Tahu kan kisah Ratu Shima? Ya, dia adalah perempuan cantik yang berkuasa di Jawa Tengah pada abad ke-6 hingga ke-7. Pusat kekuasaannya berada di Kalingga, sekitar wilayah Jepara sekarang. Ia menjadi ratu menggantikan suaminya yang wafat lebih dulu. Sejumlah catatan mengabarkan bahwa pada masa pemerintahannya, Kalingga mengalami masa kejayaan dan disegani oleh kerajaan-kerajaan lain. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera, serta ia membangun sistem irigasi bernama subak untuk mengembangkan sektor pertanian.(Source: kosapoin.com/ratu-shima-dan-pagar-tinggi)
Ratu Shima dikenal sangat tegas dan adil dalam menegakkan hukum. Setiap pencuri dan pelanggar hukum akan dijatuhi hukuman berat tanpa pandang bulu. Ada kisah terkenal yang kerap diceritakan untuk menggambarkan ketegasan sang ratu. Konon—demikian Wikipedia menuliskan—seorang pendatang Arab penasaran dengan ketegasan sang Ratu dan ingin mengujinya. Ia meletakkan sekantung emas di sebuah perempatan kota untuk melihat apakah kantung itu akan hilang atau tidak. Selama tiga tahun, kantung tersebut tidak ada yang berani menyentuhnya, hingga suatu hari tak sengaja tersentuh oleh kaki sang pangeran mahkota. Betul saja, Ratu Shima tetap menghukum putra mahkota tersebut dengan hukuman memotong kakinya.(Source: kosapoin.com/ratu-shima-dan-pagar-tinggi)
Membayangkan kisah sejarah di atas, betapa rakyat Kalingga hidup tenteram tanpa diliputi kekhawatiran karena dilandasi rasa saling percaya. Sepertinya tidak seorang pun yang berani mencuri atau melakukan kejahatan karena mereka “takut” dengan hukum yang ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu. Jika saat itu ada orang yang mengunci rumahnya, mungkin ia akan ditertawakan atau bahkan masyarakat merasa terhina dengan kunci tersebut. Apalagi jika menggunakan pagar, karena pagar memperlihatkan dengan nyata bahwa si penghuni rumah merasa khawatir dengan keamanan dirinya dan mencurigai lingkungan sekitar. Pagar adalah pernyataan jujur tentang rasa tidak aman, kekhawatiran, dan hilangnya kepercayaan terhadap lingkungan untuk saling menjaga.(Source: kosapoin.com/ratu-shima-dan-pagar-tinggi)
Kini, media ramai menyoroti beberapa mal di kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, and Bekasi yang membangun pagar-pagar tinggi di sekelilingnya. Pihak wali kota bahkan harus turun tangan meyakinkan pemilik mal bahwa keadaan aman.(Source: kosapoin.com/ratu-shima-dan-pagar-tinggi)
“Jangan sampai kemudian ini menjadi image bahwa Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Padahal, menurut saya, sebagai Gubernur Jakarta, dan saya melakukan koordinasi dengan aparat keamanan dan aparat penegak hukum di berbagai sektor, meyakini bahwa Jakarta aman-aman saja,” ujar Pramono Anung. Pagar pun akhirnya dibongkar.(Source: kosapoin.com/ratu-shima-dan-pagar-tinggi)
Yup! Pagar tinggi itu adalah ungkapan paling jujur tentang kekhawatiran dan perasaan tidak aman. Ia adalah symptom (tanda) dari kondisi sosial yang tengah berlangsung. Ketimpangan, kriminalitas, premanisme, dan—mungkin—trauma kerusuhan 1998 membayangi para pemilik mal. Jika saja rasa aman itu benar-benar hadir, pagar tersebut tidak mungkin dibuat, sebab memagari diri juga berarti membatasi konsumen untuk masuk. Pagar adalah simbol ketidakpercayaan terhadap lingkungan luar, seindah apa pun ia dibuat. Ujung pagar besi berhias bunga runcing bahkan seolah mengancam balik siapapun yang melewatinya dengan berkata, “Awas lu!!”(Source: kosapoin.com/ratu-shima-dan-pagar-tinggi)
Bukan pagar yang harus dibongkar, tapi kondisi aman yang akan melahirkan kepercayaan. Jika itu terwujud, pagar akan hilang dengan sendirinya.(Source: kosapoin.com/ratu-shima-dan-pagar-tinggi)

Kanibalisme Moral dan Mental
(Source: kosapoin.com/ratu-shima-dan-pagar-tinggi)
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown




