‘CERMIN’ Tempat Nobar yang Asyik

CERMIN Tempat Nobar yang Asyik

Terpicu nonton bareng “Doea tjerita dari tanah djawa.” Persembahan dari Studi klub Teater Bandung (STB). Menampilkan dua Monolog Julungwangi dan Amangkurat yang berlangsung 21 Mei ’26 di Galeri Buleud komunitas Cermin Tasikmalaya. 

Sambil menunggu masuk ruang pertunjukan, menikmati suasana di seputar galeri buleud. Bertemu kawan. Galecok hangat berbincang seputar Teater. Ada sisi romantisme nostalgik dan kesan mendalam, bagaimanapun di ruang inilah ruang publik waktu publik, dan ritus publik menyatu dalam bingkai silaturahmi. Tempat dimana repleksi dan transformasi nilai menyatu dalam bingkai peradaban dan kemajuan identitas kota.

Perbincangan tak berhenti hanya seputar seni, selalu ada ‘behind the scene’ dan sisi lain yang tak kalah menarik. Satu kata kemudian menyebut nama Persib, maka—seolah—kata ini seperti azimuth. Perasaan eksistensi “sahate ” makin mengental. (Bagaimanapun Persib bukan hanya sebatas klub sepak bola kebanggaan, lebih dari itu Persib menyatu dalam sosial dan kultur khususon warga Jabar dan suku Sunda di manapun berada).

Di ruang ‘layar lebar’ galeri buleud ini masih tersimpan euforia kemenangan Persib atas PSM yang berlangsung beberapa hari sebelumnya. Dan seperti biasa penasaran tanpa bincang ‘analisis” ala warung kopi. Di tempat ini pun kemudian seperti terikat perasaan ” emosional” berjamaah tatkala sebelumnya rutin nobar Persib vs Bhayangkara, Persija,  PSM, dan pertandingan terakhir tgl 23 mei penentuan Persib juara lawan Persijap.

Kata “Nobar” menjadi populer pada tahun 2000-2002 terutama saat berlangsung pertandingan sepak bola piala dunia, piala champion dan liga- liga lainnya. Melalui alat proyektor dan layar lebar, aktivitas ini kini semakin trend sekaligus marak menjadi bagian gaya hidup. Sekitar tahun 1970-an, aktivitas nonton bersama ini di tiap daerah sebetulnya sudah mulai dilakukan, akan tetapi hanya melalui tayangan TV. Di rumah-rumah, di halaman, keluarga dan warga sekitar biasanya ikut menonton. Sebelum ada alat proyektor sehingga pandangan terbatas ke “kotak kecil’ bukan layar lebar.

Dulu yang paling banyak di saksikan selain sepakbola adalah Tinju terutama tinju dunia juga Bulutangkis. Makna konotatif istilah Nobar yang awal melekat seolah-olah terbatasi identitasnya hanya menyaksikan tontonan di layar lebar. Ruang yang banyak memfasilitasi seperti cafe, hotel dan ruang-ruang publik. Padahal sejatinya apa-apa yang kita tonton, disaksikan bersama misalnya konser musik atau pertunjukkan seni lainnya bahkan ketika kaisar Romawi nonton pertunjukkan gladiator pun namina eta-eta keneh: nonton bareng. Hanya saja yang membedakan dalam konteks ini antara hadir langsung dan melalui siaran tayangan.

Pilihan kata “bareng” (nonton bareng) bukan “bersama” (nonton bersama) dimaknai lebih terasa sebagai bahasa ‘ gaul” dengan akronim Nobar, ada sesuatu yang terasa ” lebih’. Atmosfernya yang memberi ruang leluasa untuk melepaskan katarsis. ‘kepuasan bathin dan kebanggaan bertemu dalam sebuah kerumunan orang-orang yang memberi dukungan penuh (supporter), atau sesama fans bertemu menyaksikan sang idola beraksi. Dan ‘keriuhan’ menjadi bagian dari peristiwa bersama. Nobar pada intinya adalah bentuk apresiasi yang melahirkan kegembiraan tersendiri. Emosi kolektif yang bisa saja pada saat tertentu menghilangkan kendali diri,menjadi lebih emosional, dan larut dalam emosi kelompok dibandingkan saat bertindak sendiri.

Ada euforia dan histeria sebagai bentuk ekspresi diantara yang hadir di satu ruang terlebih ketika menyaksikan secara langsung. Nobar melalui siaran pertandingan yang tayang lewat TV pilihan ini banyak di gemari. Ya, lewat layar lebar kita bisa menyaksikan team kesayangan.  Sebagai Bobotoh tentu saja pertandingan Persib lah yang selalu menjadi magnet daya tarik yang tak boleh di lewatkan. Ledakan emosi, histeria juga euforia tentu saja itu yang jadi ciri kenikmatan bersama.

Berbeda halnya ketika nobar dalam hal ini, yaitu pertunjukann teater di panggung, alias live: Nobar STB pada hari itu. Kerinduan saya untuk menonton Teater (monolog) yang sebelumnya gagal menyaksikan monolog dari kang Nur Rahmat beberapa pekan lalu di Teater bolon situ gede, seperti terobati dengan kehadiran saudara-saudara dan “kasepuhan” kita dari STB yang berdiri tahun 1963. Salah satu Kelompok Teater tertua di Indonesia. Barangkali yang kusebut romantisme itu semacam panggilan ikatan bathin (bagi siapapun) yang merasa ada satu gen teater baik sebagai pelaku maupun apresiator. Rindu itu kemudian semakin terobati ketika menikmati akting Ria Ellysa Mifelsa dan Indrasitas yang memukau.

Ria tampil di pertunjukan pertama berperan sebagai julungwangi. Sosok korban dari sebuah pertempuran kekuasaan. Naskah yang disadur kedalam budaya Jawa oleh IGN Aria Sanjaya dari naskah yang berjudul Antogine karya Sophockles, terjemahan WS. Rendra. Dan Indrasitas yang tampil di pertunjukan monolog kedua membawakan naskah berjudul Amangkurat yang diadaptasi dari karya Goenawan Mohamad. Memerankan pengakuan dari tokoh pelaku yang telah mengorbankan banyak orang.

Kedua naskah dari karya yang berbeda ini seperti nyambung benang merah. Peran yang paradoks antara yang tertindas dan menindas. “Pemilihan naskah Ini tidak dipaksakan harus seperti itu, tetapi naskah itu berdiri sendiri-sendiri kebetulan saja.” Dua representasi luka politik kekuasaan yang layak dibaca ulang buat kita sekarang dan generasi yang akan datang” Begitu ujar IGN. Aria Sanjaya sang penulis sekaligus sutradara kedua monolog.

Nobar pertunjukkan monolog dari STB itu berlangsung dengan di hadiri dominan oleh anak-anak muda selain para penggiat Teater, seniman, budayawan juga dihadiri oleh Wakil Walikota Tasikmalaya Dicky Chandra yang memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilan kedua aktor. 

Nobar Persib

Saya menulis peristiwa satu fase bersejarah ini semoga menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita terutama generasi muda di kehidupan nyata. Selayak menonton pertunjukkan teatrikal. Seperti kita saksikan bersama Persib selama perjalanan menuju hatrik juara selalu saja ‘mempertunjukkan’ suasana dramatis. Jalan cerita—lakon pertandingan—terasa menguras emosional. Bagaimana tidak “punggawa-punggawa yang Spartan mampu menampilkan ciri khasnya sebagai ‘Maung’ yang lapar kemenangan.”

Berkali-kali mampu menjungkir balikan keadaan dari ketertinggalan menjadi kemenangan (Remontada). Belum lengkap ‘julukan’ bagi Persib sebagai pejuang sampai titik darah penghabisan. “Hati-hati dengan loker room Persib saat sang pawang Maung Bandung, Abah Bojan menggebrak meja”. Tiap katanya adalah lecutan yang membakar semangat. Di saat yang sama “meracik ramuan strategi jitu” dengan menampilkan punggawa pembeda yang acapkali memberikan plot twist yang sulit dibaca lawan. Gol demi gol tercipta. Klimak dramatis: berkali-kali komentator memprediksi dengan tepat: Injury time di atas 5 menit itu lubang “neraka” menuju kekalahan bagi lawan—termasuk drama yang terjadi di luar lapangan, banyak peristiwa unik, seperti sebuah opera sabun yang penuh intrik dan kejutan kadang seperti diluar nurul. Teater Akbar (pertandingan bola) yang di tonton berjuta Pasang mata itu tentu saja memberi gairah tersendiri. 

Di ‘Cermin’ kegiatan nonton bareng pertunjukkan budaya yang beragam bentuk dan nobar layar lebar terwadahi dengan baik. Sebelumnya saya pun sempat menyaksikan pemutaran film Pesta Babi yang di hadiri berjubel kaum muda. Juga acara Sasadu (sasalaman sadulur) sebuah acara halalbihalal lintas komunitas. Begitupula kegiatan lain yang berkaitan dengan budaya lainnya (diskusi, peluncuran buku dll).

Komunitas Cermin yang dikomandani oleh Ashmansyah Timutiah ini berada di tengah kota di tengah orang-orang bertransaksi ekonomi dan aktivitas perkantoran. Tempat itu berada di Jalan Pemuda, nama jalan yang disematkan oleh pemerintah kabupaten Tasikmalaya terdahulu—sebelum berubah status menjadi kota Tasikmalaya—sebagai bentuk penghargaan atas sejarah perjuangan pemuda Tasikmalaya, sebelum merdeka sekaligus kemudian menegaskan tempat orang-orang bersemangat muda untuk mengisi kemerdekaan melalui aktivitas di berbagai bidang. Seiring waktu berjalan, di jalan Pemuda no 2a, ‘semangat muda’ itu terepresantasi oleh keberadaan komunitas cermin dengan Galeri Buleud-nya.

Keberadaannya sebagai Ruang Budaya berbasis komunitas dan Ruang Publik yang bercirikan suasana egaliter dan inklusif memungkinkan berbagai sajian atau kegiatan program internal berjalan dengan baik. Pun untuk berinteraksi, berkolaborasi maupun sebagai fasilitator pertunjukan dengan eksternal. Berbagai perhelatan seni budaya dari dan bagi sesama penggiat seni budaya maupun warga dari berbagai daerah, semua itu bisa terjembatani sesuai dengan kapasitas ruang yang tersedia dan kesepakatan kegiatan sesuai misi dan visi dan sistem tata kelola manajerial.

Nama (komunitas) Cermin itu sendiri seperti repleksi: menegaskan pantulan atau gambaran eksistensi nilai budaya masyarakat Tasikmalaya yang kuat dengan akar budayanya, tapi tidak eksklusif terhadap bentuk kegiatan yang modern. Sepanjang tidak berbenturan dengan norma,etika dan kearipan lokal warga setempat, bentuk kegiatan Seni Budaya yang di inisiasi internal menampilkan berbagai program sajian yang apresiatif termasuk edukatif diantaranya pelatihan seni, khusus anak dan remaja tersedia kelas pelatihan/kursus yang meliputi kelas tari, seni peran/akting, kursus melukis, kursus vocal, gitar, bass, drum, biola dan band pemula.

Tak hanya kegiatan pelatihan seni, para peserta remaja nampak sekali mereka juga ‘diajarkan etika dan adab yang baik. Dengan kata lain mereka tidak semata diajarkan keterampilan berkesenian lebih jauh diajarkan pula nilai-nilai pilosofi budaya yang sesuai dengan kapasitas pemikiran serta usianya: Tidak dengan cara konservatif namun dalam batas wajar. Semua berlangsung ceria menjadikan mereka betah untuk belajar dan berinteraksi.

Ada satu hal penting yang jadi catatan penulis tentang keberhasilan dari komunitas cermin sebagai Fasilitator. Eksistensi komunitas ini mandiri dan inklusif (terbuka). Membuka kran kerjasama dengan berbagai pihak, tapi tidak untuk kegiatan politik praktis. Pada dasarnya kuratorial Ini menjadi penting terkhusus buat komunitas cermin sebagai ruang laboratorium budaya dan ruang publik. Manajemen dalam ranah pengelolaan bersifat dinamis bersandar pada potensi yang bertujuan pada perkembangan arah masa depan budaya yang lebih baik. Ruang komunikasi terbuka bertimbal balik sinergi dalam azas saling memberi manfaat bukan saja dengan pemerintah, swasta, meluas antara komunitas, penggiat budaya juga warga pada umumnya. Dan kearipan lokal menjadi catatan khusus bersama yang penting disikapi. 

Ada sisi lain yang layak kita soroti keberadaan Komunitas Cermin yang berdomisili di Jalan Pemuda ini juga bisa menjadi point tersendiri. Katakanlah “center of excellence” nya satu hal ada di nama “Pemuda” sebuah brand yang punya nilai spirit yang tinggi juga ikonik, selain tentu saja kreativitas nya. Tanpa mengabaikan Ruang Publik yang bertebaran di kota Tasik. Harapannya semoga Komunitas Cermin Tasikmalaya, secara spesifik bisa menjadi penanda sebagai salah satu Ruang Publik yang memiliki spektrum kebermanfaatan yang meluas mampu menebar semangat kreativitas dan apresiasi budaya bangsa dari dan bagi warga Tasik umumnya bagi generasi muda khususnya.

Penutup: mengapresiasi aktifitas dan kreativitas di Komunitas Cermin dengan Galeri Buleud-nya, di tengah budaya kekinian, dimana orang- orang larut terkungkung dalam ‘dunia yang di lipat’. Aktivitas dan interaksi sosial menjadi kemewahan tersendiri. Keberadaan Komunitas Cermin menjadi wadah silaturahim para penggiat budaya dan apresiatornya. Tak hanya representasi ruang publik, waktu Publik dan Ritus Publik, lebih jauh seperti merumus ulang dari fusi keberagaman menjadi sebuah ikatan dari kebhinekaan. Sebuah penanda ruang yang paralel dengan semangat kaum muda ketika ikrar satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa didengungkan dan esensinya diejawantahkan dan diselaraskan dalam aktivitas kekinian. Dalam kapasitas sebagai penonton/apresiator, Galeri Beleud di Komunitas Cermin Kota Tasikmalaya seperti yang dikatakan oleh Arief Kultur Kita, “Layak disematkan sebagai tempat apresiasi nobar yang asyik” tandasnya. []

Ephron Herry

Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *