REPRESI  NARASI PADA FILM PESTA BABI

REPRESI NARASI PADA FILM PESTA BABI

Akhirnya nobar (nonton bareng) juga film berjudul Pesta Babi di kampus Fakultas Seni, Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung, pada 7 Mei 2026. Saya menyebut “akhirnya menonton” karena penasaran denga judul dan ceritera kawan yang sudah menonton film ini. Saking penasaran, saya sampai menulis status di medsos, meminta kawan-kawan untuk mengabari saya kalau ada acara nobar film itu. Dari iklan di medsos, sebenarnya saya bisa mengajukan untuk membuat acara nobar, asal ada 10 orang calon penonton. Tapi kupikir lebih baik ikutan pada acara nobar di tempat lain. Saya merasa perlu untuk menonton film ini secara utuh, agar tahu persis apa dan bagaimana film itu.

nobar pesta babi
Nobar Film Pesta Babi di kampus 4 Jl. Dr. Setiabudhi. Pemutaran film diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (FISS) UNPAS, dok. Foto Bambang Dubarnas.

Waktu dan tempat pemutaran film itu bergeser dari rencana awal. Semula direncanakan  diputar di kampus 1 di Tamansari bergeser ke kampus 4 Jl. Dr. Setiabudhi. Pemutaran film diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (FISS) UNPAS, untuk mahasiswa seni, khususnya mahasiswa Program Studi Fotografi. Pemutarannya diikuti degan sebuah diskusi yang membahas tentang teknis pembuatan film dokumenter dengan narasumber IGP Wiranegara, seorang film maker pemenang piala Citra untuk film dokumentasi. Sementara aspek isi film tidak dibahas. Mungkin karena itu pula pihak kampus mengijinkan untuk nobar film Pesta Babi. Berita di kanal-kanal online, nobar film ini di beberapa kampus, dibubarkan oleh aparat dan pihak kampus sendiri, menandakan ada sesuatu yang sensitif pada film itu.

Film PESTA BABI besutan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale secara tegas menyatakan sebagai film dokumenter tentang kolonisasi dan militerisasi tanah Papua oleh negara. Di penghujung film, talent-talent Papua berteriak “Papua bukan tanah kosong!”. Secara keseluruhan film ini bercerita tentang pembabatan hutan (deforestasi) ribuan hektar lahan di kawasan Papua Selatan (sekitar Digul) yang akan digunakan untuk perkebunan sawit dan sawah, dalam rangka  mewujudkan program nasional swasembada pangan dan energi.

Film dibuka dengan adegan sekelompok warga mengusung balok kayu utuh sepanjang 17 meter untuk dijadikan “salib merah”. Dinamakan demikian karena memang salib itu dicat merah. Bukan untuk menyalib manusia, tetapi didirikan sebagai tanda batas wilayah adat sekaligus peringatan agar pembabatan hutan tidak melewati salib merah itu. Ada puluhan salib merah berdiri diantara hutan yang sebagian sudah botak dibabat. Pembabatan hutan itu digambarkan masif menggunakan alat-alat berat. Sebarisan beko, tampak turun dari kapal, melewati jalan perkampungan dan hutan. Deru mesin dan kepulan asap knalpotnya membangkitkan suasana mencekam. “Saya tidak tahu, tiba-tiba ada alat-alat berat sudah ada disitu”, ujar salah seorang perempuan warga Papua. Dilatar belakang tampak rice coocker, bekas kemasan makanan dari styrofoam, dan peralatan dapur lainnya. Pada bagian lain tampak tentara berbaris menuju sebuah tempat, kemudian disusul footage tentara menembak ke arah hutan, mengasosiasikan suasana perang. Ada footage yang sangat menyentuh ketika seekor burung kiwi (?) yang berjalan tertatih di tanah lumpur di bawah lengan beko. Footage dengan pesan yang kuat tentang situasi yang tengah berlangsung di Papua.

Penyiapan lahan pertanian itu telah menggusur tanah-tanah adat warga lokal. Prosesnya melibatkan tentara, dengan tujuan “pengamanan” dari para penentang dan kelompok sparatis OPM (Organisasi Papua Merdeka).  Deforestasi itu bakan hanya soal hutan dan lahan, tetapi juga soal hilang dan berubahnya ekosistem budaya masyarakat adat. Hutan bagi masyarakat Papua adalah sendi kehidupan. Di sana mereka mencari makan, menemukan obat, dan memelihara adat leluhur. Barangkali mengibaratkannya sebagai kehilangan Rumah (dengan R besar) untuk menggambarkan deforestasi itu, masih belum sepadan. Kehilangan juga berati hilangnya tata nilai yang sementara ini menghidupi masyarakat adat. Agaknya karena itulah pembuat film ini menyebutnya sebagai kolonisasi, frasa yang memang terasa provokatif.

Menonton film berdurasi sekitar 95 menit ini rasanya terlalu panjang. Titik jenuh mulai terasa pada sekitar pertengahan durasi film. Sepanjang film diisi suara narasi – yang nyaris terasa “cerewet”. Data kuatitatif  disuguhkan untuk meyakinkan penonton. Dalam hal ini, gambar  pada akhirnya hanya berfungsi sebagai ilustrasi belaka. Gambar diberangus kekuatannya untuk bicara. Mungkin karena pembuatnya berlatar belakang seorang jurnalis, atau karena mempertimbangkan audiens “awam” agar pesannya mudah dimengerti. Tentang kekuatan gambar ini, saya jadi teringat pada film “Baraka”, sebuah film dokumenter tanpa narasi garapan Ron Fricke (1992). Pada film Baraka, isi pesan sepenuhnya diusung oleh kekuatan gambar yang justru terasa lebih menyentuh dan komunikatif. Imajinasi penonton dibiarkan merdeka mengembara membangun narasinya sendiri di dalam kepala, tanpa represi narasi yang diucapkan oleh narator. Tapi, oke lah. Lebih dari itu, saya kira film ini merupakan karya dokumenter yang digarap serius melalui salah satu sudut pandang. Saya apresiasi untuk film ini. Ada satu narasi dalam film itu – entah di menit ke berapa, tapi kira-kira ditengah – kalimatnya berbunyi kira-kira: “kebutuhan akan pangan dunia akan terus meningkat di tengah keterbatasan lahan”.

Salam.

Pesan HAM dari Jenewa
Baca Tulisan Lain

Pesan HAM dari Jenewa


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *