Pendidikan merupakan fondasi utama bagi kemajuan suatu bangsa. Melalui sekolah, generasi muda diharapkan mampu mengasah logika, etika, serta kecerdasan emosional untuk menghadapi tantangan masa depan yang kian kompleks. Akan tetapi, realita yang terjadi di lapangan belakangan ini justru menunjukkan pergeseran nilai yang cukup mengkhawatirkan. Sebagai seseorang yang tumbuh dan besar dalam lingkungan akademik yang menghargai proses kreatif, saya merasa masygul melihat bagaimana gedung sekolah kini perlahan berubah fungsi menjadi panggung hiburan. Gedung yang seharusnya menjadi ruang sakral untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan, justru tampak sekadar menjadi latar belakang konten demi mengejar popularitas di media sosial. Kecenderungan ini semakin diperparah dengan hilangnya batas antara ruang kelas pribadi dan konsumsi publik yang tidak terbatas. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah sinyal bahaya bagi kualitas intelektual generasi mendatang.
Pengamatan saya selama kurang lebih empat tahun terakhir menunjukkan sebuah ironi yang semakin tajam. Di satu sisi, kita secara kolektif sedang menderu menuju target besar Indonesia Emas 2045—sebuah visi di mana bangsa ini diharapkan menjadi kekuatan ekonomi dunia dengan sumber daya manusia yang unggul. Namun, pada faktanya, apa yang saya temukan di lapangan justru sering kali bertolak belakang dengan cita-cita besar tersebut. Alih-alih mempersiapkan generasi yang memiliki kedalaman analisis untuk memimpin bangsa, kita justru seolah sedang membiarkan tunas-tunas muda kita terjebak dalam pendangkalan nalar akibat candu konten digital.
Fenomena munculnya generasi konten di lingkungan pendidikan telah menciptakan paradoks yang nyata di tengah masyarakat kita. Di satu sisi, teknologi seharusnya mempermudah akses informasi dan memperluas cakrawala berpikir. Namun, di sisi lain, teknologi justru sering kali digunakan sekadar untuk mencari validasi dangkal melalui video-video viral yang minim substansi. Ironisnya, perangkat canggih yang dimiliki siswa lebih sering digunakan untuk merekam sandiwara singkat daripada menggali literasi digital yang mendalam. Ketika prestasi akademik mulai terpinggirkan oleh jumlah pengikut dan tanda suka di layar ponsel, maka kualitas kedalaman berpikir bangsa sedang berada dalam ancaman serius. Hal ini bermula dari adiksi terhadap dopamin digital yang tanpa sadar telah merusak orientasi utama dalam belajar.
Setiap kali seorang murid atau guru mengunggah konten hiburan yang kemudian viral, otak mereka mendapatkan suntikan kepuasan instan. Perasaan senang ini bersifat adiktif dan sering kali mengaburkan batasan profesionalisme dalam institusi pendidikan. Proses ini bekerja melalui mekanime positive reinforcement atau penguatan positif yang datang dari komentar pujian dan jumlah pengikut, sehingga pelaku merasa perilaku pamer tersebut adalah sebuah keberhasilan. Kondisi ini menciptakan ilusi kesuksesan semu, di mana popularitas dianggap lebih berharga daripada kualitas karakter dan integritas.
Ironisnya, kini batas antara sekolah sebagai lembaga pendidikan dan industri hiburan kini menjadi sangat tipis, bahkan nyaris hilang di beberapa titik. Etika profesi seolah digadaikan demi algoritma yang menuntut kehebohan tanpa memedulikan dampak psikologis jangka panjang bagi para siswa. Sekolah yang seharusnya melatih ketekunan, kesabaran, dan proses panjang dalam meraih ilmu, justru berubah menjadi tempat mencari tepuk tangan instan dari warganet. Dampaknya, energi siswa tidak lagi tercurah pada pemahaman materi, melainkan pada bagaimana cara agar terlihat menarik di depan kamera demi angka-angka di layar kecil.
Kritik tajam perlu diarahkan pada kemerosotan kemampuan kognitif yang mulai terlihat secara masif di berbagai jenjang pendidikan. Sering kali kita menemui konten yang memperlihatkan siswa usia remaja, bahkan setingkat SMA, yang gagap saat dihadapkan pada pertanyaan matematika atau logika dasar. Pertanyaan mengenai operasi hitung sederhana atau pengetahuan umum yang bersifat fundamental sering kali hanya dijawab dengan tawa kosong atau ekspresi bingung. Hal ini sejalan dengan kekhawatiran mengenai kemunculan generasi yang tampak fasih bersuara tetapi sebenarnya kehilangan kemampuan untuk berartikulasi secara bermakna. Gejala degradasi kognitif ini menunjukkan adanya lubang besar dalam kurikulum yang lebih mementingkan formalitas administratif daripada penguasaan materi inti.
Dalam beberapa kesempatan, yang secara kebetulan ada kelas menulis sastra di saung bonsai Vanya Art yang saya kelola sejak tahun 2023, pesertanya dari mulai siswa dan mahasiswa, saya sering terenyak ketika berdiskusi dengan adik-adik tingkat atau remaja masa kini yang tampak begitu piawai mengedit video, tapi kesulitan saat diajak membedah logika sederhana dalam sebuah bacaan. Penggunaan bahasa yang kian dangkal dan repetitif di media sosial tanpa sadar telah memangkas kemampuan mereka untuk mengekspresikan gagasan yang kompleks dan kritis. Hal ini mencerminkan betapa dangkalnya daya serap nalar siswa ketika perhatian mereka terfragmentasi oleh distraksi digital yang tak henti. Kemunduran ini sangat kontras jika kita bandingkan dengan generasi terdahulu yang memiliki fondasi logika lebih kuat meskipun dengan fasilitas yang jauh lebih terbatas.
Degradasi ini kian mengakar karena absennya pengawasan kritis dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Banyak orang tua yang justru merasa bangga secara semu ketika melihat anaknya viral, tanpa pernah mempertanyakan apakah si anak telah memahami konsep logika dasar di sekolah. Peran orang tua seharusnya menjadi penyaring utama terhadap haus validasi yang melanda anak, bukan justru menjadi pendukung di balik layar demi mengejar pengakuan sosial. Literasi digital harus dimulai dari rumah, di mana nilai-nilai adab dan kesungguhan dalam menuntut ilmu ditekankan di atas sekadar angka penayangan di media sosial.
Rendahnya kemampuan berpikir kritis ini bukan semata-mata kesalahan individu siswa secara personal. Namun, hal ini merupakan cerminan dari sistem pengajaran yang selama ini mungkin hanya berfokus pada rutinitas kosong tanpa membangun pemahaman yang mendalam. Sekolah seolah terjebak menjadi pabrik fotokopi yang hanya memindahkan isi buku ke papan tulis, lalu memindahkannya kembali ke buku catatan murid, tanpa benar-benar memastikan ilmu tersebut meresap ke dalam pikiran. Kondisi ini diperburuk dengan atmosfer pendidikan yang memberikan penguatan positif pada hal-hal yang bersifat superfisial daripada ketajaman analisis. Sering kali, aktivitas pembuatan konten di sekolah dibela dengan dalih menumbuhkan kreativitas siswa. Namun, kita perlu bertanya secara kritis apakah mengikuti tren gerakan tari atau templat video yang sedang populer dapat dikategorikan sebagai kreativitas sejati.
Kreativitas sejati seharusnya melibatkan proses berpikir inovatif, pemecahan masalah, dan penciptaan sesuatu yang orisinal dari hasil olah pikir yang matang. Mengulangi gerakan yang sama dengan jutaan orang lainnya hanyalah bentuk konformitas digital yang tidak memberikan nilai tambah pada kualitas intelektual. Banyak yang tidak menyadari bahwa terjebak dalam arus tren justru mematikan keunikan berpikir dan daya kritis individu sejak usia dini. Kebiasaan meniru tanpa mengolah rasa dan karsa hanya akan melahirkan robot-robot digital yang patuh pada algoritma sekaligus lumpuh secara imajinasi. Ironisnya, di tengah gegap gempita konten hiburan tersebut, anak-anak yang benar-benar cerdas dan berprestasi di bidang akademik justru sering kali tenggelam dan tidak mendapatkan ruang apresiasi yang layak. Mereka dianggap kurang menarik secara konten sehingga terpinggirkan oleh mereka yang lebih mahir bersandiwara di depan kamera.
Guru memegang peranan paling krusial sebagai rem moral dalam fenomena yang serba cepat ini. Seorang pendidik adalah nakhoda yang seharusnya mampu mengarahkan siswa agar tidak hanyut dalam arus informasi yang dangkal. Sangat disayangkan apabila terdapat oknum pendidik yang justru lebih bangga karena videonya ditonton jutaan kali daripada saat muridnya berhasil memenangkan olimpiade atau kompetisi sains. Seorang guru sejati seharusnya menjadi penjaga gawang nilai, bukan justru menjadi pemeran utama dalam komodifikasi pendidikan. Wibawa seorang guru akan luntur seketika saat ia memilih menjadi badut di ruang digital demi mengejar validasi dari orang asing. Guru memang manusia biasa yang membutuhkan hiburan di sela kesibukan mengajar yang melelahkan. Namun, profesionalisme menuntut penempatan posisi yang tepat sesuai dengan martabat profesi.
Sebagai perbandingan, kita tidak akan pernah melihat seorang pilot melakukan tarian di kokpit saat sedang menerbangkan pesawat, atau seorang dokter membuat vlog hiburan saat sedang menangani pasien darurat. Hal ini karena mereka sadar akan tanggung jawab besar yang mereka emban terhadap nyawa manusia. Pendidik pun demikian; selama mengenakan seragam, ia membawa wajah dan masa depan pendidikan nasional. Sekolah bukan sekadar gedung untuk absensi, melainkan benteng terakhir pertahanan akal sehat sebuah bangsa. Dalam tradisi kita, ilmu memiliki marwah yang tinggi sehingga menuntut rasa hormat dan keseriusan dalam proses mencapainya. Mengubah ruang kelas menjadi sekadar studio hiburan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai luhur pendidikan yang mengutamakan adab di atas keriuhan.
Masa sekolah adalah periode emas yang sangat berharga dan tidak akan pernah bisa terulang kembali. Sangat menyedihkan jika waktu berharga tersebut habis digunakan hanya untuk mengejar konten viral daripada mengejar kedalaman pemahaman ilmu. Viralitas bersifat sementara dan akan terlupakan dalam hitungan hari. Namun, kebodohan yang dipelihara sejak dini akan berdampak panjang dan merugikan bagi masa depan seseorang di dunia nyata yang kompetitif. Realitas pahit di dunia kerja tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan kemampuan berjoget di depan kamera tanpa keahlian teknis yang mumpuni. Di dunia nyata, ijazah tanpa logika hanyalah selembar kertas yang tidak memiliki daya tawar apa pun. Pendidikan bukan sekadar proses mekanis untuk mendapatkan selembar ijazah, melainkan proses membangun rasa pemahaman secara bertahap agar siswa mampu berpikir secara logis dan mandiri.
Untuk memutus rantai degradasi ini, diperlukan langkah konkret yang sistemik di lingkungan sekolah. Institusi pendidikan harus berani menetapkan zona bebas ponsel pada jam pelajaran utama untuk mengembalikan fokus siswa pada dialektika di dalam kelas. Selain itu, tugas-tugas berbasis digital harus diarahkan pada pembuatan konten literasi yang solutif, seperti video analisis masalah sosial atau esai visual yang menggugah nalar kritis, bukan sekadar mengikuti tren yang dangkal. Guru perlu mendapatkan pelatihan kembali mengenai batas etika bermedia sosial agar mereka tetap menjadi mercusuar moral bagi para muridnya.
Seluruh kegelisahan yang saya tuangkan dalam tulisan ini bermuara pada satu titik kesadaran: bahwa cinta kita terhadap masa depan bangsa tidak boleh kalah oleh bisingnya algoritma. Cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah bisa digapai jika sumber daya manusia yang kita siapkan hanyalah barisan pemuda yang ahli dalam imitasi visual tetapi rapuh dalam karsa dan logika. Kita terancam menghadapi masa depan di mana orang-orang lebih mementingkan bagaimana cara terlihat pintar melalui potongan video pendek daripada benar-benar mengasah kapasitas intelektual mereka.
Saya dan tentu saja kita semua sangat mendambakan sebuah ekosistem pendidikan yang kembali memuliakan proses daripada hasil instan. Sudah saatnya kita semua berhenti merayakan kekosongan intelektual yang dibalut dengan kemasan keren di media sosial. Pemerintah, guru, dan orang tua harus bersinergi untuk mengembalikan orientasi pendidikan ke jalur yang benar. Tanpa tindakan tegas untuk menghentikan degradasi kognitif ini, kita hanya akan memanen generasi yang pandai bicara di depan layar, akan tetapi rapuh dalam menghadapi masalah nyata.
Jika boleh jujur, sesungguhnya kita tidak butuh lebih banyak selebritas kelas, melainkan lebih banyak pemikir tangguh yang mampu membawa perubahan nyata. Kita membutuhkan generasi yang bangga karena kedalaman isi kepalanya, bukan karena banyaknya pengikut atau pujian kosong dari orang-orang asing di dunia maya. Pondasi sebuah bangsa yang besar tidak pernah dibangun di atas joget viral yang dangkal, melainkan di atas kualitas berpikir, etika kerja, dan karakter kuat rakyatnya. Mari kita kembali memuliakan ilmu pengetahuan di atas panggung hiburan agar sekolah kembali menjadi tempat lahirnya generasi emas yang sesungguhnya. []










Konten ini wajib di-share.