PAREPARE | Sejarah selalu mencatat bahwa keruntuhan sebuah imperium besar sering kali tidak terjadi di awal musabab, melainkan pada tikungan-tikungan akhir yang sunyi. Hari minggu atawa hari ini, 17 Mei 2026, tepat jam 19.00 WIB di bawah langit Parepare yang berselimut takdir pekan ke 33- BRI Super League, Persib bandung sedang berjalan menuju altar pembuktian tersebut. Mereka datang bukan sekadar untuk menendang kulit bundar, melainkan untuk mempertahankan mahkota yang mulai goyah di puncak klasemen.
Laga di Stadion B.J. Habibie malam nanti membawa memori kita pada konstelasi geopolitik abad ke-17 dalam Riwayat Perang Makasar. Sebuah palagan kolosal antara ambisi ekspansi kekuatan Barat yang taktis, melawan keteguhan tak tergoyahkan dari sang Ayam Jantan dari Timur di tatan pesisir mereka sendiri. Bagi Persib, Parepare adalah benteng kokoh yang harus diruntuhkan jika ingin menumpas bayang-bayang Borneo FC yang terus mengintai. Namun, sejarah juga mengingatkan, tanah Daeng bukanlah tempat yang ramah bagi para pendatang yang pongah.
Langkah terjal itu kian terasa getir karena Maung Bandung harus menerima kenyataan pahit sebelum genderang perang resmi bertalu di menit pertama. Mereka dipastikan kehilangan sang Generalissimo, Bojan Hodak. Arsitek asal Kroasia yang selama ini menjadi otak di balik kokohnya zirah taktik Persib itu harus absen karena akumulasi kartu, sekaligus takdir yang membawanya pulang ke Eropa dalam suasana berkabung setelah sang ibu berpulang.
Kehilangan Hodak adalah pukulan telak pada aspek psikologis yang memaksa komando beralih kepada sang deputi, Igor Tolic. Ujian bagi Tolic teramat berat karena ia tidak hanya diwajibkan memenangkan perang, tetapi juga harus menambal keretakan zirahnya sendiri. Absennya dua legion asing, Federico Barba dan Luciano Guaycochea akibat jeratan kartu, ditambah terkaparnya esk ksatria Paris Saint-Germain, Layvin Kurzawa di ruang perawatan, membuat lini belakang Persib ibarat benteng yang kehilangan pilar-pilar utamanya. Namun, di tengah situasi yang compang-camping ini, Tolic mencoba meniupkan sangkakala optimis dengan menegaskan bahwa pasukannya akan berjuang dan tampil habis-habisan di dua laga sisa demi menyelesaikan musim dengan cara terbaik.
Retorika herioik dari kubu tamu jelas akan membentur dinding tebal karena di seberang lapangan, PSM Makasssar berdiri dengan dada membusung. Pasukan Ramang asuhan Ahmad Amiruddin tidak memliliki beban klasemen, tapi mereka mengusung sesuatu yang jauh lebih sakral, yaitu harga diri atau Sirri’ Na Pacce. Ini adalah laga kendang pamungkas mereka musin ini, dan di depan ribuan pasang mata pendukungnya yang fanatik, kalah di rumah sendiri adalah sebuah tabu yang haram terjadi.
Yuan Fernandes dan kolega bahkan sedang berada dalam performa terbaik untuk melakukan ritual penjamuan berdarah setelah sukses melibas Bayangkara FC dan menggulung Persik Kediri pada dua laga kendang terakhir. Karekter pemain PSM yang spartan, keras, dan mengandalkan serangan balik secepat kilat akan menjadi ujian ekstrem bagi pertahanan darurat persib. Meskipun juru gedor mereka Luca Cumic, masih diragukan tampil akibat cedera, kolektivitas dan militansi sisa-sisa pasukan Ayam Jantan ini tetaplah sebuah terror nyata yang siap mencabik-cabik sang memuncak klasemen.
Di sinilah letak anatomi taktik yang tidak bisa dibantah oleh antithesis mana pun dari para kaum skeptis. Banyak pihak menilai Persib yang pincang tanpa Hodak, Barba, dan Kurzawa akan menjadi santapan empuk bagi militansi Ewako di Parepare. Namun, mereka lupa membaca lembaran hitam Perang Makasar pada Juni 1669, di mana sedahsyat apa pun Sultan Hasanuddin mempertahankan Benteng Somba Opu, benteng itu akhirnya runtuh karena kekuatan Barat saat itu berhasil membangun aliansi taktis yang presisi berasma kekuatan lokal.
Maka malam nanti, absennya para pilar asing bukanlah vonis mati bagi Persib, melainkan sebuah fajar baru lahirnya aliansi lokal yang solid di lini tengah dan belakang. Igor Tolic harus mengubur ego aristokrat individualis dalam memaksa pemain lokal yang diturunkan untuk membanun sistem zonal marking yang rapat demi memutus sirkulasi serangan balik PSM sebelum menyentuh sepertiga lapangan. Sejarah telah membuktikan bahwa militansi murni yang meledak-ledak milik sang Ayam Jantan hanya bisa diredam oleh kedisiplinan aliansi taktis yang mekanis.
Waktu yang akan menjawab apakah Persib mampu mereplikasikan keunggulan sejarah tersebut untuk menjinakkan kebuasan tuan rumah, ataukah malam nanti kita akan melihat kepulan asap kekalahan Maung Bandung di tanah Sulawesi yang menandai keruntuhan dramatis di ambang jura. Jika mereka mampu pulang membawa poin penuh, mereka bukan lagi sekadar kandidat juara, melainkan legenda yang berhasil melewati ujian api terbesar.
Parepare sudah membara. Selamat datang di Parepare, tempat di mana keringat, darah, dan sejarah akan melebur menjadi satu narasi agung. Selamat datang di perang terbuka. Terlepas dari semua itu, tentu saja suporter dari kedua tim punya harapan dan berharap, di samping tim yang didukungnya mampu menjunjung tinggi sportivitas dalam pertandingan, perangkat pertandingan yang bertugas juga mengedepankan prinsip yang sama. Integritas, profesionalisme, serta konsistensi dalam setiap keputusan wasit sangat diperlukan demi terciptanya pertandingan yang adil, bermartabat, dan menghormati seluruh pihak yang terlibat. Dengan demikian, hasil pertandingan akan benar-benar mencerminkan kualitas serta semangat kompetisi yang sehat. Stadion sudah siap digunakan, napas sudah tertahan, dan takdir kini tinggal menunggu untuk dituliskan oleh kaki para pemain. []








