—Sebuah catatan spekulatif
I
Jumat, 8 Mei 2026, sampailah mahkota Binokasih di kota Bogor setelah diarak ke beberapa kabupaten/kota di Jawa Barat dalam event kirab budaya bertajuk “Napak Tilas Pajajaran”. Dalam sambutannya yang saya tonton di kanal youtube Gubernur Jabar KDM (Kang Dedi Mulyadi) berkata : “ieu teh munggaran, makuta Binokasih mulih ka jatina mulang ka asalna” (inilah waktu perdana mahkota Binokasih kembali lagi kepada kesejatian asalnya). Saya merasakan ucapan itu diliputi oleh semacam keharuan primordial kepada kejayaan Pakuan Pajajaran. Keharuan dengan spirit untuk mengangkat kesejatian budaya Sunda, supaya“jati teu kasilih ku junti” yang bermakna budaya dan kehidupan orang Sunda tidak/jangan tergeser oleh budaya lain dalam persaingannya. Pertemuan mahkota Binokasih dengan Batutulis ibarat pertemuan keluarga yang hilang selama 4 abad. Perpisahan keduanya terjadi dalam suasana duka yang mendalam. Mahkota itu “terpaksa” harus diungsikan dan dititipkan ke keraton Sumedang (1578) karena Pakuan Pajajaran sedang mengalami keruntuhannya. Pertemuan keduanya pada acara kirab itu tampak sangat mengharukan. Beberapa orang tampak meneteskan air mata, memeperlihatkan ikatan emosional yang mendalam terhadap Pajajaran.

Dalam catatan ini saya tidak akan mengulas soal sejarahnya, karena informasinya banyak tersebar di internet. Silakan pembaca googling sendiri. Demikian pula saya tidak akan membahas soal bagaimana membangkitkan budaya sunda di tengah kenyataan masyarakat dan budaya hybrid yang tengah berlangsung, walaupun hal ini bisa menjadi obrolan kritis yang menarik. Saya tertarik pada tampakan visual mahkota Binokasih itu sendiri. Saya sudah dua kali melihat mahkota itu beberapa tahun lalu di Museum Geusan Ulun, Sumedang. Sejak pertama kali melihat, saya dihantui kepenasan dengan pertanyaan: benarkah bentuk mahkota raja Sunda pada sekitar abad ke 16 seperti itu? Saya kemudian mencari-cari rujukan visualnya, tapi sampai saat ini belum menemukan. (Jika pembaca mempunyai rujukan visualnya, silakan ditulis di komentar) .
Pertanyaan diatas didasarkan pada beberapa asumsi:
1. Wujudnya yang “terlalu sempurna” untuk sebuah artefak buatan pertengahan abad 16, artinya telah berusia 4 abad. Bahwa benda itu pernah dilarikan dari Bogor menuju ke Sumedang melalui hutan dan jalan setapak oleh 4 orang kandaga lante berhari-hari dalam keadaan yang tidak aman, tidak tampak jejaknya. Apakah mahkota itu dibuntel kain atau dimasukkan kedalam koropak? Jika dibungkus kain, mengapa tidak terlihat ada penyok-penyoknya barang sedikitpun? Jika dimasukkan kedalam kotakpun demikian, tentu ada penyuk-penyok sedikit pada ujung-ujungnya yang runcing itu, apalagi jika mahkota itu terbuat dari emas yang memiliki sifat lebih kelenturan dibandingkan logam lainnya. Belum lagi jika diandaikan mahkota itu terbuat dari emas, bagaimana menjagai logam mulia yang demikian berharga selama 4 abad tanpa mengundang orang jahil untuk mengutilnya, sementara Sumedang pernah diserbu oleh pasukan Banten dan Bugis pada tahun 1678? Sementara jika dilihat dari aspek teknik, juga tampak sempurna nyaris tanpa cacat. Keratan logam, ornamen dengan teknik kenteng logam, tampak akurat dan presisi. Ini tidak bermaksud merendahkan kemampuan teknik pembuatan, tapi justru karena kesempurnaan jejak alat pembuatan dan kisah perjalanannya yang demikian panjang itu membangkitakan sejumlah pertanyaan ini.

2. Jika bentuk dan ornamen mahkotanya seperti yang dapat kita lihat sekarang, seperti apakah busana dan singgasananya? Karena tidak mungkin mahkota seperti itu dikenakan dengan busana polosan. Ornamentasi itu tentu ada pada busana, singgasana, dan elemen-elemen pada arsitektur keraton. Kita ambil cotoh ornamentasi pada wayang misalnya, mahkota dikenakan bersama kelengkapan busananya: hiasan leher, lengan, badan, dodot hingga kaki. Logisnya demikian. Secara visual, mahkota itu memiliki kemiripan dengan mahkota pada wayang, yang berjenis mahkota praban seperti yang dikenakan oleh Ramawijaya, Kresna, atau Baladewa. Apakah busananya juga demikian? Atau bisa jadi raja Pajajaran pada masa itu, tidak mengenakan pakaian ala wayang, tetapi seperti tetua adat di kasepuhan-kasepuhan desa adat di Sunda yang cukup mengenakan iket dan pangsi dari bahan yang berkualitas?
Ini semua adalah spekulasi visual berdasarkan hubungan logis melalui bentuk mahkota Binokasih.

II
Seperti yang saya katakan diatas, rujukan visualnya sampai sekarang belum ditemukan, akan tetapi terdapat gambaran deskritif tentang tampakan keraton Pakuan pada masa itu. Gambaran deskriptif itu diantaranya, dilaporkan oleh Tome Pires, seorang penjelajah Potugis yang berkunjung ke Pajajaran pada sekitar tahun 1512-1515, pada saat Pajajaran diperintah oleh Sri Baduga Maharaja. Dalam bukunya Suma Oriental, Tome Pires menggambarkan seperti berikut:
“Raja Sunda beragama hindu, wilayahnya sampai sungai Cimanuk. Orang Sunda berwajah tampan dan bertubuh kuat. Memiliki 400 kuda dan 40 gajah. Orang Sunda membuat kapal sendiri dengan bobot mencapai 150 ton untuk berdagang ke Malaka. Kota tempat raja bernama “Dayeuh”, dengan rumah-rumah yang bagus dari kayu beratap daun kelapa. Istana raja memiliki 330 tihang kayu dengan tinggi 7 meter dan diukir indah. Kayu penyanggah atap juga diukir Indah.”. Ini menunjukkan keahlian meghias dengan ukiran sudah digunakan pada masanya.
Tentang kekayaan emas – yang mungkin digunakan untuk membuat mahkota – Tome Pires menuliskan “Sunda mempunyai emas yang kadarnya 8 mate (karat)”.
Berdasarkan catatan Tome Pire, tergambar bahwa Pajajaran pada pertengahan abad 16, merupakan kerajaan yang tenteram, melakukan perdagangan luar negeri, rakyatnya sejahtera di tanah yang subur gemah ripah lohjinawi.
Gambaran visual keraton juga bisa ditelusuri pada naskah Bujangga Manik. Bujanggamanik-seperti diketahuai-adalah putra Pajajaran yang melakukan perjalanan ke arah Timur sampai ke Bali, untuk memperdalam ilmu. Ia melakukan perjalanan dua kali. Ia mencatat perjalanan itu dalam sebuah diary. Perjalanan pertama dari Bogor sampai Pemalang, kemudian kembali manumpang perahu Malaka, turun di Sundakalapa (Jakarta). Ketika sampai di istana, ia menggambarkannya sebagai berikut: (terjemahannya)
“Setelah sampai di Pakeun Teuluk, setiba di Pakancilan, aku membuka pintu gerbang, dan pergi menuju rumah tamu, rumah tamu yang dihias dengan baik. Pamikul yang dihiasi dengan indah, balok lintang diikat dengan baik, diwarnai merah tua, pilar perabungan yang disepuh prada, lantai dan pilar-pilar yang terbuat dari bambu betung tua, diikat bersama dengan ikatan ala Jawa.“
pada paragraf lain, ia menggambarkan:
“Yang menarik adalah beberapa jenis tirai, tirai-tirai dilipat tujuh kali, tirai yang cantik dengan pinggiran yang terbuat dari sutra, tirai pahang dengan pinggiran merah, bedong dengan pinggiran dari kain bayambon, baling dengan pinggiran yang terbuat dari kain kaeambang”.
Lantas, dari mana kemungkinan desain bentuk mahkota Binokasih merujuk? Melihat bentuknya menyerupai bentuk mahkota pada wayang. Beberapa catatan online mengatakan bahwa bentuknya diinspirasi oleh mahkota dewa Indra. Tentu yang dimaksud adalah gambaran dewa indra pada wujud wayang, karena dewa tak mungkin bisa dilihat. Apakah visual wayang sudah dikenal pada pertengahan abad 16 itu? Bujangga manik menuiskan pada paragraf lain seperti ini:
“Aya liwat ti sakitu: digapay na ebal ageung, dicokot na boeh limur, dicokot na sabuk wayang, keris malela sapucuk, awaya sareana(na?), pahi deungeun buah reu(m)beuy. (Ada pula benda-benda lainnya: Dicari tas besar miliknya, diambilnya pakaian lemur, ikat pinggang dengan gambar wayang, sebilah keris malela, semua benda itu menakjubkan, bersama-sama buah reumbeuy.)” Hisan wayang yang ada pada ikat pinggang, menunjukkan bahwa visual wayang sudah digunakan pada masa itu.
Jadi, apakah bentuk dan ornamen pada mahkota Binokasih seperti yang kita lihat hari ini memang seperti itu, atau rekaan pada masa berikutnya setelah Sumedang mendapat pengaruh Jawa Mataram? Jika benar bentuk dan ornamen mahkota seperti yang kita lihat hari ini, asumsinya tradisi menghias dan kekayaan ornamen Pajajarn tentulah sangat kaya. Hubungan logisnya, ornamentasi tentu tampil juga pada istana/arsitektur, busana, dan benda-benda perabotan lainnya. Namun semuanya musnah tak berjejak. Apakah karena ornamen-ornamen itu dibuat pada benda yang mudah rusak, “dicuri” pendatang, atau sengaja disembunyikan ?
Ya, ini sekedar catatan spekulatif tentang visual. Disklaimer, saya bukan ahli sejarah, saya orang visual sehingga lihatan saya berada dalam ranah visual itu. Pembaca, jika ada referensi lain soal Binongkasih, boleh berbagi informasi disini.
notes: saya tampilkan gambar mahkota pada wayang, yang secara visual memiliki kemiripan deng Binokasih. Sementara lukisan Sribaduga Maharaja, adalah lukisan imajinatif dari pelukis. Pada lukisan itu Sribaguga tidak mengenakan mahkota Binokasih.
Salam, 10/05/2026
bung Bung Barnaz
Sumber:
- Tome Pires, SUMA ORIENTAL, terjemahan oleh Council of Hakluyt Society, London, 1944; terjemahan IrCiSod 2025.
- Kitab Bujanggamanik.
- Soekatno, BA., WAYANG KULIT PURWA, 1992, Aneka Ilmu, Semarang.


