Ada banyak cara untuk terlihat peduli. Mengunggah, mengomentari, atau sekadar membagikan kabar tentang penderitaan orang lain. Tapi ada satu cara yang jauh lebih sunyi, dan sering kali tidak terlihat, yaitu turun langsung, mengurus yang rumit, dan bertahan di tengah sistem yang tidak selalu ramah.
Di situlah Paksya Bogalakon berdiri. Bukan sebagai gerakan besar dengan baliho dan sorotan kamera. Tapi sebagai gerakan kecil yang bekerja dengan cara yang sering dihindari banyak orang, mengurus hal-hal teknis yang melelahkan, menghadapi birokrasi, dan menemani orang-orang yang bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Nama “Paksya” sendiri bukan lahir dari ruang rapat yang formal. Ia dicetuskan oleh Abah Rafijen, sosok yang bukan hanya menjadi penggerak, tapi juga memberi arah pada ruh gerakan ini. Dalam bahasa Sansekerta, “Paksya” berarti sayap. Sebuah simbol yang tampak puitis, tapi sebenarnya sangat konkret, menjadi perpanjangan tangan bagi mereka yang tidak bisa menjangkau sistem.
Dan seperti sayap, ia tidak selalu terlihat, namun bekerja. Di lapangan, gerakan ini tidak berdiri sendiri. Ada sosok-sosok yang menjadi motor penggerak, yang mungkin namanya tidak pernah muncul di headline mana pun. Di wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, ada Ibu Mulyani yang bergerak tanpa banyak bicara. Ada juga Diana Monza, yang menjadi koordinator, sekaligus jembatan antara berbagai kebutuhan dan solusi. Mereka bukan aktivis dalam pengertian yang sering kita bayangkan. Mereka adalah orang-orang biasa yang memilih untuk tidak biasa.
Lihat saja apa yang terjadi hari ini, 11 Mei 2026. Di saat banyak orang menjalani hari seperti biasa, Paksya Bogalakon justru sedang sibuk dengan hal-hal yang tidak sederhana. Seorang warga di Cicendo dibantu untuk mengaktifkan BPJS mandiri menjadi BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran). Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya soal perubahan status. Tapi bagi yang menjalaninya, ini adalah pintu menuju akses kesehatan yang sebelumnya tertutup.
Di tempat lain, di Andir, ada warga yang hidup dengan kondisi kolostomi atau stoma, yang seharusnya segera dioperasi kembali. Masalahnya bukan hanya pada kondisi medis, tapi juga administratif. BPJS-nya tidak aktif karena menunggak selama dua tahun. Pengajuan sudah berjalan satu bulan tanpa kepastian. Dan hari ini, status itu akhirnya aktif. Satu kalimat sederhana yang mungkin tidak terasa apa-apa bagi kita. Tapi bagi yang menunggu, itu adalah napas baru.
Lalu ada cerita dari desa Cangkorah, Batujajar. Seorang warga tidak mampu menghadapi biaya rumah sakit di RS Kawaluyaan yang mencapai 33 juta rupiah. Ia baru mampu membayar 12 juta. Sisanya menjadi beban yang tidak hanya menekan secara finansial, tapi juga mental. Di titik seperti itu, banyak orang memilih menyerah. Tapi Paksya tidak. Mereka hadir, mendampingi, dan menghubungkan dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Memberi arahan. Membuka kemungkinan. Bukan menjanjikan solusi instan, tapi memastikan bahwa orang tersebut tidak sendirian. Dan satu lagi, dari Cibébér, Cimahi. Seorang warga membutuhkan jari palsu akibat kecelakaan. Kebutuhan yang mungkin terdengar spesifik, tapi sangat berarti bagi kualitas hidup seseorang. Melalui jejaring yang dimiliki, termasuk keterlibatan Diana Monza di Yayasan Buddha Tzu Chi, proses itu difasilitasi. Tidak ada sorotan maupun tepuk tangan. Hanya kerja.
Jika dilihat sepintas, semua ini tampak seperti rangkaian bantuan sosial biasa. Tapi jika diperhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang berbeda. Paksya Bogalakon tidak hanya memberi bantuan. Mereka masuk ke dalam sistem. Menghadapi birokrasi yang sering kali berbelit. Mengurus hal-hal yang tidak terlihat. Menyambungkan titik-titik yang bagi banyak orang terasa membingungkan. Ini bukan kerja yang “instagramable.” Ini kerja yang melelahkan. Dan justru karena itu, tidak banyak yang mau melakukannya. Di sinilah letak kritik yang tidak bisa dihindari. Kita hidup di zaman di mana kepedulian sering kali diukur dari seberapa cepat kita merespons di media sosial. Tapi jarang yang bertanya, siapa yang benar-benar turun tangan?
Paksya Bogalakon seolah menjadi pengingat bahwa membantu tidak selalu harus terlihat. Bahwa empati bukan hanya soal rasa, tapi juga tindakan. Dan yang paling penting, mereka melakukannya tanpa pamrih. Tidak ada tarif. Tidak ada imbalan. Tidak ada syarat tersembunyi. Hanya satu tujuan, membantu. Di tengah dunia yang semakin transaksional, sikap seperti ini terasa hampir asing. Tapi justru karena itu, ia menjadi penting. Karena tanpa gerakan seperti ini, banyak orang akan tetap berada di titik yang sama dan tidak tahu harus ke mana, tidak tahu harus bagaimana.
Paksya tidak mengubah sistem secara besar-besaran. Tapi mereka mengubah nasib orang per orang. Dan kadang, itu jauh lebih berarti. Mungkin, tidak semua bisa menjadi seperti mereka. Tidak semua punya waktu, tenaga, atau akses yang sama. Namun setidaknya, kita bisa belajar satu hal, bahwa kepedulian tidak harus menunggu momen besar. Bisa dimulai dari hal kecil, dari keberanian untuk tidak diam. Dari keputusan untuk bergerak, meski tidak ada yang melihat. Karena pada akhirnya, dunia tidak selalu berubah oleh mereka yang paling lantang bicara. Tapi oleh mereka yang diam-diam bekerja. Dan hari ini, Paksya Bogalakon telah menunjukkan itu. []









