Dunia Kobong dan Paradigma Kehidupan

dunia kobong dan paradigma kehidupan essai Doni Muhamad Nur kosapoin.com

Lantai kobobong memahat sujud
Selagi umur merapat ke kubur
Kursi kuasa memahat angkuh
Sunyi mekar di liang kubur

Aku tulis esai ini sebagai wakil dari rindu sekaligus sekadar kenang membaca alur hidupku di tubuhmu, wahai Indonesiaku. Wahai saudaraku sebangsa dan setanah air, sejatinya Samudra tak bisa dipagari. Namun kreativitas manusia sudah menjadi tradisi dalam memetak-metak kebenaran, meski hal itu sering kali mengancam ekosistem ketulusan nurani. Sebagaimana pasir besi dikeruk habis dari landau pantai-pantaimu, demikian juga dengan gelar akademik pun sering kali dikuras demi memuaskan dahaga akan posisi, meski abrasi kerendahan hati mengancam daratan jiwa.

Namun kesemuanya itu menjadi hal yang lumrah bagi mereka yang mampu serta bisa berkuasa dalam memangku kebijakan di kasta-kasta intelektual formal. Sebab ragam dalih yang diterbitkannya selalu ada dalam kalang logis, guna mengejar angka literasi dan tujuan dari standarisasi izasah demi mengatur populasi manusia yang berlabel sarjana. Toh, Tuhan sendiri tidak pernah melarang pada apa yang ingin kita perbuat di muka bumiNya ini. sebagaiman judi, mabuk, lacur, hingga pamer jabatan dan segala hal yang diharamkan oleh kalamNya itu hanyalah berlaku bagi yang beriman dan bertaqwa pada perintah dan laranganNya semata. Tuhan pun menegaskan bahwa sejatinya hidup di bumiNya ini sekadar senda dan gurau belaka, dengan cacatan apa pun yang sudah diperbuat dalam alur laku diri, kita harus mampu mempertanggungjawabkannya, kelak, di hadapanNya.

Di sisi lain, saya ingin bercerita perihal pernah mengecap dinginnya lantai sebagai santri kobong di beberapa pesantren antara tahun 1997 hingga 2011. Rentang waktu itu sebenarnya hanyalah saksi betapa bebalnya diri ini dalam menangkap isyarat ilmu, di mana selama belasan tahun melintas dari satu kobong ke kobong lain, saya justru dipertemukan dengan tatanan yang menampar logika modern: bahwa di sana usia hanyalah deret angka yang malu-malu dan jabatan hanyalah titipan yang lekas luluh; yang bertahta dengan gagah hanyalah kedalaman wawasan. Di dunia kobong tersebut, seorang santri kencur yang sudah menguasai isi kitab akan didengarkan dengan penuh takzim bahkan oleh mereka yang katakanlah janggutnya sudah memutih, karena kualitas isi kepala menentukan di mana tempatmu duduk, sebab adab yang tegak tanpa perlu dipaksakan oleh aturan birokrasi yang kaku. Ya, betapa bijaksanyanya Tuhan pada setiap makhluk yang diciptakanNya dengan deretan gelar mentereng, tanpa beban sedikit pun atas maunya laku diri kita yang terkadang tak sengaja menindas kejujuran.

Namun dalam realitas institusi formal, laku diri itu sering kali berubah beringas. Seoalah ada sebuah garis tipis yang memisahkan antara ketaatan dan kejumudan. Dalam sejarah pemikiran dunia, kita mengenal sebuah pepatah radikal bahwa “Murid yang baik adalah murid yang bisa membunuh gurunya”. Ungkapan ini mungkin terlahir dari persilangan tajam antara kegelisahan Fredrich Nietzsche yang menuntut kemandirian jiwa manusia unggul (Úbermensch), dengan tradisi Zen yang mengajarkan untuk melampaui symbol demi meraih pencerahan sejati, serta dialektika Socrates yang mengharuskan seorang pencari kebenaran untuk tidak pernah berhenti menggugat meski terhadap gurunya sendiri. “Membunuh” di sini tentu saja bukan soal raga, melainkan tentang kemampuan sang murid untuk melampaui batasan intelektual dan bayang-bayang otoritas gurunya agar ilmu itu terus tumbuh, bukan mati menjadi dogma yang beku.

Akan tetapi wahai saudaraku, di dalam tubuh institusi formal kita hari ini, spirit pelampauan itu justru dianggap sebagai ancaman. Katakanlah yang beredar di media-media sosial itu ketika seorang mahasiswa memiliki wawasan melampaui dosennya, alih-alih pelukan apresiasi, yang muncul justru resistensi dingin karena sang pengajar merasa otoritasnya koyak, laju menggunakan sekat hierarki untuk membungkam kejujuran berpikir. Fenomena ini kian getir saat kita menyaksikan bagaimana kebenaran sebuah substansial dalam ruang intelektual bisa dihukum dengan poin minus hanya karena alasan teknis artikulasi yang subjektif—sebuah bukti telanjang betapa egonya otoritas sering kali lebih tuli daripada rungu rakyatnya. Ilmu di tangan mereka bukan lagi cahaya yang memadu, tetapi pagar kaku yang memenjarakan kebenaran hanya pada mereka yang punya pangkat fungsional semata.

Kembali terkenang pada diskusi-diskusi kecil di dalam kobong: benar apa yang dikatakan dalam Surah Al-Isra ayat 14: “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab terhadapmu.” Ayat ini adalah pengingat bagi mereka yang sering kali mabuk oleh symbol-symbol gelar; kelak yang dihisab adalah isi kitab amal dan pertanggungjawaban nyata dari ilmu tersebut, bukan ijazah yang dipamerkan di hadapan manusia. Teringat pula pada suatu prinsip sederhana yang sering digaungkan di dunia kobong, yakni mampunya laku mendahulukan yang wajib sebelum menyentuh yang sunah. Sebuah manajemen prioritas yang hakiki, tetapi di dunia luar, paradigm aini sering kali terbalik secara mengenaskan. Kita lebih sibuk memoles branding atau citra ketimbang memperbaiki isi nurani.

Disadari atau tidak, fenomena ini pada substansinya sudah mendarah daging dalam birokrasi kita, sebagaimana terlihat pada agenda “Studi Banding” yang esensinya hanyalah sunah pelengkap, tetapi pelaksanaanya justru dijadikan prioritas utama karena ada bumbu wisatanya. Ironisnya, kewajiban professional untuk memberikan solusi nyata bagi rakyat justru diabadikan dan hanya berakhir menjadi laporan hasil copy-paste yang tak bermakna. Kewajiban dikalahkan oleh syahwat pelesir yang dibungkus label tugas negara. Inilah salah satu bukti bahwa hidayah sering kali disandera oleh hawa nafsu; manusia merasa telah melakukan kebaikan besar karena rutinitas simbolis, padahal ia sedang melalaikan tanggung jawab wajib yang asasi.

Sampai akhirnya setan bisa leluasa berenang di urat nadi manusia, dari sinilah alur peradaban manusia yang kian berat melawan hawa nafsunya sendiri dimulai, yang mana hawa nafsu sebagai sumber dari segala ihwal hasrat dan inginnya laku diri. Sesuai dengan QS Al-Baqarah: 30, manusia diciptakan sebagai khalifah, tapi peran ini harus dimulai dari mengelola diri sendiri sebelum mencoba memimpin orang lain. Hal ini dipertegas dalam QS. Al-Baqarah: 124, di mana kepemimpinan adalah amanah yang tak akan pernah diberikan kepada mereka yang zalim terhadap nuraninya sendiri. Ya, seseorang tidak akan pernah mampu memimpin orang lain secara adil jika ia gagal mendidik jiwanya sendiri. Hal ini selaras dengan Atsar Ali bin Abi Thalib ra., yang pernah berkata: “Siapa menobatkan dirinya sebagai pemimpin bagi orang lain, hendaknya ia memulai mendidik dirinya sebelum mendidik orang lain. Dan hendaknya ia mendidiknya dengan perbuatannya sebelum mendidik dengan lisannya.”

Karena tanpa keteladanan melalui perbuatan nyata, lisan seorang pemimpin hanyalah bualan yang kehilangan ruhnya. Pemimpin yang baik, menurut QS. An-Nisa: 59, adalah mereka yang taat kepada Allah dan Rasul, yang berani serta mampu mengontrol ego di bawah naungan etika dan syariat. Tanpa kelembutan hati yang diperintahkan dalam QS. Ali ‘Imran: 159—yakni sikap lemah lembut dan tidak berhati kasar—seorang pemimpin hanya akan menciptakan jurang pemisah dengan rakyatnya. Sebab tanggung jawab ini bukan saat protokoler, tetapi beban ukhrawi sebagaimana sabda Baginda SAW: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Wahai saudaraku, puncak dari kegelisahan saya ini adalah ketika para pejabat atau mereka yang duduk di kursi dewan merasa paling tahu tatanan negeri ketimbang rakyat yang mereka wakili. Padahal Tuhan telah menegaskan dalam Surah Qaf ayat 16 bahwa Dia lebih dekat daripada urat leher, sebuah kesadaran yang seharusnya melahirkan kerendahan hati yang dalam untuk tidak bertindak semena-mena. Namun sebagimana yang sudah dijelaskan di paraghraph sebelumnya; saat seseorang merasa sudah paling benar dan dekat dengan Tuhan, tetapi perilakunya justru meninggalkan kewajiban demi ritual simbolis yang sunah, itulah tanda hidayah yang telah dibungkus oleh nafsu yang halus. Mereka fanatik pada pencitraan religious, tetapi dalam melayani publik mereka bekerja serampangan.

Katakanlah, slah satu drama ketamakan itu tersaji dalam ‘Pesta Babi’—sebuah potret getir di mana kursi kuasa kerap kali menjelma berhala baru yang menjaraki nurani dari jeritan rakyat di pelosok negeri. Kita tengah menyaksikan bagaimana dalih pembangunan justru menjadi lonceng kematian bagi ekosistem alam di tanah Papua; di mana hutan dibabat dan tatanan adat luluh lantak di bawah kaki esploitasi yang seolah kehilangan batas kenyang. Sebuah ironi yang nyata, ketika mereka yang berkuasa asyik berpesta di atas kehancuran tanah pusaka rakyatnya sendiri. Tak jauh berbeda dengan luka yang menganga di Sumatra kemarin, ketika air bah menghantam pemukiman hingga merenggut nyawa dan harta; sebuah tangisan bumi akibat penggundulan hutan dan kerusakan lingkungan yang dibiarkan atas nama kerakusan. Banjir itu bukan sekadar bencana alam, melainkan surat balasan dari alam yang telah kita hancurkan urat nadinya.

Mereka lupa bahwa cahaya ilmu yang sejati, “Cahaya di atas cahaya” sebagaimana dalam surah An-Nur ayat 35, hanya akan menembus hati yang bening dan bersih dari kepentingan pribadi. Kegelapan nurani ini kian nyata saat kita melihat kebijakan yang lahir dari rahim kekuasaan justru asyik bermain anggaran pada hal-hal yang tidak krusial; seperti renovasi ruang kerja yang menghabiskan milyaran rupiah, pengadaan mobil dinas mewah yang berseliweran di tengah kemiskinan, atau baliho pencitraan yang menjamur di tiap sudut jalan. Sementra rakyat di Sumatra kehilangan rumah akibat hutan yang gundul, anggaran justru dialirkan untuk memoles kemasan dan kenyamanan pribadi para pemangku jabatan. Adakah korelasinya semua itu dengan perintah puasa atau pagar laut?

Pikiran ini harus bisa mengendalikan badan, bukan badan atau jabatan yang menegndalikan pikiran. Keserakahan yang merusak alam dan permainan anggaran itu bermula dari pikiran yang gagal memagari diri dari sifat rakus. Luasnya laut seumpama besarnya hasrat yang menggebu—bak debur ombak menghantam batu karang. Sebagaimana pagar laut, betapa eloknya fungsi jika ia berada tepat di garis teritorial. Dari itulah sumber hasrat atau keinginan harus dipagari dengan jalan tirakat mawas diri, sebab saripatinya ilmu merupakan sumber dari segala kebijakan, bermula dari mampunya laku menahan diri yang membuahkan kemaslahatan dalam setiap laku diri. Benar. sejatinya manusia itu pembangkang, tetapi kita pun dituntun untuk bisa menghindar dari segenap bisikan setan yang selalu membangkitkan hasrat hingga lupa daratan. Wahai saudaraku, bangsa ini hanya akan maju ketika kita mau pulang ke paradigma kehidupan yang diajarkan di dunia kobong: letakkan kewajiban di atas segalanya, didik diri sebelum berteriak mendidik orang lain, dan hargailah ilmu melebihi jabatan atau usia.

Peradaban tidak akan tumbuh dari banyaknya doctor yang bebal, melainkan dari seorang pejabat yang mau duduk rendah hati mendengar rakyatnya, atau seorang professor yang tidak mau mengakui kecerdasan mahasiswanya. Sebab titik fokus peradaban hanya bisa dibangun dengan kejujuran nurani yang bening, bukan dengan kepalsuan citra yang hampa. Benar. jika Tuhan berkehendak, niscaya tidak ada satu pun menusia pembangkang, tapi salah satu tugas kita diturunkan ke bumi untuk mencari kejatnikaan yaitu sejatinya jati diri, di hadapan Cahaya Yang Maha Luas, selagi umur merapat ke liang kubur. Dari al kisah Nabi Adam AS., sebelum diturunkan ke bumi merupakan cerminan mutlak untuk kita jadikan pedoman dalam mawas diri; siapakah sesungguhnya kita ini di hadapanNya, hingga berani membangkang pada segenap kalamNya sebagai pedoman hidup untuk kita jalankan di buka bumiNya ini. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *