Dalam lembaran naskah Sunda kuno, khususnya Sanghyang Siksakandang Karesian, figur Guru hadir melampaui sekat-sekat definisi modern. Membedah konsep ini menuntut kita untuk menanggalkan kacamata filologis sejenak dan beralih pada sudut pandang teologis yang lebih mendalam. Di sana, kita akan menemukan bahwa Sanghyang Maha Guru bukanlah sekadar sosok “pengajar” yang mentransfer informasi, melainkan sebuah simpul kosmologis; ia adalah jembatan sakral yang menghubungkan manusia, alam semesta, dan entitas Ilahi.
Sebagai Poros Kosmos atau Axis Mundi, Sanghyang Maha Guru dalam pandangan Sunda kuno merepresentasikan sebuah prinsip, bukan hanya sekadar individu. Ia berdiri sebagai penjaga tatanan universal (rta/dharma) yang menjahit hubungan antara Buana Nyungcung (alam atas), Buana Panca Tengah (dunia manusia), dan Buana Larang (alam bawah). Tugasnya jauh lebih berat dari sekadar mengajar di dalam kelas; ia menjaga keseimbangan kosmis agar tetap harmonis. Dengan demikian, Guru menjadi pusat orientasi hidup, sebuah mercusuar yang menentukan arah keberadaan manusia, dan bukan sekadar sumur ilmu pengetahuan.
Kesakralan ini dipertegas melalui istilah “Sanghyang” yang melekat padanya. Gelar tersebut menandakan bahwa Sanghyang Maha Guru bukanlah manusia biasa, melainkan sebuah emanasi dari kekuatan tertinggi, yakni Hyang Tunggal. Dalam berbagai tafsir, sosok ini kerap dipadankan dengan konsep Siwa sebagai Adiguru. Di titik inilah guru bertransformasi menjadi jalur aktual bagi pengalaman ketuhanan; ia bukan lagi sekadar representasi simbolik Tuhan di bumi, melainkan sarana nyata bagi manusia untuk menyentuh aspek-aspek ketuhanan. Berbeda dengan tradisi barat yang seringkali terjebak dalam jaring rasionalistik, tradisi Sunda lebih menekankan pada aspek “Rasa”. Namun, rasa di sini bukanlah emosi dangkal, melainkan kesadaran halus yang mendalam. Peran guru dalam konteks ini adalah sebagai penyaring yang membuang rasa-rasa palsu—seperti ego, ilusi, dan emosi liar—untuk kemudian menuntun murid menuju “Rasa Sejati” atau kesadaran murni. Guru tidak hadir untuk menyuapi murid dengan jawaban-jawaban instan, melainkan untuk menghancurkan kebingungan batin yang membelenggu jiwa.
Namun, perjalanan menuju kesadaran ini tidaklah selalu manis. Ada sisi keras yang sering kali terlupakan: Guru sebagai penguji. Dalam teks-teks lama, seorang guru tidak hadir sebagai penghibur yang memanjakan muridnya. Ia bisa bersikap diam, dingin, bahkan tampak “kejam” secara pedagogis. Sikap ini diambil bukan tanpa alasan; tujuan utamanya bukanlah kenyamanan lahiriah, melainkan pembebasan batin yang hakiki. Guru sejati tidak bertugas membuat kita merasa baik tentang diri sendiri, tetapi menempa kita untuk menjadi benar di hadapan kebenaran. Oleh karena itu, relasi antara guru dan murid dalam konsep Sunda bukanlah sebuah transaksi material sebagaimana wajah pendidikan modern—di mana ada bayaran, ada pembelajaran, lalu selesai. Relasi ini adalah sebuah lelaku atau perjalanan spiritual. Seorang murid harus bersedia ngalalakon, menjalani laku hidup yang penuh dengan tirakat, disiplin, dan pengorbanan. Guru hanya berperan sebagai pembuka pintu gerbang; sementara langkah kaki yang menempuh jalan panjang tersebut tetaplah milik sang murid.
Di era sekarang, konsep luhur ini sangat rentan terhadap distorsi. Kita sering melihat penyimpangan di mana guru dianggap sebagai sosok yang “harus selalu benar”, yang pada akhirnya membuat murid menjadi pasif, tergantung, dan mudah dimanipulasi melalui otoritas yang disalahgunakan. Padahal, naskah kuno mengajarkan hal sebaliknya: Guru sejati justru membebaskan murid dari segala bentuk ketergantungan. Jika seorang tokoh justru menciptakan ketakutan, melarang muridnya berpikir kritis, atau membangun kultus pribadi yang memuja dirinya, maka ia bukanlah representasi Sanghyang Maha Guru, melainkan sebuah penyimpangan nyata.
Inti teologis yang paling tajam dari seluruh pemikiran ini adalah bahwa Guru hanyalah jalan, bukan tujuan akhir. Guru sejati pada akhirnya akan “menghilang” dan membiarkan muridnya berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Sebab, otoritas tertinggi bukanlah terletak pada sosok sang guru, melainkan pada kesadaran murni yang ia tunjukkan kepada dunia. Dalam cakrawala filosofis Nusantara dan kearifan lokal Sunda Wiwitan, Guru adalah penjaga harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Ia tidak selalu bekerja di dalam ruang-ruang formal, melainkan hadir dalam denyut kehidupan sehari-hari, dalam relasi sosial, dan dalam ketajaman laku batin. Guru sejati tidak selalu bertahta di singgasana yang tinggi; ia sering kali hadir secara bersahaja sebagai kehidupan itu sendiri.
Sekian dan terima kasih,
Bandung, 24 April 2026









