut tanpa harus mengorbankan stabilitas tabungan keluarga yang sudah kembang kempis. Ups, sejak kapan pula punya tabungan? Bukankah saban hari lebih besar pasak daripada tiang, sebagaimana pengelola negara yang tak bisa menghentikan pinjaman. Lupakan!

Lama-lama dipikir-pikir lama-lama—ketimbang ikut stres memikirkan grafik mata uang yang naik-turun ekstrem mirip wahana di pasar malam, jauh lebih baik kalau si aku ini mulai memakai taktik bela diri yang taktis di dapur masing-masing. Langkah pertama yang paling masuk akal dan instan untuk menyelamatkan anggaran belanja dapur dalam ranah apbn alias anggaran perut bulan-an adalah dengan melakukan detoks total dari barang-barang serta bahan pangan impor. Haduh, kejauhan toh kan sudah dibilang besar pasak daripada tiang, bagaimana mau beli barang impor? Lupakan!

Tetapi ngomong-ngomong ini mah yah, berdasarkan pengalaman empiris di pasar, barang impor adalah yang paling pertama melonjak harganya kala rupiah melemah. Katakanlah atau misalkan jauhnya andai kata kalau biasanya kita hobi bergaya hidup dengan membeli buah-buahan atau bahan makanan impor yang namanya susah dieja oleh lidah lokal, sekarang itu saat yang paling tepat untuk kembali ke selera asal yang membumi. Ganti apel fuji atau anggur luar negeri yang harganya mulai bikin kita sering-sering istigfar dengan buah pisang ambon, pepaya jingga, atau mangga arumanis lokal yang melimpah. Toh rasanya tetap terbukti sama-sama manis, jauh lebih segar karena tidak melalui proses pengawetan perjalanan laut yang panjang, dan yang pasti tidak akan membuat saldo rekening kita menangis darah. Namun sayangnya hal itu pun sulit terjadi, toh habis sudah di ekspor dan barang impor itu kaya dengan pestisida, tapi anehnya lebih mahal harganya, iya kan? Lupakan!

Oh, iya ada yang lupa: Hal yang sama pun berlaku sangat mutlak untuk urusan pemenuhan kebutuhan protein harian. Sebagai konsumen yang jeli, tentu saja harus tahu bahwa kala harga daging sapi segar mulai merangkak naik ke level yang tidak masuk akal, hal itu sering kali dipicu oleh komoditas pakan ternak dan bibit yang masih bergantung pada jalur impor. Di sinilah keahlian si aku ini yang bertindak sebagai manajer domestik diuji. Ya, semestinya si aku ini tidak perlu langsung panik berlebihan, karena masih punya trio pendekar penyelamat sepanjang masa yang sangat setia, yaitu tahu goreng, tempe bacem, dan telur dadar. Akan tetapi stok itu sudah jadi menu utama dapur mbg. Lupakan!

Meski demikan, terang dan jelasnya begini: Nutrisi dari kombinasi bahan makanan lokal ini secara ilmiah sama sekali tidak kalah hebat dari sepotong steak mahal. Proteinnya tinggi, lemak jenuhnya lebih rendah, diolah menjadi menu apa saja selalu berhasil memanjakan lidah, dan yang paling penting adalah harganya masih sangat bersahabat dengan kondisi dompet rakyat jelata, seperti si aku ini. Ya, aktivitas makan si aku saban hari dijamin akan tetap berjalan dengan nikmat, penuh gizi, dan tentunya jauh dari bayang-bayang utang yang menakutkan. Plusnya adalah konon kalau keseringan makan tempe mentah tak kalah juga khasiatnya dengan ramuan perkasa. Lupakan!

Selain merombak total daftar menu masakan harian, si aku ini pun dituntut untuk segera mengubah rute dan peta wilayah belanja mingguan. Kurang-kurangi dulu kebiasaan jalan-jalan sore ke supermarket modern ber-AC yang interiornya estetik dan memutar lagu jazzy kalau tujuan utamanya sekadar ingin membeli cabai merah, bawang merah, dan sayuran hijau ringan. Ini adalah saat yang paling tepat untuk memasang sandal jepit andalan si aku, lalu kembali menjalin keakraban dengan tukang sayur keliling yang lewat depan rumah atau para pedagang asli di pasar tradisional terdekat. Namun sayangnya harga bbm ikut-ikutan melambung yang berimbas juga pada harga kebutuhan pokok. Lupakan!

Ngomong-ngomong perkara otoritas harga di pasar tradisional yang jauh lebih fleksibel. Di sana, selembar uang lima puluh ribu rupiah itu rasanya masih sangat berdaya sakti dan dihargai tinggi. Bahkan, sering kali kita masih bisa mendapatkan bonus tambahan berupa segenggam daun bawang atau seledri segar jika kita pandai merayu dan mengobrol santai dengan ibu penjualnya. Lagipula, dengan mengalihkan anggaran belanja ke pasar rakyat, si aku ini secara langsung sudah ikut serta menggerakkan roda ekonomi tetangga serta membantu kelangsungan hidup para pelaku usaha kecil di sekitar lingkungan tempat tinggal kita sendiri. Namun dapur-dapur besar itu selalu lebih dulu memborongnya. Lupakan!

Katakanlah, bilamana si aku mau jujur dan berkaca pada diri sendiri, musuh terbesar bagi dompet si aku di masa-masa sulit seperti sekarang ini sebenarnya bukanlah angka inflasi yang dirilis pemerintah atau melemahnya nilai tukar rupiah secara global. Justru musuh paling nyata itu jempol tangan si aku sendiri yang sangat sering mengalami sindrom lapar mata kala memegang gawai. Godaan paling berat dan mematikan biasanya datang menghampiri dari aplikasi online pada saat malam hari menjelang tidur, atau keinginan impulsif untuk sekadar jajan kopi susu kekinian demi menuruti gengsi pergaulan sosial. Namun masalahnya, kadar rasa itu tak bisa menipu diri. Lupakan!

Padahal, kalau si aku mau sedikit saja meluangkan waktu dan repot menerapkan sistem persiapan makanan atau yang beken disebut food preparation seminggu sekali, maka si aku bisa memangkas pengeluaran secara sangat signifikan. Sayur-sayuran yang langsung dibersihkan, dipotong-potong rapi, lalu disimpan dengan metode yang benar di dalam wadah-wadah kedap udara di dalam kulkas akan memiliki umur simpan yang jauh lebih awet alias lama. Ya, tentu saja dengan strategi matang seperti ini, tidak akan ada lagi bahan makanan berharga yang terbuang sia-sia alias menjadi tumpukan sampah dapur yang mubazir. Kini masalahnya kulkasnya itu tak punya. Lupakan!

Pusing juga mengulang-ulang mendaur bahasa kebijakan, toh simpulnya tetap saja ada pada kondisi ekonomi global di luar sana yang boleh dikata tengah sedang meriang, demam tinggi, atau bahkan mengalami guncangan hebat yang tidak menentu. Namun, aktivitas masak-memasak di dapur rumah si aku sendiri harus tetap berjalan, mengepul hangat, dan membawa kebahagiaan bagi seluruh penghuni rumah. Artinya si aku ini memang tidak memiliki kekuatan ajaib untuk menurunkan kurs dolar dunia atau mengendalikan kebijakan moneter negara, tetapi si aku ini memiliki kuasa penuh dan mutlak untuk mengatur isi keranjang belanjaan serta mengelola keuangan si aku ini sendiri secara bijaksana. Sebagaimaba ratu adil bijaksana itu toh tetap saja ada dalam kalang gudal gadil na calana. Lupakan!

Meski rumit dan meski masih bisa imut kanjut sedikit, toh tetap saja pada akhir cerita nanti, mau bagaimanapun karut-marutnya kondisi dunia di luar sana, perut si aku yang polos ini akan tetap menuntut hak dasarnya untuk kenyang. Maka dari itu, mari penuhi kebutuhan harian keluarga tercinta dengan cara yang jauh lebih cerdas, hemat, penuh rasa syukur, dan tentunya tetap bahagia tanpa beban pikiran yang berlebihan. Andai kata si aku ini masih bisa masuk ke bangku sekolah, setidaknya makan siang sudah terjamin dan itu sudah cukup makan sehari satu kali, anggap saja masih hidup di zaman penjajahan. Lupakan!

Biarlah dunia sibuk bertengkar
Mengatur angka di atas meja
Asal di dapur masakan segar
Senyum keluarga tetap terjaga

Doni Muhamad Nur

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *