Percakapan yang kelihatannya sederhana, tapi terkadang justru membuka pintu menuju pertanyaan yang jauh lebih besar. Seperti saat saya berbincang dengan Bapak Endjang Dimjati, yang biasa dipanggil Abah Endjoem di Padepokan Bumi Ageung Saketi. Di tengah percakapan, ia mengatakan sesuatu yang sederhana, bahwa berjalan tanpa alas kaki, atau nyeker, sekarang sudah semakin jarang dilakukan. Sebagai komunitas seni yang berfokus pada kesenian Sunda, Abah Endjoem setiap tahun selalu mengadakan Festival Nyeker, sebagai wujud dari menjaga warisan, menjaga alam, serta menjaga masa depan.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Saya terdiam sebentar. Benar juga. Di rumah ada sandal. Keluar rumah memakai sepatu. Ke kantor memakai sepatu. Ke pusat perbelanjaan memakai sepatu. Bahkan untuk berjalan sebentar ke halaman, kita sering merasa ada sesuatu yang kurang kalau kaki tidak mengenakan alas. Seolah-olah tanah adalah sesuatu yang harus dihindari. Padahal, persoalannya bukan semata-mata tentang sandal atau sepatu. Bisa jadi, nyeker sedang mengingatkan kita pada sesuatu yang jauh lebih mendasar: tubuh manusia pernah memiliki hubungan yang lebih langsung dengan bumi.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Abah Endjoem kemudian mengingatkan tentang penelitian Dr. Suzanne Simard dari University of British Columbia, Kanada. Pada 1997, Simard dan koleganya menerbitkan penelitian di Nature tentang hubungan antarpohon melalui jaringan jamur mikoriza. Penelitian itu menunjukkan bahwa pohon dari spesies berbeda dapat terhubung melalui jaringan miselium jamur dan terjadi perpindahan karbon di antara tanaman yang terhubung tersebut. Hutan ternyata bukan sekadar kumpulan pohon yang berdiri sendiri-sendiri. Di bawah permukaan tanah terdapat jaringan yang tidak kasatmata. Akar, jamur, air, mineral, karbon, dan organisme lain membentuk hubungan yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di permukaan.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Memang, penelitian Simard tidak membuktikan bahwa manusia yang berjalan tanpa alas kaki memperoleh manfaat kesehatan melalui jaringan mikoriza. Tidak ada hubungan ilmiah langsung antara penelitian Simard tentang jaringan pohon dan praktik nyeker manusia. Namun secara filosofis, ada sebuah pertemuan gagasan yang menarik: kehidupan ternyata jauh lebih terhubung daripada yang terlihat oleh mata. Pohon tidak benar-benar sendirian. Manusia pun mungkin tidak benar-benar terpisah dari lingkungannya. Tanah bukan sekadar benda yang kita injak, melainkan bagian dari ekosistem tempat kehidupan berlangsung. Di situlah nyeker memperoleh maknanya.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Dalam literatur earthing atau grounding, terdapat hipotesis bahwa kontak langsung tubuh dengan permukaan bumi memungkinkan terjadinya pertukaran elektron dan perubahan tertentu pada aspek fisiologis tubuh. Hal yang sama dinyatakan dalam penelitian yang dilakukan oleh James L. Oschman, Gaétan Chevalier, dan Richard Brown. Dalam penelitian tersebut, disebutkan bahwa earthing atau menghubungkan tubuh langsung dengan permukaan bumi adalah cara alami dan sederhana untuk meredakan peradangan kronis. Struktur dasar tubuh kita pada dasarnya bekerja seperti sistem antioksidan alami. Agar fungsi pertahanan ini bekerja maksimal, tubuh perlu sesekali “diisi ulang” dengan cara bersentuhan langsung dengan bumi, yang bertindak sebagai baterai alam.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Dengan kata lain, grounding adalah bidang penelitian yang menarik, tetapi belum waktunya diperlakukan sebagai obat segala penyakit. Manusia modern sering memiliki dua kebiasaan yang sama-sama berbahaya: menolak sesuatu hanya karena berasal dari tradisi, atau mempercayainya secara berlebihan hanya karena terdengar ilmiah. Keduanya sama-sama tidak sehat.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Ada alasan lain mengapa nyeker menarik perhatian saya. Kaki manusia bukan sekadar alat untuk berpindah tempat. Telapak kaki memiliki banyak reseptor sensorik yang mengirimkan informasi tentang permukaan yang disentuh kepada sistem saraf. Ketika kaki menyentuh tanah, tubuh menerima informasi tentang tekstur, tekanan, kemiringan, dan perubahan permukaan. Penelitian mengenai kaki telanjang dan alas kaki menunjukkan bahwa kondisi permukaan serta jenis alas kaki dapat memengaruhi masukan sensorik, pola berjalan, dan keseimbangan.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Ketika anak kecil berjalan di atas rumput, ia berhenti sejenak untuk merasakan dingin. Kemudian saat pindah ke tanah kering, berjalan di atas batu kecil, menghindari ranting, merasakan lumpur. Tubuhnya sedang membaca dunia. Namun, kehidupan modern perlahan mengurangi pengalaman itu. Aspal dibuat rata, lantai dibuat keras dan seragam. Kaki memakai sepatu dan menghabiskan sebagian besar hari di ruangan tertutup. Kita bukan hanya semakin jauh dari tanah secara geografis, tetapi juga kehilangan pengalaman sensorik yang sederhana tentang dunia.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Saya akhirnya memahami perkataan Abah Endjoem bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai keprihatinan terhadap perubahan kebudayaan. Dahulu, orang pergi ke kebun, sawah, sungai, halaman, hutan, dan jalan kampung tanpa berpikir bahwa kaki harus dilindungi oleh lapisan antara tubuh dan bumi. Mereka nyeker bukan karena telah membaca jurnal tentang grounding. Mereka tidak mengenal istilah kortisol, radikal bebas, sistem saraf parasimpatik, atau mikoriza sebagaimana kita mengenalnya sekarang. Kehidupan memang berlangsung lebih dekat dengan alam.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Alas kaki dahulu tidak selalu tersedia. Aktivitas sehari-hari berlangsung di luar rumah: bertani, berjalan, mengambil air, mencari makanan, bermain, pergi ke kebun. Bahkan berpindah dari satu tempat ke tempat lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, ketika hari ini kita menemukan kembali praktik tersebut dan memberinya istilah ilmiah seperti grounding, jangan sampai kita melakukan kekeliruan sejarah, seolah-olah leluhur kita sedang menjalankan protokol kesehatan modern. Tidak. Mereka sedang menjalani kehidupannya. Pertanyaannya justru berbalik kepada kita: ketika cara hidup kita semakin asing dari alam, apa yang sebenarnya sirna dari diri kita?(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Pertanyaan itu mengingatkan kepada masyarakat Kanekes di Banten. Urang Kanekes, yang oleh masyarakat luas lebih sering disebut Baduy, memberikan contoh yang menarik. Pada masyarakat Kanekes Dalam, tidak menggunakan alas kaki merupakan bagian dari aturan adat. Sumber kebudayaan dan penelitian mengenai masyarakat Kanekes mencatat bahwa larangan menggunakan alas kaki merupakan bagian dari pikukuh mereka. Bahkan pada Seba Baduy bulan April 2026, sekitar 1.500 orang Kanekes berjalan kaki menuju pusat pemerintahan Banten dalam perjalanan puluhan kilometer, dan tradisi itu dilakukan tanpa alas kaki.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Namun, jangan buru-buru mengatakan bahwa orang Kanekes nyeker demi mendapatkan manfaat grounding. Itu justru akan menyederhanakan kebudayaan mereka. Bagi Kanekes Dalam, tidak memakai alas kaki bukan sekadar persoalan kesehatan. Ia merupakan bagian dari tata kehidupan dan kepatuhan terhadap adat.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Kita sering memisahkan manusia dari alam. Ketika tubuh mulai lelah, pikiran mulai penuh, tidur terganggu, dan kehidupan terasa semakin artifisial, kita kembali mencari alam sebagai terapi. Ironisnya, hubungan dengan alam yang semakin jauh itu kemudian dijual kembali dalam bentuk wellness. Tanah yang dahulu merupakan bagian dari kehidupan menjadi paket wisata. Hutan menjadi healing retreat. Berjalan di rumput menjadi terapi. Berkebun menjadi kegiatan akhir pekan. Meditasi di alam menjadi produk. Sementara masyarakat adat, yang sejak lama menjaga hubungan keseharian dengan alam, justru sering dianggap belum sepenuhnya memasuki modernitas.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Persoalannya bukan karena kita memakai sepatu. Sepatu adalah penemuan manusia yang penting, melindungi kaki dari benda tajam, panas, dingin, infeksi, dan berbagai bahaya lingkungan. Masalah muncul ketika sepatu tidak lagi hanya menjadi pelindung kaki, tetapi menjadi metafora jarak. Kita membuat jarak dengan tanah, dengan tubuh, dengan lingkungan, bahkan dengan diri sendiri. Kita berjalan, tetapi tidak benar-benar merasakan jalan. Kita tinggal di kota, tetapi tidak mengenal tanah tempat kota itu berdiri. Kita makan, tetapi tidak tahu dari mana makanan berasal. Kita berbicara tentang lingkungan, tetapi jarang menyentuh tanah. Kita berbicara tentang kesehatan mental, tetapi hidup semakin jauh dari ruang terbuka. Kita berbicara tentang keberlanjutan, sementara tanah terus diperlakukan seperti komoditas yang bisa dibeli, dijual, dipadatkan, ditutup beton, lalu dilupakan. Nyeker tentu bukan solusi untuk semua itu. Namun, ia setidaknya dapat mengajukan sebuah pertanyaan.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Kapan terakhir kali kaki kita benar-benar menyentuh tanah? Bukan lantai keramik, aspal, atau beton, melainkan tanah, rumput, pasir, batu, lumpur—permukaan bumi yang tidak dibuat manusia. Bukan untuk mencari resep medis yang harus dipercaya secara membabi buta, melainkan untuk memberi tubuh kesempatan berhenti sejenak. Berjalan pelan. Merasakan dingin, kasar, basah. Merasakan tubuh sendiri. Mungkin dalam keheningan itu kita menemukan sesuatu yang selama ini hilang: kesadaran bahwa tubuh kita tidak berdiri di luar alam. Kita adalah bagian darinya. Dalam dunia yang semakin digital, manusia justru membutuhkan kembali pengalaman yang sangat analog, yaitu kaki menyentuh bumi.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Di tengah masyarakat yang semakin sibuk terhubung lewat internet dan media sosial, ada jaringan yang jauh lebih tua daripada internet: jaringan kehidupan. Jaringan tanah, jaringan akar, jaringan air, serta jaringan manusia. Suzanne Simard menunjukkan kepada kita bahwa di bawah hutan terdapat hubungan yang tidak terlihat. Abah Endjoem pun mengingatkan bahwa kaki manusia pernah memiliki hubungan yang sederhana dengan tanah. Keduanya tidak perlu dipaksakan menjadi satu teori ilmiah. Cukuplah kita membacanya sebagai dua pintu menuju satu kesadaran: yang tampak terpisah belum tentu benar-benar terpisah.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Barangkali itulah yang membuat nyeker penting. Bukan sekadar melepas sandal. Bukan pula sekadar mengejar elektron bumi. Nyeker adalah tindakan kecil untuk mengembalikan tubuh kepada kenyataan. Sebelum menjadi pengguna gawai, pekerja kantor, konsumen, pemilik rumah, warga negara, pengguna media sosial, atau siapa pun kita hari ini, kita adalah makhluk biologis yang hidup di atas bumi.(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Kaki kita pernah mengenal tanah. Hanya saja kehidupan modern membuat kita lupa. Sesekali, kita memang perlu melepas alas kaki, agar kaki kembali mengingat sesuatu yang telah lebih dahulu diketahui oleh leluhur kita: bahwa bumi bukan sekadar tempat kita berpijak. Bumi adalah bagian dari kehidupan yang membuat kita ada. (jbp 03/10/2026)(Source: kosapoin.com/festival-seni-nyeker-saat-kaki-kembali-mengingat-tanah)
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown









