Pengunjung memadati ruang pamer SURVIVE!Garage. dok.foto JRK(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
YOGYAKARTA — Di sudut galeri SURVIVE!Garage, sosok perempuan berias pengantin Jawa menatap tajam dari balik kanvas dan kain keras. Matanya hitam pekat, namun seolah menembus riuh rendah modernitas yang penuh kepalsuan. Ia adalah “Sri”, alter ego sekaligus medium otokritik paling cair dari Mohamad Yusuf atau yang akrab disapa Cak Ucup.(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Pameran dibuka pada Minggu (6/9/2026) malam, pameran tunggal bertajuk “SISI SRI” ini bukan sekadar etalase estetika visual. Lewat 58 karya yang dipajang hingga 20 September 2026 mendatang, salah satu pendiri kolektif legendaris Taring Padi ini justru sedang menggelar ruang pengadilan batin yang dipenuhi sarkasme spiritual dan otokritik tajam.(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Mengapa Harus Pengantin Jawa?(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)

Bagi sebagian orang, riasan pengantin Jawa mungkin adalah simbol selebrasi dan puncak romantisasi tradisi. Namun, di tangan Cak Ucup, simbol itu didekonstruksi menjadi satire yang menohok. “Sri itu kan perempuan. Penganten Jawa menandai bahwa ia telah matang dan sedang melewati gerbang menuju fase hidup yang baru,” ungkap Cak Ucup malam itu.(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Kematangan ini ironis, karena Sri tidak dilepas ke pelaminan yang indah, melainkan dilemparkan ke tengah carut-marut dunia pascakolonial. Sri dipaksa menjadi buruh jahit industri fesyen global, berdesakan di angkutan umum yang sumpek, hingga jarinya dipaksa menggenggam smartphone. Di sinilah letak sarkasmenya: tradisi yang sakral dipaksa berbenturan langsung dengan eksploitasi pasar global. Sri adalah cerminan kita semua—manusia modern yang terjebak di antara kesucian batin dan tuntutan perut.(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Kenali Babi dalam Diri’(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Kritik paling menohok dari pameran ini dibedah secara apik oleh Katrin Bandel melalui tajuk tulisan pameran: “Kenali babi dalam diri: Mencari pegangan alternatif di tengah hiruk-pikuk dunia pascakolonial”.(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Puncak dari metafora ini mewujud nyata pada salah satu karya terbaru Cak Ucup berjudul “Kenali”. Menggunakan medium drawing di atas kain keras yang ditempel pada sajadah batik, Cak Ucup melukiskan Sri yang memegang sabit dan padi. Namun, di antara kaki moleknya, mendekam seekor babi bertaring besar dengan tulisan provokatif: “Titis Wereng”.(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Babi di sini tidak hadir sebagai makian politik yang dangkal, melainkan sebuah instrospeksi spiritual yang radikal. Babi adalah simbol kerakusan, ketamakan, dan egoisme yang mengancam kualitas batin manusia modern. Menaruh babi di atas properti sajadah adalah pukulan telak bagi spiritualitas hari ini yang kerap kali hanya menjadi topeng formalitas, sementara nafsu serakah di dalam diri dibiarkan membiak bebas.(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Pertunjukan Tolak Bala dan Eksotisme Tasawuf(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)

Nuansa pembukaan pameran pun malam itu terasa magis sekaligus kontradiktif. Pementasan Wayang Beber “Matahari Rakyat” oleh Taring Padi yang berkolaborasi dengan Cak Udin berhasil menyedot perhatian. Lantunan ayat suci Al-Qur’an tentang kerusakan bumi akibat ulah manusia bersahut-sahutan dengan lirik Jawa kuno penolak bala.(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Kontradiksi ini pula yang mengalir dalam karya-karya visual Cak Ucup yang padat, riuh, dan penuh detail. Di satu sisi ia menampilkan pengaruh tasawuf yang kuat—seperti refleksi cinta ilahi pada seri kisah sufistik Rabi’ah al-Adawiyyah (When Women in Love) namun di sisi lain kanvasnya disesaki oleh sosok misterius bercadar hitam dan kepungan hiruk-pikuk kota.(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Melalui pameran cetusan program Survive Present ke-7 ini, Cak Ucup dan SURVIVE!Garage berhasil menyuguhkan sebuah antitesis. Manusia pascakolonial tidak lagi digambarkan sebagai korban ketidakadilan sistem yang hanya bisa meratap. Lewat ketahanan batin, spiritualitas lokal, dan kemampuan untuk menertawakan kebobrokan diri sendiri (otokritik), Sri membuktikan bahwa manusia adalah subjek aktif yang punya daya untuk bertarung dan bertahan hidup.(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)
Seperti prinsip berkesenian yang dipegang teguh oleh Cak Ucup sendiri: “Seni adalah alat manusia untuk memanusiakan manusia dan memanusiakan keindahan ciptaannya.” Dan lewat “SISI SRI”, kita semua diajak untuk berkaca: sudahkah kita mengenali ‘babi’ yang bersembunyi di dalam diri kita masing-masing? *)(Source: kosapoin.com/sajadah-babi-dan-pengantin-jawa-satire-spiritual-dan-otokritik-cak-ucup-di-pameran-sisi-sri)









