Kemeriahan acara dalam rangkaian Karnaval Binokasih di panggung utama yang berlokasi di halaman Kantor Bupati Kabupaten Tasikmalaya, 04/0526. dok. foto SSS.
Singaparna | Kemeriahan luar biasa mewarnai kawasan Singaparna pada Senin malam, 4 Mei 2026, saat iring-iringan Kirab Mahkota Binokasih Sanghyang Pake melintas di tengah ribuan masyarakat yang tumpah ruah. Sejak pukul 18.30 WIB, arus lalu lintas di sejumlah titik krusial seperti Simpang Empat Muktamar, Simpang Tiga Kudang, hingga Simpang Tiga Gebu telah dialihkan oleh Satlantas Polres Tasikmalaya demi memberikan ruang bagi prosesi budaya yang menjadi bagian dari agenda besar Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gemuruh antusiasme warga ini bukan sekadar luapan kegembiraan menonton pawai, melainkan bentuk penghormatan kolektif terhadap sebuah benda cagar budaya yang menyimpan narasi panjang tentang kedaulatan dan jati diri bangsa. Mahkota yang terbuat dari emas murni ini merupakan simbol otoritas tertinggi yang mewarisi kearifan para raja di masa lampau yang memimpin dengan penuh kebijaksanaan.

Prosesi ini mengambil rute simbolis yang dimulai dari Universitas Cipasung menuju pusat seremoni di Kompleks Pemkab Tasikmalaya. Sebelum iring-iringan bergerak, suasana di halaman Universitas Cipasung sudah dipenuhi warga yang ingin melihat dari dekat kereta kencana pengangkut mahkota yang legendaris tersebut. Kereta kencana tersebut tampak anggun dengan hiasan ragam bunga segar yang menutupi badan kereta, menciptakan aroma wangi yang menyeruak di antara kerumunan. Syifa Siti Sofia, salah seorang warga yang sempat berfoto di depan kereta tersebut, mengungkapkan bahwa aroma dari kereta kencana itu sangat harum sehingga memberikan kesan sakral sekaligus cantik bagi siapa pun yang mendekat. Pengalaman sensorik ini menjadi bagian dari dramaturgi acara yang tidak terlupakan, di mana detail mikro seperti rintik keringat para penjaga yang mengenakan pakaian adat lengkap hingga kilatan lampu blitz kamera ponsel warga menciptakan atmosfer dramatik di titik keberangkatan.

Di barisan utama, tampak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berjalan bersinergi dengan Bupati Tasikmalaya, H. Cecep Nurul Yakin, serta Dandim 0612/Tasikmalaya, Letkol Czi M. Imvan Ibrahim. Kehadiran 20 ekor kuda dari satuan Kavaleri TNI Angkatan Darat yang gagah dengan derap langkah yang serempak di atas aspal turut menambah kewibawaan kirab, menegaskan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab lintas , sektor yang melibatkan pertahanan dan keamanan. Gubernur Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa rangkaian karnaval ini bergerak membawa narasi sejarah Sunda dari Kawali hingga terbentuknya Kasultanan Cirebon. Namun, misi ini tidak berhenti pada urusan seremonial semata. Beliau menegaskan bahwa daerah yang dilewati kirab akan mendapatkan perhatian khusus dalam pembangunan fisik, mulai dari renovasi situs sejarah hingga penataan infrastruktur lingkungan seperti jalan dan trotoar, demi mewujudkan Jawa Barat yang bersih secara menyeluruh.

Jika menilik jauh ke belakang, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake memiliki kisah heroik yang bermula pada masa pemerintahan Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri, Raja Sumedang Larang ke-9. Kala itu, pengaruh kekuatan Pajajaran mulai melemah akibat serangkaian serangan dari pasukan Surasowan Banten, yang mengakibatkan kerajaan-kerajaan bawahan Pajajaran kehilangan pengawasan dan menyatakan kemerdekaannya secara de facto. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian tersebut, Prabu Ragamulya Suryakancana mengambil keputusan strategis untuk menyelamatkan pusaka Pajajaran sebagai lambang eksistensi kekuasaan di Tatar Sunda. Beliau memerintahkan empat senapati pilihannya untuk membawa Mahkota Binokasih ke Sumedang Larang. Keempat senapati tersebut, yakni Sanghyang Hawu (Jaya Perkosa), Batara Dipati Wiradidjaya (Nangganan), Sangyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot, berangkat menyamar sebagai Kandaga Lante bersama rombongan rakyat yang mengungsi.

Perjalanan penyelamatan tersebut tidaklah mudah dan penuh dengan strategi pengecohan. Latif, Kabid Cagar Budaya Majelis Cendekiawan Keraton Nusantara (MCKN) Jabar sekaligus kerabat Keraton Sumedang, mengisahkan bahwa rombongan pengungsi sempat dibagi dua; satu menuju Sumedang dan lainnya mengarah ke pantai selatan untuk mengecoh pengejaran. Tepat pada hari Jumat Legi, 22 April 1578, yang bertepatan dengan momentum Idulfitri di Keraton Kutamaya Sumedanglarang, keempat Kandaga Lante tersebut menyerahkan Mahkota Binokasih yang dibuat pada era Prabu Bunisora Suradipati (1357–1371) kepada penguasa Sumedanglarang. Penyerahan mahkota ini menjadi titik balik sejarah, di mana Pangeran Angkawijaya kemudian dinobatkan sebagai Prabu Geusan Ulun (1578–1601), nalendra penerus sah kerajaan Sunda yang mewarisi wilayah bekas kekuasaan Pajajaran.

Legitimasi Prabu Geusan Ulun sebagai penguasa baru diabadikan dalam Pustaka Kertabhumi yang menyebutkan bahwa beliau memerintah wilayah Pajajaran yang telah runtuh di bumi Parahiyangan. Istilah nyakrawartti yang disematkan kepadanya menunjukkan kekuasaan yang merdeka dan luas, meliputi batas Sungai Cipamali di timur hingga Sungai Cisadane di barat, serta membentang dari Samudra Hindia di selatan hingga Laut Jawa di utara. Meskipun saat itu Pangeran Angkawijaya baru berusia 22 tahun—kurang sedikit dari tradisi usia raja yakni 23 tahun—beliau mendapat dukungan penuh dari empat senapati legendaris keturunan Prabu Bunisora Suradipati. Dukungan ini memastikan stabilitas wilayah Sumedanglarang yang cakupannya hampir menyamai wilayah Jawa Barat modern saat ini, mempertegas kedudukan Mahkota Binokasih bukan sekadar perhiasan emas, melainkan jantung dari identitas Sunda itu sendiri.
Secara filosofis, struktur mahkota yang memiliki tiga susunan merepresentasikan konsep Sunda Tritangtu, yakni silih asah, silih asih, dan silih asuh. Dengan membawa simbol sekuat ini berkeliling daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap masyarakat tidak hanya mengagumi keindahan fisiknya, tetapi juga menyerap nilai-nilai kearifan lokal sebagai pondasi membangun karakter bangsa di tengah derasnya arus modernisasi. Setelah sukses menggetarkan Tasikmalaya dengan semangat “Nyukcruk Galur Galunggung”, rombongan kirab dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Garut pada hari ini, Selasa, 5 Mei 2026. Momentum ini menjadi bukti nyata bahwa jejak sejarah masa lalu tetap hidup dan terus menjadi kompas bagi pembangunan Jawa Barat yang maju tanpa kehilangan akar tradisinya. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Walikota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan hingga budayawan Abah Anton Charlian kian menegaskan komitmen kolektif dalam menjaga martabat sejarah bangsa agar tetap bersinar bagi generasi mendatang. []









