Remontada

remontada

Latihan band usai dengan sendirinya. Bukan lagi dengan alasan stik drum yang patah. Namun suasana studio kini berubah menjadi seperti bar. Dan asap itu memenuhi ruangan, aromanya yang khas—sudah bisa ditebak—bukan rokok sembarangan. Dan si pemberi andil itu, Mick … dengan wajah innocent-nya selalu yang paling sensasional.

Imajinasi John melayang. Panggung-panggung dari kelas festival, perayaan tujuh belas agustusan sampai hajatan dan tepuk tangan penonton itu membuat bayangan adrenalin meledak. Sensasi dan katarsis meluap. Membayang pula Sorotan mata gadis-gadis karang taruna terkagum melihat “drumer cilik” di tengah personel akang-akang.

Masa pubertas dan di antara pergaulan dewasa mungkin memicu lebih cepat hormon naik. John merasa seperti “lelaki pemberani” dan ” sudah waktunya”. Dan Arjuna bercelana pendek—seragam SMP itu entah sudah berapa kali berganti pacar, hanya sekadar iseng tak peduli “luka hati perempuan”. Monyet kecil nan ganteng ini norak memang!

Di ruangan itu John satu-satunya anomali “sosok keponakan kecil” yang tentu saja kalah dalam lomba ketahanan ‘tidak tumbang’ melawan ‘paman-pamannya’. Tergeletak di lantai setengah pingsan. Dunia berputar seperti sedang naik jet coaster. John limbung. tak mampu lagi berdiri tegak. “Sebongkah batu” menindih di atas kepala dan perut mual tak keruan.  Sesaat berlalu. Diam-diam ruangan itu kembali sunyi ditinggal gelak tawa semua orang yang terpaksa menyudahi sesion latihan. Kepulan asap yang terperangkap memenuhi ruang, menyembur seperti gun smoke tatkala pintu terbuka. Mengakhiri sebuah “konser”. Begitu imajinasi mereka.

 Dan “panggung konser” itu menyisakan John di antara peralatan musik yang berantakan. Dan bau minuman murahan itu, dan bau asap ganja itu menempel di jejeran poster-poster musisi dunia seperti sedang terkekeh menyaksikan tubuh kecil. Sisa botol minuman sebagian tumpah membasahi baju seragam putih dan celana pendek John yang belum sempat berganti pakaian. Sebagian memercik pada tas sekolah. Di sudut ruang buku-buku pelajaran berceceran begitu saja sebagai benda tak bertuan.

Hari-hari berlalu. John lagi-lagi tak masuk sekolah. Nyaris tiap hari berada di ruang studio melampiaskan kesenangan. Dan suatu hari Wali Kelas datang ke rumahnya, mencoba membujuk John untuk kembali bersekolah begitu pula orang tua setengah memaksa terdorong rasa malu. Mereka menatap pasrah surat “dikeluarkan ” dari sekolah.

“Saya datang dengan dua pilihan!” begitu ujar pak wali kelas dalam simpul percakapan. “Kalau mau sungguh-sungguh kembali sekolah, maka saya akan berusaha mati-matian dan bertanggung jawab memberi perlindungan sampai lulus ujian. Dan saya tegaskan surat ini siap di robek sebagai kesepakatan.” Dan surat ancaman itu, yang tergeletak di meja seperti tawaran final. Perdebatan dan alasan tidak ingin sekolah lagi karena merasa terlukai oleh ‘kebijakan’ sekolah dan sikap guru yang selalu menekankan disiplin tanpa reserve.

Permintaan aneh dimana sekolah harus tunduk pada kemauan murid. Tangisan itu—perasaan erluka dan marah—mendorong John untuk memilih selembar surat itu sebagai jawaban. Sesaat diam dalam keheningan, kesedihan dan amarah menyatu. Bagaimana pun jiwa kekanak-kanakannya masih ada dan itu belum cukup untuk bisa menerima keadaan seperti ini, akan tetapi ego lebih menguasai daripada akal warasnya.

Siapa kemudian yang bisa paham jiwa yang rapuh. Dan paham perasaan terluka? Dan “ultimatum” di lembar kertas buram itu sejatinya adalah vonis yang dipersiapkan. Mengapa pak wali kelas yang harus menyampaikan surat itu sendiri? Tak ada kemarahan sedikitpun padanya yang ada hanya rasa iba: bagaimanapun, dari sedikit guru yang ada, pak wali kelas, bagi John terasa punya perhatian lebih dengan banyak pembelaan yang pernah ia rasakan. Entahlah, mungkin karena ini prosedural dan beliau juga tertekan oleh aturan dan kebijakan sekolah. Dan tentu saja ini seperti menjadi beban tersendiri, antara integritas—tanggung jawab moral. Dan ini menganiaya perasaan semua yang hadir dalam versi yang berbeda beda.

Memilih kembali ke sekolah, itupun tidak serta merta bakal mudah. Semua harus diperjuangkan. Ketidaksanggupan merasa kalah dan dipermalukan oleh kebijakan sekolah. Dan guru yang menjadi “musuh” terbayangkan dengan wajah-wajah sinis akan mencibir: “hemh akhirnya …” Itu semua yang menjadi beban kemudian secara keseluruhan adalah ketidakmengertian yang membuatnya harus menelan bulat resiko pilihan.

Rumah itu kini tak lagi menjadi studio latihan. Orangtua dengan dukungan para tetangga menutup paksa dan mengusiri tiap orang-orang yang selalu berkumpul terutama para personel yang harus sukarela ‘dihabisi’ dan dicap sebagai pemberi pengaruh negatif. Dan keputusan itu melayang-layang di udara melahirkan sebuah sikap canggung dan asing. Hukuman itu dari Orang tua yang menyerah dan putus asa. Dan masing-masing dalam aksi diam seribu bahasa adalah bentuk lain pertengkaran terhadap situasi yang ada.

Peristiwa itu seperti bom waktu yang meledak dan itu bukan saja membuat luka pada diri sendiri tetapi melukai siapapun orang orang di rumah. Terutama melukai hati orang tua. Di luar itu berefek melukai perasaan Wali Kelas dan mungkin teman-teman sekelas. Dalam diam tanpa kesibukan: tanpa personel band yang bubar perlahan—maka tak ada lagi jadwal pentas—sekali lagi ini menjadi resiko bersama.

Sedikit demi sedikit dari penderitaan ini menemukan celah pelarian. “Mick satu, satu kawan, saat itu yang tersisa, menyelinap secara diam-diam bersedia memberi pasokan energi baru: wajahnya yang konyol dan sering menyajikan bodor garing, sejenak membuat perasaan bergeser dan tentu saja pasokan ‘minuman energi’ dan “tembakau wangi” mampu melengkapi hari-hari sebagai penyintas lalu. Nongkrong di jalanan semalaman dengan habitat baru, dan pandangan muak dari orang-orang yang lewat mengukuhkan sebutan “gank sempoyongan” ini seperti menemukan identitas baru. Paradoks dan absurd. Di jalanan ia seperti menemukan cita-cita tentang kebebasan.

Belajar dari senior langsung, ia tak mau disebut lagi sebagai “masih terlalu muda” dan keberanian itu berkali-kali menjadikan rumah bekas studio di siang hari, di saat penghuni rumah pergi bekerja. Dan tentu saja ini nyolong kesempatan dari penglihatan tetangga menjadi ajang pesta sambil lalu menjadi ajang pamer kekuatan ketahanan siapa terbanyak minum dan ‘ngisep’ dan tidak tumbang. ‘Pelatihan’ itu untuk yang kesekian kali berhasil ia lewati dan akhirnya lulus: tepat ketika Khabar teman sekolah di SMP berhasil lulus dari ujian akhir. Ia pun lulus mendapat ijazah dari UGD Rumahsakit Hasan Sadikin Bandung. Barang haram itu memberi dampak lain bagi tubuhnya: keracunan.

Sinyal ini seharusnya membuat ia kapok. Pembangkangan dan pemberontakan kepada orang tua semakin terjadi. Berselang tiga bulan dan tiga bulan kemudian lagi, atau enam bulan berikutnya ia bertambah dua kali di gotong ke UGD dan yang terakhir itu : lebih parah. Singkatnya, dalam perawatan rumah di temani pembantu dan tetangga yang baik. Dan secara sengaja pengawasan dipercayakan pada seorang tokoh masyarakat yang sebelumnya diberi mandat khusus memimpin team keamanan RT dan RW setempat. Lagi-lagi untuk mengusiri dan membubarkan—kali ini tagline-nya lebih kejam: sarang prngedar dan para pemakai barang haram.

Dua gadis sebaya, teman di SD berkenan menjenguk secara rutin bahkan ketika sudah sembuh. Mereka seharusnya seangkatan dengan John. Kini mereka sudah duduk di kelas satu SMA. Ironis, semasa di SD mereka adalah pesaing-pesaing untuk adu kepintaran, dan kini yang di jenguk adalah teman pesaing yang jauh kalah telak bukan saja nampak bodoh tak sedikitpun menyisa kepintaran semasa SD. Namun juga kini ia betul-betul pecundang.

Dan kini mereka hadir lagi sebagai sosok malaikat kecil yang berusaha mengingatkan agar bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Bukan hanya dua orang, lalu mereka pun membawa satu orang lain. Teman SMA seangkatan di sekolah yang berbeda. Trio soulmate di SMP yang sama katanya. Kehadiran mereka bersama menjenguk pada awalnya hanya karena kebetulan. Namun pada akhirnya mereka bertiga itu menjadi trio malaikat cantik yang senantiasa memberi support.

Dan lalu. Cerita menjadi lain. Sosok yang hadir belakangan memberi kesan tersendiri. Sesekali mereka bertiga sengaja mengajak John untuk berkumpul di rumahnya. Gadis itu pun semakin gencar men-support John agar mau lagi melanjutkan sekolah. Mengulang di kelas tiga SMP, minimal ikut paket C. Padahal di saat yang sama hanya tersisa waktu tiga sampai empat bulan kedepan. 

Suasana baru dan “kesan tersendiri” itu diam-diam menggiring perasaan. Hati yang keras. Tidaklah betul-betul rontok dihantam keroyokan palu godam, tapi sentuhan halus itu mampu mencairkan—menjadi butiran halus yang menyejukkan. Selayak embun menyirami bunga yang tumbuh tak sengaja. Lalu perlahan kuncup-mekar. Wangi yang halus tercium justru mampu menusuk hati terdalam.

Ada rasa bimbang untuk mengakui perasaan dan terutama takut di tolak perasaan. Bagi John ini dunia baru, dunia yang halus penuh ketulusan. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang teramat misteri. Pengalaman masa lalu, memperlakukan perempuan sekadar iseng dan pelampiasan jauh dari kata perasaan mendalam. Dan ini kali terasa berbeda ada ketakutan. “Ini cinta monyet, tapi monyet yang sedikit dewasa”. Perasaan “takut dan mau banget” itu menyimpulkan penolakan berarti melengkapi keterpurukan.

Pikiran telah bergeser, keinginan untuk bersekolah lagi itu ada karena ditumbuhkan oleh seorang malaikat kecil yang memberi kesan tersendiri. Ya, perasaanlah yang menimbang. Di saat yang sama terlanjur pula rasa cinta yang membuat telinga ini mampu mendengar dan hati terbuka lebar. Satu kendala, malaikat kecil atau gadis itu kelas satu SMA, lalu muncul tanya di benak Jhon, “Walaupun aku masuk lagi ke kelas tiga SMP apakah ia mau menjadi pacarku?”

Hanya ada dua pilihan, dan dua pilihan itu judulnya sama nekad: “Jhon gak sanggup melanjutkan, kalau bukan karena engkau yang menyuruhku. Jhon mencintaimu dan Jhon mau engkau pun mencintaiku. Jhon mau mengulang sekolah lagi, tapi kalau kau juga mencintaiku!” Kalimat yang dilatih sepanjang waktu itu akhirnya meletus juga, pada suatu hari nan bening:

“Maukah kau jadi pacarku?” Kata terakhir itu perlahan terucap dan tertahan dalam gemetar tubuh John. Namun sepertinya sekaligus ibarat pedang tajam menghujam. Tak ada jawaban. Air mata sosok istimewa ini mengembang di kedua kelopak matanya yang bening. Tiba-tiba, tanpa kata, ia pergi berlari meninggalkan beribu pertanyaan.

Jhon tidak tahan juga atas perlakuannya seperti itu. Ada perasaan sesal sekaligus merasa ada kelegaan karena sudah mampu mengungkapkan perasaan. Di rumah loteng itu mata John menatap ke balkon atap rumahnya gadis itu yang kebetulan tidaklah berjauhan, masih tetap terlihat. Sesaat tersimpulkan—tak ada lagi sekolah karena tak ada dia. Lengkap sudah ya patah arang ya patah hati. Masih tersisa gejolak perasaan, semalaman hanya duduk termangu.

Ada sesuatu yg terasa berkecamuk yang liar menari dalam pikiran. John dengan kaki yang gontai melangkah untuk sesuatu yang entah. Tepat di depan ruang studio latihan yang kini berubah menjadi gudang. Pintu tak terkunci. Ruang dengan lampu yang tak terlalu terang menyisakan bayangan sound system dan semua peralatan musik yang selalusiap untuk dimainkan. Namun semua barang itu kini terkunci dalam lemari. Satu set drum di sudut terbungkus kain lusuh nampak membisu dalam gigil seperti gadis tua menanti seorang pasangan. John membukanya dengan perlahan.

Stik drum dari kayu jambu. Masih tersisa satu : utuh dan satu stik pasangannya yang dulu patah…tergeletak di snare drum. John bukan tak mampu membeli stik drum yang bagus. Semua itu kalau sudah merasa melekat satu rasa. Sungguh sayang kalau di singkirkan. Dan itu koleksi yang tak boleh hilang stik drum patah itu: “aku yang pernah kalah” begitu John memberi kiasan. Namun bayangan wajah cantik “supporter” yang diam-diam meluluhkan hati itu terlalu kuat melekat. John merasakan sesuatu yang indah sekaligus keraguan: tanpa jawaban pasti mendorong prasangka buruk. Rasa takut kehilangan. Jurang menganga adalah bayangan buruk. Nyaris melemahkan kekuatan pendakian yang selama ini perlahan tumbuh untuk mendaki kembali paling tidak tidak masuk terjerumus ke jurang terdalam.

Di ruang ini yang bergemuruh itu bukan lagi suara hantaman drum. Tapi ini suara dalam dada John. Di ruang ini tak ada lagi koleksi botol minuman. Dan poster- poster itu telah lama menghilang. Hanya dinding putih yang di cat rapih dan cahaya masuk dari Lampu luaryang terang menembus kaca jendela membentuk siluet sisi gelap dan terang.

John masih termangu duduk di kursi drum. Lalu mata bergeser, pandangannya tertuju pada satu lemari : baju seragam SMP dan buku-buku itu masih tersimpan rapih. Orang tua John sengaja menyimpannya mungkin dengan tangis iringan doa dan harapan agar John suatu saat bersedia berseragam lagi. Pandangan sesaat itu bergeser menjadi bayangan wajah orang tua. Ada yang terasa basah di pipi John. Tangan John buru-buru melepaskan genggam stik drum. Dengan tangan itu John mengusap airmata perlahan. Malam larut. Masih tersisa gejolak perasaan saat seharusnya mata terpejam .malamancuma duduk termangu dan merasa bego.

Keesokan hari, tanggal merah. Pagi jam tujuh sepucuk surat dalam amplop kecil tertutup datang dibawa oleh seseorang. Terbaca si pengirim, dari dia si istimewanya. Kertas kecil berwarna pink perlahan disobek. Sebait kalimat tertulis rapi: “datang lah ke rumah hari ini pukul sepuluh pagi … sendiri … ditunggu!” Langit yang semula redup tiba-tiba tiba saja merasa seperti terang kembali. Namun awan itu tetap menyimpan tanda tanya besar: Ada apakah gerangan?

Di ruang tamu, rumah malaikat kecilnya itu nampak sepi. Orang tuanya telah pergi pagi untuk berjualan di pasar dan adiknya ikut karena hari itu libur sekolah. Singkat alkisah, tepat pada pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, cinta diterima dengan syarat dan ketentuan berlaku. Dua mahluk kecil itu berpelukan. Hanyut dalam ciuman pertama sebagai penanda: Hari ini kemenangan pertama. Dan esok masih ada harapan untuk memulai perubahan dan melangkah memulai lagi babak—kembali ke sekolah.

“Besok akan Jhon temui wali kelas dan kepala sekolah SMP yang lama dan minta pertimbangan agar Jhon bisa melanjutkan sisa semester dan atau hanya ikut ujian. Walaupun bukan di sekolah yang sama. Deal.” Senyum manis di kulum dan gadis itu cantik sekali dalam anggukan perlahan: “Dan Jhon meminta dirimu menjadi kekasih Jhon sebab tanpamu hidup terasa hampa. Jangan malu andai besok. Jhon masih bercelana pendek, tenang itu hanya tiga empat bulan dan aku dan dirimu sepakat—demi cinta kita, Jhon akan selalu pergi sekolah pakai celana panjang abu-abu supaya dirimu tidak malu.” Kata itu tak berlanjut. Suara tawa berderai dan sesaat larut dalam hangat pelukan serta kecupan mesra.

Ketika orangtua bertanya: kenapa insyaf? Kenapa mau sekolah lagi? Jawabnya sederhana, karena ada sosok istimewa. Dan terlepas apapun alasannya, merestui adalah pilihan. Terbayang karena kalau pelarangan itu bisa berarti “pemberontakan” lagi. Cinta … cinta. Cinta-lah yang membuat John bersedia bangkit—back to school. Dan John di kemudian hari dilecut sang istimewa mampu membuktikan Remontada. []

Memungut Sisa Kapur
Baca Tulisan Lain

Memungut Sisa Kapur


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *