Republik Topeng Retak: Sibuk Menumpuk di Luar, Hampa di Dalam

REPUBLIK TOPENG kosapoin

Sesungguhnya kita tidak bisa hanya berbicara tentang “siapa kita di luar”. Menyongsong tahun ke depan, sebaiknya kita lebih melihat “siapa kita di dalam diri kita.” Kalimat itu disampaikan oleh seorang kawan. Entah itu kutipan dari siapa, dia pun sudah lupa. Namun sejak saat itu, kalimat tersebut terus mengusik saya. Kalimat itu seolah-olah menegur saya setiap kali saya berkomentar di media sosial dengan kata-kata yang tidak bermutu. Muncul rasa acuh: yang penting “gue komen, gue ada”. Celakanya, sikap itu justru berbalik seperti pepatah “mulutmu harimaumu”. Dan dari sana, perlahan saya mulai sadar bahwa yang tampak sepele di ruang digital sesungguhnya sedang membentuk cara kita memahami keberadaan diri sendiri.

Justru yang “ada” ternyata hanya eksistensi semu. Artifisial. Seperti kebohongan yang dibalut makeup tebal atau topeng. Kita merasa paling benar dan paling suci, padahal manusia tidak luput dari dosa. Hawa nafsu yang tidak terkendali melahirkan keburukan. Jika tidak ada sedikit pun kebaikan dalam diri, maka aib kita akan terbuka tanpa penutup di hadapan Allah SWT. Terusik oleh kalimat itu, saya menatap “peta peradaban dunia” dari sofa sambil menggenggam ponsel. Setelah melihat, mendengar, dan merasakan, kita sepakat bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Rasa tenteram menjadi mahal ketika sendi kehidupan terusik. Keadilan menjadi timpang. Kondisi sosial dan ekonomi semakin menjauh dari akar kesejahteraan. Pada titik ini, kegelisahan pribadi mulai melebur menjadi kesadaran bahwa apa yang kita alami bukan sekadar persoalan individual, melainkan gejala bersama yang lebih luas.

Dari kesadaran itu, saya mulai melihat bahwa yang kita hadapi bukan rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan simpul besar yang saling terhubung dan perlahan membentuk wajah zaman. “Perang” ini berawal dari keserakahan manusia yang ingin menguasai dunia. Kondisi yang bersifat fatalistik ini mengguncang sisi kemanusiaan kita. Dari situ lahir kesadaran bahwa kita diajak kembali untuk melihat siapa kita di dalam diri sendiri. Kita diajak menyikapi pengalaman masa lalu sebagai renungan kolektif. Kita juga diajak berbicara dengan nurani yang Insya Allah menyertai langkah menuju Ihdinas Siratal Mustaqim. Kita diajak kembali mengedepankan akal sehat dan budi pekerti luhur yang selama ini terkubur oleh kepuasan duniawi. Semua itu seakan menjadi panggilan agar manusia berhenti sejenak dari arus yang makin tak terkendali, lalu kembali menimbang arah langkahnya sendiri.

Namun, semakin jauh kita diajak merenung, semakin nyata pula bahwa kenyataan di lapangan tidak selalu berjalan seiring dengan nilai-nilai itu. Ketika nilai-nilai itu berhadapan langsung dengan kenyataan, Agustus 2025 menjadi kado pahit ulang tahun kemerdekaan. Kekuasaan seolah tidak lagi sekadar berjalan, melainkan menari di atas penderitaan rakyat yang kian terpinggirkan. Daulat rakyat berubah menjadi istilah yang hampa, dipermainkan oleh para pengkhianat amanah. Para pemegang mandat bersuka cita dalam ruang-ruang kuasa, sementara rakyat menanggung luka yang makin menumpuk dalam diam. Mulut para penguasa “menyusun janji”, tangan kanan “meraup” rezeki, dan tangan kiri “mengacak-acak” regulasi demi kepentingan pribadi. Rakyat membatin dalam luka yang tidak lagi sederhana untuk dipendam. Marah dan kecewa akhirnya tumpah ke jalan ketika pajak naik, sementara tunjangan pejabat ikut naik.

Di titik inilah retakan antara janji dan kenyataan menjadi terlalu lebar untuk disembunyikan. Lalu Desember kelabu datang. Bukan lagi sekadar narasi di media sosial. Gelondongan kayu hasil pembalakan terlihat nyata. Deforestasi dipertontonkan tanpa rasa malu. Musibah kemudian menimpa Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Duka mereka adalah duka kita semua. Kenyataan lain menunjukkan bahwa ini adalah bencana akibat memilih pemimpin yang salah. Mereka membentuk sebuah ensemble yang dikendalikan oleh kepentingan, seperti Rahwana dan Sengkuni, dengan bayang-bayang oligarki dan pejabat yang tidak amanah. Di dalamnya tumbuh hasrat untuk menjadi “super kaya sejagat raya”. Hasilnya adalah paduan suara dalam lagu “durjana berjamaah”. Dan dari rangkaian itu, tampak bahwa kerusakan tidak lagi bergerak di balik layar, melainkan telah tampil sebagai sistem yang bekerja di depan mata.

Namun setiap masalah membawa hikmah. Di tengah pesimisme, selalu ada harapan. Pada Agustus–September 2025, kita kedatangan sosok “Si Koboy” Purbaya. Ia membawa angin segar dan berusaha mengembalikan jalur kereta ke rel yang benar. Tumbuh harapan agar laju ekonomi tidak mengalami accident yang fatal. Kita juga menyebut segelintir “orang baik” seperti Jaksa Agung Burhanuddin dan Mentan Andi Amran Sulaiman. Mereka adalah sosok penentang arus yang tidak “gila” jabatan. Mereka memilih berbakti kepada negeri, bukan seperti kebanyakan pejabat yang menjadikan kursi kekuasaan sebagai batu loncatan untuk memperkaya diri, kelompok, dan kroninya.

Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa di tengah arus yang keruh, kesadaran untuk melawan masih tetap ada, meski tidak selalu dominan. Namun ada satu hal yang perlu diingat: bahwa pada titik ini, mereka kembali lupa untuk “melihat ke dalam diri”. Mereka sibuk menumpuk di luar, tetapi hampa di dalam. Mereka lupa bahwa kekuasaan tanpa nurani hanya akan menjadi topeng, dan topeng sehebat apa pun pada akhirnya akan retak bila terus dipakai untuk menipu sejarah. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *